Malam itu, Humaira terlihat sangat senang karena timnas Maroko memenangkan pertandingan kembali. Selesai berlaga, Hakim langsung mengganti pakaiannya dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Humaira. Saat Humaira akan turun untuk mengambil sesuatu, dari atas dia sudah bisa melihat kedatangan Hakim. "Untuk apa Hakim datang kemari?" ucapnya. Humaira langsung kembali ke ruangannya. Dia membaringkan tubuhnya di sofa dan berpura-pura tidur. Beberapa menit kemudian, akhirnya Hakim tiba di ruangan. Dia melihat Humaira sudah tertidur. Hakim mengambil selimut dan memakaikannya pada Humaira.
"Kenapa aku merasa sekarang ini kau mulai menjaga jarak denganku?" ucap Hakim sambil mengelus kepala Humaira.
Tidak lama ponsel Hakim berbunyi. Dia mengangkat teleponnya di dekat Humaira.
"Halo, ibu! Apa kabar?" tanya Hakim.
"Aku baik, nak." jawab sang ibu. "Bagaimana dengan pertandingannya?"
"Aku dan timku baru saja memenangkan pertandingan," ucap Hakim.
"Oh iya, ibu hanya ingin memberitahumu jika ibu akan menemuimu dalam dua hari lagi."
"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan ibu di sini."
Walau mata Humaira terpejam, namun telinganya masih bisa mendengar semua itu. Cepat atau lambat Hakim akan tahu apa yang sudah dia perbuat dibelakangnya.
Malam itu, Sean melihat Saffiya yang pulang dengan di antar seorang pria. Saat masuk, Saffiya melihat Sean yang sudah menunggunya di dekat tangga.
"Sejak kapan kau ada disana?" tanya Saffiya.
"Kenapa tidak menyuruh pria itu untuk masuk?" ucap Sean.
"Apa yang kau akan lakukan padanya?" tanya Saffiya.
"Aku hanya ingin tahu saja siapa dia." jawab Sean. "Aku heran kenapa kau selalu saja berfikiran buruk padaku." ucap Sean melangkah pergi.
Saffiya sedikit kesal karena usahanya untuk membuat Sean cemburu tidak berhasil. Mungkin lain kali dia akan melakukannya lebih baik lagi. Saat di kamar, Sean merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Dulu, jika Saffiya dekat dengan seorang pria, dia langsung merasa cemburu. Tetapi sekarang, melihat Saffiya di antar oleh pria lain tidak ada sedikit pun rasa cemburu dalam dirinya. Belakangan ini entah kenapa selalu saja Humaira yang memenuhi pikirannya. Di satu sisi, Sean juga harus mencari suami dari istri yang sudah dibunuh kakeknya sepuluh tahun yang lalu. Dia tidak memiliki apapun informasi tentang pria itu. Sepertinya... pencarian kali ini mungkin akan sedikit lebih sulit.
\*\*\*
Pagi-pagi sekali, Humaira sudah pergi ke kediaman Jeevan. Dia sudah berjanji pada Zeynep untuk memasak makanan untuknya. Tiba disana, semua orang masih terlelap tidur. Humaira pergi melalui pintu belakang. Dia meminta seorang pelayan untuk membukakan pintunya.
"Kau sudah datang, dokter." ucap pelayan.
"Iya, bi. Aku harus segera membuat makanan sebelum nenek bangun."
Pagi itu, sinar mentari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Semua orang di rumah besar itu bersiap untuk melakukan aktivitas kembali. Tapi sebelum itu, mereka harus sarapan bersama terlebih dahulu. Sean maupun Saffiya sudah ada di meja makan. Pelayan datang dengan membawa banyak hidangan.
"Waw.... apa kau membuat menu masakan yang baru, bi?" tanya Sean.
"Ini ide dokter Humaira, tuan."
"Apa dia sudah datang?" tanya Sean.
"Dia datang sejak tadi pagi, tuan."
Saffiya meminta pelayan itu untuk kembali bekerja. Dia tidak ingin mendengar lagi Sean menanyakan tentang perempuan lain di depannya. Ulya yang sedari tadi memperhatikan Saffiya, dia merasa sangat senang melihat Saffiya dimakan api cemburu. Walau dia tidak menunjukkannya, tapi semua itu terlihat jelas di wajahnya.
Saat Zeynep datang, Humaira langsung keluar dari dapur dan membawa makanannya. Melihat kehadiran Humaira di rumahnya, Saffiya sedikit terkejut ternyata dokter baru neneknya adalah perempuan yang pernah menyelamatkannya saat di supermarket. Humaira menatap ke arah Saffiya dengan tersenyum. Zeynep memberitahu Humaira jika Saffiya adalah menantu keluarganya, dia istri dari Sean.
"Aku sudah pernah bertemu dengannya, nek." ucap Humaira.
"Benarkah? Dimana kalian saling bertemu?"
Sean memberitahu semua orang jika Humaira yang sudah menyelamatkan Saffiya dari tembakan itu. Dia juga yang membantunya lepas dari genggaman pria yang ingin menembaknya.
"Terimakasih nak, jika tidak ada kau mungkin sudah terjadi hal buruk pada Saffiya," ucap Nasreen.
"Sama-sama bibi," jawab Humaira.
Saffiya semakin merasa tidak nyaman. Semu orang terus saja memuji Humaira. Dia mencoba untuk tetap tersenyum. Jika ia sampai meninggalkan meja makan, mungkin semua orang akan bertanya-tanya terutama Ulya.
Setelah makan, Humaira memberikan menu makanannya pada Zeynep, juga jadwal istirahatnya. Dia minta Zeynep untuk mentaati semuanya. Dia melakukan semua itu demi kebaikannya. Dia hanya tidak ingin penyakit neneknya itu kambuh tiba-tiba.
Selama ditangani oleh Humaira, Zeynep merasa lebih baik. Sakit kepala yang sering dirasakannya, tidak lagi muncul beberapa Minggu ini. Melihat kedekatan Zeynep dengan Humaira, ada ketakutan yang Saffiya rasakan dalam hatinya. Dia takut jika neneknya itu lebih peduli juga perhatian pada Humaira. Terlebih lagi Humaira adalah dokter pribadinya, dia yang selalu ada di sampingnya. Sementara itu, hubungan Zeynep dengan dirinya semakin hari semakin menjauh. Dia harus menghabiskan waktunya di tempat syuting.
"Kenapa kau berdiri saja disini?" ucap Ulya yang tiba-tiba muncul. "Cepat datangi nenekmu itu dan cari perhatiannya! Jangan sampai posisimu sebagai menantu di rumah ini tergeser oleh dokter itu!"
"Kau tidak bisa merobohkan kepercayaanku terhadap Sean, bibi. Aku adalah sahabat juga cintanya, tidak mungkin Sean berpaling pada perempuan lain!"
"Apa kau yakin menantu? Jika saja kau berada di rumah, pasti kau sudah melihat kebersamaan apa saja yang dilakukan suamimu dengan dokter itu!"
Saffiya terlihat sangat marah. Dia pergi meninggalkan Ulya sebelum lebih banyak lagi perkataan yang keluar dari mulutnya yang membuat dia ragu akan Sean.
Setelah selesai di rumah besar itu, Humaira kembali ke rumah sakit. Dia takut jika Hakim terbangun nanti, dia tidak ada didekatnya.
\*\*\*
Saat tiba di ruangan, Humaira melihat Hakim yang masih tertidur. Tidak lama seorang pelayan datang.
"Maaf dokter, pasien di kamar 109 keadaannya semakin memburuk. Detak jantungnya mulai lemah," ucap perawat.
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Tiba disana, Humaira mendapati pasien sudah tidak bernyawa lagi. Dia baru saja mengembuskan nafas terakhirnya. Humaira meminta perawat untuk memberitahu kabar duka ini kepada keluarga pasien. Tidak lama seorang gadis berusia 12 tahun masuk ke dalam ruangan. Gadis itu begitu terpukul atas kepergian ibunya.
"Ibu..." teriak gadis itu.
Humaira tidak bisa menahan air matanya. Melihat gadis itu, seperti melihat dirinya saat menyaksikan sang ibu yang meninggal dengan tubuhnya yang dipenuhi luka.
"Kau kenapa dokter?" tanya perawat.
"Aku tidak apa-apa," jawab Humaira.
Saat akan kembali ke ruangan, Humaira melihat Hakim sudah terbangun. Dia juga melihat sudah ada makanan di atas mejanya.
"Siapa yang memesan semua ini?" tanya Humaira.
"Aku yang pesan untuk kita sarapan, Ra." jawab Hakim.
Saat sedang sarapan, Hakim memberitahu Humaira jika ibunya akan datang dalam dua hari lagi. Humaira sangat senang mendengarnya. Dia berharap ibunya itu tidak datang sendiri, melainkan dengan seorang ayah yang selama ini Hakim rindukan kehadirannya. Setelah sarapan, Humaira pergi menemui sang ayah di hotel. Tiba di sana, dia melihat ayahnya baru saja selesai sarapan.
"Selamat datang, sayang. Apa kau sudah sarapan?" tanya Walid.
"Sudah ayah," jawab Humaira.
Melihat wajah Humaira, sang ayah tahu jika ada sesuatu yang dia ingin katakan padanya. Walid membawa putrinya ke luar untuk menghirup udara segar.
"Ada apa, nak?" tanya Walid.
"Aku ingin kembali ke Maroko ayah," jawab Humaira.
Mendengar permintaan putrinya itu, Walid sedikit bingung. Dia terlihat tidak bahagia seperti apa yang pernah dikatakan sebelum tiba di Qatar.
"Kenapa? Bukankah putri ayah ini pernah bilang jika tiba di sini, kau akan pergi untuk mengunjungi semua tempat indah bersama Hakim. Lalu, kenapa sekarang kau berubah pikiran?"
"Aku sangat merindukan ibu, ayah. Aku ingin pergi mengunjungi makam ibu." ucap Humaira sambil menangis.
"Kemarilah!" ucap Walid memeluk erat putrinya.
Mengingat semua kejadian di masa lalunya, membuat Walid ikut meneteskan air mata. Dia langsung menghapus air mata itu sebelum Humaira melihatnya.
"Apa ayah masih ingat siapa yang sudah melakukan semua itu pada ibu?" tanya Humaira.
"Ayah akan selalu mengingat wajah itu, nak." jawab Walid.
"Siapa dia?" tanya Humaira sangat penasaran.
"Dia adalah Zayn SJ," jawab Walid.
"Kenapa ayah tidak mencaritahu keluarganya? Kenapa ayah membiarkan dia hidup bebas di luar sana?" tanya Humaira.
"Ayah sudah memaafkannya sayang, jika pun ayah memiliki dendam terhadap dia, semua tidak bisa membuat ibumu kembali lagi bersama kita." jawab Walid dengan tersenyum. Walid menatap putrinya itu dalam. Dia berharap bisa menyaksikan pernikahan putrinya itu. Entah kenapa belakangan ini perasaannya selalu diselimuti kecemasan yang tiada henti.
"Apa ayah mengizinkan ku pergi?" tanya Humaira.
"Ayah sangat meminta maaf padamu karena tidak bisa menemanimu," jawab Walid.
"Tidak apa-apa, ayah. Aku tahu kau harus tetap di sini bersama timmu. Aku berjanji akan menjaga diri dengan baik."
"Baiklah, ayah mengizinkanmu untuk pulang."
\*\*\*
Sore itu, Zeynep membuka lemari pakaiannya. Dia mendapati syal miliknya yang sudah tidak secantik dulu. Warnanya mulai pudar padahal syal itu adalah hadiah ulang tahun dari Zayn di hari ulang tahunnya yang ke 40. Zeynep berniat untuk membeli syal yang sama dengan syal miliknya.
"Semoga saja aku bisa menemukan syal yang seperti ini," ucapnya. Saat turun ke bawah, Zeynep melihat Ulya yang sedang menikmati secangkir teh.
"Dimana yang lain?" tanya Zeynep yang baru saja datang.
"Kakak menemani Saffiya pergi berbelanja, ibu. Sementara Zura, dia pergi bersama teman-temannya."
Ulya melihat sesuatu yang ada di tangan ibunya.
"Apa yang ibu bawa itu?" tanya Ulya.
"Ini syal dari ayahmu, nak. Ibu ingin membeli syal lain yang sama persis karena syal milik ibu ini warnanya sudah pudar."
"Apa kau akan pergi sendiri?" tanya Ulya.
"Awalnya ibu akan meminta Nasreen untuk mengantar ibu, tapi jika dia pergi ibu akan membelinya lain waktu."
"Bagaimana jika aku saja yang mengantar ibu? Kebetulan aku juga ingin mencari sesuatu untuk hadiah ulang tahun temanku besok."
"Baiklah, ayo kita pergi sebelum malam tiba!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments