MENCARI SEBUAH ALAMAT

Pulang dari kediaman Jeevan, Humaira langsung pergi ke kantor polisi. Dia ingin mencari tahu sendiri kebenarannya. Tiba disana, dia menemui salah satu polisi yang sedang bertugas malam itu.

"Maaf pak, aku ingin bertemu dengan tuan Sean," ucap Humaira.

"Kau ini siapanya?" tanya polisi itu.

"Aku orang yang diminta tuan Sean untuk memanggilkan pengacaranya." ucap Humaira meyakinkan polisi.

"Maaf, tapi tuan Sean sudah kembali sejak tadi. Semua ini hanyalah kesalahpahaman. Kami sudah menangkap pelaku yang sebenarnya." ucap polisi.

"Apa aku boleh menemuinya?" pinta Humaira.

"Maaf nona, tapi waktu berkunjung sudah habis. Kau bisa kembali besok pagi."

Humaira terus memohon pada polisi itu untuk menemui pelaku itu. Melihat Humaira yang memohon seperti itu, polisi merasa kasihan padanya. Dia akhirnya memberi waktu lima menit untuk Humaira menemui pria itu. Tidak lama menunggu, akhirnya pria itu datang. Dia merasa heran dengan perempuan yang datang menemuinya.

"Kau siapa?" tanya pria itu.

"Berapa Sean membayarmu?" tanya Humaira.

"Apa maksudmu?" tanya pria itu.

"Kau bukanlah pelaku dari penembakan itu. Lalu kenapa kau bersedia untuk mengakui kesalahan yang bahkan kau sendiri tidak melakukannya?" ucap Humaira.

Pria itu terus bungkam. Humaira memohon untuk menceritakan semua padanya. Dia berjanji akan membantunya keluar dari penjara karena memang dia sama sekali tidak bersalah.

"Apa kau membawa kertas dan pulpen?" tanya pria itu.

"Tidak, tetapi jika kau ingin memberitahuku sesuatu, tuliskan saja disini." ucap Humaira sambil memberikan ponselnya. Waktu lima menit sudah habis. Polisi datang dan membawa kembali pria itu masuk. Saat menatap ponselnya, tertulis sebuah alamat yang pria itu tulis dalam ponselnya. Humaira langsung menyimpan alamat itu dan akan pergi besok pagi. Dia tidak ingin pria yang tidak bersalah harus menghabiskan waktunya di dalam penjara, sementara pelaku sebenarnya berkeliaran di luar sana.

\*\*\*

Malam itu, Saffiya menghabiskan waktu berdua bersama Sean. Mereka saling menceritakan tentang masa kecilnya yang begitu indah. Saffiya tidak menyangka jika sahabatnya sendiri yang menjadi suaminya sekarang ini. Dia meminta Sean untuk terus berada di sampingnya. Dia benar-benar mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya.

"Jika aku memintamu untuk meninggalkan pekerjaanmu itu, apa kau bersedia?" tanya Sean.

"Kau bisa meminta apapun, tapi tidak dengan yang satu ini. Kau tahu ini adalah mimpi yang selama ini aku nantikan. Menjadi seorang aktris ternama yang membintangi sebuah film." jawab Humaira.

"Tapi kau tidak pernah bertanya, apakah aku ini cemburu atau tidak saat kau beradegan romantis dengan lawan mainmu." ucap Sean.

"Kenapa kau harus cemburu? Dia hanya lawan mainku saja dalam film, tidak lebih. Seluruh hidup juga duniaku ada padamu." ucap Saffiya.

"Apa aku bisa mempercayai perkataanmu itu?" tanya Sean.

"Tentu saja," ucap Saffiya.

Saat Saffiya mulai tertidur, Sean merasa sangat bersalah karena sudah memiliki perasaan lebih terhadap Humaira. Malam itu, Sean pergi ke kamar Zura. Dia melihat adiknya itu masih mengerjakan tugas kantornya. Sean langsung menutup laptop itu dan menyuruh adiknya untuk segera tidur. Dia sudah bekerja sangat keras hari ini. Bahkan Edgar memberitahu dirinya jika Zura sudah belajar dengan sangat baik. Dia mulai berani menyampaikan presentasinya di hadapan banyak orang.

"Biarkan aku menyelesaikan tugasnya dulu kakak," ucap Zura.

"Tidak, kau harus segera tidur. Tugas ini kau bisa lanjutkan besok." jawab Sean.

"Tapi kak..."

"Jangan membantah apa kataku, jika tidak aku akan memberhentikanmu dari pekerjaan ini untuk beberapa hari."

"Baiklah, aku akan pergi tidur."

Saat sedang membereskan meja kerjanya, Zura tertarik dengan gelang yang Sean pakai di tangannya.

"Sejak kapan kakak memakai gelang itu?" tanya Zura. "Aku baru melihatnya hari ini."

"Gelang ini pemberian dari seseorang, hanya saja aku baru memakainya kembali." jawab Sean.

"Tapi sepertinya aku juga pernah melihat seseorang memakai gelang yang sama dengan milikmu."

Mendengar hal itu, Sean merasa sangat penasaran dengan orang itu. Dia kembali mengingat perkataan si nenek waktu itu. Gelang itu memiliki pasangannya, di antara pemilik kedua gelang itu akan saling berhubungan. Mereka adalah cinta sejati yang mungkin pertemuannya tertunda namun di kemudian hari takdir sendiri yang akan menyatukanya.

"Siapa orang itu?" tanya Sean penasaran.

Zura mencoba untuk mengingat sesuatu. Dia memberitahu kakaknya jika dia pernah melihat Humaira memakai gelang yang sama. Mendengar hal itu rasanya sangat sulit dipercaya. Jika memang Humaira memiliki gelang yang sama, kenapa sampai detik ini dia tidak pernah melihat Humaira mengenakannya.

"Apa kau tidak salah lihat?" tanya Sean.

"Tidak kakak, aku melihat Humaira memakai gelang itu saat pertemuan pertama kami saat di lapangan." ucap Zura. "Sudahlah, kenapa kau memperpanjang masalah ini? Lagi pula itu kan hanya sebuah gelang, siapa pun bisa memilikinya."

Zura akhirnya pergi tidur. Dia tidak lupa untuk mematikan lampu kamarnya. Sean sangat penasaran dengan perkataan Zura barusan. Dia akan mencaritahu tentang gelang itu.

\*\*\*

Pagi itu, cahaya mentari kembali datang menyapa dengan hangatnya. Sebelum pergi menuju alamat pria yang ditemuinya di penjara, Humaira sudah berjanji pada Azizah jika dia akan menemuinya kembali pagi ini. Pagi itu jam baru menunjukkan pukul 6. Humaira tiba disana dengan menggunakan taksi. Saat masuk, semua masih terlelap tidur hanya ada pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Humaira langsung pergi ke dapur untuk membuat sarapan khusus untuk Azizah. Kurang lebih satu jam, akhirnya Humaira selesai sudah menyiapkan sarapan. Dia terlihat sangat terburu-buru.

"Bi, tolong kau berikan makanan ini pada nenek. Aku harus pergi sekarang juga." ucap Humaira.

"Baik dokter, tapi... jika nyonya besar bertanya tentangmu bibi harus jawab apa?" tanya pelayan itu.

"Bibi tidak perlu khawatir, nanti aku sendiri yang akan menghubungi nenek." ucap Humaira. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu bi."

"Hati-hati, non..."

Saat akan keluar, Humaira tidak sengaja bertabrakan dengan Sean. "Maaf," ucap Humaira sambil bergegas pergi.

Sean semakin tidak nyaman melihat sikap dingin Humaira padanya. Dia pergi begitu saja tanpa menatap wajahnya. Sean pergi ke dapur untuk menemui pelayan.

"Kemana Humaira pergi? Kelihatannya dia sangat terburu-buru." ucap Sean sambil menuangkan air ke dalam gelas.

"Bibi tidak tahu tuan, mungkin dia senang ditunggu oleh seseorang." jawab pelayan itu menduga-duga.

Saat semua sudah tiba di meja makan, Azizah langsung mencari-cari keberadaan Humaira.

"Dimana Humaira? tanya Azizah pada pelayan.

"Dia sudah pergi nyonya," ucap pelayan sambil menghidangkan makanan yang sudah Humaira buat untuknya.

"Sudah pergi? Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Azizah.

"Tidak tahu nyonya, tapi dokter Humaira bilang dia akan segera menghubungimu." jawab pelayan.

"Sudahlah ibu, biarkan saja dia pergi yang penting dia sudah membuatkan ibu sarapan." sambung Ulya.

Mendengar perkataan Ulya, Azizah beranjak dari meja makan dan kembali ke kamarnya. Dia merasa tidak nafsu makan jika tidak ada Humaira bersamanya. Melihat semua itu, Sean tidak tinggal diam. Dia membawakan sarapan yang sudah Humaira buat ke kamar neneknya.

Tok... Tok... Tok...

"Masuklah!" ucap Azizah.

"Nenek, makanlah sedikit! Humaira sengaja datang pagi-pagi kemari hanya untuk membuat sarapan ini untukmu. Jika Humaira tahu nenek tidak memakannya, dia pasti akan sangat sedih." ucap Sean membujuk neneknya. Mendengar bujukan Sean, akhirnya Azizah bersedia untuk makan.

Di satu sisi, Humaira pergi ke alamat pria itu. Saat turun dari taksi, dia mencari-cari alamat itu. Dia bertanya pada orang yang ada disana, tapi sepertinya kebanyakan dari mereka tidak tahu alamat itu. Saat tiba di ujung jalan, Humaira tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang sedang membawa barang belanjaannya.

"Maafkan aku nyonya," ucap Humaira sambil membereskan barang itu.

"Tidak apa-apa," jawab perempuan itu.

Dia terlihat sangat terburu-buru. Humaira terus menatap kepergian orang itu. Dia dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Kau sedang apa disini, nak?" tanya nenek tua itu. "Ohh, itu Hediye. Perempuan yang baru saja ditinggal oleh suaminya tadi malam."

Humaira sangat penasaran dengan gerak-gerik perempuan itu. Dia mencoba mengikutinya dari belakang. Humaira dibuat bingung dengan beberapa rumah yang ada di jalan itu, sementara dia tidak melihat kemana perempuan tadi pergi.

"Kenapa kau mengikutiku?" ucap seseorang dari belakang.

Humaira sedikit terkejut. Saat membalikkan badan, ternyata itu adalah perempuan yang sejak tadi dia ikuti. Humaira menanyakan tentang alamat itu padanya.

"Untuk apa kau mencari alamat ini?" tanya perempuan itu.

"Aku mendapat alamat ini dari seorang pria yang aku temui di penjara tadi malam."

"Siapa nama pria itu?"

"Aku tidak sempat bertanya siapa namanya, tapi sepertinya dia ada hubungannya dengan Sean.

"Apa yang kau maksud Sean Barra Jeevan?"

"Apa kau mengenalnya?"

Perempuan itu membawa Humaira ke rumahnya. Saat akan masuk, Humaira melihat alamat rumah yang sama dengan alamat rumah yang diberi pria itu. Perempuan itu menyuruh Humaira untuk masuk. Di ruang tamu, Humaira melihat foto pria yang ia temui di penjara.

"Dia suamiku," ucap perempuan itu sambil membawakan secangkir teh untuk Humaira.

Tidak lama tangis perempuan itu pecah. Dia tidak bisa melakukan apapun melihat suaminya yang harus dipenjara untuk apa yang sama sekali tidak pernah ia perbuat.

"Apa yang sebenarnya terjadi nyonya? Tolong beritahu aku!" ucap Humaira.

Perempuan itu mulai menceritakan kisah hidupnya. Dulu, suaminya pernah meminjam uang pada Sean sebesar 100 juta untuk biaya putrinya yang mengalami kecelakaan. Karena kondisi ekonominya yang sulit, sampai saat ini mereka belum juga bisa melunasi semua hutangnya itu. Entah apa yang membawa Sean datang menemuinya sampai dia bersedia untuk membebaskan mereka dari semua hutang itu dengan syarat jika suaminya itu harus bersedia dipenjara dan mengaku pada pihak polisi atas sebuah penembakan yang terjadi di sebuah hotel. Mendengar semua itu, rasanya Humaira tidak percaya jika Sean seorang pria yang sangat picik.

"Kenapa suamimu setuju dengan syarat itu?" tanya Humaira.

"Apa yang bisa dilakukan orang kecil seperti kami, nona? Untuk makan saja kami sudah bersyukur. Dari mana kami bisa melunasi hutang sebanyak itu? Sementara suamiku saja hanya seorang petani sayuran." ucap perempuan itu. "Tidak ada pilihan untuk kami selain menerima semua syarat tuan Sean."

"Siapa sebenarnya Sean? Kenapa kalian sepertinya sangat takut padanya?"

Perempuan itu memberitahu Humaira jika Sean adalah seorang bos mafia. Dia cucu dari seorang mafia yang terkenal kejam di dunia. Semua orang takut padanya. Setiap Minggu Sean selalu menyuruh anak buahnya untuk datang menagih hutannya.

"Kami hanya ingin hidup dengan tenang tanpa semua hutang itu, nona. Tapi sepertinya anak buah tuan Sean tidak membiarkan kami mendapatkan semua itu. Mereka terus saja datang setiap Minggu."

Saat Humaira sedang berbincang dengan perempuan itu, tidak lama dua orang anak perempuan datang. Mereka adalah putri dari Hediye.

"Ayah dimana ibu?" tanya anak perempuan paling kecil.

"Dia sedang pergi, sayang. Jika dia kembali nanti, ibu akan langsung memberitahumu."

"Siapa kakak cantik ini?" tanya anak perempuan satunya lagi.

"Dia tamu kita," jawab sang ibu.

Hediye meminta kepada kedua putrinya untuk masuk ke dalam.

"Mereka sangat cantik juga menggemaskan," ucap Humaira. "Siapa namanya?"

"Ayana dan Sofia. Ayana masih duduk di bangku 6 SD, sedangkan Sofia dia masih berusia 6 tahun."

Hediye memberitahu Humaira jika kedua putrinya itu selalu menanyakan keberadaan sang ayah. Mereka tidak pernah jauh darinya. Mereka selalu bersama kemanapun ayahnya pergi. Mendengar semua itu, hati Humaira ikut tersentuh. Dia tidak mau gadis lain merasakan apa yang dia rasakan. Sebelum pergi, Humaira berjanji pada Hediye jika dia akan secepatnya membebaskan suaminya walau dia sendiri harus berhadapan langsung dengan keluarga besar Jeevan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!