Bella masuk ke dalam apartemennya dan melihat seorang perempuan berambut pendek, menggunakan hoodie berwarna hitam tertidur di sofa ruang tengahnya.
"Bangun, woy!" Bella membangunkan perempuan itu dengan menggoyangkan kaki perempuan itu dengan kakinya.
Perempuan itu terbangun dan bangkit kemudian duduk, berusaha menghilangkan kantuknya.
Bella melepas jaket Dev yang masih dikenakannya dan kemudian membuka HPnya. Perempuan itu menatap Bella dengan kesal saat sudah hilang kantuk yang dirasakannya.
"Katanya lo manggil gue ke ruangan CEO," perempuan tomboy itu lemparkan bantal sofa dengan kesal pada Bella yang masih sibuk dengan HPnya, "taunya lo udah gak ada. Gue tuh ngajuin cuti udah dari tiga bulan yang lalu! Gue belum ketemu nyokap gue selama setahun gara-gara jagain lo di LA. Baru juga gue nyampe stasiun, gue harus balik lagi dan ngurusin lo yang bisanya ngerepotin orang. Dasar lo Nona sialan!"
"Lo kayak yang baru kenal gue aja, Ter. Bikin orang kesel 'kan udah bakat gue." Ucap Bella bangga.
"Kalau gak inget mendiang bokap nyokap lo pernah nitipin lo ke gue, udah berhenti gue dari Xander Security." Ucap sahabat Bella yang merangkap juga sebagai pengawal pribadinya itu.
Bella menghampiri Tere, dan memeluknya.
"Jangan dong, Gue sama siapa kalo gak ada lo! Iya deh sorry." Ucap Bella dengan manjanya.
"Buruan lo nikahin si Dev, biar gue gak direpotin sama lo lagi." Ucap Tere.
Bella berhenti memeluk Tere dan duduk lagi di kursi malas di hadapan Tere, dan berkata dengan wajah cemberut. "Dev gak mau nikah sama gue."
Tere terbahak dengan sangat keras mendengar ucapan sahabatnya itu. Bella yang tersinggung melemparkan kembali bantal sofa pada Tere.
"Sialan lo bodyguard gak tau diri, berani ngetawain majikan lo!" Umpatnya.
"Gue beneran harus ketemu sama cowok yang namanya Dev. Baru kali ini ada cowok yang nolak lo!" Tere masih terbahak-bahak mengejek Bella.
"Lo gak akan percaya ada cowok sekeren dia, Ter. Mukanya ganteng, alisnya tebel, idungnya mancung, bibirnya tipis, suaranya seksi, badannya berotot, perutnya six pack, punggungnya bertato lagi. Dia berani gelantungan di lantai 40an cuma pake tali doang, dia bisa ngemudiin heli sama pesawat tempur, dia juga jago balapan, terus dia tuh gentleman banget tau gak sih, Ter? Dia bisa nahan pesona seorang Bella padahal gue sering ngegodain dia! Gue beneran gak ngerti kok ada makhluk sesempurna dia." Pandangan Bella menerawang dan pikirannya dipenuhi dengan Dev.
"Gelantungan? Lo kira monyet? Lo beneran udah bucin abis sama dia. Iya gue akuin dia emang keren. Tapi sayangnya dia bukan dari kalangan lo."
"Emang kenapa? Gue gak peduli! Gue cinta banget sama Dev!" Mata Bella berbinar saat mengatakannya.
"Lo tuh naif banget. Pak Hirawan gak akan ngerestuin lo kali. Lo tahu sendiri gimana tingginya standar kakek lo." Tere mencoba menyadarkan Bella agar tidak terlalu larut dalam perasaannya.
"Selama Dev suka juga sama gue, gue bakal ngelakuin apapun buat bisa nikah sama dia." Ucap Bella penuh tekad.
"Emang dia suka juga sama lo? Bukannya dia gak mau nikahin lo."
"Dia suka sama gue! Cuma belum mau ngakuin aja."
"Kenapa sih lo segitu ngebetnya pengen nikahin dia?" Tanya Tere.
"Gue cape disuruh gantiin kakek buat gantiin dia jadi CEO. Gue juga gak mau kalau nikah sama cowok yang kakek pilih. Gue pengen nyari cowok yang bener-bener suka sama gue dan gak liat siapa gue. Kakek selalu mikir kalau gue gak akan nemu cowok yang suka sama gue dengan tulus. Dan lo tahu, kakek gue salah. Ternyata ada cowok yang suka dengan tulus sama gue, dan orang itu Dev." Terang Bella dengan bahagia.
"Lo yakin? Terus gimana cara lo dapetin restu kakek lo buat nikah sama Dev? Lagian lo nyari perkara banget, lo pengen nyari cowok yang kakek lo gak suka. Ya bakal susah lo buat nikah sama dia. Terus lo udah mikirin, cowok yang bakal nikah sama lo, otomatis bakal jadi CEO Xander 'kan? Lo yakin Dev mampu mimpin perusahaan? Gue kira nggak deh. " Ucap Tere realistis.
"Gue gak berencana dapetin restu kakek gue. Dia gak ngerestuin juga gue bakal tetep nikah sama Dev!"
Tere menyapukan rambut pendeknya dengan tangannya ke belakang, merasa frustasi. "Halo? Lo itu pemegang saham utama Xander Corp, lo cucu satu-satunya. Lo mau dicoret dari kartu keluarga kakek lo? Emang lo bisa hidup tanpa kartu kredit lo? Kartu lo disita sehari doang aja lo sampe ngobrak-abrik kantor Xander Security."
"Gue gak peduli. Gue gak butuh harta dan tahta Xander. Lo tahu sendiri selama ini gue ngehambur-hamburin duit bukan karena gue mau. Semua yang gue lakuin cuma pengen bikin kakek gue kesel. Kalau Kris mau jadi CEO, ambil aja. Gue gak peduli mau Om Hendra, atau Stuart yang jadi CEO. Terserah!"
"Bentar, kok Kris dibawa-bawa?" Tanya Tere.
"Kris suka sama gue!" Bella kembali emosi, "Gara-gara lo gak dateng tadi ke ruang CEO, Kris berani nyium gue."
"HAH?!" Mata Tere membulat sempurna, terkejut bukan main rekan seprofesinya itu berani mencium Bella.
"Lo gak tahu dia investasi macem-macem sampe punya saham bahkan lebih gede dari Stuart? Gara-gara itu dia berani ngelamar gue lewat kakek dan kakek hampir aja setuju."
"Serius lo? Pantesan dia selama ini hidup hemat banget, ternyata dia pake gaji dia buat investasi? Gue gak nyangka akhirnya dia berani juga buat ngelamar lo."
Bella mengerutkan keningnya, "Lo tahu kalau dia suka sama gue?"
"Dia gak pernah bilang, tapi gue nyadar sendiri. Selama ini gak ada 'kan bodyguard yang kuat jagain lo selama 24 jam penuh, cuma Kris sama gue doang. Gue yakin dari 7 tahun lalu, sejak dia jadi pengawal pribadi lo, dia udah ada rasa sama lo." Tere berspekulasi.
"Lo salah. Dia kayak gitu bukan karena suka sama gue. Tapi dia 'suka' sama perusahaan kakek gue." Ralat Bella.
"Iya sih, tapi gue yakin dia juga beneran suka sama lo makanya dia bertahan selama ini jagain lo. Gak ada yang kuat jadi bodyguard lo lama-lama kecuali gue sama Kris. Tahu gak, jagain lo tuh udah kayak pekerjaan paling...." Tere tidak melanjutkan kata-katanya karena tidak menemukan kata yang tepat saking sulitnya pekerjaan menjaga seorang Bella.
"Pekerjaan paling apa?" tanya Bella tidak mengerti.
"Paling ngenes!" Tere akhirnya menemukan kata-kata yang tepat, "Kita gak bisa meleng dikit. Kalo nggak lo udah kabur-kaburan. Bikin masalah sama orang, ngancurin barang yang harganya selangit, bahkan hampir diculik mafia yang suka human trafficing aja lo pernah. Belum lagi cowok-cowok yang deketin lo yang balik dendam sama lo gara-gara mereka gak terima ditolak sama lo dengan cara-cara yang bikin gue sendiri mikir 'apa sih isi otak lo?'. Dan siapa yang kena getahnya atas semua ke-absurd-an yang pernah lo bikin? Gue sama kris! Salah gue apa coba punya majikan kayak lo?"
"itu 'kan udah jobdesk kalian. Gue bikin masalah biar kalian ada kerjaan aja, biar gak makan gaji buta." Ucap Bella tanpa merasa bersalah.
"Gue kirimin surat pengunduran diri gue sekarang." Tere mengambil HPnya dan berpura-pura akan mengirimkan surat pengunduran diri pada atasannya.
"Inget, lo udah dititipin sama bokap nyokap gue, Ter." Bella meraih HP Tere dan menyimpannya.
"Gak mau kan lo gue resign? Makanya gue minta lo harus bisa jadi orang yang lebih waras."
"Iya, iya. Bawel." ucap Bella.
Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul dalam benar Bella. Ia menatap Tere dengan serius dan bertanya, "Ter, lo udah ada info terbaru belum kenapa Dev keluar dari TNI?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
titip bella ter...gw agak was was sama kris nih
2023-01-21
2
Chandra Dollores
trim trim sudah rutin update ya kisanak...
aq selalu setia menanti kabar ko Bell...
2023-01-01
1