Bella kembali ke kamarnya untuk memakai pakaiannya. Ia meraih blazernya dan turun ke lantai paling bawah melalui lift. Ia berjalan ke arah belakang hotel, terdapat kolam renang dan beberapa gazebo disana. Ia menengadahkan kepalanya melihat dimana posisi Dev sekarang. Ternyata ia masih cukup tinggi, mungkin masih di lantai tigapuluhan.
Bella bertekad menunggu Dev hingga ia menyelesaikan tugasnya. Ia harus berbicara dengan Dev ketika ia sudah turun.
"Maaf, Mbak. Mohon maaf kamu sudah tutup." Tiba-tiba saja seorang pelayan restoran menghampirinya.
Bella baru menyadari ia berada di area restoran outdoor. Ia juga melihat jam di HPnya sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Saya sewa bagian outdoor sampai nanti pagi, bisa?" Ucap Bella mengeluarkan kartu kreditnya yang berwarna hitam.
"Tapi kami..."
"Kalian gak perlu nungguin saya ada disini. Kalian bisa nutup restoran di dalam dan pulang, tapi area outdoor ini saya sewa, lampu juga jangan dimatikan." Perintah Bella.
"Saya coba tanyakan dulu..."
"Duh, lo tuh nyebelin banget sih! Gue temennya Logan Victor, pemilik Hotel ini. Apa perlu gue nelpon dia?!" Bella mulai tidak sabar. Ia berteriak tepat di depan wajah pelayan itu.
"Ba-baik, Mbak. Saya akan proses pesanan Mbak." Pelayan itupun pergi dengan wajah ketakutan melihat Bella mengeluarkan 'taring'nya.
Bellapun duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arah hotel. Ia melihat Dev masih membersihkan dinding-dinding kaca.
"Mbak, silahkan ini struk dan kartunya. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Ucap pelayan yang tadi, mengembalikan kartu milik Bella.
"Gue pesen americano aja. Gak usah pake gula." Jawab Bella masih memerhatikan Dev.
Tiba-tiba kantuk menguasainya. Ia membutuhkan asupan kafein agar tetap terjaga dan bisa menunggu Dev menyelesaikan tugasnya. Pelayan itu pergi dan tidak lama kemudian membawa secangkir americano dan beberapa cemilan pendamping.
"Gue kan gak pesen ini." Ucap Bella ketus.
"Ini bagian dari service, Mbak. Silahkan dinikmati." Ucap si pelayan ramah.
"Lo kira ini jam berapa? Mau bikin gue jadi gendut lo? Bawa lagi!" Pelayan itupun segera membawa cemilan itu dengan mata berkaca-kaca.
Bella kembali memfokuskan pandangannya kepada Dev. Saat itu Dev turun dengan cepat ke lantai satu.
"Hah? Dia udah selesai?" Gumam Bella. Iapun segera menghampiri Dev.
Dev terlihat sedang membuka cabiner dan harness yang dikenakannya. Setelah dilihat secara langsung, ternyata Dev jauh lebih tampan. Tingginya sekitar 180 cm, rambutnya yang pendek terlihat berantakan, otot-otot bisepnya terlihat menyembul di lengannya yang tertutup kemeja motif kotak yang dikenakannya. Terlihat sebagian tato terukir di leher bagian belakangnya. Tato itu sepertinya besar, namun tertutup dengan kerah kemeja yang dikenakannya.
Bella tersenyum melihat sosok laki-laki di depannya. Dev benar-benar adalah tipenya.
"Lo Dev kan?" Tanya Bella. Dev yang sedang melepaskan sarung tangannya menoleh ke arah Bella.
Dev terlihat terkejut melihat Bella. Tatapannya tidak lepas dari wajah Bella.
'Jadi dia udah terpesona sama kecantikan gue? Okay ini bakal jadi gampang banget. Dev perfect banget buat bikin Kakek ngamuk setengah mati.' Batin Bella.
"Halo? Lo denger gue, 'kan?" Tanya Bella seraya melambaikan tangannya di depan wajah Dev. Dev terlihat tersadar dari lamunannya.
"Lo inget sama gue?" Tanya Dev dengan suara bassnya yang seksi. Sekali lagi Bella terpesona dengan laki-laki itu.
"Iyalah. Lo 'kan yang bersihin kaca di kamar mandi gue pas tadi gue lagi mandi. Jelas gue inget! Gue langsung nyari lo ke atas dan gue tahu nama lo dari rekan kerja lo. Gue nungguin lo disini karena gue pengen bikin perhitungan sama lo!" Ujar Bella agak menaikkan nada bicaranya.
Entah kenapa Dev terlihat kecewa dan mengalihkan pandangannya sesaat dan kemudian berbicara pada Bella.
"Maaf, saya gak tahu. Saya cuma jalanin tugas. Mbak tenang aja, saya gak lihat Mbak lagi mandi karena kacanya udah dilapisin sama pelapis anti tembus pandang. Cuma karena tadi udah gelap, saya bisa lihat Mbak di kamar Mbak yang terang. Tapi gak begitu jelas kok." Terang Dev dengan merasa bersalah dan bersikap sopan.
"Kalo gitu lo ikut gue." Ucap Bella.
Bella berjalan ke arah area outdoor restoran dan kembali duduk di mejanya tadi. Dev mengekor dibelakang Bella dan duduk di hadapan Bella.
"Lo minta maaf 'kan sama gue? Tapi gue gak bisa maafin lo gitu aja. Lo udah liat gue mandi. Lo udah liat tubuh polos gue! Lo harus tanggung jawab!" Bella mulai bersandiwara, ia berbohong. Padahal ia tahu Dev melihatnya saat dia sudah menggunakan jubah mandinya.
"Saya gak lihat, Mbak. Saya berani sumpah. Saya cuma lihat Mbak pakai jubah mandi. Sebelumnya saya belum menyadari kalau ada Mbak disitu." Dev mencoba membela dirinya.
"Terus gue harus percaya gitu sama lo? Bisa aja sekarang lo ngomong kayak gitu padahal lo udah lihat gue! Gue mau lo tanggung jawab!" Desak Bella masih berakting di depan Dev.
"Beneran, Mbak. Saya harus tanggung jawab apa? Orang saya gak lihat apa-apa." Ucap Dev mulai merasa risih dengan ucapan Bella yang tidak masuk akal.
"Lo harus nikahin gue!" Ucap Bella akhirnya, dengan nada yang dibuat dramatis.
Dev terdiam sesaat. Ia tercengang dan mulai menyadari, perempuan di depannya ini benar-benar tidak waras. Dev mendengus pelan meredam emosinya.
"Kalau lo mau jadiin hal tadi alesan buat bisa deketin gue, lo mending nyerah. Gue gak akan kemakan omong kosong lo. Gue pergi." Ucap Dev tidak lagi menggunakan kata-kata sopan dan beranjak dari kursinya.
"Lo kok bisa ngomong gitu sih setelah lo udah lihat tubuh polos gue, lo harus tanggung jawab! Selama ini belom pernah ada cowok yang liat gue telanjang. Cuma lo doang! Berarti lo harus tanggung jawab dengan cara nikahin gue!" Bella semakin mendramatisir.
"Omongan lo tuh basi banget! Lo cari cowok lain buat main-main. Gue masih banyak kerjaan." Ujar Dev menatap tajam ke arah Bella.
Bukan Bella namanya jika digertak seperti itu saja sudah menyerah. Bella memegang tangan Dev, menahan Dev yang akan beranjak pergi meninggalkannya.
"Okay, lo gak perlu nikahin gue sekarang. Kita bisa pacaran dulu." Ucap Bella.
Dev memandang Bella dengan dingin.
"Nama lo aja gue gak tau, lo siapa aja juga gue gak tau. Kecuali lo mau one stand night sama gue, baru gue mau." ucap Dev dengan tatapan nakalnya yang merendahkan Bella. Ia memandang tubuh Bella dari atas hingga bawah, sampai akhirnya matanya tertuju pada bukit indah Bella di balik kaos ketat yang digunakannya. Ia sengaja mengatakan hal itu agar Bella marah.
"Kalo gitu ayo kita ke kamar gue." Ucap Bella menerima tantangan dari Dev.
Dev terbelalak, sama sekali tidak menyangka perempuan yang tadinya berniat ia le cehkan secara verbal malah balik menantangnya.
"Lo udah gila." Gumam Dev menggelengkan kepalanya.
"Ayo, kalau dengan cara gue tidur sama lo, lo mau jadi cowok gue, gue bakal ngasih tubuh gue buat lo." Ucap Bella menyentuh dada bidang Dev.
Sontak Dev mundur, ia merasakan aliran listrik saat tangan Bella menyentuhnya.
"Lo cewek teraneh yang pernah gue temuin. Kenapa lo segitunya sama gue? Suka lo sama gue?" Dev kembali berbicara dengan nada merendahkan Bella.
Tanpa ada raut sedih dengan kata-kata Dev yang merendahkannya, Bella mendekat pada Dev.
"Iya. Gue suka sama lo. Lo harus jadi milik gue!" Ucap Bella
Dalam sepersekian detik, Bella menarik kerah kemeja Dev dan mengecup bibir Dev.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
bella...bella...pantessss kakek kamu migren ngeliat tingkah mu😇😇😇😇
2023-01-19
1