Malam itu, Zura sedang melihat kumpulan foto Hakim dalam akun instagramnya. Dia begitu mengidolakan pemain timnas Maroko itu. Saat melihat foto terakhirnya, Zura melihat Hakim dengan seorang perempuan. "Siapa perempuan ini?" ucapnya. Zura melihat caption yang ditulis Hakim saat itu, "Thank you for everything, now or later, you will always be a part of my life," tulisnya. Zura akhirnya tahu jika perempuan yang dia temui saat di bandara adalah kekasih Hakim. Saat melihat kepulangan kakaknya, Zura berlari ke arahnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Sean.
"Aku tidak perlu lagi bantuanmu untuk mencaritahu gadis itu, karena aku sendiri sudah mendapatkan informasi tentangnya."
Sean sangat penasaran dengan gadis itu. Dia langsung merebut ponsel Zura dari tangannya.
"Kembalikan ponselku, kakak!" pinta Zura.
"Biarkan aku melihatnya," ucap Sean sambil berlari membawa ponsel itu. Saat kedatangan Zura, Saffiya merasa Sean lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya dibandingkan dengan dirinya. Saat melihat pintu kamar Zura terbuka, Saffiya pergi untuk melihatnya. Dia melihat Sean yang tertawa riang bersama adiknya. Kebahagiaan seperti itu tidak pernah Saffiya lihat sebelumnya. Malam itu, Saffiya merasa sangat bosan. Dia meminta Sean untuk menemaninya ke luar. Saat tahu Sean akan pergi dengan Saffiya, Zura langsung ikut bersamanya. Dia juga merasa sangat bosan berada di rumah. Di luar pasti akan sangat menyenangkan. Udara malam yang dingin, dan pemandangan kota yang begitu indah. Saffiya sudah berada di dalam mobil. Dia melihat Sean yang keluar bersama adiknya.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Saffiya pada Zura.
"Dia akan ikut bersamaku," jawab Sean.
Saffiya terlihat sedikit kesal. Dia mengajak Sean agar bisa menghabiskan waktu berdua dengannya. Tapi sepertinya rencananya itu akan gagal karena keberadaan Zura di tengah-tengah mereka. Saat dalam perjalanan, Zura membahas tentang seorang gadis yang membuat Saffiya cemburu mendengarnya. Zura memberitahu Sean jika perempuan yang dia temui di bandara kemarin adalah kekasih Hakim.
"Dia sangat cantik kakak, saat melihatnya nanti kau pasti akan jatuh cinta padanya," ucap Zura. "Oh iya kakak ipar, jaga kakakku dengan baik yah? Jika tidak, dia akan pindah ke lain hati."
"Apa kau bisa diam? Dari tadi kau terus saja bicara," ucap Saffiya sedikit kesal.
"Kenapa nada bicaramu seperti itu pada adikku?" tanya Sean.
"Sudahlah kakak, Saffiya benar sejak tadi aku terus saja bicara tanpa henti." ucap Zura.
Di sisi lain, Humaira merasa bosan seharian berada di hotel. Dia menemui Hakim dan mengajaknya pergi ke luar. Mereka mencicipi semua jajanan yang ada di pinggir jalan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Hakim.
"Semua makanan ini sangat enak," jawab Humaira.
Sementara itu, Zura menyuruh Sean untuk memberhentikan mobilnya. Dia pergi untuk membeli makanan yang ada di pinggir jalan. Zura mengajak kakaknya untuk mencicipi jajanan itu.
"Apa kau ingin memesannya juga?" tanya Zura pada Saffiya.
"Tidak, kau saja!" jawab Saffiya.
Saffiya melihat Sean dan Zura sangat menikmati jajanannya. Sean lebih memilih makan di dekat pinggir jalan dibandingkan di restoran mewah. Kurang dari setengah jam mereka duduk disana, akhirnya Saffiya memutuskan untuk menunggu di dalam mobil. Saat Zura sedang memilih makanan, dia tidak sengaja menabrak seseorang perempuan.
"Maaf, aku tidak sengaja menabrak mu," ucap Zura.
"Tidak apa-apa," jawab Humaira.
Saat dilihat, ternyata perempuan itu tidak lain adalah kekasih Hakim. Zura terlihat sangat senang bisa bertemu kembali dengannya.
"Bukankah kau gadis yang kemarin ada di bandara?" ucap Humaira.
"Ya, dan kau adalah orang yang sudah membantuku untuk mendapatkan tanda tangan Hakim," ucap Zura.
Saat Hakim datang, tubuh Zura seperti mematung. Matanya tidak berkedip sedikit pun. Dia benar-benar terpesona dengan ketampanan Hakim. Humaira mencoba menyadarkan Zura dari lamunannya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Humaira.
"A-aku... Hehe, aku tidak apa-apa." jawab Zura tersipu malu.
Setelah membeli makanannya, Humaira berpamitan pada Zura. Dia berharap jika di lain waktu mereka bisa bertemu kembali.
"Apa aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Zura.
"Humaira,"
"Nama yang benar-benar indah seperti wajahnya," ucap Zura.
Setelah Humaira dan Hakim pergi, tidak lama Sean datang. Dia mengajak adiknya untuk segera pulang. Di dalam mobil, Sean melihat wajah Saffiya yang sedikit murung. Dia seperti tidak bahagia dengan perjalanan malam ini.
"Kau ingin pergi kemana lagi?" tanya Sean pada Saffiya.
"Aku ingin pulang, setelah itu kau bisa pergi kemana pun yang kau mau." jawab Saffiya dingin.
Sesampainya di rumah, Saffiya langsung pergi ke kamarnya. Melihat sikap Saffiya sepeti itu Zura merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya dia ikut dengan mereka. Zura pergi ke kamar Saffiya untuk meminta maaf padanya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah!"
"Kakak... apa aku bisa bicara padamu sebentar?"
"Aku lelah, aku ingin istirahat. Kita bicara saja besok," ucap Saffiya tanpa menoleh ke arah Zura.
Saat keluar, Zura bertemu dengan kakaknya.
"Kau kenapa?" tanya Sean.
"Aku tidak apa-apa," jawab Zura sambil melangkah pergi.
Saat mendengar pintu kamar terbuka, Saffiya meminta Zura untuk pergi dari kamarnya. Untuk saat ini dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Saat membalikkan badan, Saffiya terkejut ternyata yang datang ke kamarnya adalah Sean, bukan Zura.
"Jika kau ingin marah, marah saja padaku! Tidak perlu kau melampiaskan amarahmu itu pada adikku," ucap Sean.
"Maafkan aku Sean, aku tidak bermaksud seperti itu...
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu." jawab Sean melangkah pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Saffiya.
"Aku akan pergi menemui Edgar," jawab Sean singkat.
Saat melihat kedatangan Sean di rumahnya, Edgar langsung menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar untuknya. Dia tahu jika Sean datang menemuinya, itu berarti dia sedang tidak baik-baik saja di rumahnya. Sean selalu menjadikan tempat Edgar sebagai tempat kedua setelah rumahnya. Di situlah dia bisa merasa tenang dan damai dengan perasaannya. Sean terlihat sangat lelah.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Edgar.
"Tolong ambilkan aku minuman!" suruh Sean sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Ini minumannya, tuan!"
Malam itu, Sean hanya meminum beberapa botol saja. Besok dia akan pergi menemui perdana menteri. Sean tidak ingin bau alkohol yang ada di mulutnya sampai tercium oleh mertuanya.
"Apa ada informasi terbaru mengenai target?" tanya Sean.
"Sampai saat ini belum, tapi kau tenang saja anak buah kita sedang menyelidikinya," jawab Edgar.
Sean teringat dengan gadis yang ditemui Humaira di bandara. Dia pikir Edgar tahu tentang gadis itu karena kemarin dia juga ada bersama Zura di bandara.
"Apa kau tahu siapa gadis yang ditemui Zura saat di bandara?" tanya Sean.
"Gadis mana yang kau maksud?" tanya Edgar sambil mengingat sesuatu. "Ya, aku baru ingat!"
Edgar memberitahu Sean jika gadis itu yang sudah membantu Zura untuk mendapatkan tanda tangan Hakim. Mereka terlihat sangat dekat. Edgar memberitahu Sean saat pertama kali melihat gadis itu dia sangat terpesona padanya. Bukan hanya cantik, wajahnya juga terlihat polos. Rambutnya hitam terurai, dia bersikap sangat ramah pada Zura. Sean semakin yakin jika gadis itu yang muncul dalam mimpinya.
\*\*\*
Hari sudah pagi. Saat di meja makan, Zeynep melihat Saffiya dan Zura tidak saling bicara satu sama lain.
"Dimana Sean?" tanya Zeynep membuka pembicaraan.
"Tadi malam, Sean menginap di rumah Edgar," jawab Saffiya.
"Kenapa dia pergi kesana? Apa kalian bertengkar?" tanya Zeynep.
"Hanya kesalahpahaman saja, nek." ucap Saffiya sambil melirik Zura.
Zeynep merasa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Tatapan Saffiya menunjukkan jika semua yang terjadi padanya juga Sean ada hubungannya dengan Zura. Setelah selesai sarapan, Zeynep meminta Zura untuk duduk berbincang bersamanya. Zura terlihat sedikit murung hari ini.
"Ada apa? Jika kau memiliki masalah, ceritakan padaku!" ucap Zeynep.
Zura memberitahu neneknya jika tadi malam dia pergi keluar bersama Saffiya juga kakaknya. Dia mengajak Sean untuk mencicipi jajanan yang ada di pinggir jalan. Tapi, Saffiya memilih untuk pergi dan menunggunya di dalam mobil.
"Lalu?" tanya Zeynep penasaran.
"Setelah itu, kami pulang dan dari situ sikap Saffiya sangat berbeda." jawab Zura. "Entah kenapa nenek, aku merasa Saffiya tidak suka dengan keberadanku di rumah ini."
"Kenapa dia harus mempermasalahkan semua itu? Kau adalah cucu dari keluarga ini, sekaligus adik dari suaminya. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu padamu," ucap Zeynep.
Pagi itu, Sean datang ke rumah. Dia menyapa nenek dan juga ibunya yang sedang berbincang di ruang tengah.
"Kau sudah datang nak?" tanya Nasreen.
"Aku hanya ingin mengganti pakaianku saja, ibu. Setelah itu aku akan pergi lagi," jawab Sean.
Di kamarnya, Zura sedang membaca buku kesukaannya. Saat menatap ke jendela, dia melihat mobil milik Edgar yang sedang terparkir di depan rumahnya. Zura langsung berlari ke bawah. Saat akan menuruni tangga, Zura berpapasan dengan kakaknya.
"Kakak, tunggu!" ucap Zura.
"Ada apa?" tanya Sean yang terlihat terburu-buru.
"Apa aku boleh ikut? Aku sangat bosan disini," keluh Zura.
Tidak lama Sean dan Zura berpamitan pada nenek dan ibunya. Saat akan pergi, Nasreen meminta Sean untuk menemui Saffiya terlebih dahulu. Dia terlihat pendiam sejak tadi pagi.
"Jika kau memiliki masalah dengannya, selesaikan dengan cara baik-baik," ucap Nasreen. "Temui dia sebentar saja! Setelah itu, kau bisa pergi."
Atas permintaan ibunya, akhirnya hati Sean luluh. Dia pergi menemui Saffiya di kamarnya. Saat melihat kedatangan suaminya, Saffiya berlari memeluknya. Dia meminta maaf atas apa yang terjadi tadi malam. Saffiya menceritakan segala isi hatinya. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk bersikap kasar pada Zura, hanya saja dia sedikit kesal karena keberadaan Zura tadi malam membuatnya tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengannya. Saat melihat keberadaan Zura di dekat pintu kamarnya, Saffiya pergi untuk meminta maaf padanya.
"Aku minta maaf atas semua sikapku tadi malam," ucap Saffiya tulus.
"Aku sudah memaafkanmu, kakak. Aku juga minta maaf karena kehadiranku tadi malam membuatmu tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan kakakku," ucap Zura.
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Sean sangat senang bisa melihat kedua perempuan yang ia cintai kembali berbaikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments