PERTEMUAN SEAN DAN HUMAIRA

Pagi itu, Humaira sudah berada di depan hotel. Dia dan timnya akan pergi ke lapangan untuk berlatih. Nanti malam adalah pertandingan Maroko menghadapi Belgia. Sementara itu, Sean baru sampai di lapangan. Dia duduk di kursi penonton untuk menyaksikan beberapa negara berlatih. Edgar dan Zura juga ada disana.

"Nanti malam, pertandingan apa melawan apa kakak?" tanya Zura.

"Maroko melawan Belgia," jawab Sean.

"Maroko? Itu berarti Hakim akan datang hari ini untuk berlatih," ucap Zura terlihat sangat senang. Saat sedang duduk di kursi penonton, Zura mendengar seseorang membicarakan tentang kedatangan timnas Maroko di stadion.

"Apa mereka sudah datang?" tanya Zura pada orang itu.

"Siapa yang kau maksud?" ucap orang itu bingung.

"Maksudku, apa timnas Maroko sudah datang kemari?" tanya Zura penasaran.

"Mereka ada di depan!"

Zura langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi untuk melihat Hakim. Saat akan memasuki lapangan, Hakim lupa dengan Jersey miliknya yang tertinggal di dalam bis.

"Kau mau kemana?" tanya Humaira.

"Aku meninggalkan Jersey ku di dalam bis," ucap Hakim.

"Kau masuk saja! Biar aku yang akan mengambilnya," ucap Humaira.

Di satu sisi, Sean berjalan menuju mobilnya untuk mengambil beberapa dokumen. Saat akan kembali, Sean merasa ada seseorang yang tengah berjalan di belakangnya. Langkahnya terhenti. Saat membalikkan badan, Sean melihat seorang gadis cantik yang turun dari bis. Rambutnya yang sedikit bergelombang, matanya yang indah, sama persis dengan wanita yang ada dalam mimpinya. Saat melewati Sean, pandangan Humaira lurus ke depan. Dia langsung masuk ke lapangan untuk memberikan Jersey itu pada Hakim. Dari jauh, Zura terlihat sangat senang bisa melihat Hakim berlatih. Edgar yang ada disampingnya, tidak dihiraukan sedikit pun olehnya.

"Apa kau benar-benar mengidolakannya?" tanya Edgar.

Zura hanya mengangguk mengiyakan. Edgar melihat Zura yang senyum-senyum sendiri. Edgar merasa kehadirannya sama sekali tidak dianggap.

"Aku akan pergi, apa kau mau ikut?" ucap Edgar.

"Jika ingin pergi, pergilah! Aku akan terus disini sampai Hakim selesai berlatih." jawab Zura.

Edgar terlihat sangat kesal. Dia pikir Zura akan ikut bersamanya, tapi sepertinya dia lebih memilih menunggu lama hanya untuk melihat Hakim berlatih. Saat menengok ke sampingnya, Zura melihat Edgar yang masih duduk disana.

"Kau masih disini?" tanya Zura heran. "Bukankah tadi kau bilang akan pergi?"

"Aku masih disini karena kakakmu, dia akan marah jika tahu aku pergi begitu saja dari tempat ini," jawab Edgar.

Saat Humaira memasuki lapangan, semua mata tertuju padanya.

"Siapa gadis itu?" tanya salah satu pemain.

"Mungkin saja dia asisten pelatih, atau yang lainnya," jawab pemain lain.

Saat berlatih, Hakimi sempat menghampiri Hakim untuk memberitahunya jika saat ini banyak mata yang sedang menatap Humaira. Hakim melihat Humaira yang sedang duduk bersama ayahnya. Di satu sisi, Sean datang menghampiri Edgar. Saat menatap ke arah lapangan, Sean melihat gadis yang ditemuinya tadi di luar sedang duduk di kursi pelatih.

"Siapa gadis itu?" tanya Sean.

"Gadis yang mana?" tanya Edgar.

"Itu disana!" ucap Sean sambil menunjuk ke arah Humaira.

Saat Zura memperhatikan detail setiap pemain Maroko, di bangku pelatih dia melihat seorang gadis yang sudah tidak asing lagi.

"Ya ampun.... kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" ucap Zura terkejut.

"Kenapa?" tanya Sean.

"Di sana ada Humaira!"

"Siapa Humaira?" tanya Sean.

"Gadis yang sedang duduk di kursi pelatih itu! Dia adalah kekasih Hakim. Sepertinya dia datang untuk melihat Hakim berlatih, aah... mereka begitu manis," ucap Zura sambil memegang tangan Edgar.

Saat Zura menyadarinya, dia langsung melepaskan tangan itu dari Edgar. "Maaf," ucapnya. Di sela-sela waktu istirahatnya, Hakim tengah asyik berbincang dengan Humaira di pinggir lapangan. Entah apa yang dibicarakan mereka, Humaira terlihat begitu bahagia. Sean mengajak Edgar juga adiknya untuk turun ke lapangan. Dia ingin lebih mengenal para pemain itu. Saat melihat kedatangan Sean, Walid langsung datang untuk menyambutnya. Dia tahu jika pria yang datang menghampirinya itu adalah menantu dari perdana menteri Qatar.

"Ini adalah Walid R, dia pelatih timnas Maroko," ucap Edgar memperkenalkan semua orang pada Sean.

"Halo tuan, Sean." sapa Walid ramah.

"Kau sudah tahu namaku, sebelum aku mengatakannya," ucap Sean kagum.

"Tentu saja, siapa yang tidak tahu dirimu. Sean Barra Jeevan, cucu tertua keluarga Jeevan sekaligus menantu perdana menteri Qatar," ujar Walid dengan bangga. Walid memanggil semua pemain dan memperkenalkan Sean pada mereka.

"Dimana Hakim?" ucap Walid.

"Dia disana!" jawab salah satu pemain.

"Hakim... kemarilah!"

Walid memperkenalkan Hakim sebagai penyerang dalam timnya. Bukan hanya Hakim, saat Humaira datang, Walid memberitahu Sean jika dia adalah putrinya. Dia bekerja sebagai dokter pribadi timnya.

"Jadi... kau ini putri dari pelatih timnas Maroko?" ucap Zura. "Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Padahal, aku sudah mengikuti akun Instagram timnas Maroko, tapi tidak pernah aku melihat fotomu terpajang di sana."

Walid tertawa kecil mendengar perkataan itu. Dia memberitahu Zura jika putrinya, Humaira dia tidak pernah ingin terekspos. Dia sangat tertutup di depan media, dia tidak ingin banyak orang tahu jika dirinya adalah putri dari seorang pelatih sepakbola.

"Saat aku sakit nanti, apa bisa kau yang mengobatiku?" tanya Zura.

"Tentu saja, aku akan merawat dan menjagamu sampai sembuh," ucap Humaira tersenyum kecil.

Melihat senyuman itu, Sean semakin yakin jika Humaira adalah perempuan yang ada dalam mimpinya.

"Kenapa dia terus menatap Humaira?" ucap Hakim dalam hati.

Setelah menemani Hakim latihan, Humaira bergegas pergi. Masih ada urusan yang harus dia kerjakan.

"Apa kau akan pergi?" tanya Zura.

"Benar, apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Humaira.

"Ah, tidak. Baiklah, kalau begitu sampai bertemu kembali," ucap Zura.

"Sampai bertemu kembali,"

Humaira akhirnya pergi meninggalkan lapangan. Melihat kepergian Humaira, Sean berbisik pelan pada Edgar. "Ikuti dia!" ucapnya. Tanpa bertanya lagi, Edgar segera pergi untuk mengikuti Humaira. Di dalam mobil, Edgar merasa heran kenapa bosnya itu menyuruh dia untuk mengikuti Humaira.

"Apa mungkin Sean jatuh cinta pada pandangan pertama?" ucap Edgar. Tidak lama taksi yang di tumpangi Humaira berhenti di sebuah hotel. Saat melihat nama hotel itu, Edgar sudah bisa menebaknya. Hotel itu tidak lain adalah milik keluarga Jeevan. Edgar langsung turun dari mobil dan mengikuti Humaira masuk ke dalam. Setelah tiba di kamar, Humaira membuka laptop miliknya. Di sana sudah ada beberapa pesan yang masuk. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Humaira melamar pekerjaan di salah satu rumah sakit yang ada di Qatar. Satu bulan tanpa melakukan apapun disana, membuat hari-hari Humaira terasa hampa. Siang ini dia akan pergi untuk wawancara ke salah satu rumah sakit. Bagi Humaira, waktu adalah sesuatu yang berharga, dimana segala sesuatu yang terjadi di dalamnya tidak akan bisa diulang kembali. Humaira ingin melakukan sesuatu yang bisa menyibukkan dirinya. Salah satu jalannya adalah menjadi seorang dokter. Setelah menyiapkan semua berkas yang diperlukan, Humaira langsung pergi menuju rumah sakit. Saat Humaira keluar dari kamar hotel, Edgar langsung bersembunyi. Dia tidak ingin Humaira curiga melihat keberadaannya disana.

"Jadi... dia tinggal disini?" ucap Edgar.

"Kemana lagi Humaira akan pergi?"

Edgar segera menyusul Humaira sebelum kehilangan jejaknya. Saat dalam perjalanan, Zura melihat kakaknya yang diam sejak tadi. Jika sikapnya sudah seperti itu, berarti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.

"Kakak, kau ini kenapa? Sejak tadi kau terus saja diam," tanya Zura.

"Tidak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan pekerjaan di kantor," ucap Sean.

"Aku tidak yakin dengan ucapanmu itu," jawab Zura meledek kakaknya. "Mmm... apa kau sedang memikirkan Humaira?"

Mendengar perkataan Zura, Sean langsung menghentikan mobilnya mendadak.

"Aduh! Kenapa kau menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, kak?" ucap Zura sambil memegang kepalanya yang sedikit terbentur.

"Maafkan aku, pikiran ku saat ini sedang kacau," ucap Sean.

Dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Saat tiba di rumah, Sean menyuruh Zura untuk segera masuk.

"Kau tidak ikut masuk?" tanya Zura.

"Tidak! Aku harus pergi karena masih banyak urusan," jawab Sean.

"Baiklah, kalau begitu hati-hati!"

Saat melihat kedatangan Zura, Saffiya mencari-cari keberadaan Sean.

"Dimana Sean?" tanya Saffiya.

"Kakak pergi lagi untuk suatu urusan," jawab Zura.

Saat Saffiya berada di kamarnya, pelayan datang dan memberitahu jika manajernya sudah datang. Dia sudah menunggu di ruang kerjanya. Tiba di sana, Saffiya melihat wajah sang manajer yang begitu bahagia.

"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat berbunga-bunga hari ini?" tanya Saffiya penasaran.

"Selamat nona, pengajuan kontrak untuk film barumu sudah disetujui. Kau akan mulai syuting besok," ucap sang manajer.

"Benarkah?" ucap Saffiya tidak percaya. Dia tidak tahu jika kontraknya akan disetujui secepat itu. Saat makan malam nanti, dia akan memberitahu semua orang tentang kabar baik ini. Saffiya yakin jika semua orang akan sangat mendukungnya, termasuk Sean. Saffiya meminta sang manajer untuk menyiapkan semua keperluannya besok. Dia tidak ingin ada kekurangan apapun di saat hari pertamanya syuting.

Di satu sisi, Edgar melihat taksi yang tadi ditumpangi Humaira berhenti di depan rumah sakit. Saat dilihat, ternyata orang di dalam taksi itu bukanlah Humaira. Edgar melihat ke sekeliling, tapi batang hidung Humaira tidak sedikit pun terlihat. "Kemana Humaira pergi? Perasaan... tadi dia naik taksi ini, apa mungkin aku salah mengikuti taksi?" ucap Edgar. Saat dia tengah bingung mencari Humaira, ponselnya berdering.

"Apa yang harus aku katakan pada Sean?" ucap Edgar.

Saat mengangkat teleponnya, Edgar langsung meminta maaf pada Sean karena sudah gagal dalam tugasnya itu. Dia kehilangan jejak saat Humaira keluar dari hotel.

"Itu berarti... kau tahu dimana Humaira menginap?" tanya Sean.

"Hotel Rose-J, tuan." jawab Edgar.

"Dia menginap di hotel milik Jeevan?" tanya Sean tidak percaya.

"Ya, dia berada di lantai 5 dengan kamar hotel nomor 109," ucap Edgar.

Walau Edgar gagal mengikuti Humaira, tapi sedikit informasi itu sangat berarti bagi Sean. Sekarang dia tahu dimana Humaira tinggal. Saat itu juga, Sean meminta Edgar untuk datang ke kantor.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!