Bella berjalan menuju mobilnya setelah makan malam itu.
"Bel!" Seseorang memanggilnya dan Bella pun membalikkan badannya. Ia memandang Kris yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Bella tidak mengatakan apapun dan memandang angkuh pada Kris.
"Aku pengen ngomong sama kamu." Ucapnya saat sudah berada di depan Bella.
"Ada apa? Cepetan ngomong. Gue sibuk." Ucap Bella dengan dinginnya. Tere keluar dari kursi kemudi dan menghampiri keduanya.
"Bukannya selama ini kamu selalu bilang gak tertarik buat mimpin perusahaan?" ucap Kris to the point.
"Gue gak perlu jawab pertanyaan lo." Bella berniat pergi namun Kris memegang tangan Bella. Bella dengan cepat menangkis tangan Kris. Tere berdiri di hadapan Kris membarikade Bella dari Kris yang kini semakin berani pada Bella.
"Jaga sikap lo, Kris!" Ucap Tere memperingatkan.
"Gue gak ada urusan sama lo, Ter." Ucap Kris dengan marah. Kemudian ia menatap Bella.
"Aku beneran gak ngerti kenapa kamu berubah pikiran. Tapi aku mau ngasih tau kamu, mimpin perusahaan gak segampang itu. Kamu gak punya pengalaman. Aku khawatir kamu malah dapet banyak kesulitan nantinya." Ucap Kris dengan raut wajah yang khawatir.
Bella menatap kedua mata Kris dengan tajam.
"Kenapa? Lo kecewa karena kehilangan kesempatan buat nikahin gue dan batal jadi CEO Xander Corp? Lo gak usah peduliin gue. Peduliin aja diri lo sendiri. Yang bakal dapet kesulitan itu lo! Kita liat aja sampe kapan mantan bodyguard yang serakah kayak lo bertahan di Xander seudah gue yang jadi CEOnya."
Kemudian Bella memasuki mobil, dan meninggalkan Kris yang menatapnya dengan marah.
***
Bella tiba di apartemennya. Ia tutup pintu di belakangnya dan menyandarkan punggungnya di sana. Seketika kakinya lemas, tidak mampu lagi menopang tubuhnya, iapun terduduk lesu di belakang pintu. Tangannya gemetar. Berulang kali Bella menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, berusaha menghilangkan rasa khawatirnya.
Kris benar-benar sudah mengenal Bella. Yang dikatakan oleh Kris memang benar, Bella tidak memiliki pengalaman untuk mengelola perusahaan. Selama ini tidak pernah terpikirkan dalam benak Bella untuk ada di posisi CEO, pengalamannya dalam hal bisnis nol besar. Namun demi Dev, ia harus berada di posisi tertinggi. Kekuasaannya sebagai CEO akan membuat Bella memiliki akses yang lebih besar pada orang-orang penting di dunia bisnis, juga dunia pemerintahan, termasuk militer.
Bella merogoh tas tangannya dan mengambil ponsel. Ia menelepon Dev, berulang kali namun tidak ada jawaban dari Dev. Dev benar-benar membuktikan ucapannya, ia tidak menerima telepon dari Bella. Bella merasa sangat frustasi. Ia mencari kontak Tere dan meneleponnya.
"Ter, cariin nomor Abbas." Perintah Bella kemudian mematikannya.
Bella berusaha bangkit dari posisinya yang terduduk di depan pintu keluar apartemennya. Iapun duduk di sofa ruang tengah dan melihat jaket hitam Dev masih ada di sana. Bella memakainya dan tercium wangi parfum Dev di jaket itu. Bella menutup matanya dan memeluk dirinya sendiri.
"Gue kangen sama lo, Dev." Ucap Bella. Aroma parfum Dev membuatnya semakin merindukan sosok laki-laki yang kini selalu memenuhi pikirannya.
Tidak lama kemudian, Tere mengirimkan nomor Abbas. Bella segera menelepon sahabat Dev itu.
"Halo?" Sapa orang di seberang sana.
"Abbas, ini gue Bella. Gue mau nanya, Dev ada dimana ya sekarang?"
"Sorry, Bel. Gue gak bisa bilang. Dev udah titip, gue gak boleh bilang dia ada dimana kalau lo nanyain."
Bella mengepalkan tangannya dengan kesal, ternyata Dev sudah memperkirakan Bella akan bertanya kepada sahabatnya mengenai keberadaannya.
"Dia gak ada di markas Black Panther?"
"Dia lagi gak ada di Jakarta. Dia lagi pergi, ada kerjaan yang harus dia selesain. Cuma itu yang bisa gue kasih tahu sama lo. Gue gak pengen Dev marah lagi sama kita kayak waktu itu."
"Gue ke markas kalian sekarang." Bella menutup telepon dan bergegas menuju markas Black Panther.
Sebuah lamborghini merah muda, yang diikuti sebuah alphard hitam tiba tidak jauh dari markas salah satu geng jalanan yang banyak ditakuti orang itu.
Bella masuk ke dalam markas dan disambut oleh Abbas. Abbas mempersilahkan Bella duduk di dekat bengkelnya dan memberikan sekaleng cola untuk Bella.
"Thanks." ucap Bella singkat.
Abbas memandang jaket kulit hitam yang Bella kenakan. Ia mengenali jaket itu adalah milik Dev, karena Abbas yang memberikan jaket itu pada Dev. Terdapat lambang burung elang berwarna merah di punggung jaket itu. Itu adalah jaket yang selalu Dev pakai ketika balapan, atau ketika dengan terpaksa Dev terlibat perkelahian demi membantu Abbas dan kawan-kawannya menghabisi geng lawan. Jaket itu bak sebuah baju zirah seorang panglima perang yang memang Abbas pesan khusus untuk Dev. Hanya Dev yang memakai jaket itu. Tidak pernah ada yang berani memakai jaket itu sebelumnya.
"Gue ikhlas ngasih motor itu buat kalian. Kenapa kalian gak mau terima?" Tanya Bella membuka obrolan.
"Kita sih sebenernya seneng-seneng aja nerima motor itu. Tapi Dev gak mau kita nerima motor pemberian dari lo. Lagian bener, itu gak fair juga. Lo 'kan yang menang taruhan, masa kita dapet motornya juga." Ucap Abbas diplomatis.
Bella terdiam sejenak.
"Bas, gue mau nanya, lo tahu gak kenapa Dev keluar dari TNI enam bulan lalu?"
"Lo tahu dia pernah jadi tentara?" tanya Abbas berbalik memberikan Bella pertanyaan. Bella pun menceritakan sedekat apa hubungannya dengan Dev.
Abbas terlihat menimang-nimang. Bella memakai jaket kebanggaan Dev dan sekarang ia mengetahui juga mengenai masa lalu Dev. Abbas mulai menyadari Bella memang memiliki hubungan yang spesial dengan Dev.
"Kalau gitu gue bakal kasih tahu yang gue tahu, tapi lo jangan bilang lo tahu dari gue ya. Dia gak suka kalo ada orang yang nyinggung masa lalu dia."
"Iya, gue janji." Ucap Bella
Kemudian Abbas mulai bercerita hal yang pernah Dev ceritakan padanya. Saat itu, sekitar enam bulan lalu, Dev baru saja mendaratkan pesawat tempurnya. Ia berjalan menuju loker dan bersiap pulang. Namun tiba-tiba saja seseorang memukul kepalanya hingga pingsan. Saat sadar, Dev berada di sebuah ruangan dengan lampu sorot yang sangat terang mengarah kepadanya. Dev sama sekali tidak bisa melihat orang-orang yang berada di depannya. Yang jelas, orang-orang itu menggunakan seragam tentara sama seperti dirinya. Dev kemudian menyadari kedua tangannya diikat di atas kepalanya ke sebuah tiang besi.
Orang-orang itu mulai menanyakan mengenai apakah Dev melakukan jual-beli senjata kimia? Dev tentu saja menjawab tidak, karena dia sama sekali tidak mengetahui mengenai hal itu. Dev terus mendapatkan pertanyaan itu berulang-ulang. Setiap kali Dev berkata tidak, seseorang yang berada di belakangnya menyayat punggungnya dengan sebuah pisau, sedangkan orang yang ada di depannya memukul wajah dan tubuh Dev tanpa henti. Mereka terus menyiksa Dev dan seakan memaksa Dev untuk mengakui itu.
Setelah berhari-hari mengalami penganiayaan itu, Dev masih berkata tidak, Dev masih kukuh pada pendiriannya. Hingga seseorang menyiram punggungnya dengan air keras. Saat itu Dev tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang diakibatkan cairan yang terasa membakar kulitnya yang sudah penuh luka itu. Akhirnya Dev terpaksa mengatakan bahwa dirinya mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya. Setelah itu Dev diadili dan diberhentikan secara tidak hormat dari kemiliteran.
Bella sangat syok. Matanya mulai berair. Mendengar secara lebih detail mengenai bagaimana penyiksaan yang pernah Dev alami. Bella sangat terpukul laki-laki yang dicintainya itu pernah mengalami semua kekejaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa takut dan khawatir tidak mampu menjadi seorang pemimpin yang sebelumnya Bella rasakan, hilang seketika. Khawatir dan takut itu berubah menjadi sebuah tekad, ia akan mencari tahu siapa orang-orang yang ada di balik semua penyiksaan yang Dev alami enam bulan lalu dengan kekuasaan yang dimilikinya sebagai pemimpin dari perusahaan raksasa Xander Corp.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
semangat bell.....aku yakin dengan modal cinta yg tulus kamu pasti bisa💪💪💪💪
2023-01-21
2
lalalati
ngopi sambil sebat kak si Dev wkwkwk 🤣
2023-01-04
0
Chandra Dollores
sesaknya Bella menahan rindu menular sampe sini... jan bilang ko ena2 ngopi, awas ko Dev!!
2023-01-04
1