PERMINTAAN ZEYNEP PADA SEAN

Siang itu, Humaira baru saja selesai melakukan operasi. Dia pergi ke kantin untuk makan siang. Saat makan Humaira teringat dengan video yang dikirim ibu Hakim semalam. Dia tahu Hakim akan kecewa dengan keputusannya itu. Tapi bagaimana pun, Humaira tidak ingin memikirkan dirinya sendiri. Dia ingin Hakim bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya dengan begitu kehidupan Hakim akan menjadi lebih lengkap. Selesai meeting, Sean pergi ke rumah sakit untuk menemui Humaira. Tiba disana, Sean bertemu dengan Aiyse.

"Selamat siang, Sean. Ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya Aiyse.

"Mmm... aku ingin menemui dokter Humaira." jawab Sean.

Aiyse menyuruh seorang perawat untuk mengantar Sean ke ruangan Humaira. Tiba disana, Sean tidak melihat siapa pun.

"Kau bisa menunggunya di sini, tuan. Dokter Humaira mungkin sedang makan siang di kantin." uacp perawat.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Humaira tiba di ruangan. Dia sangat terkejut melihat Sean di ruangannya.

"Kau disini tuan? Apa penyakit nenek kambuh lagi?" tanya Humaira.

"Tidak," jawab Sean singkat.

"Lalu, untuk apa kau datang kemari?" tanya Humaira.

"Mmm..." Sean sempat terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin jika dia berterus terang jika tujuannya datang hanya untuk bisa melihatnya bekerja.

"Kenapa kau diam saja?" tanya Humaira.

"Nenek yang memintaku untuk datang. Dia ingin tahu apa kau sudah makan atau belum. Soalnya tadi pagi kau langsung pergi tanpa makan terlebih dahulu." jawab Sean akhirnya menemukan alasan yang tepat.

Sean terus memperhatikan Humaira yang sedang bekerja.

"Cake carrot buatan mu sangat enak, dokter." ucap Sean.

Humaira sempat bingung. Setahunya cake carrot itu dia buat hanya untuk Zeynep. Lagi pula, saat di meja makan Humaira tidak melihat Sean memakan kue itu. Sean seakan tahu apa yang sedang Humaira pikirkan. Dia langsung memberitahu Humaira jika neneknya yang memberikan cake carrot itu dalam kotak makan siangnya.

"Oh... untung saja kau mengatakan semua itu. Jika tidak, mungkin pikiranku aku akan terus bertanya dari mana kau mendapatkan kue itu." ucap Humaira tersenyum lebar.

Di satu sisi, Edgar masih menunggu kedatangan Sean. Dia memiliki informasi penting tentang kejadian bom itu yang sempat membuatnya masuk ke rumah sakit. Dia mencoba menghubungi ponselnya, dan akhirnya tersambung.

"Halo Sean! Kau dimana?" ucap Edgar.

"Ada apa? Kenapa suaramu terdengar sedikit berbeda?" tanya Sean.

Edgar menyuruh Sean untuk segera ke kantor. Dia tidak bisa membicarakan semua itu melalui telepon. Setelah menutup teleponnya, Sean memberitahu Humaira jika dia harus kembali ke kantor karena ada urusan yang sangat penting. Sean akhirnya pergi dari hadapan Humaira.

Siang itu, Nasreen pergi untuk menemui Saffiya di lokasi syuting. Di sana dia melihat menantunya itu sedang melakukan beberapa adegan. Setelah selesai, Nasreen melihat seorang pria yang duduk bersama Saffiya. Dia sempat bertanya pada crew yang ada disana. Nasreen sedikit lega karena tahu jika pria itu adalah aktor utama yang akan bersanding dengan Saffiya dalam film itu. Tidak lama seorang crew menghampiri Saffiya. Dia terlihat sangat senang saat tahu Nasreen datang menemuinya.

"Kau disini ibu?" tanya Saffiya.

"Iya, nak. Aku datang untuk melihat menantu hebatku ini berakting." jawab Nasreen.

Saffiya meminta izin pada sutradara untuk pergi ke luar sebentar. Dia dan Nasreen akan pergi untuk makan siang. Di sebuah restoran tidak jauh dari lokasi syuting, Saffiya melihat ibunya yang juga ada disana. Dia datang bersama dengan ibu sosialita lainnya. Saffiya langsung membawa Nasreen ke tempat lain.

"Ada apa nak? Bukankah tadi kau mengajakku ke tempat ini?" tanya Nasreen sedikit heran.

"Aku akan membawa ibu ke tempat yang lebih bagus lagi. Kebetulan, aku memiliki waktu break satu sampai dua jam."

Tidak lama mereka tiba di sebuah restoran yang tidak kalah mewah dengan restoran sebelumnya.

"Tempat ini sangat indah, nak. Apa ini tempat favorit mu bersama ibumu?" tanya Nasreen.

Mendengar pertanyaan Nasreen, Saffiya terlihat diam saja. Dia memberitahu Nasreen jika ibunya tidak pernah memiliki waktu untuknya. Dia selalu pergi dengan grup sosialitanya. Jangankan mengajaknya makan bersama, terkadang ibunya itu lupa untuk menanyakan kabar putrinya. Saffiya terlihat sangat sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia sangat beruntung memilik seorang ibu mertua yang sangat baik juga perhatian seperti Nasreen. Apa yang tidak dia dapatkan dari ibunya, bisa dia dapatkan dari Nasreen.

"Aku sudah menganggap mu seperti ibu kandung ku sendiri, aku berjanji akan menjadi seorang putri sekaligus menantu yang bisa kau banggakan." ucap Saffiya.

"Aku percaya sepenuhnya padamu, nak." ucap Nasreen sambil menghapus air mata yang sempat menetes di wajah Saffiya.

\*\*\*

Tiba di kantor, Sean langsung pergi menemui Edgar.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sean.

"Aku sudah mencaritahu tentang bom itu," jawab Edgar.

"Lalu, siapa pelakunya?"

Edgar memberitahu Sean jika bom itu sebuah bom rakitan yang berasal dari Maroko. Seseorang telah berhasil masuk dan mengetahui tentang tempat persembunyian senjata itu. Edgar belum tahu siapa orang itu, tapi dia meminta Sean untuk selalu berhati-hati karena sepertinya orang ini sangat cerdas. Dia bekerja tanpa meninggalkan jejak apapun. Mengetahui tempat itu sudah hancur lebur, Sean menyuruh Edgar mencarikan tempat baru untuk persenjataannya. Kali ini dia tidak mau ada seorang pun yang tahu tentang tempat itu.

Malam itu, Sean baru tiba dari kantor. Dia melihat keadaan rumah yang sepi. Tidak lama seorang pelayan datang menyambutnya.

"Dimana semua orang?" tanya Sean.

"Nyonya Nasreen pergi ke lokasi syuting nona Saffiya, nona Zura pergi menonton pertandingan, sedangkan tuan Emir dia pergi ke luar kota karena urusan mendadak." jawab pelayan itu.

"Lalu, dimana nenek?" tanya Sean.

"Dia ada di kamarnya, tuan."

Tiba di sana, Sean melihat neneknya sedang duduk di sofa dengan mata yang terpejam. Mendengar suara langkah kaki, Zeynep langsung terbangun.

"Kau sudah pulang nak?" ucap Zeynep.

"Iya nenek. Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Sean.

"Tidak sama sekali," jawab Zeynep.

Sean melihat wajah neneknya seperti sudah menangis. Dia terlihat sedikit murung tidak seceria biasanya.

"Apa nenek menangis?" tanya Sean.

Zeynep hanya tersenyum mendengar pertanyaan cucunya itu. Sudah sepuluh tahun sang suami pergi meninggalkannya, mungkin ini saatnya Sean untuk tahu semuanya. Zeynep berdiri dan mengambil sesuatu yang ada di dalam lemarinya. Saat dilihat ternyata sebuah kotak kayu berukuran sedang dengan ukiran indah.

"Apa isi kotak itu?" tanya Sean penasaran.

Saat di buka, Zeynep menunjukkan foto kakeknya pada Sean. Itu adalah foto yang Zeynep miliki satu-satunya. Saat melihat foto itu, rasanya air mata Sean tidak tertahan lagi. Dia sangat merindukan kakeknya itu. Saat kakeknya itu meninggal, Sean masih tinggal di luar negeri bersama ibunya. Sean merasa heran kenapa di rumah ini tidak ada satu pun foto kakeknya yang terpajang. Zeynep bukan tidak mau menyimpan foto itu di rumahnya, tapi ini adalah salah satu permintaan suaminya untuk tidak memajang satu pun foto saat dia sudah meninggal. Zeynep melihat wajah Sean yang kebingungan. Dia akhirnya menceritakan semua kisahnya.

\*\*\*

Dulu, kakeknya itu adalah seorang mafia yang terkenal kejam di dunia. Dia tidak pernah berfikir lagi jika ingin menghabisi seseorang. Dia bekerja seorang diri, tanpa memiliki seorang kaki tangan. Semua itu dia lakukan karena kaki tangan yang dia percaya sebelumnya sudah berkhianat padanya bahkan dia hampir membunuh kakeknya itu. Dengan berjalannya waktu, sang kakek menemukan seseorang yang menurutnya bisa dipercaya sebagai kaki tangannya, tapi pria itu menolaknya. Istri dari pria itu sama sekali tidak mengizinkan suaminya melakukan pekerjaan kotor sampai akhirnya sang kakek menculik istri dari pria itu dengan tujuan agar suaminya mau menerima pekerjaan itu. Pria itu tetap menolaknya dengan keras. Sang kakek sudah habis kesabaran. Dia menyiksa istri pria itu sampai dia meninggal.

Saat menceritakan kisah itu, air mata Zeynep tidak berhenti menetes.

"Nak, tolong bantu aku untuk membebaskan kakek mu dari dosa ini...." ucap Zeynep sambil berlinang air mata.

"Tolong temukan suami dari istri yang sudah kakek mu siksa itu, jika perlu aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan pengampunannya."

Sean menghapus air mata neneknya dan berjanji akan menemukan pria itu.

\*\*\*

Malam itu, Humaira memberitahu ayahnya jika dia tidak bisa ikut ke lapangan karena pekerjaannya yang masih belum selesai. Mengetahui Humaira tidak akan datang, Hakim terlihat sangat sedih. Dia seperti kehilangan semangat untuk pertandingan malam ini. Di satu sisi, terlihat Humaira yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Zeynep. Tidak lama ponselnya berdering.

"Halo, nak!" ucap Zeynep.

"Halo nenek! Apa kau belum tidur?" tanya Humaira.

"Aku tidak bisa tidur pada jam segini, nak. Aku sudah terbiasa tidur larut malam."

"Itu tidak baik untuk kesehatanmu, nenek. Baiklah, kalau begitu besok aku bukan hanya akan membuat menu makanan untukmu, tapi juga jadwal istirahat mu. Kau tidak bisa terus tidur larut malam seperti itu, tidak baik untuk kesehatanmu. Mulai besok malam aku akan rutin menelepon mu untuk memastikan kau sudah tidur atau belum. Baiklah, aku akan menutup teleponnya. Setelah ini, kau harus pergi tidur."

"Baiklah, sayangku... aku akan mendengarkan semua perkataan mu itu."

Sean terlihat sangat senang. Humaira begitu perhatian pada Zeynep sampai harus membuat menu makanan untuknya, juga jadwal istirahatnya. Sean yakin Humaira melakukan semua itu untuk menjaga kesehatan neneknya supaya penyakitnya itu tidak kambuh lagi. Dia benar-benar seorang dokter yang sangat perhatian juga lembut. Sean membantu Zeynep untuk menyimpan kotak itu di tempat semula. Setelah itu, Zeynep naik ke atas tempat tidurnya.

"Selamat malam, nenek!"

"Selamat malam, sayang!"

Terpopuler

Comments

Citraalief

Citraalief

itu Nek... anaknya korban yang jadi dr. pribadimu😁

2023-01-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!