Bella terus menggerutu. Ia terus men-tap HPnya pada gambar gagang telepon, namun Dev tidak menjawab teleponnya.
"Kemana sih dia? Kok telepon gue gak diangkat-angkat?!"
Setelah sang kakek pergi dari apartemennya, Bella terus mencoba menelepon Dev. Namun semua panggilannya diabaikannya.
"Jadi lo mau kabur?!" Bella semakin tidak sabar. Ia dan Dev seharusnya berkencan hari ini karena Dev sudah berjanji untuk menyetujui dua syarat yang Bella ajukan kemarin agar Bella mau pergi dari tempat kost Dev.
Bella pun memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaiannya dan segera pergi ke tempat kost Dev dengan mobil sportnya. Tiba di sana ternyata Dev tidak ada. Iapun ke markas Black Panther untuk mencari keberadaan Dev.
"Bel, lo ngapain kesini?" Tanya Abbas menghampiri Bella yang memasuki markas sekaligus bengkel miliknya.
"Dev mana?" Tanya Bella to the point.
"Dia gak ada kesini." Jawab Abbas.
Bella yang tidak puas dengan jawaban Abbas, masuk lebih dalam ke dalam markas. Ia melihat beberapa anak Black Panther yang sedang berkumpul bermain kartu, merokok, dan menenggak alkohol. Namun tidak ada Dev disana.
"Udah gue bilang Dev gak ada." Ucap Abbas.
"Terus dia dimana?" Tanya Bella dengan nada marah.
"Kayaknya gue tahu dia kemana tapi sorry, gue gak bisa bilang." Ucap Abbas lagi.
Bella menghela nafas kesal, ia melihat BPKB motor yang ia berikan kemarin ada di meja. Ia meraihnya.
"Gue telepon polisi, kalo lo gak ngasih tau Dev dimana." Ucap Bella.
"Maksud lo?" Tanya Abbas tidak mengerti.
Bella meraih HPnya dan telepon tersambung.
"Selamat siang, Pak saya mau melaporkan kemarin saya kehilangan motor..." Abbas meraih HP Bella dan mematikan telepon pada nomor darurat kepolisian itu.
"Lo bercandanya jangan gitulah, Bel." Ucap Mondi nimbrung.
"Gue gak bercanda, sekarang kasih tau gue dimana Dev!"
Kemudian dengan terpaksa Abbas memberitahukan kemana Dev pergi. Bella pun segera melajukan mobilnya ke tempat yang Abbas tunjukkan, ke pemakaman Kamboja Putih. Bella memarkirkan mobilnya di tepi jalan dekat dengan pemakaman itu. Ia terus mencari sosok Dev. Ia berjalan menyusuri pemakaman namun tidak ada Dev disana.
"Sialan. Si Abbas bohong apa gimana sih?" Gumam Bella putus asa.
Bella mengedarkan pandangannya sekali lagi. Tatapannya menangkap sesosok tubuh laki-laki di sebuah warung baso di ujung jalan. Tampak dari belakang laki-laki itu seperti Dev. Bella berjalan mendekati orang itu, kemudian ia yakin bahwa itu Dev setelah melihat bagian tato di tengkuk laki-laki itu.
Bella dengan tiba-tiba duduk di samping Dev.
"Anj..!" Dev terkejut hampir saja mengumpat melihat Bella yang tiba-tiba saja berada di sampingnya.
"Gue nelpon lo dari tadi, kenapa lo gak angkat? Lo mau kabur?!" Seloroh Bella dengan kesal.
Dev tidak menjawab, kembali menyantap baksonya yang tinggal setengah. Bella yang kesal mengambil mangkok bakso yang sedang dinikmati Dev, dan memakannya. Dev dengan wajah cengo pasrah mangkok baksonya diambil alih oleh Bella.
"Apaan nih? Kok gak pedes?" Tanya Bella sambil menambahkan sambal pada bakso itu.
"Lo pesen lagi aja kalo mau, ngapain lo ngambil punya gue." Protes Dev.
"Lo masih laper?" Tanya Bella.
Bella pun memotong sedikit bakso dan menyuapkannya pada Dev.
"Gue bisa sendiri." Dev berniat mengambil sendok yang Bella pegang, namun Bella bersikeras menyuapi Dev. Dev pun mau tidak mau membuka mulutnya.
"Bel, lo nyari mati!" Dev meneguk habis gelas berisi teh tawar hangat yang ada di dekat mangkoknya.
"Lo cemen banget sih. Masa segini aja kepedesan." Ucap Bella melahap bakso itu tanpa merasa pedas sama sekali.
"Lo yang ngasih sambelnya kebanyakan! Liat kuahnya jadi merah gitu." Ucap Dev yang masih kepedasan. Iapun memesan semangkok bakso lagi.
Tidak lama bakso pesanannya datang.
"Dasar lo, gue jadi pesen lagi deh." Dev kemudian memakan baksonya.
Bella sudah menghabiskan baksonya. Ia kini sibuk memandang ke arah Dev yang masih melahap bakso ronde kedua yang dipesannya.
"Dev, lo lagi makan aja kok ganteng sih?" Tanya Bella terpana melihat laki-laki yang berhasil memasuki ruang VVIP di hatinya itu.
Dev tidak menjawab, namun terlihat menahan senyum mendengar ucapan Bella.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Dev mengalihkan topik pembicaraan dan sambil terus memakan baksonya.
"Tuh 'kan lo lupa, lo 'kan udah janji bakal ngedate sama gue hari ini." Ucap Bella kembali emosi.
"Gue gak lupa. Siapa yang ngasih tahu lo gue disini? Abbas? Mondi?"
"Gak penting siapa yang ngasih tau gue. Telinga dan mata gue ada dimana-mata. Lo gak akan bisa lari dari gue!"
"Siapa juga yang lari. Lo tuh bisa gak sih gak gampang ngambil kesimpulan. Tanyain dulu baik-baik, jangan apa-apa lo langsung emosi."
"Gue 'kan tadi mau nanyain ke lo, tapi telepon gue gak lo angkat."
"HP gue ketinggalan di kostan. Males gue ngambil lagi."
"Kok gitu sih? Kalau lo gak megang HP, gimana gue bisa hubungin lo? Kalau gue gak nyariin lo, lo pasti bakal ngebatalin ngedate hari ini." Ucap Bella sedih.
"Anggap aja ini lagi ngedate." Ucap Dev agak merasa bersalah.
"Apaan, masa ngedate cuma makan bakso doang."
"Ya emang kenapa? Lo ngerasa gak level ngedate cuma makan bakso pinggir jalan kayak gini?" ucap Dev.
"Bukan gitu. Maksudnya masa cuma begini doang, udah ini pokoknya kita masih lanjut ngedatenya. Lagian lo ngapain sih ke pemakaman?"
"Hari ini hari peringatan kematian nyokap gue." Ucap Dev masih melahap baksonya.
Bella tertegun. Kemudian dengan merasa bersalah berkata, "Kok lo gak bilang?"
"Gue juga baru inget tadi pagi."
"Anak macam apa lo, bisa gak inget hari kematian nyokap." Bella mencibir Dev.
"Namanya juga lupa."
"Kalo gue inget setiap hari kapan dan gimana orang tua gue meninggal." Ucap Bella dengan nada sedih.
Dev memandang ke arah Bella yang memandang ke arahnya.
"Lo udah gak punya nyokap juga?"
"Iya dua-duanya udah gak ada sejak gue SD. Mereka kecelakaan."
"Kok bisa samaan. Bokap gue sih baru setahun yang lalu. Tapi beruntung lo masih punya kakek lo yang kaya raya."
"Gak ada untungnya sama sekali. Mending gue ikutan meninggal sama kedua orang tua gue kali daripada hidup sama tua bangka yang di otaknya cuma mikirin bisnis."
"Berkat bisnis kakek lo itu lo bisa foya-foya. Dasar lo gak tahu terimakasih." Komentar Dev sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju mang bakso, membayar dua mangkok yang dipesannya, dan meninggalkan warung bakso. Bella mengekor di belakang Dev.
"Makanya gue hambur-hamburin uang dia dan bikin banyak masalah. Gue seneng kalo dia pusing gara-gara kelakuan gue." Ucap Bella berjalan di samping Dev.
"Dasar cucu durhaka."
"Biarin. Dia duluan yang durhaka sama gue dan kedua orang tua gue."
"Terserah lo deh. Itu mobil lo parkir disitu?" Dev menunjuk pada sebuah mobil lamborghini merah muda di tepi jalan yang sempit. Dev langsung mengetahuinya karena hal-hal nyeleneh seperti ini selalu melekat dengan Bella.
"Iya." Ucap Bella tanpa merasa bersalah.
"Lo gak liat ini jalan kecil? Liat jalanan jadi macet gara-gara lo."
"Lo yang salah bikin gue dateng kesini. Nih lo yang nyetir, lo gak bawa motor 'kan. Temen lo bilang motor lo lagi diservice." Bella menyerahkan kunci mobilnya pada Dev.
"Ogah ah, masa gue pake mobil warna pink."
"Udah cepetan, ini jalanan makin macet." Bella pun berjalan ke sisi kursi penumpang. Dev mau tidak mau mengemudikan mobil Bella. Saat mobil melaju, kemacetanpun dapat terurai.
"Sekarang mau kemana?" Tanya Dev sambil mengemudi.
"Apartemen gue."
"Lo kenapa sih ngajakinnya kalo gak ke hotel, ke apartemen. Lo jadi cewek bisa gak agak mahalan dikit. Bukan barang-barang lo aja yang mahal. Sikap lo juga harus mahal."
"Lo yang otaknya ngeres! Udah kesana dulu, bawel." Cibir Bella.
Setelah beberapa lama, mobil Bella sudah terparkir di basement. Merekapun masuk ke Lift yang membawa mereka ke rooftop. Liftpun terbuka dan nampak sebuah helikopter berwarna putih dengan tulisan Bella Xander dengan tulisan berwarna emas di sisinya.
"Ngapain kita kesini?" Tanya Dev.
"Lo gak liat? Ini heli gue. Kita jalan-jalan pake ini."
"Helikopter ini punya lo?!" Dev terbelalak.
"Iya. Liat namanya. Bukan punya perusahaan kakek gue ya."
Dev melihat ke sekeliling.
"Mana pilotnya?" Tanya Dev saat melihat tidak ada orang di sana.
"Kita gak perlu pilot, lo aja yang ngemudiin." Ucap Bella.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
cengo' dong sayahhhhhh....jalan" pake helikopter🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-01-20
1
Chandra Dollores
hahahaha... bangkeeee ruang VVIP di hati... hahaahahah
2022-12-28
1