Sampai di apartemen, Bella menjatuhkan dirinya ke kasur. Senyum di wajahnya tidak bisa ia hentikan. Iapun menelentangkan tubuhnya, menghadap langit-langit kamar. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia menyentuh bibirnya dan hangatnya bibir Dev kembali ia rasakan. Ia masih tidak percaya, Dev menciumnya lebih dulu! Bella teringat Dev menghisap kuat lehernya tadi. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja riasnya.
Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Tatapannya tertuju pada tanda merah yang ada di lehernya. Bella mulai menari-nari akibat rasa bahagia yang membuncah.
"Besok gue juga bakal ngedate sama Dev!" ucap Bella sumringah.
Bella membuka HPnya dan melakukan selfie. Ia perlihatkan jejak cinta di lehernya itu dan mengambil gambar beberapa kali. Ia memilih foto yang terbaik dan kemudian mengunggahnya di instagram pribadinya. Ia mengetik caption,
Jejak dari calon suami (emoji hati)
Kemudian menyentuh tanda 'post', dan foto itupun bergabung dengan foto-foto Bella yang lainnya di profil instagramnya.
Bella melemparkan HPnya ke kasur dan berjalan dengan riang menuju kamar mandi. Iapun membersihkan dirinya, menggunakan baju tidurnya, kemudian menenggelamkan dirinya dalam selimut dan tertidur.
***
"Nona Bella, selamat pagi." Suara Tere membuat Bella terbangun dari tidur nyenyaknya. Bella melihat jam dan waktu menunjukkan pukul 6 pagi.
"Gue baru tidur 4 jam, Ter. Gue masih ngantuk." Gerutu Bella menolak untuk bangun. Ia menutupi kepalanya dengan selimut.
"Nona, tuan Hirawan sudah menunggu di luar." ucap Tere.
Seketika, kantuk yang Bella rasakan hilang sudah.
"Kakek dimana?" Bella meminta Tere mengulangi ucapannya.
"Tuan Hirawan ada di luar, di ruang tamu apartemen anda, Nona." Ucap Tere.
Bella bangkit dari tidurnya, dan berjalan keluar kamar. Ia melihat sang Kakek duduk di kursi rodanya dan menghadap ke arah dinding kaca. Mendengar pintu kamar terbuka, sang kakek menoleh. Namun Bella tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser dari lemari pendingin empat pintu di dapurnya.
"Selamat pagi, Bella." Sapa Hirawan.
"Gak salah kakek kesini jam segini? Ada apa?" Tanya Bella tidak menjawab sapaan sang kakek, duduk di salah satu kursi bar di dapurnya sambil meneguk air putih.
"Kakek rasa kamu sudah menemukan laki-laki pilihan kamu. Siapa dia?" Ucap Hirawan to the point.
Bella teringat dengan selfienya yang ia post tadi malam. Sekuat tenaga Bella berusaha tidak terlihat bahagia di depan sang kakek.
"Calon suami aku. Bentar lagi juga Kakek tahu." Ucap Bella dengan nada dinginnya seperti biasa.
"Apa kakek kenal dia? Apa pekerjaannya?" Tanya Hirawan.
Bella tersenyum membayangkan reaksi kakeknya jika tahu siapa Dev, kemudian berkata, "Kakek gak kenal. Kerjaan dia adalah kerjaan yang terbaik dari yang terbaik."
"Kalau begitu, kapan kamu bawa dia betemu dengan Kakek?" Tanya Hirawan, tidak sabar bertemu dengan laki-laki pilihan Bella.
"Secepatnya. Kakek kesini, sepagi ini, cuma mau nanyain itu doang?" Tanya Bella mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya ada seseorang yang ngelamar kamu tadi malam."
Bella mengerutkan kening.
"Siapa?" Tanya Bella.
"Kakek tadinya ingin menerima lamaran itu, mengingat kamu sudah mengenal dia dengan baik. Lalu Kakek lihat kamu memposting foto itu tadi malam, jadi Kakek ingin memastikan. Apakah laki-laki yang melamar kamu pada Kakek itu yang memberikan tanda merah di leher kamu?" Tanya sang Kakek.
"Siapa sih maksud Kakek? Aku udah kenal dia?" Tanya Bella tidak sabar.
Hirawan terlihat menaikkan sebelah alisnya.
"Ternyata bukan. Berarti sekarang ada dua laki-laki yang mendekati kamu?" Tanya Hirawan.
"Kakek yang jelas dong kalau ngomong, siapa laki-laki yang ngelamar aku?!" Bella menaikkan nada bicaranya tidak sabar karena belum juga mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Hirawan menatap Bella lurus, dan berkata, "Kris."
Bella tidak langsung bereaksi. Saat mendengar nama itu ia mengingat kembali semua laki-laki yang pernah mendekatinya, namun tidak ada yang bernama Kris. Sampai akhirnya Bella menyadari siapa yang dimaksudkan oleh sang kakek.
"Kris?! Bodyguard aku yang selama tujuh tahun terakhir jagain aku?!"
Hirawan mengangguk pelan.
"Gak mungkin." Bella menggelengkan kepalanya masih tidak percaya, pria berusia 30 tahun itu, yang selama 7 tahun terakhir bertugas memantau dan menjaga keamanannya, berani melamarnya pada sang kakek.
Bella juga teringat dengan sikap Kris tadi malam saat di tempat kost Dev. Biasanya, saat Bella memukul Kris, Kris akan bergeming. Namun tadi malam, Kris berani menarik tangan Bella dengan kasar.
"Kakek juga gak percaya pada awalnya. Tapi mengingat dia selalu menjaga kamu selama ini, sepertinya bisa saja perasaan tumbuh diantara kalian berdua."
"Aku gak ada rasa sama dia, Kek. Kenapa dia berani banget ngelamar aku? Terus Kakek bilang tadi mau nerima lamaran dia? Aku gak salah denger? Kris itu bukannya dari keluarga biasa aja? Kakek emang mau aku nikah sama cowok dari kalangan biasa kayak dia?" Tanya Bella mengingat betapa tinggi standar yang harus dipenuhi seorang laki-laki untuk menjadi calon suami Bella.
"Keluarganya mungkin biasa. Tapi Kris memiliki saham yang cukup besar di Xander Corp. Kamu tahu kalau dia punya saham bahkan lebih besar dari Stuart?"
"Saham Kris lebih besar dari Kakaknya Stella?! Kok bisa?"
"Selama sedang tidak bekerja sebagai bodyguard, dari gaji dan bonus yang didapatkannya ia melakukan investasi saham dan properti, selama bertahun-tahun hingga dia bisa memiliki saham di berbagai perusahaan, termasuk Xander Corp."
Bella tertegun mendengarnya. Bella mencium aroma perjanjian bisnis yang sangat kuat dari penjelasan Hirawan. Kris yang dikenalnya sebagai bodyguard berhati robot, kini berubah menjadi laki-laki ambisius yang menginginkan Bella dan perusahaannya.
"Terus? Kakek mikirnya dengan aku nikah sama Kris bisa bikin Kakek semakin untung? Terus yang lebih diuntungkan lagi yaitu Kris, dia bisa jadi CEO Xander Corp. Simbiosis mutualisme?"
"Kris yang berhasil mengumpulkan kekayaan dari investasi sangat membuat Kakek kagum. Kakek yakin Xander Corp akan besar dibawah kepemimpinannya. Kris adalah laki-laki yang tepat untuk kamu, Bella." Ucap Hirawan dengan mata berbinar.
Bella menghela nafasnya. "Kakek denger ya, keinginan Kakek itu gak akan pernah terwujud. Aku gak akan pernah nikah sama Kris. Aku udah punya calon sendiri, dan dia jauh lebih baik dari Kris." Ucap Bella dengan penuh keyakinan.
"Maka dari itu, kakek ingin dengar tentang laki-laki yang kamu sebut sebagai calon suami itu. Siapa dia?" Tanya Hirawan dengan penasaran.
Bella kembali tersenyum membayangkan bagaimana reaksi sang Kakek jika mengetahui tentang Dev.
"Sabar dong. Aku bakal bawa dia malam minggu ini ke Rumah Besar. Sampai saat itu, kakek jangan mencoba cari informasi apapun tentang dia." Ucap Bella yang memperkirakan sang Kakek pasti akan mulai mencari tau siapa Dev.
Hirawan mengangguk-anggukan kepalanya mempertimbangkan keinginan Bella membawa calon suaminya itu.
"Baik, Kakek akan tunggu kedatangan dia. Hendra, Lidya, Stuart, Stella dan juga Kris, akan Kakek undang untuk bertemu laki-laki itu. Kita akan sama-sama putuskan siapa yang lebih layak menjadi pendamping kamu, Kris atau laki-laki itu."
Bella hanya tersenyum geli membayangkan murkanya sang Kakek ketika bertemu dengan Dev.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
rista_su
bocah gendeng 😓
2023-12-20
2
Erni Fitriana
🤣🤣🤣🤣🤣bella..bella...jngn ngeledek kakek terus dong!!!!!
2023-01-20
1