Malam itu, pertandingan dimenangkan oleh timnas Maroko. Hakim dan kawan-kawan akhirnya bisa kembali berlaga di pertandingan selanjutnya. Saat di ruang ganti, Hakim mencari keberadaan Humaira.
"Apa kalian melihat Humaira?" tanya Hakim.
"Dia sudah pulang lebih awal, Kim." jawab salah satu pemain.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Aku dengar sih... dia merasakan sakit di kepalanya. Sang pelatih memintanya untuk kembali ke hotel."
Saat Hakim akan menghubungi Humaira, dia melihat satu panggilan masuk di ponselnya.
"Ibu? Untuk apa dia menelepon?" ucapnya.
Tidak lama Walid datang dan meminta semua pemainnya untuk segera berkemas. Dia akan mengajak mereka makan malam di luar sebagai perayaan atas kemenangannya. Sementara itu, Sean mendapat kabar jika Edgar dan anak buahnya belum juga menemukan Saffiya dan Humaira. Saat mereka sedang berjalan, dari jauh terlihat beberapa orang pemuda yang sedang berbincang di pinggir jalan.
"Di sana ada orang!" ucap Saffiya. "Bagaimana jika kita meminta bantuan mereka?"
"Baiklah, ayo kita pergi kesana!"
Saat melihat kedatangan mereka, tatapan para pemuda itu terlihat berbeda. Mereka seperti memiliki niat jahat pada Saffiya dan Humaira.
"Permisi! Apa kau tahu jalan ini menuju kemana?" tanya Saffiya.
"Kenapa harus terburu-buru? Duduk saja dulu dengan kami cantik," ucap salah seorang pemuda sambil memegang tangan Saffiya.
"Lepaskan tanganmu itu!" ucap Humaira sambil mengibaskan tangan pemuda itu dari Saffiya. "Kau ini sangat tidak sopan!"
"Waw... lihatlah teman! Dia sepertinya so jagoan disini," ucap pemuda itu.
"Ikutlah bersama kami cantik..."
Para pemuda itu membawa paksa Saffiya dan Humaira.
"Tolong...!" teriak Saffiya.
Tidak lama terlihat sebuah sinar lampu mobil yang menyilaukan mata mereka. Saat dilihat, turunlah seorang pria yang tidak lagi muda dari dalam mobil itu. Melihat kedatangan pria itu, para pemuda langsung pergi berlarian. Saffiya dan Humaira merasa heran dengan para pemuda tadi. Tapi setidaknya mereka merasa lega karena ada orang yang datang untuk membantunya.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya pria itu.
"Kami baik-baik saja," ucap Saffiya.
"Terimakasih sudah menolong kami, tuan." sambung Humaira.
Pria itu mengajak Saffiya juga Humaira untuk ikut bersamanya. Sopir pribadinya sendiri yang akan mengantar mereka sampai tujuan. Mendengar hal itu, Saffiya langsung menyetujuinya. Dia akan ikut bersama pria itu. Tetapi di sisi lain, Humaira merasa ada yang aneh dengan pria itu. Dari penampilannya, dia seperti bukan orang biasa. Para pemuda tadi yang melihatnya seakan takut padanya. Itu berarti pria ini sangat berpengaruh di kota. Saffiya menyadarkan Humaira dari lamunannya. Dia mengajak Humaira untuk ikut masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan, Humaira terus waspada dengan pria itu. Dia bisa saja sewaktu-waktu berbuat jahat padanya. Tiba-tiba sebuah mobil menghadang perjalanan mereka. Sekelompok orang tidak dikenal meminta Saffiya dan Humaira untuk turun dari mobil. Sementara itu, Humaira melihat si pria tadi duduk dengan tenangnya.
"Kenapa orang-orang ini hanya mengincar kami?" ucap Humaira dalam hati. "Pria itu... mereka tidak mengusiknya sama sekali."
"Bawa gadis itu ke dalam mobil!" suruh pria itu pada anak buahnya.
"Apa maksudmu? Bukankah tadi kau bilang akan mengantar kami ke tempat tujuan?" tanya Saffiya heran.
"Hahaha.... kau ini mudah sekali di bohongi! Dengan cara ini, aku yakin jika Sean akan datang dan bertekuk lutut di hadapan ku." ucap pria itu.
Mereka membawa Saffiya masuk ke dalam mobil dan pergi. Sementara itu, Humaira dilepaskan begitu saja. Melihat Saffiya dibawa oleh pria itu, dia tidak tinggal diam. Bagaimana pun caranya Saffiya harus selamat. Saat Humaira mencari sesuatu dari dalam mobil tadi, dia menemukan sebuah pistol yang tersimpan di bawah kursi mobil. Dia langsung mengambil pistol itu untuk berjaga-jaga.
"Bagaimana mungkin aku bisa menyusul mobil itu? Aku saja tidak tahu harus pergi dengan apa," ucapnya.
Tidak jauh dari sana, Humaira melihat sebuah motor yang terparkir di depan toko. Dia melihat kunci yang masih terpasang pada motor itu. Saat melihat sekitar, dia tidak menemukan satu orang pun. Humaira langsung menggunakan motor itu untuk mengejar Saffiya.
\*\*\*
Di dalam perjalanan, pria itu menghubungi Sean. Dia meminta Sean untuk menemuinya di sebuah tempat. Awalnya Sean menolak, tetapi setelah melihat keberadaan Saffiya dalam mobil itu dia langsung menyetujuinya. Sean memerintahkan Edgar dan anak buahnya untuk ikut ke tempat itu secara diam-diam. Sean sangat takut jika pria itu menyakiti Saffiya. Tapi di sisi lain, dia juga sangat mencemaskan Humaira. Saat tiba di tempat itu, Sean melihat Saffiya dengan kaki dan tangan yang sudah terikat.
"Sean... tolong aku!" teriak Saffiya.
"Diam kau!" bentak anak buah pria itu.
"Lepaskan dia!" suruh Sean.
Sebelum melepaskan Saffiya, pria itu meminta syarat supaya Sean memberikan gudang senjata yang ada di Qatar padanya.
Sean dengan tegas menentang syarat itu. Tempat itu adalah tempat dimana Sean menyimpan persenjataan yang masuk ke negaranya secara ilegal. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang tempat itu.
"Bagaimana jika kau harus memilih antara menyerahkan tempat itu, atau melihat kematian istrimu di depan matamu sendiri?" ucap pria itu.
Sean melihat anak buah pria itu yang sudah menodongkan pistol tepat di kepala Saffiya.
"Berikan saja apa yang dia inginkan!" ucap Saffiya. "Apa tempat itu lebih berharga dari pada aku?"
"Apa kau dengar apa yang dikatakan istrimu itu? Dia menyuruhmu untuk memberikan tempat itu padaku!" ucap pria itu. Tidak lama Sean mendengar suara yang digunakan Edgar sebagai pertanda jika dia dan anak buahnya siap untuk menyerang. Mendengar suara itu, pria tadi meminta anak buahnya untuk berhati-hati. Dia sangat tahu jika suara itu sering dipakai oleh musuh saat akan menyerang. Saat semua nampak hening, terjadilah penembakan.
Dor! Dor! Dor!
"Aaaa..." teriak Saffiya ketakutan. Saat Edgar mencoba melepaskan ikatan itu dari Saffiya, seseorang lebih dulu menodongkan pistol padanya.
"Siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu? Istrimu, atau orang kepercayaanmu?"
Sean terlihat sangat bingung. Jika dia salah mengambil langkah, maka peluru itu akan mengenai salah satu dari mereka.
Dor! Dor! Dor!
Seketika pria itu dan anak buahnya tumbang. Semua terlihat bingung dari mana asal suara tembakan itu. Tidak ada satu orang pun yang menembak tanpa izin Sean. Saat dilihat muncul Humaira dari belakang. Dia langsung menghampiri Saffiya dan melepas ikatan itu dari tangan dan kakinya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Humaira sedikit cemas.
Saffiya langsung berlari ke arah Sean dan memeluknya.
"Aku sangat takut Sean..." ucap Saffiya.
"Kau tenanglah! Semua sudah berlalu," ucap Sean.
Sean meminta anak buahnya untuk mengurus mayat pria itu dan anak buahnya. Sementara itu, dia akan pulang bersama Saffiya dan yang lainnya. Sean sangat berterimakasih pada Humaira karena dirinya Saffiya masih baik-baik saja sampai saat ini. Dalam perjalanan pulang, Sean terus memperhatikan Humaira dari kaca mobilnya.
"Kenapa bos terus menatap Humaira?" tanya Edgar dalam hati.
Suasana di dalam mobil sangat hening. Tidak satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan. Melihat situasi seperti itu membuat Edgar sangat tidak nyaman.
"Kau bukan hanya seorang dokter, tapi juga penembak yang hebat." ucap Edgar memulai pembicaraan.
Humaira hanya tersenyum mendengar pujian Edgar. Melihat sikap Humaira, Edgar pikir dia pribadi yang tidak banyak bicara. Kepribadiannya yang tenang membuat siapa pun nyaman berada di dekatnya.
"Apa ayahmu yang sudah mengajarimu cara menembak?" tanya Edgar.
"Ya, dia yang mengajariku semua itu. Dia pikir... setelah dewasa nanti dia tidak bisa terus ada bersamaku. Aku harus menjadi seorang perempuan yang tangguh dan pandai menjaga diri. Itu semua ayahku lakukan dengan cara mengajariku tentang tembak menembak." ucap Humaira.
"Syukurlah... aku pikir kau ini seorang mafia." ucap Edgar.
"Mafia? ucap Humaira.
Mendengar nama itu, Humaira kembali mengingat sang ibu dimana kematiannya itu sangat tragis.
\*\*\*
Flash back
Saat itu Humaira baru pulang sekolah. Tiba di rumah, dia tidak melihat siapapun.
"Ibu... kau dimana?" panggil Humaira.
Sudah kurang lebih satu Minggu ibunya belum juga kembali. Saat Humaira sedang belajar di kamarnya, dia mendengar ayahnya berbicara dengan seseorang di telepon. Melihat kepergian sang ayah, Humaira langsung mengikutinya dari belakang. Beberapa jam kemudian, akhirnya Walid sampai di sebuah bangunan tua yang sudah tidak dihuni. Dia melihat istrinya sudah diikat di atas sebuah tiang.
"Maira? Apa yang terjadi padamu?" ucap Walid penuh tangis.
Tidak lama seorang pria tua datang. Dia meminta Walid untuk bekerja sebagai kaki tangannya.
"Jangan kau terima tawarannya itu, suamiku!" ucap sang istri dalam keadaan lemah. "Aku tidak ingin ayah dari putriku menjadi seorang penjahat!"
"Diam kau!" bentak pria tua itu.
"Aku akan membayar berapapun yang kau mau," ucap pria itu.
"Tolong lepaskan istriku!" ucap Walid.
"Aku akan melepaskannya jika kau penuhi apa yang menjadi keinginan ku," ucap pria itu.
Walid terlihat sangat bingung. Dia tidak mau menerima pekerjaan itu, tapi di sisi lain ada seorang perempuan yang sangat dicintainya sedang dalam bahaya. Keadaan sang istri terlihat semakin memburuk. Banyak luka lebam di wajah juga tangannya. Entah apa yang pria itu lakukan pada istrinya. Dengan napas yang terengah-engah sang istri meminta Walid untuk menjaga putrinya. Dia tidak akan tenang jika sampai suaminya itu bekerja sebagai seorang kaki tangan mafia. Tidak lama akhirnya sang istri menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggal dalam keadaan tragis. Melihat kematian sang ibu di depan matanya, Humaira terlihat sangat sedih dan terpukul.
\*\*\*
Edgar menyadarkan Humaira dari lamunannya. Humaira langsung menghapus air matanya sebelum Sean dan yang lain melihatnya.
"Apa kau menangis?" tanya Edgar.
"Tidak, mataku hanya kemasukan debu saja." jawab Humaira.
Sean melihat jelas wajah Humaira selepas menangis. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi air mata itu menetes saat Edgar membahas tentang mafia. Tidak lama akhirnya mobil Sean berhenti di depan sebuah hotel.
"Untuk apa kita berhenti disini?" tanya Saffiya.
Humaira yang sejak tadi melamun baru menyadari jika dia sudah tiba di hotel tempatnya menginap. Dia sangat berterimakasih pada Sean karena sudah bersedia mengantarnya pulang.
Melihat ponsel Humaira yang tertinggal di dalam mobilnya, Sean menyuruh Edgar untuk mengejar Humaira dan mengembalikan ponselnya.
"Humaira tunggu!" teriak Edgar.
Humaira terus saja berjalan karena suara kebisingan yang ada di sekitar hotel. Saat Edgar berhasil mengejarnya, dia tidak sengaja memegang tangan Humaira.
"Aww...," lirih Humaira pelan.
"Ponselmu tadi tertinggal di dalam mobil Sean," ucap Edgar sambil menyerahkan ponsel itu.
"Terimakasih," ucap Humaira.
Saat masuk ke dalam mobil, Edgar memberitahu Sean jika tangan Humaira seperti kesakitan saat dia tidak sengaja memegangnya.
"Benarkah?" tanya Saffiya. "Itu pasti karena tadi tangannya sempat terbentur sesuatu saat dia menyelamatkanku di toko."
Saat tiba di rumah, semua orang merasa sangat senang karena akhirnya Sean dan Saffiya bisa kembali dengan selamat. Saffiya masih terlihat ketakutan. Nasreen membawanya ke ruang tengah.
"Bi, tolong bawakan segelas air untuk Saffiya!" pinta Nasreen pada seorang pelayan. Tidak lama pelayan itu datang.
"Ini minumannya, nona!"
"Minumlah dulu, sayang!" ucap Nasreen.
Sebelum Sean dan Saffiya kembali, semua orang yang ada di rumah sangat khawatir. Kabar itu mereka dapatkan saat Zura kembali dari pertandingan. Dia mengatakan pada semua orang jika Saffiya di culik dan Sean pergi untuk menyelamatkannya. Saat semua orang masih berkumpul di ruang tengah, Sean pergi ke kamarnya. Dia terlihat sangat lelah hari ini terlebih lagi dia harus menghadapi situasi genting seperti tadi. Setelah membersihkan diri, Sean pergi ke tempat tidurnya. Dia masih mengingat kejadian tadi dimana Humaira datang menyelamatkan Saffiya dan membantunya melepas ikatan. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Saffiya. Walau mereka asing satu sama lain, tapi ketulusan yang Humaira tunjukkan tidak bisa disembunyikan. Dia begitu tulus menolong Saffiya dari bahaya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments