MAKAN MALAM KELUARGA

QATAR - SIANG HARI

Siang itu Saffiya pergi ke perusahaan suaminya. Tiba disana, dia bertemu dengan sekretarisnya yang bernama Shofiya.

"Selamat siang, nona. Apa ada yang bisa aku bantu?"

"Apa Sean ada di ruangannya?" tanya Saffiya.

"Tuan pergi sejak tadi, nona." jawab Shofiya.

"Apa dia meeting di luar?"

"Hari ini jadwal tuan Sean kosong, dia pergi bersama tuan Edgar."

"Baiklah, terimakasih."

Saffiya langsung menghubungi ponsel Sean. Di satu sisi, Sean dan Edgar sedang bermain golf. Ponselnya tidak lama berdering. Sean menyuruh Edgar untuk mengambil ponselnya.

"Siapa yang meneleponku?" tanya Sean.

"Nona Saffiya." Sean langsung mengangkat teleponnya.

"Halo! Ada apa?"

"Kenapa suaramu terdengar seperti itu? Apa kau masih marah dengan perkataanku tadi pagi? Aku benar-benar minta maaf," ucap Saffiya.

"Sudahlah, jangan membahas soal tadi pagi. Apa kau membutuhkan sesuatu?"

Saffiya memberitahu Sean jika ayahnya mengundang dia untuk makan malam. Saffiya meminta suaminya supaya dia bisa memenuhi undangannya. Mendengar permintaan Saffiya rasanya dia ingin menolaknya. Dia sangat tidak suka dengan pertemuan semacam itu ataupun makan malam keluarga. Edgar sempat berbisik pelan di telinga Sean, dia menyarankan agar dirinya ikut dalam jamuan makan malam itu. Di sana akan banyak reporter yang meliput, jika mereka tahu Sean tidak datang, akan banyak pertanyaan yang muncul. Sementara itu, dia adalah menantu dari Perdana Menteri Qatar tidak seharusnya dia membawa masalah bagi keluarganya sendiri.

"Bagaimana? Apa kau bisa datang?" tanya Saffiya.

"Baiklah, aku akan datang," jawab Sean.

Selesai bermain golf, Sean meminta Edgar untuk memperketat penjagaan. Dia takut sewaktu-waktu musuhnya datang dan mengacaukan semuanya. Tiba di rumah, Saffiya memberitahu ibunya jika Sean akan datang untuk memenuhi undangan ayahnya. Saffiya harus terlihat cantik nanti malam. Dia meminta ibunya untuk menemaninya berbelanja lepas itu pergi ke salon kecantikan. Dia harus terlihat cantik di depan Sean. Saat dalam perjalanan pulang, Edgar mendapat kabar dari anak buahnya jika target sedang berada di sebuah hotel. Sean meminta Edgar untuk membawanya kesana. Di luar sudah ada beberapa anak buah Sean yang sedang memantau keadaan sekitar. Sean dan Edgar masuk ke dalam hotel.

"Dimana dia bersembunyi?" tanya Sean.

"Di lantai 20, dengan nomor kamar 201," jawab Edgar.

Tiba di kamar itu, Sean hanya mendapati seorang perempuan. "Siapa kalian?" tanya perempuan itu bingung.

Edgar menelusuri kamar itu, dan tidak menemukan target. Saat berdiri di dekat jendela, Edgar melihat jika target sudah pergi. Dia sepertinya tahu akan kedatangan mereka.

"Dimana dia?" tanya Sean.

"Target sudah pergi, tuan. "

"Bagaimana bisa? Apa ada seseorang yang memberitahu kedatangan kita padanya?"

"Entahlah, tapi ini aneh. Dia mudah sekali lolos sedangkan di bawah sudah ada beberapa anak buah kita yang berjaga."

"Cari tahu semua ini! Aku akan melenyapkan siapapun yang berusaha mengkhianati ku dari belakang!"

\*\*\*

MAROKO - SORE HARI

Sore itu, Walid baru saja tiba di rumah. Dia pergi ke kamar putrinya. Tiba disana, dia melihat putrinya duduk termenung di dekat jendela kamarnya. Saat mengetahui kedatangan ayahnya, Humaira segera menghapus air matanya.

"Apa kau sudah bicara dengan Hakim?" tanya Walid.

"Belum ayah, baru saja aku akan menghubunginya." Walid melihat mata putrinya sebam.

"Apa kau menangis? Ada apa? Ceritakan pada ayah!"

"Tidak ada, mataku hanya kemasukan debu saja," ucap Humaira. "Apa Hakim pernah bercerita tentang orang tuanya pada ayah?"

Walid memberitahu putrinya jika Hakim hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal sejak lama. Sejak pertama dia menjadi pelatih timnas Maroko, Hakim yang pertama menyambutnya. Dia sangat terbuka dengannya. Sampai hari ini, Hakim sudah menganggapnya sebagai ayah kandungnya sendiri. Dia pernah mengatakan jika dia terlahir sangat buruk. Dia tidak bisa sedikitpun merasakan cinta juga kasih sayang seorang ayah. Mendengar hal itu, Humaira tidak bisa menahan air matanya lagi.

"Kenapa kau menangis?" tanya sang ayah.

"Aku hanya terharu mendengar ceritamu ayah," jawab Humaira.

Setelah selesai makan malam, Hakim datang menemui Humaira. Dia terlihat begitu pendiam hari ini. Humaira tahu saat kekasihnya itu dihadapkan dengan sebuah masalah, dia selalu datang padanya untuk membicarakan masalahnya itu. Tapi tidak malam itu, Hakim datang hanya ingin menghabiskan waktu dengan Humaira tanpa mengatakan apapun. Humaira membawa Hakim ke teras atas. Pemandangan disana sangat indah. Mereka dapat menikmati keindahan kota juga menatap ribuan bintang yang ada di langit.

"Apa kau sedang dalam masalah?" tanya Humaira.

"Bagaimana bisa aku menceritakan semua masalahku padamu, sementara kau akan terluka dengan semua itu," ucap Hakim dalam hati.

"Kenapa kau diam saja? Ayo katakan semuanya! Apa kau tidak percaya padaku?" ucap Humaira dalam hati.

"Tidak ada! Aku datang untuk menemuimu, aku sangat merindukanmu!" ucap Hakim.

Humaira sangat sedih karena Hakim tidak bicara jujur padanya. Dia lebih memilih menyimpan masalahnya itu sendiri dari pada harus menceritakannya. Humaira menggenggam tangan Hakim erat. Dia menatap wajahnya dengan penuh kepercayaan.

"Jika kau harus memilih diantara aku dan ibumu, siapa yang akan kau pilih?" tanya Humaira.

"Kalian berdua sangat berarti dalam hidupku, tidak bisa jika aku harus memilih diantara kalian berdua," jawab Hakim.

"Itu sangat mudah, kau akan memilih ibumu dan pergi meninggalkan aku."

Humaira memberitahu Hakim betapa seorang ibu sangat penting di dalam kehidupan putranya dibandingkan dengan hal apapun yang ada di dunia ini. Sebagai seorang anak alangkah mulianya saat kita bisa berbakti dan taat akan semua perintahnya. Di saat kita tidak bisa memberikan apapun, setidaknya kita bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginan seorang ibu.

"Bagaimana jika keinginan dari si ibu itu membuat hatiku juga hati orang lain terluka?" tanya Hakim.

"Luka itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang seorang ibu alami saat melahirkan putranya sendiri. Ingat ini! Walaupun kau dan aku tidak lagi bersama suatu hari nanti, aku harap diriku masih ada dalam benakmu," ucap Humaira sambil meletakkan tangannya di dada Hakim.

"Kenapa kau mengatakan hal itu? Apa kau akan membiarkan hubungan ini berakhir begitu saja?" tanya Hakim.

"Jika aku boleh jujur, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, tapi apa boleh buat jika takdir berkata lain," ucap Humaira.

"Apa kau sudah makan?" tanya Humaira mengalihkan topik pembicaraan.

"Belum," jawab Hakim singkat.

"Baiklah, tunggu disini! Aku akan pergi untuk membuatkan makanan untukmu," ucap Humaira.

\*\*\*

QATAR - MALAM HARI

Malam itu, keluarga besar Jeevan sudah sampai di rumah perdana menteri. Mereka disambut sangat mewah. Saat turun dari mobil, Sean melihat banyak sekali media yang memotretnya dengan sang istri.

"Ternyata benar apa kata Edgar, disini banyak sekali media massa," ucapnya dalam hati.

"Selamat datang putriku," ucap perdana menteri sambil memeluk Saffiya.

"Apa kabar sayang?" sambung sang ibu.

"Aku baik, aku sangat merindukan ibu dan ayah," ucap Saffiya.

Perdana menteri mempersilahkan mereka masuk dan langsung membawanya pergi ke meja makan. Di sana sudah banyak pelayan yang berjajar di dekat meja makan.

"Hidangkan makanannya!" pinta perdana menteri pada semua pelayan.

Ulya sedikit terkejut saat tahu jika semua peralatan yang ada di atas meja makan semua itu terbuat dari emas.

Saat makan, perdana menteri sempat menanyakan tentang Nyonya Zeynep, selaku nyonya besar keluarga Jeevan dan Zura, adik dari Sean. Emir memberitahu perdana menteri jika ibunya juga putrinya masih berada di Swiss. Mendengar kabar yang didapat mereka akan kembali satu Minggu lagi. Perdana Menteri sangat mengharapkan kehadiran mereka berdua di rumahnya. Ulya terlihat sangat kesal. Mereka hanya membicarakan tentang ibunya juga Zura. Sementara putranya, Alman mereka bahkan tidak menyebutnya sama sekali. "Kalian bisa tertawa seperti sekarang ini, tapi saat putraku kembali nanti, akan aku pastikan tawa itu tidak akan pernah terlihat lagi di wajah kalian semua," ucap Ulya dalam hati.

Selesai makan malam, perdana menteri mengumpulkan semua orang di ruang keluarga. Dia memberitahu semua orang jika piala dunia Qatar sudah semakin dekat. Mereka akan menjadi tuan rumah, perdana menteri meminta dua keluarga besarnya untuk ikut dalam menyambut kedatangan tamu dari berbagai negara. Perdana Menteri meminta Sean dan Saffiya untuk mengurus semuanya termasuk memastikan lapangan yang akan menjadi tempat bertanding beberapa negara aman dan tidak ada masalah apapun.

"Apa kau siap dengan tugas yang diberikan ayah?" bisik Saffiya pelan. "Jika tidak bisa, aku akan bicara padanya."

"Tidak perlu, aku bisa mengatur waktu untuk semua itu." jawab Sean.

"Bagaimana? Apa kalian berdua siap?" tanya perdana menteri pada Sean dan putrinya.

"Kami siap ayah," ucap Saffiya.

Perdana menteri menyuruh orang untuk membawa Sean dan Saffiya ke ruangan dimana disana sudah terpasang banyak bendera dari berbagai negara yang akan mengikuti piala dunia Qatar tahun ini.

"Kau pasti pecinta sepakbola bukan? Negara apa yang kau pegang untuk menjadi juara?" tanya Saffiya.

"Aku tidak terlalu menyukainya, tapi jika aku harus memilih... aku akan memilih Prince," ucap Sean.

"Mmm cukup meyakinkan," Di sudut paling kanan, Saffiya melihat sebuah bendera yang cukup asing baginya.

"Bendera apa itu?" tanya Saffiya.

"Itu bendera Morocco," jawab Sean. Saat Sean memegang bendera itu, gelang miliknya tersangkut pada bendera itu. Saat akan melepasnya, angin bertiup sangat kencang membuat pintu ruangan itu terbuka.

Deg... Deg... Deg...

"Ada apa dengan hatiku? Kenapa jatungku berdetak sangat cepat?" ucap Sean dalam hati. Sean menutup matanya perlahan. Bendera itu mengingatkan Sean kepada sosok wanita tua yang dia temui saat di Morocco. Dia yang sudah memberikan gelang itu padanya mungkin karena itu gelang dan bendera itu saling terikat.

"Gelang ini memiliki pasangannya, nak. Jika suatu hari kau menemukan pasangan dari gelang yang kau pakai itu, jagalah pemiliknya, dia adalah dunia baru juga cinta sejatimu," perkataan si nenek kembali terlintas dalam pikiran Sean. Dia langsung membuka matanya. Dia melihat Saffiya sedang berusaha untuk melepas gelang suaminya dari bendera itu.

"Kenapa sulit sekali?" ucap Saffiya.

"Biar aku saja yang melepasnya," ucap Sean.

Tidak lama seorang datang dan meminta mereka untuk kembali menemui perdana menteri. Saffiya berjalan di depan Sean.

"Apa maksud dari perkataan si nenek? Apa perempuan yang berada di depanku bukanlah cinta sejatiku?" tanya Sean pada dirinya sendiri. Dia menatap gelang yang ada di tangannya. Dia berjanji akan menjaga gelang itu sampai bertemu dengan pemilik gelang yang satunya lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!