Sejak tadi, Sean sudah menunggu Zura di dalam mobil. Dia mulai kesal karena adiknya itu belum juga muncul. "Kemana dia?" ucapnya. Tidak lama, akhirnya Zura masuk ke dalam mobil. Dia tidak menghiraukan siapa pun. Dia terus menatap buku diary yang sudah Hakim tandatangani. Sean heran pada adiknya kenapa dia begitu mengidolakan pemain sepak bola itu. Dalam perjalanan, Zura masih memikirkan tentang perempuan itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sean.
"Tidak ada, hanya saja tadi...
Zura memberitahu Sean jika tadi saat dia meminta tanda tangan Hakim, pemain itu langsung menolaknya. Sikapnya terlihat sangat dingin. Tetapi, di antara semua pemain Maroko, ada salah satu perempuan yang juga ikut dalam rombongan itu. Dia membujuk Hakim untuk memberinya tandan tangan. Tidak lama akhirnya Hakim setuju dan menandatangani buku diary miliknya. Saat mereka tengah mengobrol, Hakim datang dan langsung membawa perempuan itu pergi dari sana.
"Hakim memegang tangan perempuan itu dengan sangat erat," ucap Zura.
"Lalu, apa masalahnya denganmu?" tanya Sean.
"Aku sangat penasaran dengan perempuan itu, kakak. Dia terlihat sangat cantik juga baik, rambutnya hitam bergelombang, saat dia tersenyum, senyumannya itu sungguh manis juga menawan, perfect!" ucap Zura.
Mendengar perkataan adiknya, Sean langsung teringat dengan perempuan yang ada dalam mimpinya. Semua sama persis seperti apa yang dibicarakan Zura baru saja. Zura tidak akan tinggal diam, dia akan mencari tahu siapa sebenarnya perempuan tadi.
"Kakak, apa kau mau membantuku untuk menyelidiki perempuan tadi?" ucap Zura.
"Untuk apa? Jika pun nanti kau tahu siapa perempuan itu, semua tidak ada artinya untukmu," jawab Sean.
"Kalau begitu, aku akan menyelidikinya sendiri. Jika kau sudah melihatnya nanti, aku yakin kau akan langsung tertarik padanya," ucap Zura dengan yakin.
"Kenapa kau begitu yakin jika aku akan tertarik padanya?" tanya Sean sambil tertawa kecil.
"Apa yang ada dalam dirinya tidak bisa kau dapatkan dari perempuan manapun, termasuk Saffiya. Saat bertemu dengannya nanti, kau bisa menatap mata indahnya. Di sana kau akan melihat segala isi hatinya." ucap Zura menasehati kakaknya.
Sean yang awalnya menganggap semua itu hanya lelucon, saat mendengar perkataan adiknya dia begitu penasaran dengan sosok perempuan itu. Dia tidak tahu kenapa Zura bisa mengatakan semua itu dengan penuh keyakinan.
Di satu sisi, semua timnas Maroko juga sang pelatih sudah berada di hotel. Di sana mereka mendapat pelayanan yang sangat baik. Kamar hotelnya terlihat sangat mewah juga luas. Saat itu juga Humaira langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merasa sangat ngantuk karena tidak tidur semalaman. Akhirnya Humaira pun terlelap tidur. Sementara itu, Hakim dan pemain lain masih sibuk merapikan pakaian mereka ke dalam lemari. Tidak lama Walid datang dan memberitahu semua orang jika malam nanti mereka harus menghadiri sebuah perayaan yang dibuat pemerintah Qatar untuk menyambut kedatangan semua tamu dari berbagai negara.
"Ayah, sedang apa Humaira sekarang ini?" tanya Hakim.
"Dia baru saja tidur, nak. Mungkin dia merasa lelah karena perjalanan ini," jawab Walid.
"Baiklah, jika dia sudah bangun nanti tolong beritahu aku!" pinta Hakim.
"Tentu saja."
\*\*\*
Kurang lebih satu jam dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah besar Jeevan. Saat Saffiya akan menyambut kedatangan Sean, dia sangat terkejut melihat kedatangan Zeynep juga Zura.
"Ibu... cepatlah kemari! Lihatlah siapa yang datang!" teriak Saffiya.
"Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Nasreen.
"Ibu?" Nasreen langsung menghampiri dan memeluk ibunya itu. "Apa kabar ibu?"
"Aku baik nak," jawab Zeynep.
"Ibu..." peluk Zura erat. "Aku sangat merindukanmu."
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Nasreen.
"Aku menjadi lulusan terbaik di kampus ku ibu," jawab Zura penuh haru.
"Maaf, ibu dan ayah tidak bisa menghadiri wisudamu karena keadaannya yang tidak memungkinkan," ucap Nasreen.
"Tidak apa-apa ibu. Lagi pula, ada nenek yang selalu menemaniku," jawab Zura penuh pengertian. Melihat kedatangan ibu mertuanya, Emir menyambutnya dengan sangat gembira. Saat melihat putri tercintanya telah kembali Emir memeluknya erat. Ulya yang baru saja turun sangat terkejut melihat kedatangan ibunya.
"Ibu? Apa kabar? Aku sangat merindukanmu," ucapnya.
"Kabar baik, nak. Bagaimana denganmu?" tanya Zeynep.
"Seperti yang kau lihat ibu, aku sangat baik." jawab Ulya.
"Apa Alman belum juga kembali?"
"Belum, dia masih sangat sibuk dengan pekerjaannya. Saat dia akan kembali, aku akan segera memberitahumu," jawab Ulya.
Saat memasuki kamarnya, Zura terlihat sangat senang. Kamar itu tetap rapi juga bersih walaupun sudah kurang lebih tiga tahun ia tinggalkan. Semua masih terlihat sama. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Zura merapikan semua barang-barangnya ke dalam lemari. Buku diary miliknya dia simpan di dalam laci yang tidak jauh dari samping tempat tidurnya. Buku itu berisi momen-momen penting saat berada di Swiss. Zura sudah tidak sabar ingin menyaksikan piala dunia itu. Dia akan berada di barisan paling depan untuk mendukung Hakim.
Hari sudah mulai gelap. Semua orang bersiap untuk menyambut semua tamu dari berbagai negara. Keluarga Jeevan pergi menemui perdana menteri di kediamannya. Mereka semua pergi ke tempat dimana opening ceremony berlangsung. Tiba disana, Zeynep merasa sedikit pusing. Dia rasa darahnya sedang rendah. Melihat keadaan neneknya yang tidak terlalu baik, Sean membawa neneknya ke hotel. Di sana Zeynep langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Nenek baik-baik saja kan?" tanya Sean sedikit cemas.
"Kepalaku rasanya sangat sakit, nak." jawab Zeynep.
"Baiklah, aku akan segera menghubungi dokter."
"Tidak perlu, nenek akan istirahat saja disini. Pergilah! Kau harus hadir dalam penyambutan itu," ucap Zeynep.
"Tidak nek, aku akan menemanimu disini sampai keadaanmu membaik," jawab Sean. Saat Sean sedang menemani neneknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mendapat telepon dari Saffiya. Atas permintaan sang perdana menteri, Sean harus segera kembali ke tempat itu. Di sana banyak sekali reporter yang akan meliputnya. Saffiya memohon agar Sean menuruti permintaan ayahnya. Dengan berat hati, akhirnya Sean pergi meninggalkan neneknya yang masih terbaring sakit.
"Maafkan aku nek, aku harus pergi." ucap Sean.
"Pergilah! Jangan sampai mereka menunggumu," ucap Zeynep.
"Pelayan kemarilah!" ucap Sean. "Tolong jaga nenekku sampai aku kembali, jika terjadi sesuatu cepat beritahu aku!"
"Baik tuan," jawab pelayan.
Saat pergi meninggalkan hotel, Sean tidak lupa menyuruh beberapa bodyguardnya supaya berjaga di depan kamar neneknya. Dia takut jika ada orang asing yang mencoba mencelakakan neneknya.
\*\*\*
Malam itu, Humaira baru selesai mandi. Dia melihat sang ayah juga timnya sudah berangkat ke tempat pembukaan. Saat Humaira akan pergi kesana, dia melihat beberapa pelayan sibuk tidak karuan. Mereka terlihat sangat cemas.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di dalam?" tanya Humaira.
"Di dalam ada seorang nenek tua yang sedang sakit, aku rasa dia harus segera mendapatkan penanganan dari dokter," jawab salah satu pelayan.
"Apa aku boleh melihatnya?"
"Silahkan!"
Humaira masuk dan memeriksa keadaan nenek itu. Saat tahu apa penyakitnya, Humaira kembali ke kamar untuk mengambil obat yang diperlukan. Setelah kembali, Humaira meminta pelayan untuk membawa makanan untuk sang nenek.
"Ini makanannya nona!" ucap pelayan.
Humaira membenarkan posisi si nenek dan mulai menyuapinya. "Sebelum meminum obatnya, kau harus makan terlebih dahulu," ucapnya. Setelah menghabiskan makanannya, Humaira meminta si nenek untuk meminum obatnya. Tidak lama si nenek tertidur karena pengaruh obat itu.
"Dimana keluarga si nenek?" tanya Humaira.
"Mereka sedang melakukan acara penyambutan," jawab pelayan.
"Apa si nenek berasal dari keluarga penting?" tanya Humaira.
Pelayan memberitahu Humaira jika nenek itu adalah Nyonya Zeynep Jeevan. Dia adalah pemilik nama besar Jeevan sekaligus kerabat dari perdana menteri Qatar. Cucu tertua keluarga Jeevan menikah dengan putri perdana menteri Qatar yang bernama Saffiya Maira. Mereka adalah dua keluarga besar yang sangat berpengaruh di kota. Mereka juga sangat dihormati oleh banyak orang. Hubungan dua keluarga besar itu bahkan diketahui oleh sebagian besar negara di dunia. Saat Humaira akan pergi, tangan Zeynep menahannya.
"Walaupun nyonya sedang tertidur, sepertinya dia ingin jika kau yang menemaninya," ucap pelayan.
"Bagaimana ini? Aku harus segera pergi menemui ayah juga Hakim," ucap Humaira dalam hati. Saat melihat jam yang ada di tangannya, Humaira sudah terlambat kurang lebih dua jam. Dia memutuskan akan menemui Hakim setelah dia kembali dari acara itu. "Baiklah, aku akan menemani nenek ini disini," ucap Humaira pada pelayan.
Sementara itu, Sean terlihat sangat gelisah karena meninggalkan neneknya sendiri di hotel. Saat semua menikmati acaranya, Sean tidak terlihat senang sedikitpun.
"Ada apa?" tanya Saffiya.
"Aku sangat khawatir dengan keadaan nenek, dia sendirian disana." jawab Sean.
"Tenanglah, di sana sudah ada pelayan yang menjaganya. Kau juga sudah mengerahkan semua bodyguardmu untuk menjaga nenek. Percayalah, semua akan baik-baik saja," ucap Saffiya.
Setelah menyaksikan beberapa pertunjukan dan mendengar beberapa kata sambutan, akhirnya acara itu resmi dibuka. Untuk tahun ini Qatar resmi menjadi tuan rumah dimana ajang kompetisi piala dunia digelar. Semua terlihat sangat mewah juga meriah. Ratusan kembang api mewarnai langit Qatar malam itu.
Saat kembali ke hotel, Hakim tidak mendapati Humaira di kamarnya. Dia pergi menemui Walid untuk menanyakan keberadaannya.
"Maaf ayah, apa Humaira bersamamu?" tanya Hakim.
"Tidak, nak. Sejak tadi aku tidak melihatnya. Coba kau lihat di kamarnya!"
"Sudah, tapi dia tidak ada."
Walid mencoba menghubungi ponsel putrinya, tapi tidak bisa. "Ponselnya sedang di luar jangkauan, nak." ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi untuk mencarinya," ucap Hakim.
Setelah kurang lebih satu jam Humaira menjaga si nenek, akhirnya Zeynep bangun. Semua rasa sakit yang tadi dirasakannya sekarang sudah hilang. Zeynep melihat perempuan yang ada disampingnya.
"Kau sangat cantik, nak." ucap Zeynep sambil memegang wajah Humaira. "Siapa kau sebenarnya?"
"Aku salah satu penghuni hotel disini. Bagaimana keadaan nenek sekarang? Apa kepalanya masih terasa sakit?" tanya Humaira.
"Aku merasa lebih baik," jawab Zeynep.
Tidak lama pelayan datang dan memberitahu Zeynep jika Sean dan istrinya akan segera datang. Mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel. Mendengar cucu dari Zeynep akan datang, Humaira meminta izin padanya untuk segera pergi.
"Siapa namamu?" tanya Zeynep.
"Humaira."
"Nama yang sangat cantik seperti orangnya," ucap Zeynep.
"Terimakasih, nek. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Humaira.
"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu karena sudah bersedia membantuku," ucap Zeynep. "Semoga kita bisa bertemu kembali, nak."
Saat akan menaiki lift, Saffiya ingat jika ponselnya tertinggal di kamar. Dia pergi untuk mengambilnya. Sementara itu, tidak lama dari dalam lift keluarlah Sean dan Saffiya. Mereka segera pergi menuju kamar Zeynep. Saat dilihat, ternyata neneknya itu sudah bangun dari tempat tidurnya. Dia tengah berdiri di dekat jendela hotel untuk menikmati pemandangan kota malam itu.
"Nenek, kenapa kau bangun dari tempat tidurmu?" tanya Sean yang terlihat khawatir.
"Kenapa? Aku sudah merasa lebih baik, lagi pula pusing di kepalaku sudah hilang." ucap Zeynep.
Sean merasa sedikit bingung. Dia tidak melihat dokter di kamar itu, hanya ada seorang pelayan yang tadi ia tugaskan untuk menjaga neneknya. "Apa seorang pelaya juga ahli dalam hal pengobatan?" ucap Sean dalam hati.
"Apa tadi ada dokter yang datang kemari?" tanya Sean pada pelayan.
"Tidak ada, tuan. Hanya saja tadi seorang perempuan yang datang kemari dan memeriksa keadaan nyonya Zeynep."
"Siapa perempuan itu." tanya Sean penasaran.
"Aku tidak begitu mengenalnya, tapi dia kelihatannya sangat ahli dalam hal pengobatan. Aku yakin jika perempuan itu adalah seorang dokter."
"Namanya Humaira," sambung Zeynep yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Nenek mengenalnya?" tanya Sean.
"Jika tidak ada dia, entah apa yang akan terjadi padaku," ucap Zeynep.
"Apa ciri-ciri perempuan itu?" tanya Sean spontan.
"Untuk apa kau bertanya tentang perempuan itu?" timbal Saffiya yang terlihat cemburu saat Sean membicarakan wanita lain di depannya.
"Apa ada yang salah? Aku hanya ingin berterimakasih padanya," jawab Sean.
"Dia begitu cantik, saat menatap matanya aku seakan melihat ketulusan yang ada saat dia menolongku, senyumannya juga terlihat sangat manis." ucap Zeynep.
Sean merasa heran lagi-lagi perempuan itu sama persis dengan perempuan yang ada dalam mimpinya. "Apa perempuan yang dikatakan Zura adalah perempuan yang sama dengan yang menolong nenek baru saja?" ucap Sean dalam hati.
Saffiya menyadarkan Sean dari lamunannya. Dia terlihat sedikit kesal. Sikap Sean seakan berubah setelah mendengar nama perempuan itu. Saffiya langsung meminta Sean untuk membawa neneknya kembali ke rumah. Dia tidak ingin berlama-lama berada di hotel karena takut akan ada musuh yang mengintainya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments