MAROKO - MALAM HARI
Malam itu Walid menemui putrinya dan Hakim di lantai atas. Dia memberitahu mereka jika dua hari lagi timnasnya akan terbang ke Qatar. Kurang lebih satu bulan mereka disana. Humaira ingin menjelajahi semua tempat disana tanpa terkecuali . Dia sudah membayangkan akan pergi ke tempat indah bersama Hakim. Seketika pikiran itu lenyap dari kepalanya. Humaira lupa jika setelah piala dunia nanti Hakim akan menjadi milik orang lain. Mungkin satu bulan itulah saat-saat terakhirnya bersama Hakim.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya sang ayah.
"Tidak, ayah. Aku hanya membayangkan saat aku di Qatar nanti, aku akan pergi kemanapun yang aku suka," ucap Humaira.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri," ucap sang ayah.
"Kau tenang saja ayah, aku akan selalu menemani putrimu kemanapun dia pergi," ucap Hakim.
"Itu tidak perlu. Kau pasti akan sangat sibuk berlatih, kau harus fokus pada pertandingan nanti," ucap Humaira.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ponsel Humaira berbunyi.
"Halo! Baiklah, aku akan segera kesana sekarang," ucap Humaira.
"Ada apa?" tanya sang ayah.
Humaira harus pergi ke rumah sakit malam ini juga. Ada seorang pasien yang mengalami kecelakaan dan harus segera mendapatkan penanganan serius. Humaira segera bersiap dan meminta sopir untuk mengantarnya.
"Biar aku saja yang mengantarmu," ucap Hakim.
"Tidak perlu, Hakim. Kau harus pulang. Ibumu pasti sudah menunggumu di rumah." ucap Humaira.
Setibanya di rumah sakit, Humaira meminta perawat untuk segera menyiapkan ruang operasi. Pasien banyak sekali kehilangan darah. Humaira harus segera melakukan penanganan yang cepat terhadap pasien. Saat melakukan operasi perawat memberitahu Humaira jika detak jantung pasien sangat lemah. Dia juga banyak sekali kehilangan darah.
"Apa ada stok darah di rumah sakit ini?" tanya Humaira pada perawat.
"Stok darah di rumah sakit sedang kosong, dokter. Jika aku boleh tahu, golongan darah apa yang dibutuhkan pasien?" tanya perawat.
"AB negatif," jawab Humaira.
Perawat memberitahu Humaira jika darah dengan golongan itu sangat jarang. Jika pun ada membutuhkan waktu satu sampai dua minggu untuk mendapatkannya. Humaira pergi untuk memberitahu keluarga pasien.
"Apa bapak salah satu keluarga dari pasien?" tanya Humaira.
"Saya bukan keluarganya dokter, saya hanya menolong korban dan membawanya ke rumah sakit," ucap orang itu sambil memberikan tas pasien kepada Humaira. Seorang perawat memanggil Humaira untuk memberitahunya jika keadaan pasien semakin kritis. Humaira meminta perawat untuk segera menghubungi keluarga pasien.
"Pasien harus segera mendapatkan donor darah dalam waktu dua jam. Jika tidak maka dia tidak bisa diselamatkan." ucap Humaira.
Sudah lebih dari satu jam, rumah sakit belum juga mendapatkan pendonor yang cocok dengan pasien. Tidak lama perawat datang dan memberitahu Humaira jika keluarga pasien sedang berada di Paris. Tidak ada yang bisa Humaira harapkan dari keluarga pasien.
"Apa ada dokter lain yang bertugas malam ini?" tanya Humaira pada perawat.
"Dokter Yakub yang bertugas malam ini. Kebetulan dia juga baru sampai di rumah sakit." jawab perawat.
Humaira menemui Dokter Yakub dan memintanya untuk menggantikannya melakukan operasi. Sementara itu, Humaira sendiri menyuruh perawat untuk segera mengambil darahnya dan mendonorkannya pada pasien.
"Apa kau yakin akan menjadi pendonor untuk pasien?" tanya perawat.
"Aku sangat yakin, suster. Kebetulan golongan darahku sama dengan pasien. Cepat ambil darahku sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan pada pasien." suruh Humaira.
Beberapa jam kemudian, akhirnya operasi selesai dilakukan. Humaira masih terbaring lemas di tempat tidur. Tidak lama perawat datang dan memberitahu Humaira jika pasien sudah melewati masa kritisnya. Mendengar hal itu Humaira akhirnya bisa bernapas lega. Malam sudah mulai larut. Humaira masih berada di rumah sakit untuk menunggu pasien itu sadar.
"Maaf dokter, ada seseorang yang ingin menemuimu," ucap perawat.
"Siapa?" tanya Humaira.
"Masuklah!" pinta perawat.
"Hakim? Kenapa kau datang kemari?" tanya Humaira.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, ayahmu bilang kau belum juga kembali dari rumah sakit, karena itu aku datang untuk menemuimu," jawab Hakim.
Hakim menemani Humaira di ruangannya. Mereka banyak sekali berbincang sampai rasa kantuk yang dirasakan Humaira hilang. Saat Humaira menarik lengan bajunya Hakim melihat sebuah perban yang ada ditangannya.
"Tanganmu kenapa?" tanya Hakim.
"Aku baru saja mendonorkan darahku untuk pasien yang baru saja mengalami kecelakaan," jawab Humaira.
"Kenapa harus kau? Apa tidak ada keluarganya?" tanya Hakim.
Humaira memberitahu Hakim jika keadaan pasien sangat kritis. Dia harus segera mendapatkan donor darah. Sementara itu, keluarganya sedang berada di Paris. Beruntungnya lagi golongan darah pasien sama dengannha. Tanpa berpikir lama akhirnya Humaira sendiri yang mendonorkan darahnya untuk pasien.
"Begitu baik hatimu, Ra. Aku tidak tahu akan seperti apa saat kita nanti tidak bersama lagi," ucap Hakim dalam hati.
QATAR - MALAM HARI
Setelah pulang dari makan malam itu, Sean langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia terus menatap gelang yang ada ditangannya dan kembali mengingat perkataan si nenek tua itu. "Bagaimana jika pemilik gelang yang satunya lagi adalah seorang pria?" ucapnya. "Ah, tidak mungkin! Dia pasti seorang wanita!" Tidak lama ponselnya berbunyi.
"Halo! Apa ada kabar terbaru mengenai pria itu?" tanya Sean.
"Tidak, tuan. Aku menelepon untuk memberitahumu jika aku sudah menangkap penghianat itu," ucap Edgar.
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Saat menuruni tangga, Sean bertemu ibunya juga Saffiya yang masih mengobrol di ruang tengah.
"Sean tunggu!" ucap Saffiya. "Kau akan pergi kemana di jam segini?"
"Ada urusan penting yang harus segera aku selesaikan," jawab Sean.
"Apa ini tentang pekerjaanmu itu?" Saffiya kembali melihat raut wajah Sean sama seperti tadi pagi. Dia sangat sensitif dengan pertanyaan seperti itu.
"Maaf, maksudku apa ini tentang...
"Aku harus segera pergi, Edgar sudah menungguku."
Saffiya sedikit kesal dengan sikap Sean. Dia seperti menganggap dirinya itu orang asing. Nasreen mencoba menghibur Saffiya. Dia tahu jika saat ini dirinya sedang sedih karena sikap putranya itu. Nasreen mengajak Saffiya untuk mengobrol di kamarnya sekaligus membahas tentang pekerjaannya. Di satu sisi Sean sudah tiba di tempat biasa. Dia terkejut saat tahu orang yang telah berkhianat padanya ternyata orang yang sangat dia percaya diantara semua anak buahnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Apa bayaranku padamu itu kurang?" tanya Sean.
"Maafkan aku tuan muda. Aku melakukan semua ini karena terpaksa. Aku diancam oleh orang itu jika aku tidak bekerja untuknya maka dia akan menghabisi anak dan istriku," ucap orang itu.
"Lalu, apa kau masih bekerja untuk orang itu?" tanya Sean.
"Tidak, tuan. Tapi jika kau mau aku bisa memancing dia untuk keluar dari markas persembunyiannya."
"Ide yang sangat bagus!" timbal Edgar. "Melalui dia kita bisa dengan mudah menangkap orang itu."
"Baiklah, aku memaafkan kesalahanmu ini. Jika kau mengulang untuk kedua kalinya, maka aku tidak segan untuk menghabisimu." ucap Sean.
Malam itu, Sean menginap di rumah Edgar. Dia tidak ingin saat kembali nanti Saffiya bertanya tentang banyak hal padanya. Edgar sudah menganggap Sean seperti saudara kandungnya sendiri. Tiba di rumah, dia meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuknya. Edgar tahu jika bosnya itu sangat senang dengan laut karena itu dia memilihkan kamar yang menghadap ke laut. Saat berada di kamar itu, rasanya hati Sean tenang dan damai. Dia sengaja membuka jendela kamarnya untuk menikmati udara malam yang dingin. Jika saja dia tidak pernah mengenal pekerjaan itu, mungkin hidupnya akan setenang yang dirasakan malam itu. Menjadi seorang mafia adalah keinginan sang kakek sebelum dia meninggal dunia. Banyak sekali masalah yang harus dihadapi Sean dalam pekerjaannya itu. Dia juga harus melindungi semua anggota keluarganya dari siapapun yang ingin menyakitinya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah!" ucap Sean.
"Apa kau ingin minum?" tanya Edgar.
"Tidak untuk hari ini. Aku sangat lelah setelah makan malam tadi."
"Baiklah, jika kau membutuhkan apapun kau bisa memberitahuku lewat bel yang ada di samping tempat tidurmu," ucap Edgar.
Sebelum pergi, Sean meminta Edgar untuk menghubungi sekretarisnya. Dia ingin semua jadwal pekerjaannya dikosongkan khusus untuk besok.
"Apa kau akan mengambil cuti?" tanya Edgar.
"Besok kau akan tahu sendiri," jawab Sean.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Saffiya masih setia menunggu suaminya itu pulang. Dia sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi selalu di luar jangkauan. "Apa dia masih marah padaku?" ucapnya. Malam itu Nasreen turun untuk mengambil air minum. Dia melihat lampu di ruang tengah masih menyala.
"Saffiya?" ucap Nasreen. "Kenapa kau belum tidur?"
"Aku menunggu Sean, ibu."
Nasreen memberitahu Saffiya jika malam ini Sean tidur di rumah Edgar. Dia baru saja selesai dari pekerjaannya.
"Kenapa dia tidak memberitahuku? Sejak tadi aku mencoba menghubunginya tapi tidak bisa," ucap Saffiya nampak sedih.
"Mungkin ponselnya habis, atau bisa jadi jaringannya yang sedang bermasalah karena itu Sean sangat sulit untuk menghubungimu," ucap Nasreen meyakinkan Saffiya.
"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku. Selamat malam, ibu!"
"Selamat malam, sayang!"
\*\*\*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments