KEDATANGAN HUMAIRA DI RUMAH SEAN

Pagi itu, Humaira sudah tiba di rumah sakit. Aiyse selaku kepala rumah sakit memberikan ruang khusus untuk Humaira bekerja. Secara bersamaan pagi itu Zeynep datang dengan di antar Sean untuk menemui dokter barunya. Aiyse mengantar Zeynep menemui Humaira. Tiba di ruangan, Zeynep sedikit terkejut saat tahu jika dokter penggantinya adalah Humaira.

"Ini Humaira Azkayra Azzahra, dia yang akan menjadi dokter pribadimu yang baru, nyonya." ucap Aiyse.

"Halo nyonya Zeynep!" ucap Humaira sambil mengulurkan tangannya.

"Aku sudah mengenalnya, dokter. Dia pernah membantuku saat aku sedang terbaring di hotel." ucap Zeynep pada Aiyse.

Zeynep sangat senang mengetahui Humaira yang akan menjadi dokter barunya. Dia akan memiliki kesempatan untuk bisa mencaritahu banyak tentangnya. Saat itu, Zeynep tidak bisa bicara banyak dengan Humaira. Dia harus pergi untuk melakukan operasi terhadap pasien yang baru saja mengalami kecelakaan. Tidak lama Sean datang.

"Nenek, apa kau sudah selesai?" tanya Sean.

"Sudah, tapi... aku belum sempat bicara banyak dengan dokter itu." jawab Zeynep.

"Kau tidak perlu khawatir nyonya, setelah dia selesai dari pekerjaannya, aku akan menyuruh dia untuk menemuimu." ucap Aiyse.

"Baiklah, aku akan menunggunya di rumah." ucap Zeynep.

Setelah tiba di rumah, Zeynep meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam.

Dia akan menyambut Humaira di rumahnya. Di satu sisi, Saffiya tengah sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke lokasi syuting. Zeynep meminta semua orang untuk pulang lebih awal. Nanti malam akan datang seseorang ke rumahnya.

"Siapa tamu istimewa itu ibu? Kau terlihat sangat bahagia," ucap Nasreen.

"Kau lihat saja nanti, nak." jawab Zeynep.

"Maaf nenek, sepertinya aku akan pulang terlambat. Banyak aktivitas di sana yang harus aku kerjakan." ucap Saffiya.

"Tidak masalah, kau fokus saja pada pekerjaan mu itu!" ucap Zeynep.

\*\*\*

Di kantor, Sean terlihat sangat sibuk. Tidak lama Edgar datang dan memberitahunya jika paket yang dia pesan sudah tiba. Sean meminta Edgar untuk mengurus semuanya. Dia tidak ingin ada orang yang tahu tentang paket itu termasuk polisi. Edgar pergi ke perbatasan. Dia pergi bersama para anak buahnya. Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggunya. Edgar meminta anak buahnya untuk selalu waspada. Dia tidak tahu kemungkinan apa saja yang bisa terjadi disana.

"Ini paket yang dipesan tuan Sean!" ucap pria itu sambil memberikan sebuah paket berukuran besar.

"Baiklah, ini bayaranmu!" ucap Edgar sambil memberikan koper berisi uang dengan jumlah yang sangat banyak.

Saat makan siang, Sean menerima telepon dari neneknya. Dia ingin Sean pulang lebih awal untuk ikut makan malam bersama. Mendengar permintaan neneknya itu, Sean selalu menurutinya. Walau jadwalnya sangat padat, dia selalu berusaha untuk memenuhi permintaan neneknya itu. Setelah makan siang, Sean pergi menemui sekretaris. Dia memintanya untuk menghandle semua jadwal hari ini. Setelah cukup lama Sean menunggu, akhirnya Edgar menelepon. Dia memberitahu Sean jika paket itu tidak sesuai dengan pesanannya. Sean terlihat sangat marah. Dia meminta Edgar untuk mencari orang itu dan membawa dia ke hadapannya. Berselang beberapa jam, akhirnya Sean tiba di tempat rahasianya.

"Dimana paket itu?" tanya Sean.

"Di sana tuan!" jawab Edgar.

"Kurang ajar! Berani sekali orang itu membohongiku," ucap Sean penuh amarah.

Saat Sean berada di tempat itu, dia mendengar sesuatu. Sean pergi mencari asal suara itu. Saat tiba di sudut ruangan, Sean sangat terkejut melihat sebuah bom rakitan yang sudah terpasang di tempat itu.

"Cepat keluar dari tempat ini..!!!" teriak Sean. Edgar terlihat sangat bingung. "Ada apa?" tanyanya.

Booom...

Terdengar suara ledakan yang begitu besar dari tempat itu. Edgar sangat khawatir karena Sean masih berada di dalam. Edgar mencoba masuk untuk mencari keberadaan Sean. Dia merasa sangat sesak karena kepulan asap itu yang sangat tebal.

Uhuk... Uhuk... Uhuk...

"Sean.. kau dimana?" teriak Edgar.

"Tolong aku..."

Edgar melihat Sean terbaring lemah di sudut ruangan. Dia langsung membawa Sean ke rumah sakit untuk mendapat penanganan dari dokter. Edgar terlihat sangat khawatir. Dia memberitahu semua keluarga Sean tentang kondisinya. Mendengar hal itu, semua orang di rumah sangat panik. Mereka pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya.

"Apa yang terjadi dengan cucuku, nak?" tanya Zeynep terlihat sangat khawatir. Edgar menceritakan semuanya. Dia juga tidak tahu siapa orang yang telah menaruh bom di tempat itu. Setahunya, tempat itu tidak pernah dimasuki oleh siapa pun kecuali oleh Sean dan dirinya. Hanya Sean yang tahu password untuk bisa masuk ke tempat itu. Tidak lama akhirnya dokter keluar. Dia memberitahu anggota keluarga jika keadaan Sean baik-baik saja. Dia hanya mengalami sesak napas karena asap itu, juga ada sedikit luka bakar di tangannya.

"Syukurlah jika putraku baik-baik saja, tuhan..." ucap Nasreen.

Setelah semua terlihat baik, Sean meminta dokter untuk mengizinkannya pulang. Dia tidak butuh perawatan khusus dari pihak rumah sakit. Baginya itu hanya sebuah luka ringan yang tidak perlu di khawatirkan. Dia yakin kurang dari seminggu luka itu akan sembuh. Sean sangat bersikeras untuk pulang. Dokter tidak bisa berbuat apapun. Akhirnya dia membolehkan Sean untuk pulang. Di dalam perjalanan, Zeynep terlihat sangat khawatir dengan cucunya itu. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Sudahlah nenek, aku baik-baik saja." ucap Sean.

"Tapi kau membuatku khawatir, nak. Bagaimana jika hal buruk terjadi padamu?" ucap Zeynep sambil meneteskan air mata.

"Selagi do'a ibu juga nenek menyertaiku, percayalah aku akan baik-baik saja!" ucap Sean.

\*\*\*

Hari sudah mulai sore. Humaira baru saja selesai dari pekerjaannya. Saat akan pulang, seorang perawat menyuruh Humaira untuk pergi menemui Aiyse di ruangannya.

Tok... Tok... Tok...

"Masuklah!" ucap Aiyse.

"Kau memanggilku?" tanya Humaira.

"Silahkan duduk!" suruh Aiyse.

Aiyse memberitahu Humaira jika dia sekarang bukan hanya dokter di rumah sakit ini, tapi juga menjadi dokter pribadi Zeynep. Aiyse ingin Humaira bisa membagi waktu untuk keduanya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang ini dokter kepala?" tanya Humaira.

"Pergilah ke alamat ini! Kau akan bertemu dengan nyonya Zeynep disana." ucap Aiyse sambil memberikan sebuah kertas kecil bertuliskan alamat.

Sore itu Humaira langsung pergi menuju kediaman Zeynep. Tidak lama kemudian, akhirnya Humaira sampai di alamat itu. Saat dia turun, nampak rumah yang sangat mewah di depannya. Ketika akan masuk, Humaira sedikit terkejut karena pintu rumah itu terbuka dengan sendirinya. Tidak lama dia menekan bel yang ada di dekat pintu. Seorang pelayan keluar dan menyuruh Humaira untuk langsung masuk.

"Selamat datang, nak." sambut Zeynep.

"Terimakasih banyak, nyonya."

Humaira sangat terharu karena sikap baik semua orang padanya. Dia merasa sangat istimewa di tempat itu. Mereka melakukan penyambutan seakan Humaira itu keluarganya sendiri. Zeynep membawa Humaira ke meja makan. Di dalam kamar, Sean baru saja selesai mandi. Tidak lama seorang pelayan datang.

"Maaf tuan, nyonya besar menyuruhmu untuk turun makan malam."

"Aku tidak lapar bi," jawab Sean.

"Tapi, tuan... di bawah sudah ada dokter baru nyonya Zeynep. Dia ingin memperkenalkannya pada semua orang." ucap pelayan.

"Dokter baru nenek?" ucap Sean dalam hati. "Dokter itu pria atau perempuan?"

"Perempuan, dia terlihat sangat cantik tuan."

"Baiklah, aku akan segera turun."

Sean sangat penasaran dengan dokter baru itu. Saat tiba di meja makan, Sean sempat terdiam melihat keberadaan Humaira di rumahnya. "Apa Humaira yang menjadi dokter baru nenek?" ucapnya dalam hati.

Zura melihat kakaknya itu terus berdiri sambil menatap Humaira lama.

Ekhm...

Sean tersadar dari lamunannya. Zura tersenyum melihat tingkah aneh kakaknya itu.

"Duduklah nak!" ucap Zeynep pada Sean.

Saat makan malam, Zeynep memperkenalkan kepada semua orang jika Humaira adalah dokter barunya. Dia yang sempat menolongnya di hotel saat acara pembukaan piala dunia. Zura terlihat sangat senang dengan keberadaan Humaira di rumahnya.

"Sering-seringlah datang kemari, kak. Aku sangat kesepian di rumah. Kakak ku sibuk bekerja, aku tidak memiliki teman untuk bercerita." ucap Zura.

"Aku tidak sabar ingin mendengar cerita mu itu," ucap Humaira tersenyum.

Zeynep memperkenalkan Humaira pada Sean.

"Kami sudah saling mengenal nenek," ucap Sean.

"Benarkah? Di mana?" tanya Zeynep.

Sean memberitahu neneknya jika dia bertemu Humaira saat di lapangan. Dia adalah dokter pribadi timnas Maroko yang dipegang ayahnya sendiri. Zeynep sangat terkejut saat tahu Humaira adalah putri dari seorang pelatih sepakbola. Setelah selesai makan malam, Zeynep membawa Humaira untuk berbincang di kamarnya. Dia menjelaskan apa saja yang harus dilakukan selama menjadi dokter pribadinya. Tidak lama mereka berbincang, jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Saat keluar dari kamar Zeynep, Humaira melewati kamar Sean yang pintunya sedikit terbuka. Di sana terlihat Sean yang sedang kesusahan mengganti perban yang ada di tangannya.

Tok... Tok... Tok...

"Masuklah!" ucap Sean.

"Permisi!" Sean langsung membalikkan badan saat mendengar suara itu. Dia melihat Humaira yang tengah berdiri di dekat pintu kamarnya.

"Maaf jika aku lancang, tadi aku melihatmu sedikit kesusahan mengganti perban itu. Apa aku boleh membantumu?" tanya Humaira dengan sangat lembut.

"Tentu saja," jawab Sean.

Sean duduk di pinggir tempat tidurnya. Dia melihat Humaira yang menyiapkan perban baru untuknya. Perlahan, Humaira membuka perban lama dan menggantinya dengan yang baru. Hati Sean begitu tidak karuan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Wajah Humaira terlihat begitu dekat dengannya. Dia begitu hati-hati melepas perban itu dari tangan Sean.

"Apa kau datang dengan motormu?" tanya Sean.

"Aku datang dengan taksi. Lagi pula, aku tidak memiliki motor seperti yang kau bilang." jawab Humaira.

"Lalu, motor yang kau kenakan kemarin saat menolong Saffiya..."

"Aku tidak tahu motor siapa itu, tapi kau tidak perlu khawatir karena aku sudah mengembalikan motor itu pada tempat semula." ucap Humaira tersenyum kecil.

Sean melihat senyum itu terpancar jelas di wajah Humaira. Entah kenapa sebuah senyuman kecil itu mampu membuat hati Sean begitu tenang. Setelah selesai mengganti perban, Humaira izin pamit. Sang ayah sudah menunggunya di hotel.

"Aku akan meminta sopir untuk mengantarmu," ucap Sean.

"Tidak perlu, sebentar lagi Hakim akan datang menjemputku." ucap Humaira.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi."

"Humaira tunggu!" ucap Sean. "Terimakasih ."

"Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang dokter," ucap Humaira.

Saat Humaira pergi, Sean masih menatapnya lama. Dia melihat sebuah mobil yang sudah ada di luar rumahnya. Tidak lama Hakim keluar dan membukakan pintu mobilnya untuk Humaira. "Kenapa aku merasa tidak senang melihat Humaira dengan pria itu? Bukankah dia itu kekasihnya? Ada apa dengan perasaanku ini? Apa aku mulai menyukainya?" ucapnya dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!