MIMPI BURUK

Setelah makanannya siap, Humaira membawa makanan itu ke kamar Azizah. Di sana semua orang masih terlihat berkumpul. Dia berusaha untuk menyembunyikan luka tangannya dari semua orang. Saat melihat makanannya sudah datang, Nasreen langsung menerima makanan itu.

"Biar aku yang akan menyuapi ibu," ucap Nasreen.

"Tidak nak, aku ingin Humaira sendiri yang menyuapiku." pinta Azizah.

Ini adalah kesempatan Azizah untuk bisa bicara dengannya berdua sekaligus mengenal Humaira lebih jauh lagi. Saat itu juga Azizah meminta semua orang untuk meninggalkan kamarnya. Hanya ada Humaira bersamanya.

"Nenek makan yang banyak ya, supaya nenek cepat sembuh." ucap Humaira sambil menyuapi Azizah. Tidak sengaja Humaira melihat sebuah syal yang ada di dekat tempat tidur Azizah.

"Syal itu sangat indah, nek. Apa kau sendiri yang membelinya?" tanya Humaira.

"Oh, ini syal dari suamiku. Dia memberiku syal ini di saat ulang tahunku." ucap Azizah.

"Dimana suamimu sekarang?" tanya Humaira.

"Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."

"Kau dari Maroko bukan?" tanya Azizah.

"Ada apa memangnya, nek?"

Azizah meminta Humaira untuk membelikan syal baru untuknya yang sama persis dengan syal yang diberikan suaminya. Dia juga menceritakan pada Humaira bagaimana usahanya itu untuk mencari syal yang sama di pasar tradisional Qatar. Syal itu hanya bisa didapatkan di salah satu pasar yang ada di Maroko. Mendengar permintaan Azizah, Humaira tentu saja akan mencari syal itu untuknya. Setelah makan, Azizah meminta Humaira untuk berdiri di depan cermin. Dia mulai mengenakan syal miliknya pada Humaira.

"Syal ini terlihat sangat indah padamu, nak." ucap Humaira.

"Terima kasih, nenek. Syal ini pasti sangat berharga untukmu sampai kau ingin membeli syal baru yang sama persis dengan syal milikmu ini." ucap Humaira.

Saat Humaira sedang mengenakan syal itu, dia mengingat sesuatu dalam kepalanya.

"Syal ini... Kenapa syal ini sama persis dengan syal yang dibawa pria itu ketika akan membunuh ibu?" ucapnya dalam hati.

Humaira langsung menghilangkan pikiran buruknya. Dia sangat tahu jika Azizah dan semua orang di rumah ini adalah keluarga baik-baik. Lagi pula orang yang memiliki syal itu bukan hanya satu melainkan banyak.

\*\*\*

Malam itu, seperti biasa Zura baru kembali menonton pertandingan. Setelah menyelesaikan kuliahnya, dia tidak melakukan apapun selain menonton pertandingan dan berkumpul bersama teman-temannya. Melihat putrinya sudah datang, Emir meminta dia untuk ikut bersamanya ke ruangan.

"Ada apa ayah? Kenapa kau mengajakku kemari?" tanya Zura.

"Kau ini sudah lulus kuliah, nak. Apa tidak sebaiknya kau mulai mencari pekerjaan yang cocok denganmu?" ucap Emir.

"Aku sudah mencobanya ayah, tapi sampai sekarang masih juga belum ada panggilan." jawab Zura.

"Kenapa kau tidak mengatakan jika kau ini berasal dari keluarga Jeevan? Dengan begitu mereka akan langsung menerimamu bekerja di perusahaannya." ucap Emir.

"Bukan itu yang aku inginkan, ayah. Biarkan aku berdiri di atas kakiku sendiri. Aku hanya tidak ingin orang lain melihatku karena aku ini dari keluarga Jeevan, aku ingin mereka menghargai ku karena kerja kerasku," ucap Zura.

"Baiklah, besok ayah akan meminta pekerjaan di perusahaan Sean untukmu." ucap Emir.

"Terima kasih banyak ayah," ucap Zura sambil memeluk ayahnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Humaira baru saja menemani Azizah tidur. Tidak lama Sean datang untuk melihat neneknya. Dia sangat berterimakasih untuk apa yang sudah Humaira lakukan untuk malam ini. Saat akan pergi, tidak sengaja Sean memegang tangan Humaira dan saat itu juga Humaira sedikit kesakitan tapi dia mencoba untuk menahan rasa sakit itu.

"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Sean.

"Aku tidak apa-apa," jawab Humaira. Permisi, aku harus pergi."

"Tunggu! Coba aku lihat tanganmu!" Sean melihat tangan Humaira yang sedikit melepuh. Dia meminta Humaira untuk menunggunya sebentar. Tidak lama Sean datang membawa kotak obat. Dia mulai mengobati luka yang ada di tangan Humaira.

"Apa yang terjadi dengan tanganmu ini?" tanya Sean.

"Aku hanya terkena kuah sup saja."

Humaira bisa saja mengatakan semuanya, tapi dia tidak ingin ada pertengkaran yang terjadi antara Sean dan istrinya hanya karena dirinya. Dia ingin tetap fokus pada pekerjaannya itu, tanpa memikirkan hal lain. Setelah selesai, Humaira langsung segera pulang. Dia takut jika sang ayah mencarinya di hotel. Sean meminta sopir untuk mengantarnya, tapi Humaira sudah lebih dulu memesan taksi. Saat akan pergi, Sean mengantar Humaira sampai ke depan pintu. Dia melihat taksi yang dipesan Humaira sudah sampai.

"Sampai jumpa!" ucap Sean.

Humaira hanya tersenyum dan masuk ke dalam taksi. Sementara itu, saat akan masuk, Sean melihat Saffiya yang sedari tadi memperhatikannya dari lantai atas. Sean tidak menghiraukannya sedikit pun. Malam ini Sean tidur di kamar neneknya sekaligus untuk memantau kondisinya.

\*\*\*

Saat tengah malam, Azizah sempat bermimpi buruk. Dalam mimpinya dia melihat Zayn yang sedang disiksa untuk semua kesalahannya. Dia meminta tolong pada Azizah untuk melepaskannya dari dosa itu. Di satu sisi, Azizah juga melihat seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari Zayn. Karena penasaran, Azizah mendekati perempuan itu.

"Siapa kau?" tanya Azizah.

Mendengar seseorang yang ada di belakangnya, wanita itu langsung membalikkan badannya. Saat dilihat wanita itu penuh dengan luka lebam di wajah juga luka lain yang ada pada tubuhnya.

Wanita itu memegang tangan Azizah dan memberikannya sesuatu.

"Apa ini?" tanya Azizah bingung.

"Ini adalah hadiah untuk putriku. Aku belum sempat memberikannya pada dia. Tolong kau berikan ini padanya, dan katakan ini adalah hadiah ulang tahun dariku untuknya." ucap perempuan itu.

Tidak lama wanita itu hilang begitu saja. Saat Azizah membuka kotak itu, dia sangat terkejut saat mendapati isi kotak itu adalah sebuah syal yang sama persis dengan syal miliknya. Tidak lama Azizah bangun dari mimpi buruk itu. Sean langsung menghampiri neneknya dan memberikannya segelas air. Azizah terlihat menangis setelah mengalami mimpi aneh itu. Sean yang melihat sikap aneh neneknya bingung. Dia terus meneteskan air mata tanpa mengatakan apapun. Azizah beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil syal yang ada di dalam lemarinya. Azizah sibuk mencari kotak dari syal itu. Dia lupa menaruh kotak itu dimana.

"Apa yang sedang nenek cari?" tanya Sean.

"Tolong carikan aku kotak dari syal ini!" pinta Azizah pada Sean.

Saat melihat ke bawah tempat tidur neneknya, Sean melihat kotak itu ada di sana. "Ini kotaknya nek!" ucap Sean.

Azizah sangat terkejut melihat kotak itu yang ternyata sama dengan kotak yang ada dalam mimpinya. Azizah semakin bimbang. Dia tidak tahu harus menceritakan mimpinya pada siapa. Apa arti dari mimpinya itu?

"Nenek, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sean.

Azizah akhirnya menceritakan semua mimpinya itu pada Sean. Dia meminta Sean untuk segera mencari keluarga dari wanita itu. Hatinya tidak akan tenang sampai keluarga wanita itu ditemukan. Sean mencoba untuk menenangkan neneknya, dia meyakinkan jika itu hanyalah sebuah mimpi buruk dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan nyata. Azizah mencoba memejamkan matanya kembali tapi tidak bisa. Dia akhirnya terjaga sampai pagi kembali datang menyapa.

\*\*\*

Pagi itu, semua orang tengah berkumpul di meja makan. Saat makan, Emir meminta Sean untuk memberi Zura pekerjaan di kantornya. Dia tidak ingin Zura berkeluyuran tidak jelas. Dia ingin masa depan putrinya itu cerah secerah dirinya. Dia ingin Zura bekerja keras sejak dini dan meraih semua impiannya di kemudian hari. Dia ingin melihat putra dan putri tercintanya itu menjadi orang yang hebat dan sukses.

"Ayolah kakak, aku sangat membutuhkan pekerjaan. Kau bisa menempatkan ku sebagai apapun di perusahaanmu." ucap Zura.

"Baiklah, kalau begitu apa kau bersedia menjadi seorang cleaning servis?" tanya Sean.

"Cleaning servis? Apa kau tidak salah kakak?" tanya Zura.

"Sean..."

"Aku hanya bercanda ibu, tidak mungkin aku menempatkan adikku di posisi seperti itu." ucap Sean.

"Selamat pagi, semua!" ucap Saffiya yang baru saja datang.

Melihat kedatangan Saffiya, Sean langsung beranjak dari meja makan. Dia bersiap untuk segera pergi ke kantor. Melihat sikap mereka berdua, Nasreen yakin jika mereka masih bertengkar. Dia akan mencari cara untuk menyatukan mereka kembali. Sebelum pergi, Sean sempat kembali ke meja makan. Dia memberitahu Zura jika dia akan menjadi seorang asisten di perusahaannya menggantikan asisten lama yang sudah memundurkan diri. Mendengar hal itu, Zura terlihat sangat bahagia.

"Kapan aku mulai bekerja kakak?" tanya Zura.

"Kau akan mulai bekerja hari ini. Pergilah ganti pakaianmu! Aku akan menunggumu di depan."

"Baik kakak, aku akan segera datang."

Saat Sean berada di mobilnya, dia lupa dengan berkas yang ada di ruang kerjanya. Saat kembali, Sean melihat pelayan yang sedang menyiram tanaman di kebun belakang. Sean menghampiri pelayan itu.

"Tuan, apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan itu.

"Apa kau tahu kenapa tangan Humaira bisa terluka seperti itu?" tanya Sean.

Pelayan itu sempat terdiam. Dia takut jika sampai mengatakan yang sebenarnya, Saffiya tidak akan segan untuk memecatnya. Sean melihat jelas dari wajah pelayan itu jika dia sangat ketakutan. Dia seakan tahu sesuatu tapi berusaha untuk menutupinya.

"Katakan saja bi! Kau tidak perlu takut pada siapa pun. Justru jika kau sampai berbohong, aku sendiri yang akan langsung memecat mu dari pekerjaan ini." ucap Sean.

"Kemarin bibi lihat nona Saffiya yang sengaja menumpahkan kuah sup itu di tangan nona Humaira," jawab pelayan itu penuh rasa takut.

Mendengar hal itu, Sean kembali masuk dan menemui Saffiya. Pagi itu, Saffiya sedang bersiap untuk pergi ke lokasi syuting. Semua orang dibuat terkejut dengan teriakan Sean.

"Saffiya!" teriak Sean.

"Ada apa nak? Kenapa kau terlihat sangat marah?" tanya Nasreen.

Sean terlihat sangat marah, tetapi di tangga dia bertemu dengan neneknya. Azizah meminta Sean untuk bisa mengontrol emosinya.

"Ada apa lagi? Kenapa kalian terus saja bertengkar?" tanya Azizah.

"Apa nenek tahu, tadi malam aku melihat tangan Humaira terluka."

"Ya ampun, kenapa bisa terluka?"

"Tangannya melepuh karena ulah Saffiya yang sengaja menumpahkan kuah sup pada tangan Humaira."

Mendengar hal itu, Nasreen tidak mempercayainya. Dia tahu jika Saffiya itu gadis seperti apa. Tidak mungkin dia sampai melukai tangan orang lain seperti itu. Sean memberitahu ibu dan neneknya jika pelayan sendiri yang menyaksikan semua itu. Dia awalnya bungkam karena takut pada ancaman Saffiya, tapi akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya.

"Kakak ayo kita pergi, aku sudah siap!" ucap Zura dari bawah.

"Sudahlah, nak. Kau pergi saja. Biar semua ini nenek yang urus." ucap Azizah. "Jangan biarkan adikmu itu menunggu, ini adalah hari pertamanya dia bekerja di perusahaanmu. Buat suasana hatinya senang."

Saat Saffiya akan pergi, Azizah meminta dia untuk menemuinya di ruang tengah. Saffiya terlihat sangat cemas dengan apa yang akan dikatakan Azizah nanti padanya. Tiba di sana, Saffiya melihat ada ibu mertuanya juga. "Ada apa ini? Kenapa nenek dan ibu memanggilku?" ucapnya dalam hati.

"Duduklah!" pinta Azizah.

Tiba-tiba saja Nasreen menunjukkan rekaman CCTV yang ada di dapur. Saffiya sangat terkejut melihat rekaman itu berhasil merekam semua yang dia lakukan pada Humaira tadi malam.

"Kenapa kau melakukan semua itu pada Humaira?" tanya Azizah.

"Aku tidak menyukainya nenek, kau juga semua orang di rumah ini selalu saja memujinya. Humaira inilah, Humaira itulah. Aku cemburu melihat sikap kalian padanya yang seperti itu. Sementara aku, hanya ibu yang selalu mendukungku, kau dan yang lainnya dimana? Kalian seakan acuh padaku." ucap Saffiya.

"Jika kau merasa sikap semua orang padamu seperti itu, lalu kenapa kau memperburuk keadaannya?" tanya Azizah.

"Apa maksud nenek?" tanya Saffiya bingung.

"Saat semua orang tahu sikapmu yang sebenarnya mungkin mereka akan mulai membencimu, dan berpaling darimu. Mereka akan sangat jauh darimu, bisa jadi mereka akan lupa jika kau adalah bagian dari keluarga ini." ucap Azizah.

Mendengar perkataan neneknya, ada ketakutan yang sangat besar dalam diri Saffiya. Dia takut jika semua perkataan neneknya itu menjadi kenyataan suatu saat nanti. Dia akan dijauhi semua orang, dan tidak akan diakui lagi menjadi menantu keluarga Jeevan.

"Maafkan aku nenek," ucap Saffiya.

"Kenapa harus meminta maaf padaku? Minta maaflah pada Saffiya, karena dia orang yang sudah kau lukai tangannya dengan sengaja." ucap Azizah sambil beranjak pergi. Tidak lama Nasreen pun pergi meninggalkan Saffiya. Dia terlihat sangat marah. Semua orang di rumah ini berubah semenjak kedatangan Humaira. Saffiya tidak akan membiarkan Humaira meracuni pikiran semua orang, termasuk ibu dan neneknya.

Terpopuler

Comments

Citraalief

Citraalief

kerennn... makasih up nya kakakkk 😊 boleh nambah 🙈✌

2023-01-31

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!