Dev dengan sigap melangkahkan kakinya yang panjang melewati bagian lantai dengan serpihan kaca yang berserakan, dan seketika menggendong Bella. Kemudian ia bawa Bella ke kamar dan ia dudukan Bella di sofa.
“Lo tuh gak hati-hati banget sih.” Tegur Dev sambil membuka nakas dan mengambil kotak P3K.
Bella terdiam melihat Dev yang begitu khawatir. Padahal itu hanyalah luka kecil, tapi Dev sampai menggendongnya.
“Gue gapapa, kok. Lebay banget sih lo.” Ucap Bella terharu.
“Lo gak lihat darahnya keluar terus?” Ucap Dev masih dengan wajah yang khawatir.
Bella memilih diam dan memandang wajah Dev yang sibuk mengobati luka dikakinya.
“Dev, lo kok beda banget sih sama dulu? Lo oplas ya?”
Dev menatap Bella tajam.
“Ya kali aja. Soalnya dulu lo gak kayak sekarang. Gue inget lo pake seragam SMP Satya yang kedodoran, terus dimasukin bajunya ke celana lo. Badan lo juga gendut, terus lo pake kacamata tebel. Kalo jalan lo nunduk gitu. Gak heran sih lo dulu dibuli.”
Dev tidak menjawab dan fokus menempelkan plester pada luka di kaki Bella.
“Tapi liat lo sekarang. Ganteng, tinggi, berotot. Terus lo juga punya tato yang gede banget di punggung lo. Siapa yang bakal nyangka kalau lo pas SMP itu culun banget.”
Dev membereskan kotak P3Knya dan memasukkannya kembali ke nakas. Dev berjalan menuju dapur dan terdengar membereskan pecahan kaca yang berserakan dan kemudian datang dengan membawa semangkok mie yang tadi dibuatkan oleh Bella. Dev duduk di samping Bella.
“Yah, itu mienya udah ngembang banget. Emang enak dimakannya? Gue bikinin lagi ya.” Ucap Bella merasa bersalah.
“Gak usah. Gue udah biasa kali makan makanan yang kurang layak. Ini sih gak seberapa dibandingin makanan yang harus gue makan pas di pelatihan di AKMIL dulu.” Dev terus memakan mienya sampai habis.
“Dev, gue mau nanya. Lo beneran masuk AKMIL gara-gara omongan gue waktu itu?” tanya Bella.
Dev menatap Bella dan mengangguk, kemudian berkata “Iya.”
“Padahal gue asal ngomong doang gara-gara ada tentara yang lewat waktu itu. Gak nyangka lo beneran jadiin tentara sebagai cita-cita lo.” Ucap Bella.
“Seudah ketemu lo waktu itu gue ikutan ekskul karate, ternyata gue punya bakat di bela diri. Gue terus nekunin karate sampe gue SMA. Selain karate gue juga jadi suka sama macem-macem olahraga bela diri selain karate, kayak pencak silat. Gue juga suka sama olahraga ekstrim kayak panjat tebing, bungee jumping, naik gunung. Terus gue juga suka pesawat dan helikopter dari gue masih kecil. Omongan lo bikin gue kepikiran, iya juga kenapa gue gak jadi tentara aja. Ya udah, gue bener-bener serius belajar dan latihan fisik biar bisa masuk AAU, dan akhirnya keterima.” Ucap Dev dengan mata berbinar. Namun raut wajahnya berubah sedih di akhir ucapannya.
“Kalau lo segitu sukanya jadi tentara, kenapa lo keluar?” Tanya Bella penasaran.
Dev meletakkan mangkok yang sudah kosong dan meneguk segelas air putih yang tadi dibawanya juga, kemudian berkata, “Gue gak keluar. Gue dipecat secara tidak hormat. Mau gak mau gue harus berhenti.”
Bella terkejut mendengarnya. “Dipecat secara tidak hormat? Kenapa?”
Dev tidak langsung menjawab. Ekspresi sedihnya berubah menjadi marah.
“Gue lulus satu tahun yang lalu dan ditempatin di Jakarta. Sampe enam bulan lalu, ada satu kasus yang ngelibatin gue. Padahal gue gak tahu apa-apa tapi gue dianggap pengkhianat. Supaya gue ngakuin kalau gue salah, gue disiksa sampe punggung gue luka-luka. Karena gue udah gak kuat gue akhirnya nyerah, dan kepaksa gue bilang gue ngaku salah terus gue dikeluarin dari TNI-AU.”
Dev menatap kedua mata Bella dengan mata yang berkaca-kaca. “Gue tadinya mau datengin lo setelah gue jadi TNI, tapi ternyata lo lagi ada di Amerika. Gue pengen ngeliatin ke lo, sebagai sosok yang berjasa bagi gue, kalau gue udah jadi tentara. Cuma belum sempet gue nemuin lo, gue udah keburu dikeluarin. Bukannya bikin lo bangga sama gue, gue malah jadi pecundang. Bahkan gue gak bisa nyari kerja karena nama gue udah diblacklist. Gue ditolak dimanapun, walaupun gue bisa bikin SKCK, catetan pengkhianatan gue bakal tetep ada. ”
Bella tidak menyangka sama sekali bahwa Dev pernah mengalami kejadian sekelam itu. Bella merasa sakit hati mendengar setiap ucapan yang terlontar dari mulut Dev, kemudian Bella memeluk Dev.
“Lo bukan pecundang. Lo tuh keren banget di mata gue. Mereka udah kehilangan orang sekeren lo, mereka pasti nyesel. Lo gak usah mikirin yang udah terjadi. Lupain semuanya dan fokus sama hidup lo sekarang.”
Dev tidak bisa menahannya lagi dan menangis dalam pelukan Bella. Ini pertama kalinya ia meluapkan rasa sedih dan marahnya melalui air mata setelah ia dikeluarkan enam bulan lalu. Saat disiksa untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukannya, ataupun pada saat upacara pemberhentiannya, Dev sama sekali tidak menangis. Hanya amarah yang menguasainya pada saat itu. Tidak pernah sekalipun orang lain melihat air mata keluar dari kedua matanya. Namun kini di hadapan Bella entah kenapa ia merasa begitu rapuh hingga butiran bening itu terus menetes di pipinya.
***
Hujan pun berhenti, menyisakan rintik-rintik kecil. Malam mulai larut dan cuaca dingin pun menyergap. Keheningan malam terasa begitu menenangkan. Muncul bintang-bintang yang sebelumnya terhalang oleh awan-awan pembawa hujan. Dev duduk di kursi di balkonnya dengan sebatang rokok yang ia apit diantara telunjuk dan jari tengahnya. Sesekali ia hisap rokok itu sambil memandang ke lampu-lampu kota yang berkilauan.
Bella berdiri di ambang pintu kamar Dev, memerhatikan orang yang kini duduk membelakanginya. Amarah menguasai Bella. Sebuah tekad muncul di benaknya. Mengetahui seseorang yang telah menduduki posisi penting di hatinya itu pernah mengalami kejadian yang sangat tidak adil, Bella bertekad akan mencari tahu mengenai kasus itu.
Kejadian itu terasa sangat ganjil bagi Bella dan ia yakin Dev tidak bersalah. Namun, ia tidak ingin mencari tahu lebih dalam dengan bertanya pada Dev. Ia akan mencari tahu sendiri tentang bagaimana kejadian itu bisa terjadi.
“Dev, gue pengen lihat tato lo boleh gak?” tanya Bella menghampiri Dev.
Dev menoleh ke arah Bella kemudian kembali memandang lampu-lampu kota. Ia berdiri dan melepas kaosnya, dan bediri membelakangi Bella.
Bella mendekat pada punggung Dev. Ia perhatikan lebih detail tato itu, ia sentuh beberapa bagian punggung Dev yang tertutupi tato. Terdapat banyak bekas luka disana. Seperti bekas luka sayatan, dan kulit yang tidak lagi rata karena melepuh terkena air panas atau air keras.
Bella menutup mulutnya, merasa ngeri membayangkan seperti apa siksaan yang dulu Dev alami hingga terdapat bekas luka seperti itu.
Dev membalikkan badannya dan memandang ke arah Bella yang terlihat sangat syok. Beberapa saat mereka sama-sama tidak saling berkata-kata.
“Udah berhenti hujannya, gue anterin lo pulang.” Ucap Dev sambil menggunakan kembali kaosnya.
Ia masuk ke kamar, kemudian keluar dengan menggunakan jaket dan celana jeansnya. Dev menyerahkan sebuah jaket untuk Bella.
“Gue kan mau nginep disini.” Ucap Bella cemberut. Menolak jaket yang Dev sodorkan.
“Tadi 'kan hujan, jadi gue gak bisa nganterin lo. Tapi sekarang hujan udah berhenti, lo gak bisa nginep di sini, lo harus pulang.” Dev memakaikan jaket kulit hitamnya pada Bella.
Bella tidak membantah lagi. Ia menurut dan menggunakan jaket itu.
Mereka turun menuju motor Dev yang terparkir di lantai 1. Dev menyerahkan sebuah helm pada Bella dan memakai helm fullface miliknya kemudian mulai menyalakan mesin motor ducati merahnya. Bella pun naik ke jok belakang dan Dev melajukan motornya menuju sebuah apartemen mewah di pusat kota Jakarta.
Setelah sampai di depan apartemen, Bella turun dan menyerahkan helmnya pada Dev.
“Lo gak akan masuk dulu?” Tanya Bella.
Dev melepas helmnya dan memandang ke gedung apartemen mewah dengan 40 lantai itu.
“Nggak, gue langsung pulang aja. Sorry buat yang tadi.” Ucap Dev. Ia merasa berterimakasih pada Bella karena setelah menangis, perasaannya jauh lebih ringan. Walaupun ia agak malu karena menangis di hadapan Bella.
Bella hanya tersenyum mendengarnya.
"Besok lo harus ikut gue ketemu kakek gue ya. Awas kalo nggak." Bella mengingatkan Dev mengenai acara makan malam dengan sang kakek.
"Gue gak akan dateng." Dev bersiap menggunakan helmnya, namun Bella menahan tangannya.
Bella menghela nafas kecewa.
"Lo kan udah bilang suka sama gue. Berarti lo setuju dong nikah... nggak, pacaran sama gue. Makanya lo harus ketemu Kakek besok.” Bella kembali memohon pada Dev.
“Bel, gue cuma bilang gue kagum sama lo. Bukan suka. Lagian lo mau sampe kapan ngajakin gue nikah. Gue gak akan nikah sama lo.” Untuk kesekian kalinya Dev menolak Bella.
“Waktu keluar dari lift, katanya lo suka sama cewek itu. Terus sekarang udah jelas kalo cewek itu gue. Berarti lo suka sama gue. Kenapa sih susah banget lo ngakuin perasaan lo?!” Bella terlihat sangat kesal.
Dev tidak menjawab dan menggunakan helmnya. Namun Bella menahan tangan Dev lagi.
“Apa lagi, Bel?” Ucap Dev.
Bella mendengus kesal, namun akhirnya membiarkan Dev pergi. Ia akan mencoba meyakinkan Dev lain kali. Ia memandang wajah Dev, mendekat dan mengecup bibir Dev.
Kemudian berkata, "Selamat tidur, anak gendut."
Bella tersenyum dan berjalan menjauh dari Dev memasuki apartemennya. Dev masih terdiam di posisinya, memandang gadis cantik itu dengan jantung yang berdebar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Nur Azizah
Semoga Dev berjodoh sama Bella ya kak authoe kasiham Dev nyaa,,,
2025-01-06
1
Erni Fitriana
tungguin bella dev...takut didlm apatemen ada kriss
2023-01-20
2
Chandra Dollores
klo udah lelah info aja aja ya Bel,, biar q pelet Dev utk ko hahahah
kan udah ketahuan Dev naksir, cuma cemen aja utk mengakui
nahh biar cepat dipelet aja sekalian
hahahahahaha
2022-12-31
1