Bella berlari keluar saat lift terbuka di lantai 1. Beberapa pengawal menghampiri Bella saat dirinya berhenti di teras gedung Xander Corp.
"Nona Bella..."
"Jangan ikutin gue!" Bella berlari keluar area gedung. Ia melihat seorang ojek online berhenti menurunkan seorang penumpang tidak jauh dari gedung.
"Pak, anterin saya." Bella mengambil helm yang baru saja dilepaskan oleh penumpang itu. Pengendara ojek online itupun mengangguk dan membawa Bella pergi menuju alamat yang Bella tujukan.
Beberapa saat ojek online berhenti di depan sebuah rumah susun. Bella memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada ojek itu dan berlari menaiki tangga.
Sampai di lantai paling atas, Bella melihat Dev sedang mengangkat jemurannya, rambutnya terlihat masih basah, dan bagian bawah tubuhnya hanya ditutupi handuk. Tato berbentuk burung elang yang memenuhi hampir seluruh punggungnya kini bisa Bella lihat dengan jelas. Selesai mengangkat jemuran, hujan mulai turun. Dev segera memasuki kamarnya, belum menyadari kehadiran Bella. Bella mengekor di belakang Dev, dan tiba-tiba saja terdengar suara petir dan Bella memeluk tubuh Dev dari belakang.
"Anj*ng!" Umpat Dev. Seketika Dev terkejut bukan main karena suara petir dan seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, pakaian yang baru saja ia ambil berserakan di lantai. Dev melepas pelukan itu dan membalikkan badannya, melihat Bella yang menatapnya dengan wajah sedih.
"Bel! Lo bisa gak sih kalo dateng tuh bilang-bilang, atau minimal ada suara kek?!"
Bella kembali memeluk Dev. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Dev yang tidak tertutupi oleh sehelai benangpun. Bella merasakan tubuh Dev yang masih dingin dan wangi shampo dan sabun yang maskulin. Terdengar detak jantung Dev berdebar sangat kencang saat ia melekatkan telinganya pada dada Dev.
"Bel, lepasin. Gue mau pake baju dulu." Dev berusaha melepaskan pelukan Bella.
"Lo harus ngelakuin sesuatu sama gue, Dev." Ucap Bella.
"Sesuatu?" Tanya Dev.
Kemudian Bella melepas pelukannya dan memandang kedua mata Dev. "Kiss me."
Seketika wajah Dev merona merah mendengar permintaan Bella.
"Ini apa lagi sih? Lo bisa gak sih sekali aja gak bertingkah yang aneh-aneh." Dumel Dev mundur satu langkah dari Bella. Ia membungkuk dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Tiba-tiba Bella meraih handuk yang Dev kenakan untuk menutupi tubuh bawahnya.
"Lo jangan macem-macem, Bel." Dev dengan sigap menggenggam handuk yang ia kenakan dan berusaha melepaskan tangan Bella yang masih mencengkram kuat handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya.
"Lo harus cium gue. Barusan gue dicium cowok lain!" Ucap Bella dengan sedih.
Dev terdiam. Cemburu menguasainya.
"Siapa yang nyium lo?" Ucap Dev dengan suara bassnya. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia sedang marah.
"Kris." Ucap Bella tidak memandang ke arah Dev.
Dev terdiam dan kembali memungut pakaiannya kemudian ia simpan di sebuah keranjang. Namun Dev tidak kuasa menahan amarahnya lagi, ia terbakar cemburu dan membanting keranjang itu dengan kesal. Ia merasakan punggungnya disentuh oleh tangan halus Bella.
"Gue gak bisa ngehindar, Dev. Semuanya kejadian gitu aja. Gue langsung dateng kesini karena gue ngerasa bersalah sama lo." Ucap Bella
Dev membalikkan badannya dan meraup pipi bella. Kedua ibu jarinya menyapu bibir Bella.
"Berani banget dia nyium lo?!" Ucap Dev dengan kesal, otot di pipinya mengeras dan berkata, "cuma gue yang boleh nyium lo."
Dev mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Bella dengan marah. Bella hanya pasrah menerima ciuman Dev yang sedikit kasar.
Hingga beberapa saat, Dev melepas ciumannya.
"Sorry." Dev mengusap salivanya yang tertinggal di bibir Bella.
Bella menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Dev.
Dev menjauh dari Bella. Merasa menyesal karena sudah membiarkan emosi menguasainya. Ia mengambil kaos dari lemari dan memakainya. Kemudian mengambil celana dan berjalan menuju kamar mandi di sudut kamarnya.
"Lo pake di sini aja. Gue gak akan ngintip." Ucap Bella sambil membalikkan badannya.
Dev pun mengurungkan niatnya. Iapun memakai celananya dengan cepat sambil memerhatikan Bella, khawatir Bella akan tiba-tiba melihat ke belakang. Namun kali ini tebakan Dev tidak terbukti. Bella masih memandang ke arah tembok di sudut kamar.
"Sini duduk." Ucap Dev saat ia sudah berpakaian. Bella membalikkan badannya dan berjalan menghampiri sofa, sedangkan Dev berjalan ke dapur kecil di sebelah kamarnya untuk membuat segelas susu putih hangat untuk Bella.
Bella memandang ke arah nakas di sebelahnya dan melihat foto Dev yang waktu itu dilihatnya dan sebuah kacamata minus yang cukup tebal.
"Ini kacamata siapa?" Tanya Bella. Terakhir Bella melihat hanya ada foto di nakas itu.
Dev melihat ke arah kacamata itu dan menyerahkan segelas susu putih pada Bella.
"Itu punya gue."
"Lo pake kacamata?" Tanya Bella tidak percaya.
"Dulu. Sebelum masuk AKMIL gue udah operasi lasik, sekarang mata gue normal. Gue simpen itu buat kenang-kenangan."
Bella memandang Dev tidak percaya dulu Dev menggunakan kacamata setebal itu.
"Demi masuk AKMIL bahkan lo operasi lasik?" Tanya Bella.
"Iya. Udah gue bilang, gimanapun caranya, gue harus bisa jadi tentara."
Bella merasakan amarah menguasainya. Ia menuangkan susu putih yang Dev buatkan untuknya ke lantai di depannya. Setelah gelas itu kosong, Bella menyerahkan gelas itu pada Dev.
"Lo kenapa lagi sih?!"
"Lo sendiri maksudnya apa? Lo barusan nyium gue, lo bilang cuma lo yang boleh nyium gue. Terus ternyata lo masih suka sama cewek lain. Lo kira gue cewek apaan? Lo ngerasa bangga gitu seorang Bella Ratu Xander suka sama lo makanya lo seenaknya?!" ucap Bella dengan marah.
Dev menghela nafas, mencoba menahan rasa kesalnya. Ia mengambil lap untuk membersihkan susu yang Bella tumpahkan. Dev mengelap kaki Bella yang terkena cipratan susu yang ia tumpahkan dengan handuk yang dibawanya lalu Dev membersihkan tumpahan susu itu.
Bella memandang marah pada Dev. Namun Dev malah tersenyum pada Bella.
"Kenapa lo malah senyum-senyum?" Tanya Bella.
Dev menggelengkan kepalanya.
"Lo SMA dimana, Bel?" Tanya Dev tiba-tiba.
Bella mengerutkan dahi, kemudian bertanya. "Kenapa lo tiba-tiba nanyain sekolah gue?"
"Gak apa-apa, kayaknya gue pernah lihat lo waktu lo masih SMA."
"Gue SMA, lo masih bocah kali. Mana mungkin lo inget sama gue." Ucap Bella masih kesal.
"Lo SMA di Jakarta?" Tanya Dev yang kini sudah selesai membersihkan tumpahan susu itu.
"Iya. SMA Centauri." Ucap Bella tidak tertarik dengan semua pertanyaan tidak penting yang Dev tanyakan.
"Kirain di Bandung." Ucap Dev sambil berlalu menyimpan kembali lap di dapur kecil di kamarnya. Ia mencuci tangan di bak cuci piring dan kembali menghampiri Bella.
"Pertanyaan lo bener-bener gak penting!"
"Kalau gitu gue mau nanya sesuatu yang penting." Ucap Dev duduk kembali di samping Bella, "kenapa Kris bisa nyium lo?"
"Dia suka sama gue. Bahkan dia bilang sama kakek pengen nikahin gue."
"Dia bukannya cuma bodyguard lo? Berani banget dia ngelamar lo?" Dev kembali terbakar cemburu. Ia juga kesal karena Kris bisa memiliki keberanian sebesar itu untuk melamar seorang Bella.
"Selama ini dia investasi dimana-mana dan berhasil ngumpulin kekayaan. Kakek kagum sama dia. Dia berubah dari seorang bodyguard jadi pemegang saham di Xander. Ngerasa udah dapet dukungan dari Kakek, dia jadi berani sama gue."
Dev terdiam. Bella meraih tangan Dev.
"Gue gak mau nikah sama dia, Dev. Kalo gue harus nikah, gue cuma mau nikah sama lo."
Dev melepas tangan Bella kemudian berkata, "Apa sih yang lo liat dari gue, Bel? Gue cuma cowok miskin."
"Gue gak peduli lo miskin! Gue udah terlanjur suka sama lo. Lo suka juga 'kan sama gue? Lo gak rela kan gue dicium sama Kris?”
Dev mengalihkan pandangannya. Seketika Bella meraih tangan Dev dan menggenggamnya lagi.
“Malam minggu ini lo harus ikut gue. Gue pengen bawa lo ketemu kakek gue."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
dev kyknya tau bella waktu SMA
tapi bella lupa sama dev...mungkin waktu kejadian kecelaka'an yah
2023-01-20
3