Mobil Lamborghini merah muda yang dikemudikan Bella berhenti di tepi sebuah jalan menurun diikuti Tere dengan mobil alphard hitamnya. Terdapat sebuah area yang lumayan luas di sana, menghadap ke sebuah pemandangan malam. Kedua mobil itu berhenti di area itu. Bella keluar dari mobilnya dan duduk di kap mobilnya. Tere keluar dari mobil Alphard hitam itu dan berjalan ke arah belakang mobil, siap untuk berjaga disana.
"Ter, lepas nametag dan matiin earpiece lo." Pinta Bella.
Tere berjalan menghampiri Bella dan melepas nametagnya, iapun melepas earpiece yang menempel di telinganya, tanda bahwa ia tidak sedang bertugas sebagai pengawal saat itu. Bella sangat butuh Tere sebagai sahabatnya, bukan sebagai pengawalnya.
"Dev dimana?" Pandangan Bella masih tertuju ke pemandangan malam di depannya.
"Dia ada di Bali. Ada yang sewa dia buat jadi pilot cabutan." Ucap Tere, ia sudah mencari tahu sebelumnya karena Bella pasti menanyakan itu padanya.
"Kapan dia balik?" Tanya Bella lagi.
"Gue gak tahu. Tapi dia udah dijadwalin buat facade cleaning lagi di Hotel Logan Ritz Jakarta minggu depan. Kayaknya minggu depan dia udah ada di Jakarta lagi." Ucap Tere.
Bella terdiam cukup lama setelah itu.
"Kenapa? Lo omongin semua kayak biasa kenapa sih." Tere merasa canggung dengan sikap Bella yang tiba-tiba menjadi pendiam.
"Gue bisa gak ya jadi CEO, gue takut." Ucap Bella dengan nada bergetar.
"Lo kepikiran sama omongan Kris?" Tanya Tere.
"Enggak. Sebelum Kris bilang itu pun gue udah takut. Gue nyadar selama ini gue gak pernah sama sekali belajar ngelola perusahaan. Terakhir gue ngomongin bisnis pas gue kuliah, itu pun gue gak pernah serius belajar. Gue selalu mikir sepanjang hidup gue, gue bakal jadi Bella yang hedon, hambur-hamburin uang, dan foya-foya. Gue sama sekali gak pernah berniat buat gantiin kakek mimpin perusahaannya."
Tere terdiam masih mendengarkan Bella, memberikan kesempatan pada sahabatnya itu untuk mencurahkan segala isi hatinya.
"Demi Dev, gue ngambil langkah ini. Gue pengen bantu Dev bersihin namanya. Tapi gue juga takut, Ter. Gue takut banget ngancurin semua yang udah kakek bangun selama ini."
"Gue ngerti perasaan lo. Tapi Bel, lo juga mesti inget Kakek lo dari dulu selalu minta lo buat gantiin dia. Pak Hirawan itu pebisnis bertangan dingin. Dia selalu bisa mutusin yang terbaik buat perusahaan makanya Xander Corp bisa jadi sebesar ini. Dia milih lo buat jadi penerusnya bukan tanpa alasan. Dia pasti lihat lo punya potensi. Bukan sekedar karena lo cucu kandungnya."
Tere duduk di kap mobil di sebelah Bella.
"Emang selama ini lo pikir kakek lo gak tahu, kalau lo bikin masalah itu karena lo pengen bikin dia kesel? Selama ini kakek lo tahu kali, lo kayak gitu gara-gara lo masih belum maafin kakek lo karena kakek lo yang nyuruh bokap nyokap lo berangkat pake jet pribadi padahal cuaca lagi gak memungkinkan, demi ngejar tender yang keuntungannya itu emang gede banget."
Bella terdiam mendengar ucapan Tere. Momen-momen terakhir bersama kedua orang tuanya berputar di otaknya
"Lo harus maafin kakek lo. Kakek lo juga nyesel banget sama kejadian itu, dia sedih banget kehilangan anak satu-satunya dan menantunya. Sekarang cuma sama lo dia pengen ngasih semua harta dan tahta yang dia punya, karena lo cucu dia satu-satunya. Kakek lo juga ngerasa lo mirip sama dia, lo ambisius, lo bakal halalin segala cara buat dapetin apa yang lo mau. Sadar atau nggak, itu modal buat lo buat jadi CEO, mental pebisnis sebenernya udah ada dalam diri lo, Bel."
Tere benar, Kakeknya bukan orang yang gegabah. Ia pasti sudah memikirkan semuanya saat ia menginginkan Bella melanjutkan kepemimpinan. Sekarang Bella sudah tidak bisa mundur lagi.
"Gue bakal belajar dari nol. Lo hubungin Raka, suruh dia ke apartemen gue besok pagi." Ucap Bella meminta asisten kepercayaan sang kakek untuk mulai membimbingnya untuk lebih mengenal dan mempelajari hal-hal mengenai perusahaan yang akan segera dipimpinnya.
***
Hari-hari Bella berubah drastis. Jika sehari-hari biasanya ia akan banyak menghabiskan waktu di mall, club malam, dan tempat-tempat bersenang-senang lainnya, kini ia lebih sering ada di apartemennya. Ia mempelajari semua laporan yang Raka, asisten sang kakek, berikan kepadanya. Buku-buku mengenai bisnis yang tidak pernah ia baca lagi, kini ia baca satu per satu, halaman demi halaman. Bella sengaja tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor Xander Corp, sebelum ia bisa betul-betul memahami pekerjaannya nanti.
Bella tidak lagi mencoba menghubungi Dev. Dev juga tidak pernah menghubunginya. Sama sekali. Mereka hilang kontak. Namun Tere selalu mencari tahu mengenai kabar Dev dan melaporkannya pada Bella. Dev sudah kembali ke Jakarta dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Bella sekuat tenaga untuk tidak menghampiri tempat-tempat yang selalu Dev datangi, ia harus fokus untuk mempelajari semuanya sebelum rapat pemegang saham diadakan.
Hingga akhirnya sebulan kemudian rapat pemegang sahampun dilaksanakan. Bella keluar dari mobil yang dikemudikan Tere. Ia berjalan bersama dengan sang Kakek menuju ke ruang rapat. Semua orang penting di perusahaan menyambut kedatangan dua orang terpenting di Xander Corp itu.
Rapat pun dimulai, dengan suara mayoritas Bella dinobatkan sebagai CEO Xander Corp, menggantikan sang kakek. Bella tersenyum puas melihat Hendra, Stuart, dan Kris yang sama sekali tidak berkutik selama rapat berlangsung. Kini Bella sudah secara resmi menjadi pemimpin perusahaan raksasa itu.
Usai rapat, Bella dan Hirawan, ditemani oleh Tere dan Raka masuk ke ruangan CEO. Bella melihat sang kakek memutar kursi rodanya untuk menghampiri meja kebesarannya.
"Akhirnya kakek bisa melihat nama kamu di meja itu. Kamu harus lanjutkan perjuangan kakek, Bella. Kakek percayakan Xander Corp pada kamu." Ucap Hirawan merasa lega.
Bella berjalan menghampiri Hirawan, Bella berjongkok dan menggenggam tangan sang kakek.
"Kakek gak usah khawatir, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk Xander. Makanya kakek harus sehat terus, dan lihat gimana aku ngelola perusahaan kakek. Kasih aku bimbingan terus, supaya aku bisa jadi CEO sehebat kakek." ucap Bella tulus.
Bella memutuskan untuk berdamai dengan sang kakek setelah obrolannya dengan Tere malam itu. Ia melihat wajah Hirawan yang keriput dan rambutnya yang memutih. Bella baru menyadari betapa ia sudah menyia-nyiakan kesempatan selama ini untuk menghabiskan waktu bersama satu-satunya keluarga kandungnya. Iapun memutuskan akan lebih banyak menemui sang kakek.
Hari-hari berikutnya Bella lalui dengan berbagai kesibukan barunya sebagai CEO perusahaan. Ia mencoba sebaik mungkin untuk bisa mengelola setiap sendi yang menyangga Xander Corp. Hari-harinya sangat sibuk, namun sosok Dev tidak pernah hilang dari benaknya.
Hingga suatu hari, Bella baru saja memasuki ruangannya. Ia duduk di kursi kebesarannya. Ia sandarkan tubuhnya dan mencoba mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya sejenak dari segala kesibukan yang dilaluinya hari itu.
"Ternyata kerjaan gue banyak banget. Gue kangen foya-foya." Gumam Bella. Ia lepaskan high heels yang dikenakannya dan mengangkat kakinya ke atas meja untuk menghilangkan pegal.
BUG!
Seketika Bella terperanjat mendengar sesuatu dari arah belakang. Bella melihat ke arah dinding kaca di belakang kursinya. Jantung Bella seakan berhenti berdetak. Seorang laki-laki menggantung di luar dinding kaca ruangannya pada seutas tali. Laki-laki itu bertubuh kekar, alisnya tebal, dan rambut hitam pendeknya tertiup angin. Laki-laki itu terkejut melihat Bella di dalam ruangan dinding kaca tersebut, yang juga menatap ke arahnya dengan mata yang membulat.
"Dev?!"
"Bella?"
Ucap keduanya bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
klo jodoh pasti ketemu dimana juga😘😘😘😘😘
2023-01-21
2
Chandra Dollores
ah.. bagi q ko tetap bangke Dev...
Bell udah tangguh di puncak, baru ko nongol
klo gitu ko ngilang selamanya lah Dev.. biar Bell makin tangguh tak terkalahkan
hahahaah
2023-01-06
2