SEAN BARRA JEEVAN

Sean Barra Jeevan sering kali dipanggil Sean, dia adalah seorang CEO sekaligus mafia yang terkenal kejam di kotanya. Dia adalah putra dari Nasreen dan Emir, sekaligus cucu tertua keluarga Jeevan. Sean seorang pria yang dingin juga ambisius. Apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Sean memiliki seorang adik perempuan yang bernama Zurafa Nasreen. Selama kurang lebih tiga tahun dia sekolah di luar negeri. Keluarga Jeevan adalah keluarga besar yang sangat berpengaruh di kotanya.

QATAR - PAGI HARI

Pagi itu, tirai kamar Sean masih tertutup rapat. Tidak lama datang seorang perempuan dan membuka tirai itu. Sean merasa silau karena pantulan sinar mentari yang mengenai wajahnya. Perempuan itu mengelus wajah Sean lembut. Sentuhan itu membuat Sean terbangun.

"Selamat pagi!" ucap Sean.

"Selamat pagi sayang," jawab perempuan itu manis. Sean menarik perempuan itu dalam pelukannya.

"Lepaskan aku!" pinta perempuan itu.

"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu. Aku sangat merindukanmu," ucap Sean. Perempuan itu langsung menyingkirkan tangan kekar itu dari tubuhnya. "Cepatlah bersiap! Kita harus segera turun untuk sarapan." Sean masih menggeliat malas di tempat tidurnya.

"Ayolah, cepat! Tunggu apa lagi?"

"Baiklah, aku akan segera bersiap."

\*\*\*

Saffiya Maira dia adalah sahabat kecil sekaligus istri dari Sean. Mereka menikah karena rasa cinta yang ada diantara keduanya. Kedua orang tua mereka adalah teman baik. Saffiya sendiri adalah putri dari perdana menteri Qatar. Dia dalah wanita impian para lelaki, namun sayang hanya tuan Sean lah yang bisa memilikinya. Bukan hanya cantik, Saffiya juga seorang model sekaligus aktris ternama yang banyak membintangi sebuah film. Keberuntungan terbesar dalam hidupnya karena dia istri dari Sean sekaligus menantu keluarga besar Jeevan. Semua orang sangat mencintainya apapun yang dia inginkan bisa langsung dia dapatkan.

Pagi itu semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tidak lama Sean dan Saffiya datang.

"Selamat pagi!" ucap Saffiya.

"Selamat pagi!" jawab Nasreen. "Silahkan duduk, nak!"

"Terimakasih, ibu."

Pelayan mulai menghidangkan makanannya di atas piring semua orang. Saat pelayan menghidangkan makanan ke piring Sean, Saffiya langsung menyingkirkannya. "Ambilkan makanan lain!" pintanya. Semua orang menatap Saffiya heran.

"Kenapa kau menyuruh pelayan untuk menyingkirkan makanannya?" tanya Ulya, selaku bibi dari Sean.

"Sean tidak menyukai makanan yang terlalu banyak mengandung minyak, karena itu aku menyuruh pelayan untuk mengambil makanan yang lain," ucap Saffiya.

"Benarkah?" tanya Ulya tidak percaya.

"Kenapa kau meragukannya? Saffiya adalah sahabat Sean dari kecil. Dia sudah mengenal Sean dengan baik. Tentu saja dia tahu apa yang Sean sukai dan tidak," sambung Nasreen.

Saat sedang makan, ponsel Sean berbunyi. Dia pergi untuk mengangkatnya. Saffiya menyudahi makannya dan menyusul Sean. Tanpa Sean ketahui, Saffiya berada di belakangnya dan mendengar semua pembicaraannya di telepon. Setelah Sean menutup teleponnya, Saffiya muncul.

"Ada apa?" tanya Saffiya.

"Hanya masalah pekerjaan saja," jawab Sean singkat. "Baiklah, aku akan pergi ke kantor sekarang."

"Aku mendengar semuanya, kau akan pergi untuk melakukan pekerjaan kotor mu itu, bukan? Berapa banyak nyawa yang sudah kau habisi?" Sean menatap Saffiya tajam. Senyum nampak dari bibirnya, dia mendekat dan mengelus rambut Saffiya lembut. "Jika saja orang lain yang mengatakan semua itu, pasti sudah aku bungkam mulutnya. Tapi, sayang perkataan itu keluar dari mulut istri yang sangat aku cintai. Kau tahu? Aku sangat mencintaimu dan tidak bisa menyakiti perasaanmu, apalagi sampai harus membentak mu."

Sean langsung pergi dari hadapan Saffiya tanpa menghiraukan perasaannya sedikitpun.

Aaaa...

"Kenapa kau selalu pergi seperti ini?" Saffiya tidak bisa menahan air matanya lagi, dia pergi ke kamar untuk menenangkan diri. Sementara itu, Nasreen masih berada di meja makan. "Dimana Sean dan Saffiya? Kenapa mereka belum juga kembali?" Nasreen menyuruh pelayan untuk mencarinya. Tidak lama pelayan datang.

"Maaf nyonya, baru saja tuan muda pergi," ucapnya.

"Apa dia pergi dengan istrinya?"

"Tidak nyonya, tuan muda pergi sendiri." Pelayan itu langsung kembali ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.

"Kenapa kau merasa heran kakak? Bukankah putramu itu selalu bersikap seperti itu? Mentang-mentang dia itu cucu tertua keluarga ini, seenaknya saja dia bersikap. Jika dia menghormati kalian sebagai orang tuanya, setidaknya dia bilang jika akan pergi," ucap Ulya sambil meninggalkan meja makan. Nasreen melihat dengan jelas dari cara Ulya bicara, jika dia sangat tidak menyukai Sean. Tapi sikap adiknya itu tidak terlalu Nasreen pikirkan, sekarang ini dia hanya ingin tahu keberadaan Saffiya.

Sementara itu, Saffiya masih terlihat sedih di kamarnya. Sudah dua tahun mereka menikah, tapi Sean tidak pernah melibatkan Saffiya dalam setiap masalahnya. Dia selalu mengambil keputusannya sendiri tanpa ingin tahu apa pendapat Saffiya mengenai hal itu. Saffiya terbayang dengan wajah Sean tadi pagi. Terlihat sangat jelas di wajahnya jika dia mencoba untuk menahan amarahnya. Saffiya merasa sangat bersalah karena sudah mengatakan semua itu pada suami tercintanya. Tiba-tiba ponsel Saffiya berdering. Dia langsung mengangkat teleponnya saat tahu ibunya yang menghubunginya.

"Halo ibu!"

"Halo, sayang! Apa nanti malam kau sibuk?"

"Tidak, memangnya ada apa?"

"Ibu hanya ingin memberitahumu jika ayahmu mengundang keluarga besar Jeevan untuk makan malam dirumahnya. Kau harus datang bersama Sean. Ayahmu ingin membicarakan hal penting pada kalian."

"Baiklah, nanti aku akan memberitahu Sean."

\*\*\*

Sebelum pergi ke kantor, Sean mengunjungi markas persembunyian. Di sana sudah ada Edgar selaku kaki tangan Sean.

"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Sean.

"Aku sudah menyuruh anak buah kita untuk mencaritahu keberadaan orang itu,"

"Lalu?"

"Dia sedang berada di kota ini,"

"Baguslah, tugasmu sekarang ini hanya mencaritahu dimana keberadaan orang itu. Jika sudah dapat, langsung kabari aku!"

"Baik, tuan muda."

Di satu sisi, Nasreen melihat Saffiya yang tengah berada di ruang tengah.

"Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" Saffiya langsung tersadar dari lamunannya.

"Tentang Sean ibu..."

"Kenapa dengan Sean? Apa kalian bertengkar?"

Saffiya memberitahu Nasreen jika tadi pagi dia sempat mendengar semua pembicaraan Sean ditelepon. Dua tahun sudah mereka menikah tapi rasanya belum pernah Sean berbagai masalah dengannya. Dia selalu mengambil keputusannya sendiri tanpa ingin tahu pendapatnya. Nasreen melihat air mata yang terjatuh dari kelopak mata Saffiya. Dia mendekat dan memeluknya.

"Maafkan putraku, jika dia telah melukai perasaanmu. Tapi menurutku itu hal wajar. Kau tahu bukan, pekerjaan Sean seperti apa? Dia tidak ingin menceritakan setiap masalahnya padamu karena takut kau akan selalu mengkhawatirkan keselamatannya. Percayalah padaku, nak! Sean melakukan semua itu karena dia sangat mencintaimu. Dia selalu menjagamu dari siapapun yang ingin mencelakainya, termasuk dari musuh-musuhnya. Sudahlah, hapus air mata itu! Jangan sampai air mata itu terlihat oleh orang tuamu, nanti mereka mengira jika kau tidak bahagia tinggal disini," ucap Nasreen.

"Itu sama sekali tidak benar! Aku merasa aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini karena menjadi menantu keluarga ini, sekaligus istri dari Sean," ucap Saffiya. Dia langsung menghapus air matanya. Dia berjanji tidak akan bersedih lagi karena hal itu. Dia percaya pada Sean apapun yang dia lakukan adalah untuk kebaikannya. Dia harus terus berada didekat suaminya dan mendukung segala keputusannya tanpa ragu. Saffiya memberitahu Nasreen jika nanti malam sang ayah mengundang keluarga besarnya untuk makan malam.

"Apa ibuku sudah menghubungimu tentang hal itu?" tanya Saffiya.

"Kami sudah mendapatkan undangan makan malamnya. Coba bicara dengan Sean sekarang! Minta dia agar bisa meluangkan waktunya untuk pergi menemui ayahmu," pinta Nasreen.

"Aku baru saja ingin menghubunginya, ibu. Aku akan pergi ke kamarku dulu, nanti aku beritahu ibu kembali tentang ini," ucap Saffiya.

"Baiklah, beritahu ibu secepatnya!"

\*\*\*

SIANG HARI - MAROKO

Siang itu, Humaira baru selesai dari pekerjaannya. Seperti biasa dia pergi ke tempat latihan untuk melihat Hakim berlatih. Tiba disana, Humaira tidak mendapati Hakim. Dia pergi menemui sang ayah untuk menanyakan keberadaan Hakim.

"Permisi, ayah! Apa aku boleh bicara sebentar?"

"Ada apa, sayang?"

"Aku tidak melihat Hakim hari ini, apa dia absen?"

"Tadi dia sempat berlatih beberapa menit, hanya saja dia meminta izin untuk pulang lebih dulu."

"Apa ayah tahu kenapa dia pulang lebih awal?"

"Tidak, nak. Tapi ayah dengar dari pemain lain jika saat latihan Hakim sempat menerima telepon dari seseorang. Setelah itu dia pergi," jawab sang ayah.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ayah."

Siang itu Humaira pergi ke rumah Hakim. Tiba di depan rumahnya, dia melihat ada sebuah mobil hitam yang terparkir. "Mobil siapa itu? Apa hakim sedang menerima tamu di rumahnya saat ini?" ucapnya. Humaira tidak langsung turun, dia sempat menunggu di dalam taksi dan terus memantau mobil itu. Kurang lebih satu jam, akhirnya pemilik mobil itu keluar dan pergi.

"Siapa mereka? Dari cara mereka berpakaian, mereka sepertinya berasal dari kalangan atas. Seperti... Ah, tidak mungkin!" Humaira menyingkirkan semua pikiran buruknya. Dia turun dan langsung menemui Hakim. Saat tiba di pintu masuk, Humaira sempat mendengar percakapan Hakim dengan ibunya.

"Bagaimana ini, nak? Dia memintamu untuk segera menikahi putrinya!"

Mendengar hal itu, Humaira menutup mulutnya tidak percaya.

"Aku tidak bisa, ibu. Aku sangat mencintai Humaira. Aku sudah berjanji padanya setelah piala dunia nanti, aku akan melamarnya," ucap Hakim. "Kenapa ibu terus memaksaku untuk menikahi putri dari pria itu? Apa kita memiliki hutang pada mereka? Katakan berapa hutang itu! Aku akan langsung melunasinya sekarang juga," ucap Hakim.

Tangis sang ibu pecah. Dia memberitahu Hakim jika ayahnya masih hidup. Dia menjadi tahanan pria tadi. Untuk menebus ayahnya Hakim harus menikahi putri dari pria itu. Hakim merasa kesal karena ibunya sudah menyembunyikan kebenaran ini darinya. Sejak dulu, Hakim tahu jika sang ayah sudah meninggal karena setiap Minggu ibunya selalu membawa dia ke makam ayahnya.

"Lalu, makam itu?" tanya Hakim.

"Makam itu kosong, nak. Aku membuat makam itu agar kau percaya akan kematian ayahmu," jawab si ibu.

"Kenapa ibu menyembunyikan semua ini dariku?" tanya Hakim.

Sang ibu sangat menyesal dan meminta maaf pada Hakim. Dulu, usianya masih terlalu muda untuk mengetahui semua kebenarannya, sang ibu tidak ingin semua itu menjadi beban dan penghalang untuk Hakim menggapai impiannya menjadi pemain sepakbola dunia.

"Kenapa ayah ditahan?" tanya Hakim.

"Dia sudah berkhianat pada tuan Mehmet Omar," jawab sang ibu.

"Siapa dia?"

"Seorang mafia kejam dan bengis. Bisa dibilang ayahmu adalah kaki tangan tuan Omar."

"Jadi... maksud ibu ayah seorang kaki tangan mafia?"

"Kau benar!" Sang ibu memohon pada Hakim untuk memikirkan keputusannya kembali. Kebebasan ayahnya berada ditangannya. Humaira langsung pergi dari tempat itu sebelum Hakim mengetahuinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!