DI ANTARA DUA PILIHAN

Pagi itu sinar mentari mulai naik. Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Saat tiba wajah Saffiya tampak murung.

"Kenapa dengannya?" celetuk Ulya pelan.

"Dimana Sean?" tanya Ulya.

"Dia menginap di rumah Edgar, mungkin siang nanti dia akan kembali." jawab Nasreen.

Pagi itu Saffiya hanya makan sedikit. Dia seperti kehilangan selera makannya.

"Kenapa kau tidak menghabiskan makanannya?" tanya Nasreen.

"Aku sedang tidak nafsu makan, ibu."

Selesai sarapan Saffiya pergi ke ruang kerja sambil menunggu manajernya. Dia akan kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Dia akan kembali membintangi film-film besar yang akan tayang tahun ini. Dia tidak ingin hanya menghabiskan waktunya di rumah sementara Sean sendiri sangat sibuk dengan pekerjaannya. Saffiya merasa ada yang berubah dari diri Sean. Dia tidak lagi seromantis dulu. Sean tidak pernah lagi memperlakukan dirinya seistimewa sejak mereka menikah. Dulu, dia segalanya bagi Sean. Dia satu-satunya hal yang terpenting dalam hidupnya tapi sekarang dia seperti di nomor duakan olehnya. Hanya pekerjaannya yang lebih penting baginya sekarang ini.

Sudah pukul 9 pagi Sean masih terlelap tidur. Edgar tidak berani membangunkan bosnya itu. Saat berada di ruang kerjanya, seorang pelayan datang dan memberitahunya jika Sean sudah bangun. Dia sedang sarapan di bawah. Edgar segera menghampiri bosnya.

"Apa semua pekerjaan di kantor sudah kau urus?" tanya Sean.

"Semua sudah beres, tuan." jawab Edgar.

Selesai sarapan, Sean meminta Edgar untuk menemaninya ke lapangan. Dia menerima tugas dari ayah mertuanya untuk memeriksa keadaan lapangan agar saat bertanding nanti tidak ada kendala apapun. Dalam perjalanan, Edgar melihat Sean yang banyak melamun.

"Ada apa tuan? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Edgar.

Sean memberitahu Edgar jika tadi malam dia sempat bermimpi. Dalam mimpinya itu, dia bertemu dengan seorang perempuan yang sedang menunggang kuda. Matanya begitu indah, rambutnya hitam bergelombang, senyumannya juga sangat menawan. Saat akan menghampirinya, perempuan itu langsung pergi dengan kudanya.

"Apa kau memiliki perempuan lain selain istrimu, tuan?" Mendengar pertanyaan Edgar, Sean langsung menatapnya tajam.

"Apa kau pikir aku ini seorang pria hidung belang yang memiliki banyak simpanan?"

"Bukan itu maksudku, tapi aku heran kenapa kau bisa memimpikan seorang wanita padahal tidak ada wanita lain dalam hidupmu selain Saffiya," ucap Edgar.

"Entahlah, aku sendiri juga bingung."

MAROKO - PAGI HARI

Pagi itu, seorang pria tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Savas Costa, orang yang yang tidak terlalu dikenal, namun dirinya sangat berpengaruh di kalangan bangsa atas. Kehidupannya yang glamor, membuat dia menjadi orang terkaya di kotanya. Savas menuju salah kamar yang ada disana.

"Selamat pagi, tuan. Apa kau keluarga dari pasien?" tanya seorang perawat.

"Dia putriku!" jawab Savas tegas.

Saat akan memanggil dokter, perawat melihat beberapa orang yang berjaga di depan kamar pasien. Tidak sengaja dia berpapasan dengan Humaira.

"Maaf dokter, ayah dari pasien sudah datang." ucap perawat.

Humaira ingin sekali menemuinya, tapi sayang dia harus segera pergi untuk urusan lain. "Aku tidak bisa menemuinya sekarang suster, jika pasien sudah sadar nanti tolong beritahu aku!" ucap Humaira.

Tidak lama Dokter Yakub dan perawat datang. Dokter memberitahu Savas jika putrinya sudah melewati masa kritisnya. Hanya menunggu dia untuk siuman. Berselang beberapa jam, akhirnya gadis itu membuka matanya.

"Ayah..." lirihnya pelan.

"Kau sudah sadar, sayang?" Melihat pasien sudah sadar, perawat segera memberitahu Humaira.

"Syukurlah nona, nyawamu masih bisa tertolong." ucap dokter. "Kalau begitu, aku permisi dulu." Saat seorang perawat sedang mendata pasien, tiba-tiba gadis itu bertanya banyak hal padanya.

"Apa yang terjadi padaku?" tanya gadis itu polos.

"Apa kau tidak ingat sesuatu nona?"

"Maksudku... apa yang terjadi saat aku di rumah sakit?"

Perawat memberitahu gadis itu jika dia banyak sekali kehilangan darah sampai harus membutuhkan donor darah. Saat itu, stok darah di rumah sakit sedang kosong. Sementara itu, golongan darahnya sangat langka. Beruntungnya ada Dokter Humaira yang langsung bertindak cepat, dan akhirnya dia bisa terselamatkan.

"Siapa Dokter Humaira?" tanya gadis itu.

"Dia orang yang sudah mendonorkan darahnya untukmu, nona." jawab perawat.

"Dimana dia? Aku ingin sekali berterimakasih padanya," ucap gadis itu.

"Dia sudah pergi, nona. Setahuku dia akan mengambil cuti selama satu bulan."

Perawat memberitahu gadis itu jika Humaira bukan saja dokter di rumah sakit itu, dia juga seorang putri dari pelatih timnas Maroko. Dia akan terbang ke Qatar untuk melihat timnasnya bertanding.

"Apa hanya untuk itu dia meninggalkan pekerjaannya?" tanya gadis itu.

"Tidak, nona. Dokter Humaira juga seorang dokter pribadi untuk timnas Maroko sendiri. Kekasihnya saja salah satu dari pemain Maroko," ucap perawat.

Hari itu juga, dokter sudah mengizinkan gadis itu pulang. Sebelum pergi, dia menemui perawat yang terlihat sedang merapikan tempat tidurnya.

"Kau masih disini nona?" tanya perawat itu.

"Dimana aku bisa menemui Dokter Humaira?" tanya gadis itu.

"Ini kartu namanya, dan disitu tertulis alamat rumahnya. Kau bisa menemuinya disana." ucap perawat.

"Baiklah, terima kasih."

Saat dalam perjalanan pulang, Hana meminta sopir untuk pergi ke sebuah alamat yang diberi perawat tadi.

"Siapa yang akan kau temui disana?" tanya Savas.

"Aku ingin menemui Dokter Humaira ayah," jawab Hana.

"Siapa dia?"

"Dia yang sudah mendonorkan darahnya untukku," jawab Hana. "Biarkan aku menemuinya untuk berterimakasih padanya."

Savas meminta sopir untuk mengantar Hana secepatnya ke rumah. Dia tidak mengizinkan putrinya pergi kemanapun karena kondisinya yang masih lemah. Melihat sikap sangat ayah, Hana sedikit kesal. Selama ini dia merasa sang ayah selalu mengekangnya. Dia tidak membiarkan dirinya pergi kemanapun tanpa izin darinya. Selalu saja ada bodyguard yang mendampinginya. Hana Anisah adalah putri satu-satunya Savas. Dia sudah ditinggal ibunya sejak berumur 12 tahun. Sang ayah sangat menjaganya ketat, sampai dia tahu dengan siapa Hana berteman, kemana dia pergi, apa yang dia lakukan, semua tidak lepas dari pengawasan sang ayah. Hana sangat tahu jika ayahnya itu seorang mafia karena itu banyak sekali musuh yang ingin mencelakakannya. Hana tahu sang ayah sangat mencintainya, tapi caranya itu yang membuat Hana tidak suka. Dia terlalu membatasi kebebasannya.

\*\*\*

Saat pulang dari rumah sakit, Humaira pergi menemui sang ayah.

"Selamat pagi, ayah." ucapnya.

"Selamat pagi, nak. Kau sudah kembali?" Walid memberitahu putrinya jika nanti malam mereka akan melakukan penerbangan ke Qatar. Dia meminta Humaira untuk segera berkemas. Saat tiba di kamarnya, dia menatap sebuah foto yang berada tidak jauh dari samping tempat tidurnya. Foto itu adalah momen terindah dalam hidupnya. Itu kali pertama Hakim menyatakan cinta padanya. Saat itu dia dan timnya baru saja selesai bertanding di Rusia. Saat waktu luang Hakim datang dan memberinya sebuah bunga mawar indah. Dengan keberaniannya, dia menyatakan cintanya di hadapan banyak orang.

"Apakah hubungan ini akan berakhir begitu saja?" ucapnya.

Air mata Humaira hampir saja terjatuh, rasanya sangat sakit saat tau jika Hakim harus menikahi perempuan lain demi kebebasan ayahnya. Humaira langsung menghapus air matanya. Benar apa yang dikatakan banyak orang, cinta selalu membutuhkan pengorbanan untuk selalu bisa melihat orang yang dicintainya bahagia.

"Mungkin ini sebuah pengorbanan yang harus aku lakukan untuk Hakim, dia begitu menginginkan kehadiran seorang ayah dalam hidupnya. Jika menikah dengan perempuan lain membawa Hakim bertemu dengan ayahnya, aku rela menerima semua resikonya, walau aku sendiri tahu hatiku akan sangat hancur juga terluka," ucapnya.

Di satu sisi, seseorang datang mengunjungi rumah Hakim kembali. Dia meminta jawaban atas apa yang sudah menjadi kesepakatan sang ibu dengan orang itu. Saat itu, Hakim berada di kamarnya. Dia mendengar suara tangis sang ibu pecah.

"Ibu?" ucap Hakim. Dia langsung turun ke bawah menghampiri ibunya.

"Ada apa ini? Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Hakim penuh amarah. "Surat apa itu?" Saat Hakim melihat isi surat itu dia sangat terkejut. "Apa ini ibu? Kenapa kau menyepakati perjanjian seperti ini tanpa sepengetahuanku?"

"Maafkan aku, nak. Ibu terpaksa melakukan semua itu demi ayahmu. Jika tidak, mereka akan terus menyiksanya." ucap sang ibu menjelaskan.

Buk! Buk! Buk!

Hakim memukul orang itu sampai babak belur. "Pergi dari rumahku sekarang juga sebelum kesabaranku habis!" ucap Hakim.

Sang ibu mencoba untuk menenangkan putranya. Dia meminta maaf atas semua kejadian itu. Hakim sangat bingung keputusan apa yang harus dia ambil. Pertama, ada sang ayah yang sangat diinginkan kehadirannya, kedua ada Humaira perempuan yang sangat dicintainya.

"Kenapa hidup membuatku harus memilih di antara dua pilihan ini?" ucapnya. "Mereka berdua sangat berharga dalam hidupku. Saat tahu ayahku masih hidup, kehidupanku rasanya sangat lengkap. Saat Humaira masuk dalam kehidupanku disitulah aku mengenal apa itu arti cinta yang sesungguhnya."

Saat Hakim sedang dilema dengan semua itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Saat diangkat, suara perempuan itu begitu menenangkan hatinya. Dia tidak lain adalah Humaira.

"Ada apa? Kenapa dari suaramu terdengar berbeda? Apa kau sedang dalam masalah?" tanya Humaira seakan tahu apa yang sedang dirasakan Hakim.

"Kau selalu hadir tepat disaat aku sedang menghadapi masalah seperti ini," ucap Hakim dalam hati.

"Kenapa kau diam saja? Apa kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Humaira.

"Tidak ada, memang apa yang bisa aku rahasiakan darimu?" ucap Hakim.

Humaira menelepon hanya ingin memastikan jika Hakim sudah siap untuk penerbangannya nanti malam. Dia tidak ingin jika sampai ada yang tertinggal saat nanti tiba di Qatar. Hakim hanya menyimak perkataan Humaira tanpa mengatakan banyak hal. Humaira rasanya ingin sekali menghibur Hakim saat ini. Dia tahu jika Hakim sedang dihadapkan dengan sebuah masalah yang cukup besar. Dia harus memilih diantara dua orang yang sama-sama penting baginya. Humaira sangat tahu apa yang dirasakan Hakim saat ini, hanya saja dia tidak ingin Hakim tahu jika sebenarnya dia sudah tahu semua masalahnya.

"Apa kau masih disana?" tanya Humaira.

"Aku sedang mendengarkanmu," jawab Hakim.

"Maaf, sejak tadi aku terus saja bicara tanpa memberimu kesempatan untuk bicara." ucap Humaira.

"Kenapa harus minta maaf? Kau tahu... saat aku sedang dalam masalah, suaramu itu seakan menenangkan pikiranku. Amarahku seakan hilang seketika." ucap Hakim.

"Sudahlah, jangan terus bersedih seperti itu. Nanti malam kita akan pergi ke Qatar. Fokus saja pada pertandingannya. Kau dan timmu harus memberikan yang terbaik untuk negara ini," ucap Humaira.

Hakim mulai mendengarkan semua perkataan Humaira. Pertandingan ini begitu penting baginya. Dia harus membuat negara ini bangga padanya juga timnya. Hakim mulai fokus pada kejuaraan dunia dan mengesampingkan masalahnya. Dia bisa mengurus itu semua setelah piala dunia selesai. Hakim akan menggunakan waktu terbaiknya saat di Qatar untuk bertanding. Dia akan menunjukkan pada semua orang jika dia mampu menjadi pemain sepakbola terbaik dunia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!