QATAR - MALAM HARI
Malam itu, semua orang tengah berkumpul di ruang tengah. Saffiya nampak murung karena Sean belum juga kembali.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu sayang?" tanya Nasreen membuka pembicaraan.
"Manajerku sedang mengurusnya, ibu. Awal bulan nanti, produser dari sebuah film memintaku untuk membintangi filmnya," ucap Saffiya.
"Syukurlah, ibu sangat yakin dengan talentamu itu. Kau memang aktris berbakat. Sean tidak salah menjadikanmu istrinya," ucap Nasreen.
"Kau tidak tahu seperti apa putramu di luaran sana kakak. Kelihatannya saja naif, bisa saja dia memiliki wanita lain," ucap Ulya. Mendengar perkataan Ulya, Saffiya langsung menentangnya. Dia yakin jika Sean akan setia padanya. Tidak ada siapa pun yang bisa menggantikan posisinya dalam hidup Sean. Dia adalah sahabat juga istrinya. Hubungan kuat seperti itu tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun. Saffiya sangat percaya dengan Sean. Dia bukan sosok pria yang suka memainkan perasaan seorang wanita. Sean sangat menghormati setiap wanita dari kalangan manapun.
"Aku akui kepercayaan dirimu sangat tinggi menantu, tapi jangan lupa jika Sean bukan hanya seorang CEO, dia juga seorang mafia," ucap Ulya.
"Lalu, apa ada masalah dengan itu?" tanya Saffiya.
Ulya memberitahu Saffiya jika dia sangat suka menonton film. Kebanyakan film yang ia tonton semua tentang kehidupan mafia. Seorang mafia bisa saja memiliki istri lebih dari satu. Ketika seorang mafia tahu tentang kehidupan musuhnya, dia akan sangat tertarik untuk bisa masuk ke dalamnya. Saat tahu musuh yang dibunuhnya ternyata memiliki seorang putri, sang mafia akan dengan suka rela menikahinya dengan alasan sebagai permintaan maaf dirinya karena sudah membunuh ayah dari gadis itu. Awalnya mungkin si perempuan itu sangat membenci sang mafia, tapi apa boleh buat ketika cinta diantara keduanya mulai tumbuh. Akhirnya, sang mafia lebih memilih tinggal bersama istri keduanya, dan meninggalkan istri pertamanya.
"Ulya, apa maksud perkataanmu itu?" tanya Nasreen.
"Aku hanya memberitahunya seputar film tentang kehidupan mafia, kakak. Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Ulya.
"Untuk apa kau mengatakan semua itu bibi? Apa kau ingin aku berpikiran buruk tentang Sean?" tanya Saffiya sedikit kesal.
"Bukan itu maksudku, menantu. Aku hanya tidak ingin saat semua ucapanku ini benar, kau akan sangat shock mendengarnya. Setidaknya mulai hari ini kau bisa mempersiapkan dirimu untuk semua itu," ucap Ulya.
Nasreen mengajak Saffiya ke kamarnya. Dia tidak ingin lagi mendengar apapun perkataan Ulya yang bisa membuat Saffiya berpikiran buruk tentang Sean.
"Tunggu menantu!" Ulya menghampiri Saffiya dan mulai memperingatkannya. Di luaran sana banyak sekali wanita yang menginginkan Sean, bahkan mereka rela menjadi istri keduanya. "Sean itu sangat tampan, Saffiya. Wanita mana yang tidak terpikat padanya? Sebelum kau kehilangan dia, jaga dia baik-baik!" ucap Ulya sambil melangkah pergi. Wajahnya terlihat sangat senang setelah melontarkan kata-kata itu pada Saffiya. "Aku yakin perkataanku itu akan dia ingat selamanya. Mungkin awalnya dia akan percaya pada Sean, tapi dengan berubahnya sikap Sean, dia akan yakin jika ada orang ketiga diantara hubungan mereka," ucapnya.
***
Malam itu, Sean dan Edgar baru selesai dari lapangan. Mereka pergi ke sebuah restoran untuk makan malam. Saat mereka sedang makan, Sean memberitahu Edgar jika nenek juga adiknya, Zura akan kembali besok. Pagi-pagi sekali dia harus segera pergi ke bandara untuk menjemput mereka. Sean meminta Edgar menyembunyikan semua ini dari keluarganya. Dia ingin kedatangan mereka menjadi kejutan besar untuk ibu juga yang lainnya. Mendengar Zura akan kembali, wajah Edgar terlihat bahagia. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Zura kembali.
"Kenapa kau terlihat sangat senang? Apa ini karena adikku?" tanya Sean.
"Senang bagaimana? Wajahku memang seperti ini, selalu tersenyum dan ramah pada semua orang," ucap Edgar.
Sean tahu jika Edgar sangat menyukai adiknya. Itu semua terlihat jelas dari matanya. Walau Edgar seorang kaki tangannya, dia sama sekali tidak keberatan jika adiknya itu memiliki hubungan dengan Edgar. Sean sangat tahu jika cinta itu tidak bisa dipaksakan. Orang akan hidup bahagia dengan orang yang dicintainya. Saat Zura kembali nanti, Sean memberi tugas baru pada Edgar. Dia akan menjadi sopir sekaligus bodyguard adiknya kemana pun dia pergi. Sean yakin jika Zura akan aman berada di samping Edgar.
"Apa besok kau akan pergi sendiri ke bandara?" tanya Edgar.
"Tentu saja tidak, kau akan ikut bersamaku." jawab Sean.
Selesai makan malam, Sean meminta Edgar untuk mengantarnya sampai rumah. Di dalam perjalanan, Sean masih memikirkan tentang mimpinya itu. "Siapa gadis itu? Kenapa dia bisa muncul dalam mimpiku?" ucapnya dalam hati. Tiba di rumah, Sean langsung pergi ke kamarnya. Dia pergi membersihkan tubuhnya lepas itu memeriksa semua dokumen di ruang kerjanya. Saffiya yang baru saja keluar dari kamar Nasreen, melihat pintu kamar Sean terbuka. "Apa dia sudah kembali?" ucapnya. Saat dilihat, ternyata Sean tidak ada di kamarnya. Saffiya pergi menuju ruang kerja suaminya.
"Kau sudah pulang?" tanya Saffiya.
"Ya," jawab Sean singkat.
Saffiya menghampiri Sean dan langsung memeluknya. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya. Sean langsung melepas pelukan istrinya itu. Saffiya yang melihat sikap Sean merasa heran.
"Kenapa? Apa kau tidak merindukanku?" tanya Saffiya.
"Aku akan tidur lebih dulu, besok aku harus pergi pagi-pagi sekali untuk suatu hal," ucap Sean.
Melihat sikap Sean membuat Saffiya berpikir jika semua yang dikatakan bibinya tidak akan lama lagi terjadi. Saffiya mulai khawatir jika Sean akan berpaling darinya. "Apa dia memiliki perempuan lain?" ucapnya. Kekhawatiran Saffiya mulai menjadi-jadi. Mulai hari ini dia akan menyuruh orang untuk mengawasi Sean kemana pun dia pergi.
***
Malam itu, semua tim juga yang lainnya sudah berada di dalam pesawat. Hakim memilih tempat duduk disebelah Humaira. Sebelum berangkat, para pemain lain saling bercanda ria. Salah satu dari mereka ada yang memiliki aplikasi biro jodoh.
"Apa kau percaya dengan aplikasi ini?" tanya seseorang.
"Aku hanya mencobanya saja."
"Ada apa di belakang? Kenapa ramai sekali?" tanya Hakim.
"Temanmu ini menggunakan aplikasi biro jodoh untuk menemukan pasangannya," jawab orang itu sambil tertawa geli. Mendengar itu, Hakim juga Humaira tertawa. Para pemain lain sangat iri dengan Hakim karena dia bisa mendapatkan gadis sebaik juga secantik Humaira. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok satu sama lain.
"Jika aku bisa mendapatkan seorang gadis seperti Humaira, tidak akan pernah aku lepaskan dia." ucap salah satu pemain.
"Kau benar, aku bahkan tidak akan pernah menyia-nyiakannya," timbal pemain lain. Hakim dan Humaira saling menatap. Hakim begitu tertampar dengan ucapan temannya. Tidak akan lama lagi dia akan pergi meninggalkan Humaira karena ayahnya. Entah sosok perempuan seperti apa yang akan dia nikahi nanti. Secantik apapun perempuan itu, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan posisi Humaira dalam hidupnya.
"Sudahlah diam! Pesawat akan segera lepas landas," ucap Walid.
Mereka sangat menikmati perjalanannya. Malam sudah semakin larut. Semua orang terlelap dalam tidurnya. Hakim menyenderkan kepalanya di pundak Humaira. "Beritahu aku jika sudah sampai nanti," ucapnya. Malam itu, Humaira tidak tidur sama sekali. Dia melihat pemandangan dari jendela tempatnya duduk. Humaira menatap gelang yang ada di tangannya. Jauh sebelum tahu akan masalah Hakim, Humaira ingat dengan perkataan si nenek tua itu. Gelang yang dia miliki memiliki pasangannya. Bukan hanya tentang gelang, tetapi akan terjalin hubungan di antara pemilik dari kedua gelang tersebut. "Apa mungkin pemilik gelang ini seorang laki-laki yang akan menggantikan Hakim dalam kehidupanku?" ucapnya dalam hati. Tulisan takdir seakan sudah memberi isyarat jika dia dengan Hakim tidaklah bisa bersama. Selama ini mereka dipertemukan hanya sebatas untuk saling mengenal. Jika pun mereka menginginkan untuk bisa bersama selamanya, itu sangatlah tidak mungkin. Takdir dari kedua insan itu sudah Allah tuliskan jauh sebelum mereka lahir ke dunia ini. Perjalanan cinta mereka mungkin hanya sampai selesai piala dunia nanti. Selebihnya, mereka akan menjalankan kehidupannya masing-masing mengikuti setiap alunan takdir yang sudah ditetapkan.
***
Pagi itu udara masih terasa sangat dingin. Sebelum semua bangun dari tidurnya, Sean sudah bergegas pergi menuju rumah Edgar. Mereka akan pergi ke bandara untuk menjemput kepulangan Zeynep dan Zura. Sementara itu, di dalam pesawat Walid memberitahu semua orang jika kurang lebih satu jam lagi pesawat akan mendarat. Humaira menatap Hakim yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu polos. "Siapa gadis pemilik laki-laki yang ada bersamaku ini? Aku pikir... aku yang akan menjadi pemilik raga ini, tapi ternyata masih ada orang lain yang berhak atas dirinya," ucap Humaira dalam hati.
Saat Hakim akan membuka matanya, Humaira langsung memalingkan wajah darinya. Dia menutup matanya seolah-olah dia masih tertidur lelap. Tidak terasa, akhirnya pesawat menuju Qatar telah sampai. Semua bersiap untuk menuju bandara. Di satu sisi, Sean dan Edgar masih menunggu kedatangan nenek dan adiknya.
"Dimana mereka?" ucap Sean.
Tidak lama, dari jauh terlihat dua orang perempuan yang berjalan ke arah Sean. Penjagaan mereka terlihat begitu ketat.
"Kakak..."
Saat Sean membalikkan badan, dia melihat adik tercintanya. Zura berlari dan memeluk erat kakaknya itu.
"Aku sangat merindukanmu, kakak." ucap Zura.
"Aku juga sangat merindukanmu," ucap Sean. Tidak lama Zeynep datang dan nampak dari wajahnya dia begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan cucunya itu.
"Apa kabar, nak?" tanya Zeynep.
"Aku baik, nenek. Apa kau nyaman tinggal disana?" tanya Sean.
"Bagaimana aku bisa nyaman, nak? Sementara itu, semua keluargaku ada disini." ucap Zeynep.
"Selamat datang, nek!" sambut Edgar.
"Terimakasih, kau terlihat begitu tampan Edgar," puji Zeynep.
"Jangan mengatakan hal itu, nenek. Walau aku tampan, masih ada yang jauh lebih tampan darimu," ucap Edgar.
"Siapa?" tanya Zura polos.
"Siapa lagi jika bukan kakakmu ini," ucap Edgar.
Saat akan berjalan ke mobil, mereka berpapasan dengan timnas Maroko yang baru tiba di Qatar.
"Kakak, kau tahu kan aku sangat mengidolakan pemain sepakbola, apa kau tahu dari mana asal pesepakbola Hakim Ziyach?" tanya Zura.
"Aku tidak tahu siapa dia, coba saja cari namanya di internet!" jawab Sean.
"Dia berasal dari Maroko," timbal Edgar.
"Maroko? Itu berarti... Dia baru saja lewat di depanku," ucap Zura.
Sean merasa bingung dengan sikap adiknya itu. Dia sangat penasaran dengan sosok Hakim Ziyach. Saat Edgar memperlihatkan fotonya, Sean mengakui jika pemain bola itu itu sangat tampan. Zura terlihat sangat bahagia. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan berlari menyusul timnas Maroko.
"Zura... kau mau pergi kemana?" teriak Sean.
"Kalian tunggu saja aku di mobil! Aku akan segara kembali," jawab Zura.
Sean meminta Edgar untuk menyusulnya. Sementara itu, dia dan sang nenek akan menunggunya di dalam mobil.
"Hakim Ziyech...." teriakan Zura membuat langkah semua pemain Maroko berhenti. Secara bersamaan, mereka melihat ke arah Zura.
"Aku ingin bertemu dengan Hakim Ziyech, dimana dia?" tanya Zura.
"Aku disini," jawab Hakim yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Hakim.
"Apa aku boleh meminta tandatangan mu?" ucap Zura.
"Maaf, aku tidak bisa." jawab Hakim.
Zura terlihat sangat sedih, tidak lama Edgar datang dan langsung membawa Zura pergi dari sana.
"Ayo kita pergi!" ajak Edgar.
"Aku tidak mau pergi sebelum mendapatkan tanda tangannya," jawab Zura.
"Apa itu hal yang sangat penting?" tanya Edgar.
"Tentu saja, kau tidak tahu jika aku sangat mengidolakannya," ucap Zura.
"Tunggu!" ucap salah satu perempuan yang tidak lain adalah Humaira.
"Dimana Hakim bisa memberikan tanda tangannya?" tanya Humaira.
"Dalam buku ini," jawab Zura sebari memberikan buku miliknya yang sama persis seperti diary.
Humaira meminta Hakim untuk menandatangani buku itu. "Kenapa kau menolak permintaan gadis itu? Dia hanya ingin meminta tanda tanganmu saja," ucap Humaira pelan. Tidak lama Humaira kembali dan menyerahkan buku yang sudah Hakim tandatangani pada Zura.
"Terimakasih," ucap Zura yang terlihat begitu bahagia. Melihat Humaira yang berdiri lama dengan gadis itu, Hakim datang dan langsung membawanya pergi dari sana.
"Siapa perempuan itu? Dia terlihat sangat cantik. Apa dia kekasihnya?" ucap Zura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments