CAKE CARROT BUATAN HUMAIRA

Saat di dalam perjalanan, Hakim mampir ke supermarket untuk membeli sesuatu. Sementara itu, Humaira menunggunya di dalam mobil. Tidak lama ponsel Hakim berbunyi. Saat dilihat, sebuah pesan dari ibunya. Humaira membuka pesan itu tanpa sepengetahuan Hakim. Pesan itu berisi video yang memperlihatkan dimana kondisi ayah Hakim yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya diikat di sebuah tiang, badannya penuh luka. Tidak lama sebuah pesan masuk lagi di ponsel Hakim. '*Nak, ini adalah waktu terakhir bagimu untuk mengambil keputusan. Ibu tidak mau melihat ayahmu terus disiksa seperti itu, ibu yakin apapun keputusanmu itu adalah yang terbaik*' tulis sang ibu. Humaira sempat meneteskan air mata saat melihat video itu. Tidak lama Humaira membalas pesan itu. '*Datanglah kemari bersama dengan ayahku! Jika memang benar, maka aku akan menerima persyaratan itu*' tulis Humaira seolah-olah dia itu adalah Hakim.

Humaira langsung menghapus pesan itu sebelum Hakim kembali. Tiba di hotel Hakim mengajak Humaira untuk makan malam bersama.

"Maafkan aku, tapi aku sudah makan." ucap Humaira.

"Dimana?" tanya Hakim.

Humaira memberitahu Hakim jika sekarang dia sudah bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di Qatar. Bukan hanya itu, dia juga menjadi seorang dokter pribadi keluarga besar Jeevan. Mendengar nama Jeevan, Hakim langsung teringat dengan pemuda yang pertama kali ditemuinya di lapangan.

"Apa kau bekerja untuk Sean Barra Jeevan?" tanya Hakim.

"Tidak, aku menjadi dokter pribadi nyonya Zeynep. Dia nenek dari Sean," ucap Humaira.

"Itu berarti... setiap hari kau bertemu dengan Sean?" tanya Hakim.

"Kenapa kau mempermasalahkan semua itu? Jika aku bertemu dengan Sean, itu wajar saja karena aku bekerja di rumahnya." ucap Humaira. "Aku sangat lelah, apa aku bisa kembali ke kamarku?"

"Tentu saja, selamat malam!"

"Selamat malam!"

Hakim merasa aneh dengan sikap Humaira hari ini. Dia seakan menjaga jarak dengannya. Setelah mengantar Humaira, Hakim kembali ke kamarnya. Malam itu Hakim tidak bisa tidur. Dia mencoba menelepon ibunya, tapi tidak tersambung. Tidak lama ponsel Hakim berbunyi. Saat dilihat sebuah nomor tidak dikenal masuk dalam ponselnya. Saat Hakim mengangkatnya terdengar suara seorang perempuan.

"Halo!" ucap perempuan itu.

"Dengan siapa ini?" tanya Hakim.

"Tidak lama lagi kita akan bertemu," ucap perempuan itu.

"Maaf, mungkin kau salah orang." ucap Hakim sambil menutup teleponnya.

\*\*\*

Malam itu jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Saffiya baru saja tiba di rumah. Dia terlihat sangat lelah. Setelah mandi dia pergi ke kamar Sean untuk melihatnya. Di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidur Sean, Saffiya melihat kotak obat juga perban. "Apa Sean mengganti perbannya sendiri?" ucapnya. Saat Saffiya membawa kotak obat itu, dia bertemu dengan pelayan di bawah.

"Bi, tolong simpan kembali kotak obat ini di tempatnya!" ucap Saffiya.

"Baik, nona."

"Tunggu bi! Apa kau membantu Sean untuk mengganti perbannya?" tanya Saffiya.

"Tidak nona, tadi bibi lihat dokter Humaira yang membantu tuan mengganti perbannya."

"Dokter Humaira? Siapa dia?" tanya Saffiya penasaran.

"Dia adalah dokter pribadi nyonya besar yang baru," jawab pelayan.

"Baiklah, kalau begitu kau bisa kembali beristirahat."

Pagi kembali datang menyapa. Saat Sean membuka matanya, dia melihat Saffiya yang masih terlelap tidur disampingnya. Sean tidak berani membangunkannya karena dia tahu rasa lelah yang dirasakan Saffiya setelah pulang bekerja. Setelah selesai mandi, Sean memilih pakaiannya sendiri. Dia terlihat sangat bingung harus mengenakan pakaian seperti apa. Sejak dia menikah sampai saat ini, Saffiya selalu menyiapkan semua kebutuhannya termasuk pakaiannya saat akan bekerja. Saat Sean akan turun untuk sarapan, dia mencium seperti bau makanan. Sean pergi ke dapur untuk melihatnya.

"Baunya enak sekali, bi. Apa kau membuat sesuatu yang baru hari ini?" tanya Sean pada pelayan.

"Bukan aku tuan, tapi dokter Humaira. Dia sedang membuat kue khusus untuk nyonya besar." jawab pelayan.

"Humaira? Apa dia sudah datang sepagi ini?" tanya Sean.

"Nenek yang memanggilnya kemari," ucap Zeynep yang muncul dari belakang.

"Dia adalah seorang dokter, jadi dia tahu makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh aku makan."

Tidak lama Humaira datang dengan membawa beberapa sayuran seperti wortel, tomat, dan mentimun. Humaira mendapatkan semua itu dari kebun milik keluarga Jeevan yang berada di belakang rumahnya. Sean terus berdiri memperhatikan Humaira memasak.

"Dia bukan hanya bisa mengobati orang, tapi juga pandai dalam memasak." ucap Sean dalam hati.

Saat sedang memotong sayuran tiba-tiba jari tangan Humaira teriris pisau.

"Aww..."

Sean melihat jari tangan Humaira berdarah.

"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sean.

"Aku tidak apa-apa, lagi pula ini hanya luka kecil." ucap Humaira sambil sibuk mencari kotak obat.

"Apa ini yang kau cari?" ucap Sean sambil memberikan kotak obat itu pada Humaira. "Biar aku yang akan membantumu."

"Itu tidak perlu! Aku bisa mengobatinya sendiri," ucap Humaira.

Semua sudah berada di meja makan. Tidak lama Humaira datang dengan membawa kue buatannya ke meja makan. Zeynep meminta pelayan untuk mulai menghidangkan makanannya.

"Kenapa kau tidak makan ibu?" tanya Ulya.

"Aku sudah memiliki menu makananku sendiri, nak. Dokter Humaira sendiri yang membutakannya untukku." jawab Zeynep.

Tidak lama Humaira datang dengan membawa makanan juga minuman untuk Zeynep.

"Ini menu makananmu untuk hari ini, nyonya." ucap Humaira.

"Panggil saja aku nenek! Kau sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri."

Mendengar semua itu rasanya hati Humaira sangat senang. Dia seakan memiliki keluarga baru di Qatar. Saat akan sarapan, Humaira mendapat telepon. Dia pergi untuk mengangkatnya. Setelah selesai dia kembali ke meja makan.

"Nenek, apa aku boleh langsung pergi?" ucap Humaira.

"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Zeynep.

"Baru saja kepala rumah sakit menghubungiku. Dia memintaku untuk menggantikan dokter yang berhalangan hadir untuk operasi." jawab Humaira.

"Tapi nak... kau belum sarapan sama sekali." ucap Zeynep.

"Kau tidak perlu khawatir nek, aku bisa makan di kantin rumah sakit." ucap Humaira. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."

"Hati-hati!"

"Kenapa kau terlihat begitu peduli padanya ibu? Dia itu orang asing, lagi pula kau belum lama mengenalnya. Aku takut jika dia memiliki niat jahat pada keluarga ini." ucap Ulya.

"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Zeynep heran.

"Maaf ibu, tapi yang dikatakan Ulya itu ada benarnya. Ibu jangan terlalu baik pada orang. Kita tidak tahu hati setiap orang. Bisa saja dia memiliki niat dan tujuan yang lain pada keluarga kita." ucap Nasreen.

"Kau benar, tidak ada yang tahu isi hati setiap orang. Tapi tulus tidaknya yang dilakukan Humaira hanya aku yang bisa merasakannya. Jadi kalian semua tidak bisa seenaknya menilai dia." ucap Zeynep.

Ulya melihat dengan jelas jika ibunya itu sangat peduli pada Humaira. Benar saja dia sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri. Ulya takut lama kelamaan Humaira akan menguasai Zeynep. Dengan begitu apapun yang dia minta akan Zeynep beri. Ulya tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Bagaimana pun caranya semua kekayaan keluarga besar Jeevan harus jatuh ke tangan putranya, Alman.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Cahaya mentari mulai naik. Saffiya terbangun karena suara alarm yang ada di dekat tempat tidurnya. Saffiya terperanjat bangun. Dia langsung mandi dan turun untuk menemui semua orang. Dia terlihat sangat kesal pada dirinya sendiri karena sudah bangun terlalu siang. Dia tidak sempat menyiapkan pakaian untuk Sean bekerja. Saffiya menemui Zeynep yang sedang berbincang dengan Nasreen di rumah tengah.

"Kau sudah bangun nak?" ucap Nasreen.

"Maafkan aku nenek, ibu. Aku bangun terlalu siang hari ini." ucap Saffiya.

"Kenapa kau harus meminta maaf nak? Aku bisa memahami jika kau sangat lelah setelah seharian berada di lokasi syuting." ucap Nasreen dengan penuh pengertian.

Nasreen meminta pelayan untuk membuat makanan untuk Saffiya. Sebelum itu, Zeynep terlihat sedang menikmati cake carrot buatan Humaira.

"Cobalah kue ini sebelum kau makan, nak!" ucap Zeynep.

Saat mencoba kue itu, Saffiya akui jika rasa kuenya sangat enak. Zeynep memberitahu Saffiya jika kue itu salah satu kue kesukaan Sean. Saat kecil dulu, Sean selalu meminta Nasreen untuk membuat kue itu untuknya.

"Apa ibu yang sengaja membuat kue ini untuk Sean?" tanya Saffiya.

"Bukan nak, tapi dokter Humaira yang membuatnya sendiri khusus untuk ibu." ucap Nasreen.

"Kenapa lagi-lagi semua orang menyebut nama dokter itu di rumah ini?" ucap Saffiya dalam hati.

Tidak lama pelayan datang dan memberitahu Saffiya jika makanannya sudah siap. Saat berjalan menuju meja makan, Saffiya membuang kue itu ke tempat sampah. Dia bukan tidak menyukai kue itu, tapi sikapnya itu menunjukkan jika dia tidak menyukai pembuat dari kue itu, yaitu Humaira.

\*\*\*

Saat makan siang, Sean membuka kotak makanannya. Di sana sudah berisi makanan empat sehat lima sempurna. Tidak lupa Zeynep menaruh beberapa cake carrot di dalamnya. Saat memakan kue itu, Sean terbayang dengan wajah Humaira. Entah kenapa belakangan ini wajah Humaira selalu muncul dalam pikirannya. Setelah makan siang, Edgar pergi menemui Sean di ruangannya. Dia membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani Sean. Melihat sikap Sean yang sedikit aneh, Edgar mulai bertanya-tanya.

"Ada apa dengannya?" tanya Edgar dalam hati.

Sean terlihat melamun sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Edgar di ruangannya. Melihat makanan yang ada di atas meja, Edgar mengambil satu cake carrot dan langsung memasukannya ke dalam mulut.

"Waw... cake carrot ini sangat lezat." ucap Edgar sambil menghabiskan kue yang ada di dalam mulutnya. Seketika lamunan Sean kabur saat melihat cake carrot yang ada dalam kotak makannya sisa satu.

"Dimana cake carrot yang satunya lagi?" tanya Sean pada Edgar.

"Sudah aku makan," ucap Edgar.

"Kenapa kau mengambil kue itu tanpa izin dariku? But the way, sejak kapan kau berada di ruanganku?" tanya Sean.

"Aku datang untuk memberikan semua berkas ini padamu, tapi saat aku masuk kau terus saja melamun. Kebetulan aku ini masih lapar ya sudah aku makan satu cake carrot milikmu." ucap Edgar.

Edgar meminta resep kue itu pada Sean. Dia akan meminta pelayan rumahnya untuk membuatkan cake carrot seenak miliknya. Sean terlihat senyum-senyum sendiri. Dia memberitahu Edgar jika cake carrot itu buatan Humaira.

"Apa Humaira bekerja di rumahmu?" tanya Edgar penasaran.

"Tidak, dia adalah dokter pribadi nenek yang baru." jawab Sean.

Humaira membuat Sean kembali mengingat masa kecilnya dimana cake carrot adalah salah satu cake kesukaannya. Rasa cake carrot buatan Humaira sama lezatnya dengan cake carrot buatan ibunya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!