Siang itu, Humaira baru saja selesai wawancara. Tidak lama suara adzan berkumandang. Humaira pergi untuk mendirikan sholat.
"Permisi, apa di rumah sakit ini ada masjid atau musholla?" tanya Humaira pada seorang perawat.
"Musholla ada di lantai 4 nona, kau bisa menggunakan lift untuk menuju kesana," ucap perawat.
"Baiklah, terimakasih."
Saat tiba di sana, Humaira langsung mengambil air wudhu lalu sholat. Dalam do'anya dia meminta semua yang terbaik untuknya termasuk pasangan hidupnya. Selesai sholat, Humaira diminta untuk menemui kepala rumah sakit di ruangannya. Tiba di sana, kepala rumah sakit langsung mempersilahkan Humaira duduk.
Kepala rumah sakit itu memperkenalkan dirinya sebagai Aiyse Hanum. Setelah melihat semua berkas milik Humaira, bisa dibilang Humaira adalah seorang dokter yang sudah sangat berpengalaman dan handal. Dia bukan hanya bekerja dalam satu bidang saja, melainkan bisa memegang beberapa bidang dalam satu profesi.
"Apa kau dokter terbaik di kotamu?" tanya Aiyse.
"Tidak sama sekali, aku sama saja dengan dokter yang lainnya," ucap Humaira dengan merendah.
"Tapi dari semua berkas yang aku baca ini, kau seorang dokter yang sudah sangat berpengalaman," ucap Aiyse.
Humaira hanya tersenyum mendengar pujian Aiyse. Tidak lama setelah melihat data dan kepribadian Humaira secara langsung, sepertinya rumah sakit sangat membutuhkan seorang dokter sepertinya.
"Baiklah, mulai besok kau bisa mulai bekerja di rumah sakit ini," ucap Aiyse.
Mendengar hal itu, Humaira terlihat sangat senang. Dia sangat bersyukur bisa diterima di rumah sakit itu.
\*\*\*
Siang itu, Sean sangat sibuk dengan pekerjaannya. Di waktu jam istirahat, Sean meminta Edgar ke ruangannya.
"Tolong kosongkan jadwal ku untuk nanti malam!" pinta Sean.
"Kenapa?" tanya Edgar heran.
"Nanti malam aku akan pergi untuk menonton pertandingan," jawab Sean.
Edgar heran kenapa tiba-tiba saja bosnya terlihat bersemangat untuk menonton, padahal sepengetahuan Edgar, bosnya itu tidak terlalu suka dengan keramaian.
"Kenapa? Apa aku salah jika ingin menonton?" tanya Sean.
"Tentu saja, tidak. Kenapa kau mengatakan seperti itu?"
"Ekspresi wajahmu itu terlihat jika kau merasa aneh dengan keputusan ku ini," ucap Sean.
Selesai makan siang, Sean pergi untuk menjemput neneknya. Hari ini adalah jadwal neneknya untuk periksa ke dokter. Tiba di rumah sakit, Aiyse memberitahu Zeynep jika dokter yang biasa menanganinya sedang mengambil cuti untuk beberapa bulan.
"Kenapa mendadak sekali?" tanya Sean.
"Dia baru mengabari ku tadi pagi," ucap Aiyse.
"Lalu, siapa dokter yang akan menjadi penggantinya?" tanya Sean.
"Akan aku perkenalkan padamu besok, tuan. Kau tenang saja!" ucap Aiyse.
Malam itu, semua sudah berkumpul di meja makan. Nasreen melihat wajah Saffiya yang berbunga-bunga.
"Ada apa nak? Wajahmu terlihat sangat senang hari ini," tanya Nasreen.
Saffiya memberitahu semua orang jika dia akan bekerja lagi dalam dunia perfilman. Dia akan menjadi aktris utama dalam sebuah film yang tidak akan lama lagi rilis tahun ini. Dia akan bekerja di bawah pimpinan sutradara ternama, juga bintang film yang lainnya.
"Waw... selamat untukmu sayang," ucap Nasreen. "Aku sangat senang mendengarnya."
Semua orang memberi dukungan untuk Saffiya, tapi tidak dengan Sean. Sikapnya terlihat sangat dingin. Setelah makan malam selesai, Saffiya menemui Sean di kamarnya. Dia terlihat tengah bersiap untuk pergi menonton. Saffiya datang dan memeluk Sean dari belakang.
"Kenapa kau diam saja saat di meja makan? Apa kau tidak suka dengan keputusanku ini?" tanya Saffiya.
"Aku hanya kecewa saja padamu, kau mengambil keputusan itu tanpa memberitahuku terlebih dahulu," ucap Sean.
"Kau kecewa? Benarkah? Lalu, apa kau pernah memikirkan perasaanku sedikit saja saat kau mengambil keputusan mu sendiri? Kau bahkan tidak pernah melibatkan ku dalam masalah mu itu," ucap Saffiya.
"Itu kedua hal yang berbeda Saffiya!" ucap Sean.
"Itu sama saja Sean!" ucap Saffiya dengan nada tinggi. "Aku ini istrimu, dan aku berhak tahu atas semua masalahmu!"
Sean mencoba untuk mengendalikan diri. Dia tidak ingin amarah menguasainya. Sementara itu, Zura sudah bersiap untuk pergi. Dia pergi menemui Sean di kamarnya.
"Kakak, apa kau sudah siap?" ucap Zura. Saat melihat ada Saffiya di kamar kakaknya, Zura memutuskan untuk pergi dan menunggunya di bawah.
"Kau mau kemana?" tanya Saffiya.
"Aku akan menonton pertandingan piala dunia," jawab Sean.
"Kau pergi tanpa diriku?" tanya Saffiya.
"Kenapa? Bukankah kau sangat sibuk mempersiapkan diri untuk besok?" ucap Sean sambil melangkah pergi. Saffiya merasa sangat kesal. Sean tidak pernah jauh adiknya. Dia selalu mengajak Zura kemana pun dirinya pergi. Saffiya merasa aneh dengan sikap Sean. Tidak biasanya dia menyukai keramaian, apalagi saat menonton pertandingan. Di sana akan banyak kebisingan, dan teriakan suporter dari setiap negara.
"Untuk apa Sean pergi kesana?" ucap Saffiya ragu. Malam itu, Saffiya segera bersiap untuk menyusul Sean ke stadion. Pertandingan sudah di mulai. Sean terus menatap Humaira yang duduk di samping ayahnya. Zura sangat bersemangat mensupport Hakim.
"Hakim.... kau pasti bisa!!" teriak Zura.
"Tolong pelankan suaramu!" ucap Edgar terlihat tidak senang.
"Kenapa? Kakak saja tidak terganggu dengan suaraku," ucap Zura.
Saat Edgar perhatikan, Sean bukanlah menonton pertandingan sepakbola. Tatapannya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di kursi pelatih.
"Siapa yang Sean lihat di sana?" ucap Edgar pelan. Saat Edgar melihat lebih detail setiap orang yang ada disana, dia melihat keberadaan Humaira. "Apa Sean sedang menatap Humaira?" ucap Edgar dalam hati.
Waktu istirahat pertama, Humaira menemui Hakim di ruang ganti. Dia menyemangati semua pemain untuk selalu memberikan yang terbaik. Saat melihat pelipis mata Hakim sedikit terluka saat berbenturan dengan pemain lain, Humaira langsung mengambil kotak obat.
"Maaf, aku obati dulu lukamu itu," ucap Humaira.
"Luka sekecil ini tidak akan membuatku sakit, hatiku akan terasa sangat sakit saat nanti aku tidak bisa lagi bersamamu," ucap Hakim dalam hati.
"Sudah selesai." ucap Humaira.
"Terimakasih," jawab Hakim.
Setelah waktu istirahat selesai, semua pemain kembali ke lapangan dan menuntaskan empat puluh lima menit lagi pertandingan. Saat itu Humaira masih berada di ruang ganti. Tidak lama terdengar suara ponsel berbunyi. "Ponsel siapa itu?" ucapnya. Humaira mencoba mencaritahu asal suara itu. Bunyi itu berasal dari lemari pakaian milik Hakim. Humaira mengambil ponsel itu dan langsung mengangkatnya.
"Halo, nak..." Terdengar suara ibu Hakim yang gemetar.
"Aku Humaira, ibu. Hakim kebetulan sedang bertanding di lapangan. Do'akan dia yah ibu, supaya dia dan timnya bisa masuk ke babak selanjutnya," ucap Humaira.
"Do'a ku selalu menyertai putraku, nak." Dari nada bicaranya, sepertinya ibu Hakim sedang tidak baik-baik saja.
"Kau kenapa ibu?" tanya Humaira.
Si ibu langsung menutup teleponnya tanpa menjawab pertanyaan Humaira. Dia tidak mau mengatakan kebenarannya pada Humaira karena dia akan sangat terluka. Si ibu sudah menganggap Humaira seperti putri kandungnya sendiri. Dia tidak tega jika hati putrinya itu hancur karena rasa egonya. Saat kembali ke lapangan, wajah Humaira terlihat murung. Dia tidak tahu apa yang ingin disampaikan ibu Hakim saat di telepon. Saat ada pemain yang terluka, Humaira terlihat diam saja. Akhirnya asisten dokter yang pergi mengobatinya.
"Nak? Kau kenapa?" tanya Walid menyadarkan Humaira. "Apa kau sakit?"
"Aku tidak apa-apa ayah, hanya saja kepalaku sedikit pusing."
"Baiklah, kalau begitu kau kembali saja ke hotel. Biarkan orang kepercayaan ayah yang akan mengantarmu," ucap Walid.
"Tidak perlu ayah, aku bisa pulang sendiri. Maafkan aku karena tidak bisa profesional dalam pekerjaan ini," ucap Humaira nampak sedih.
"Sudahlah, jangan memikirkan semua itu. Yang lebih penting sekarang ini adalah kesehatan mu," ucap Walid.
Saat melihat Humaira pergi meninggalkan lapangan, Sean langsung beranjak dari tempat duduknya. Sementara itu, Zura dan Edgar sedang menikmati jalannya pertandingan. Di depan pintu keluar, Sean melihat Humaira yang masuk ke dalam taksi. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan mengikutinya dari belakang. Di satu sisi, Saffiya melihat mobil Sean yang baru saja pergi dari stadion. Dia langsung mengikuti mobil Sean untuk mencaritahu kebenarannya. Saat dalam perjalanan, Humaira meminta sopir taksi untuk berhenti di supermarket. Dia akan membeli beberapa makanan dan minuman karena semua persediaan di hotel sudah habis. Sean terus memantau Humaira dari jauh.
"Kenapa mobil Sean berhenti di situ?" ucap Saffiya.
Saat mendapati Humaira yang belum juga keluar dari tempat itu, Sean pergi untuk memeriksanya.
"Kemana Sean akan pergi?" Saffiya sangat penasaran dengan gerak-gerik Sean. Akhirnya dia ikut masuk ke dalam supermarket itu. Di sana terlihat Humaira yang masih memilih makanan yang akan dia beli. Saat akan membayar, Humaira melihat sebuah mobil yang ada di sebrang jalan. Saat kaca mobil itu terbuka, seseorang dengan pistolnya siap untuk menembak. Saat Humaira lihat, pistol itu mengarah ke salah seorang perempuan yang berada di dalam supermarket. Humaira menjatuhkan semua barang belanjaannya dan berlari menyelamatkan perempuan itu.
"Awas...!" teriak Humaira.
Dor! Dor! Dor!
"Aww!" rintih Humaira kesakitan. Mendengar suara tembakan itu semua orang terlihat panik. Mereka berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Humaira membantu perempuan itu untuk berdiri.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Humaira.
"Aku baik-baik saja," ucap perempuan itu.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan kembali terdengar. Sean sangat terkejut saat tahu perempuan yang ditolong Humaira adalah Saffiya. "Kenapa Saffiya bisa ada disini?" ucap Sean. Keadaan semakin genting. Humaira dan Saffiya tidak bisa pergi kemana pun. Sean langsung menghubungi Edgar untuk meminta bantuan.
"Kita harus segera pergi dari sini!" ucap Humaira.
"Mobilku jauh di ujung jalan sana!" jawab Saffiya.
"Kita akan pergi naik taksi," ucap Humaira.
Saat mereka pergi dengan taksi, penembak itu mengikuti mereka dari belakang. Saffiya terlihat sangat panik. Dia meminta sopir taksi untuk mempercepat kemudinya. Humaira mencoba untuk menenangkan Saffiya.
"Kenapa mereka mengikuti kita? Apa yang mereka inginkan?" ucap Humaira.
Di dalam perjalanan, Sean berpapasan dengan Edgar. Dia menyuruh Edgar untuk menyusul mobil yang ada di depannya. Sementara itu, Sean mencoba untuk menghubungi Saffiya.
"Halo!" ucap Sean.
"Halo Sean!" jawab Saffiya gemetar. "Tolong aku! Seseorang mengikutiku dari belakang. Aku sangat takut Sean..."
"Kau tenanglah! Aku akan segera datang menolong mu," ucap Sean.
Tidak lama akhirnya mobil penjahat itu menghadang taksi yang ditumpangi Saffiya dan Humaira. Penjahat itu menarik paksa Saffiya untuk ikut bersamanya. Sementara itu, Humaira mencari cara untuk menolongnya.
"Lepaskan aku!" ucap Saffiya.
Buk! Buk! Buk!
Humaira memukul penjahat itu dari belakang. Dia dan Saffiya pergi untuk mencari bantuan. Saat mobil Sean tiba disana, dia melihat taksi itu sudah kosong.
"Kemana mereka pergi?" ucapnya.
Tidak lama Edgar dengan anak buahnya datang.
"Apa kau sudah menemukan Saffiya?" tanya Edgar.
"Aku tidak tahu dimana keberadaan mereka sekarang ini," jawab Sean.
"Mereka?" ucap Edgar bingung.
"Ya, Humaira ada bersama Saffiya. Jika Humaira tidak ada, mungkin peluru tadi sudah mengenai Saffiya," ucap Sean.
Sean menyuruh semua anak buahnya untuk berpencar. Di satu sisi, Saffiya dan Humaira menyusuri jalanan kecil.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Saffiya.
"Entahlah, semoga saja kita bisa mendapat bantuan di depan sana!" ucap Humaira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments