Sore itu, Humaira pergi menemui Hakim. Dia ingin memberitahu Hakim akan kepulangannya besok pagi ke Maroko. Tiba disana Humaira melihat pintu kamar Hakim yang terbuka. Di balik pintu itu, Humaira mendengar semua percakapan Hakim dengan ibunya di telepon. Dari belakang seorang pemain mengejutkan Humaira sampai akhirnya Hakim tahu akan kedatangan Humaira di depan kamarnya. Dia langsung menemui Humaira dan menutup teleponnya.
"Kenapa kau berdiri saja di luar? Masuklah!" ucap Hakim. "Ada apa kau datang kemari?"
"Besok aku akan kembali ke Maroko," ucap Humaira.
"Apa kau serius?" tanya Hakim sedikit terkejut.
Humaira menjawab pertanyaan Hakim hanya dengan sebuah anggukkan. Hakim menatap mata Humaira dalam, sementara Humaira sendiri tidak berani menatapnya balik.
"Kenapa kau sebenarnya? Aku merasa beberapa hari ini kau seakan menjaga jarak dariku. Apa aku telah melakukan kesalahan padamu?" tanya Hakim bingung.
"Kau pria yang sangat baik, Hakim. Hanya saja takdir tidak sepenuhnya mendukung hubungan ini. Mungkin ini yang harus aku lakukan sekarang ini, menjaga jarak adalah hal terbaik untukku agar bisa melupakanmu." jawab Humaira.
"Kau akan melupakan diriku setelah apa yang sudah kita lewati bersama?" tanya Hakim tidak percaya.
"Maafkan aku Hakim, tapi aku harus segera pergi." ucap Humaira.
Saat Hakim akan mengejar Humaira, temannya menyuruh dia untuk segera menemui Walid di tempat biasa.
\*\*\*
Sore itu, Nasreen dan Saffiya baru kembali dari mall. Mereka membawa barang belanjaan yang cukup banyak. Saffiya sangat senang karena bisa berbelanja dengan ibu mertuanya. Tidak lama ponsel miliknya berbunyi. Dia baru saja mendapat telepon dari ibunya. Sang ibu meminta Saffiya untuk menemuinya malam ini di rumahnya. Dia sangat merindukan putri semata wayangnya itu. Dia dan sang suami sudah membuatkan sebuah kejutan spesial untuknya. Setelah menerima telepon itu, Nasreen melihat wajah Saffiya berubah murung.
"Ada apa, nak? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"
"Ibu memintaku untuk datang ke rumahnya malam ini," jawab Saffiya.
"Itu kesempatan yang sangat bagus, nak. Dengan itu kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan ibumu." jawab Nasreen.
"Tapi ibu..."
"Sudahlah, jangan membuat hubungan di antara kau dan ibumu semakin jauh. Pergilah! Apa ibu harus meminta Sean untuk menemanimu?"
"Tidak perlu, ibu memintaku untuk datang sendiri." jawab Saffiya.
Hari sudah mulai gelap. Ulya dan Azizah baru sampai di sebuah pasar tradisional yang ada di Qatar. Dia mengunjungi setiap toko yang ada di sana. Sudah lelah mereka mencari, tapi tidak ada syal yang sama persis dengan milik Azizah.
"Ini adalah toko terakhir yang kita datangi ibu. Semoga saja disini terdapat syal yang kau minta." ucap Ulya.
Saat masuk, mereka bertemu dengan sang pemilik toko.
"Selamat datang di toko kami, nyonya." sambut pemilik toko.
"Apa kau menjual syal seperti ini?" tanya Azizah sambil menunjukkan syal miliknya.
Saat pemilik toko memperhatikan syal itu, dia memberitahu Amine jika syal seperti itu tidak akan dia temukan di toko manapun.
"Apa syal ini sudah kuno sampai tidak bisa ditemukan di semua toko di kota ini?" tanya Ulya.
"Maaf, nyonya. Syal ini hanya bisa kau temukan di salah satu pasar yang ada di Maroko." jawab pemilik toko.
"Hahaha... Apa aku harus terbang ke Maroko hanya untuk membeli syal ini?" ucap Ulya.
"Kenapa kau bisa tahu jika syal ini hanya bisa ditemukan di Maroko?" tanya Azizah dengan wajah serius.
"Ayolah ibu... Dia pasti hanya bercanda saja. Tidak perlu kau dengarkan kata-katanya itu!" ucap Ulya.
"Kau diam!" pinta Azizah pada Ulya.
Ulya merasa sangat kesal dengan sikap ibunya. Dia merasa heran kenapa sang ibu ingin sekali mendapatkan syal seperti miliknya itu. Ulya merasa sangat capek. Kakinya sudah lelah berjalan kesana kemari hanya untuk mencari syal itu. Dia meminta izin pada ibunya untuk menunggunya di dalam mobil. Sementara itu, Azizah masih berbincang dengan pemilik toko itu. Pemilik toko memberitahu Azizah jika warna yang dikenakan dalam syal itu hanya dimiliki para pengrajin asal Maroko. Warna itu sudah menjadi ciri khas mereka di sana. Selain itu, di pinggiran syal itu terdapat huruf Arab kecil yang bertuliskan negara Maroko. Setelah Azizah mengamati syal itu, ternyata benar dipinggiran syal terdapat tiga huruf arab kecil yang terdiri dari mim, ro, dan qof.
"Apa mungkin perempuan yang Zayn bunuh adalah warga Maroko?" ucap Azizah dalam hati. Tidak lama pemilik toko pergi meninggalkan Azizah untuk melayani pelanggan yang baru saja datang ke tokonya. Saat kembali ke mobilnya, Ulya merasa heran dengan sikap Azizah yang tiba-tiba saja dingin.
"Kau kenapa ibu?" tanya Ulya.
"Aku baik-baik saja, nak."
"Kita pulang pak!" pinta Azizah pada sopir.
\*\*\*
Malam itu, Sean baru pulang dari kantor. Di bawah dia sempat berpapasan dengan Saffiya, tapi tidak sedikit pun Sean menoleh, dia terus saja berjalan ke kamarnya. Melihat sikap Sean yang mulai berbeda, Saffiya mulai frustasi. Sean sama sekali belum pernah bersikap dingin padanya seperti itu. Saffiya langsung menemui Sean di kamarnya. Tiba disana, Saffiya melihat Sean yang sedang mandi. Dia langsung menyiapkan baju untuknya. Setelah mandi, Sean pergi untuk mengambil bajunya sendiri. Dia tidak melihat jika di atas tempat tidurnya sudah ada baju yang disiapkan Saffiya untuknya. Saat turun, Saffiya sedikit terkejut karena Sean tidak mengenakan baju yang dipilihnya. Sean menatap Saffiya heran.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pakaianku?" tanya Sean.
"Kenapa kau memakai pakaian lain, dibanding dengan pakaian yang sudah aku siapkan di atas tempat tidurmu?" tanya Saffiya.
"Kau sudah menyiapkan pakaian untukku?" ucap Sean.
"Kau ini sebenarnya kenapa Sean? Kenapa belakangan ini sikapmu itu berubah padaku?" teriak Saffiya.
Mendengar teriakan itu, Nasreen dan Emir langsung turun.
"Turunkan nada suaramu itu!" pinta Sean.
"Ada apa ini?" tanya Emir.
"Kau kenapa sayang?" tanya Nasreen pada Saffiya.
"Apa kau berubah karena dokter itu?" tanya Saffiya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan membawa dia dalam urusan kita, Saffiya!" ucap Sean tegas.
"Sudahlah, tidak baik bertengkar seperti ini." ucap Nasreen mencoba melerai perdebatan. Tidak lama Azizah dan Ulya datang. Mereka sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi di rumahnya.
"Ada apa ini?" tanya Azizah.
"Sudahlah ibu, ini masalah mereka berdua. Tidak perlu kita ikut campur." ucap Ulya.
"Diamlah kau!" teriak Saffiya sambil menunjuk wajah Ulya.
"Berani sekali kau menunjuk diriku seperti itu!" ucap Ulya yang mulai emosi.
"Sudah cukup!" ucap Azizah.
"Tidak ibu! Menantu keluarga ini sudah berani bersikap seperti itu padaku. Jika di diamkan, dia akan semakin menjadi-jadi." ucap Ulya.
Tidak lama Azizah merasa kepalanya pusing kembali. Dia berusaha berjalan ke kamarnya sendirian. Saat akan menaiki anak tangga, Azizah jatuh pingsan.
"Ibu....!" teriak Nasreen.
Dia meminta orang untuk segera menghubungi dokter. Sementara itu, Sean membawa Azizah ke kamarnya. Melihat Azizah pingsan, semua orang sangat khawatir. Mereka semua datang ke kamar Azizah untuk melihat kondisinya. Di sana terlihat Ulya sedang sibuk menghubungi dokter, tapi belum juga ada jawaban. Dengan cepat Sean menghubungi Humaira dan memintanya untuk datang ke rumahnya.
"Kenapa kau menghubungi dokter itu?" tanya Saffiya memulai kembali perdebatan.
"Apa ada masalah? Lagi pula Humaira adalah dokter nenek yang baru. Dia yang bertanggung jawab untuk merawat nenek." jawab Sean.
"Aku mohon nak, sudah hentikan. Kasihan ibu, tidak seharusnya dia melihat pertengkaran di antara kalian berdua." ucap Nasreen.
Saffiya pergi dari kamar Azizah karena tidak ingin melihat wajah Humaira. Saat sedang berjalan ke kamarnya, Ulya menarik tangannya kuat.
"Lepaskan tanganku bibi! Kau menyakitiku," ucap Saffiya.
"Dengar ini baik-baik! Kau hanya menantu di rumah ini, dengan kata lain kau hanyalah orang asing yang sedang menumpang hidup di rumah besar ini. Jika kau berani macam-macam padaku, aku akan menendang mu keluar dari rumah ini." ucap Ulya.
Tidak lama pelayan datang bersama Humaira. Ulya kembali ke kamar Azizah untuk mengetahui kondisinya. Tiba di sana, Humaira mulai memeriksa keadaannya. Dia memberitahu semua orang jika Azizah kelelahan, dia membutuhkan istirahat yang cukup ditambah lagi tekanan darahnya yang kembali naik. Tidak lama Azizah membuka matanya. Dia terlihat sangat senang mendapati Humaira yang ada disampingnya.
"Apa kau baik-baik saja ibu?" tanya Nasreen.
"Aku tidak apa-apa, nak."
"Apa nenek sudah meminum obat yang aku berikan?" tanya Humaira.
"Belum, nak. Tadi aku pergi dan belum sempat makan. Jadi, aku belum meminum obat itu." jawab Azizah.
"Sudah aku bilang supaya menghabiskan obatnya, lihatlah apa jadinya sekarang? Kau kembali pusing, dan semua orang yang ada disini sangat mengkhawatirkan keadaanmu." ucap Humaira. Baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan makan malam untukmu," ucap Humaira.
Melihat sikap baik juga perhatian Humaira pada Azizah, membuat semua orang sangat senang dan mulai menerima Humaira di rumahnya.
"Kau sangat beruntung mendapatkan dokter pengganti seperti gadis itu, ibu. Dia begitu perhatian padamu." ucap Emir.
"Kau benar, aku sangat beruntung. Jika saja aku memiliki seorang putra akan aku jodohkan putraku itu dengan Humaira." ucap Azizah membuat semua orang langsung terdiam saat mendengarnya.
"Kenapa kau bingung ibu? Saat Altan pulang nanti, kau bisa mengenalkannya pada Humaira." ucap Ulya.
"Tidak akan aku biarkan gadis sebaik Humaira jatuh ke tangan yang salah," ucap Azizah dalam hati.
Saat di kamarnya, Saffiya menerima telepon dari ibunya. Dia sudah mengirim sopir untuk menjemputnya. Saat itu juga Saffiya menolak pertemuannya dengan sang ibu. Malam ini suasana hatinya sedang tidak baik. Dia tidak ingin ibu dan ayahnya sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hubungannya dengan Sean. Mendengar penolakan putrinya, sang ibu merasa sangat sedih. Tidak lama Saffiya menutup teleponnya. Dia merasa sangat panas, dia pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Saat di dapur, Saffiya melihat Humaira yang sedang sibuk memasak makanan.
"Ekhm!" Mendengar suara itu, Humaira langsung membalikkan badannya.
"Kau disini?" tanya Humaira.
"Tentu saja, lagi pula ini rumahku. Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau ada disini?"
"Tekanan darah nenek naik, dan sejak tadi dia belum makan. Aku sedang membuat makanan untuknya." jawab Humaira.
"Apa yang sedang kau rencanakan di rumahku ini?" tanya Saffiya sinis.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Sudahlah, apapun itu akan aku pastikan semua rencanamu itu tidak akan berhasil." bisik Saffiya.
"Kau ini adalah perempuan yang sangat terhormat, juga berpendidikan. Tapi sepertinya kau tidak tahu bagaimana caranya untuk berterimakasih pada seseorang yang sudah menyelamatkan nyawamu." ucap Humaira.
Saffiya merasa sangat kesal dengan perkataan Humaira. Dia menumpahkan sup yang baru saja Humaira hidangkan sampai mengenai tangannya.
"Aww!"
Tiba-tiba saja pelayan datang dan melihat semua yang dilakukan Saffiya pada Humaira.
"Kau tidak apa-apa, dokter?" tanya pelayan itu.
"Dia bisa mengobati lukanya sendiri. Kembalilah bekerja!" ucap Saffiya menatap tajam pelayan itu dan melangkah pergi.
"Luka ini tidak seberapa nona, akan aku buat kau terluka lebih dalam lagi ketika nanti suamimu jatuh ke dalam pelukanku." ucap Humaira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments