(satu bulan sebelumnya)
Sebuah pesawat jet pribadi mendarat di sebuah landasan udara. Sedikit demi sedikit pesawat itu perlahan melambat dan akhirnya berhenti. Bella keluar dari pesawat itu dan berjalan menyeberangi landasan udara dan memasuki bandara.
Rambutnya yang hitam pekat bergelombang terus berkibas dengan indah seiring langkahnya di bandara itu. Tubuh indahnya terbalut sempurna dengan sweater putih ketat dan skinny jeans berwarna hitam yang menutupi kaki jenjangnya. Derap sepatu boot dengan bahan tweed wol dengan motif kotak-kotak berwarna hitam dan abu terus terdengar di setiap langkah kaki indahnya. Kacamata hitam dengan logo Chanel bertengger di atas hidung mancungnya. Beberapa orang pria berjas hitam berjalan di samping kiri dan kanannya membawa koper-koper milik Bella.
Bella sampai di luar bandara dan pintu sebuah mobil Alphard hitampun terbuka, mempersilahkannya untuk masuk dan duduk dengan nyaman disana.
"Gue mau langsung ke Bandung." Ucap Bella saat mobil mewah itu mulai melaju.
"Tuan Hirawan sudah menunggu di rumah besar, Nona. Anda harus menyapa kakek anda terlebih dahulu. Sudah satu tahun sejak anda pergi ke Amerika, anda belum menemui beliau lagi." Ucap Kris yang duduk di kursi penumpang sebelah kursi supir.
Bella mendengus kesal, namun tidak mencoba membantah. Iapun menutup matanya mencoba untuk tidur sebentar setelah melalui perjalanan jauh dan jetlag masih menguasainya.
"Nona, anda sudah sampai di rumah besar." Suara Kris membangunkan Bella yang tertidur sepanjang perjalanan dari Bandara.
Dengan malas, Bella turun dari mobil dan memasuki mansion mewah milik sang Kakek. Iapun memasuki pintu utama dan berjalan menuju ruang tengah. Ia melihat seorang Kakek tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, duduk di kursi rodanya.
Bella melepas kacamata hitam yang dikenakannya dan memandang ke arah sang Kakek.
"Bella, kemari Nak. Kakek rindu sekali." Ucap Hirawan dengan sumringah menyambut cucu satu-satunya itu.
Bella tidak bergerak dari posisinya. Pandangannya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Sekarang Kakek udah liat aku 'kan, aku sehat dan aku liat Kakek juga sehat. Jadi sekarang aku mau pulang." Ucap Bella dengan dinginnya. Ia membungkukkan badannya dan berbalik meninggalkan badannya.
"Bella!" teriak sang Kakek. "Kamu masih saja seperti ini. Tahun lalu kamu memutuskan pergi ke Amerika. Kamu lari dari tanggung jawab kamu sebagai penerus perusahaan, dan sekarang kamu pulang tanpa merasa bersalah sama sekali."
Bella membalikkan kembali badannya dan menatap tajam sang kakek.
"Kakek berharap apa dari aku? Yang penting 'kan perusahaan Kakek itu tetep jalan sekarang walaupun Kakek udah gak ngelolanya secara langsung. Kakek 'kan udah ngangkat Om Hendra jadi wakil presdir, dia udah bantu Kakek dari bertahun-tahun lalu, dia udah hafal banget sama perusahaan. Kakek tinggal angkat dia jadi CEO gantiin Kakek, kenapa sih kakek masih berharap aja sama aku? Aku udah bilang aku gak tertarik buat gantiin Kakek!" Teriak Bella pada sang kakek.
"Kakek udah kasih tahu kamu ratusan kali bahkan ribuan kali, perusahaan Kakek ini hanya akan Kakek wariskan pada kamu, cucu kakek satu-satunya. Hendra itu hanya anak dari nenek kamu yang berselingkuh. Dia bukan darah daging Kakek. Kamu adalah satu-satunya harapan Kakek setelah Candra, ayah kamu, meninggalkan kita. Tolong Bella, hanya itu yang kakek inginkan dari kamu, setelah itu Kakek baru bisa mati dengan tenang."
"Ratusan kali lagi aku juga bilang, aku gak mau jadi CEO! Gara-gara Kakek, papa dan mama meninggal! Semuanya terjadi karena Kakek terlalu mikirin perusahaan kakek ini! Jangan pernah berharap aku bakal ngikutin kemauan Kakek!" Teriak Bella marah.
"Kalau kamu gak mau, berarti kamu harus menikah. Kamu akan Kakek nikahkan pada seseorang yang mampu mengemban tugas ini. Kakek sudah punya beberapa nama CEO perusahaan mitra yang masih berstatus single. Jika kamu menikah dengan salah satu dari mereka, kamu tak perlu lagi jadi pimpinan utama. Suami kamu yang akan mengurus perusahaan. Dengan begitu Xander Corp akan semakin besar dan kokoh karena merger perusahaan pasti akan terjadi jika kamu menikah." Ucap Hirawan.
"Kakek masih aja gak ngerti. Aku bukan alat bisnis kakek! Waktu aku di L.A ada berapa pengusaha-pengusaha yang deketin aku, emang aku gak tau Kakek yang ngatur mereka buat kenalan sama aku?! Aku gak akan nikah sama cowok-cowok yang kakek pilih itu! Kalo aku harus nikah, aku akan nikah sama orang yang aku cinta!" Ucap Bella dengan emosi yang meluap-luap.
"Cinta itu bisa mengikuti, Bella. Kakek dan nenekmu pun sama. Begitu juga papa dan mama kamu, menikah karena perjodohan untuk membangun bisnis kita menjadi semakin besar. Kamu juga akan seperti itu, kamu hanya perlu membuka hati kamu. Dulu kamu sempat dekat dengan Logan, penerus Logan Enterprise. Kakek menyesal karena tidak merestui kalian karena usia dia yang masih sangat muda. Tidak taunya sekarang dia jadi direktur utama. Siapa yang nyangka Faris Victor tak berumur panjang." Ucap sang Kakek dengan keras kepalanya.
"Kakek emang udah gak waras! Di dalam otak kakek cuma ada bisnis, bisnis, dan bisnis! Kakek bahkan belum nyadar kenapa nenek selingkuh sampai punya anak! Karena perjodohan itu gak bikin nenek bahagia sama Kakek!" Bentak Bella. Ia benar-benar terperangah dengan ucapan sang Kakek.
"Kamu kira darimana uang yang kamu pakai untuk foya-foya? Setiap hari kamu bisa habiskan puluhan bahkan ratusan juta untuk kesenangan kamu. Itu semua dari bisnis Kakek."
Bella tidak menjawab. Ia merasa lelah karena harus kembali berdebat mengenai masalah ini.
"Okay, Kakek mau aku nikah? Aku bakal cari cowok yang bisa gantiin kakek jadi CEO. Tapi aku pastiin, aku bakal jatuh cinta dulu sama dia, baru aku akan nikahin dia! Aku gak mau hidup kayak Kakek ataupun ayah yang nikah karena perjodohan buat nguatin perusahaan! Dan kakek harus nerima siapapun dia!" ucap Bella memulai negosiasinya.
"Baiklah, kita lihat apakah akan ada laki-laki yang mencintai kamu murni hanya karena cinta? Ternyata cucu kakek ini naif sekali. Kakek akan beri kesempatan untuk kamu cari laki-laki yang tulus mencintai kamu." Ucap Hirawan menyetujui keinginan sang cucu.
Bella terlihat puas dengan jawaban sang Kakek, kemudian Hirawan melanjutkan, "tapi kamu harus ingat, dia harus dari kalangan yang sama dengan kita. Dia juga harus mampu mengemban tugas sebagai CEO. Kakek tidak masalah kalau memang tidak ada perusahaan yang bisa dimerger, perusahaan kakek sudah sangat besar sekarang. Tapi latar belakang calon suami pilihan kamu itu harus betul-betul sesuai dengan standar Kakek. "
"Cinta itu bisa dateng kapan aja dan dimana aja, juga pada siapa aja. Aku gak bisa janjiin apa-apa sama kakek akan seperti apa laki-laki yang akan aku nikahin nanti. Saat aku udah nemuin dia, aku bakal bawa dia kesini. Saat itu mau atau nggak, kakek harus nerima dia." ucap Bella sambil berlalu.
"Kamu bawa dulu saja dia, tapi untuk setuju atau tidak. Itu akan kakek putuskan nanti." ucap Hirawan menutup perdebatan.
Bellapun terus berjalan ke arah pintu utama.
"Gue mau Lamborghini gue. Bawa dia kesini." Perintah Bella pada Kris.
Krispun menghubungi seseorang melalui earpiecenya untuk membawakan mobil Lamborghini Centenario berwarna pink milik Bella dari garasi mansion mewah milik sang kakek.
Tidak berapa lama mobil itu sudah berada di hadapan Bella, iapun membuka pintunya ke arah atas dan memasuki mobil sport mewah itu.
"Gue mau ke Bandung. Ada acara komunitas di Hotel Logan Ritz." Ucap Bella sebelum memasuki mobil, lalu menatap Kris dengan tajam. "Dan Kris, gue minta lo jangan ngikutin gue! Gue heneg liat muka lo!"
Mobil mewah berwarna pink itupun melaju keluar dari area mansion mewah Hirawan Alexander, salah satu pengusaha terkaya di Indonesia sekaligus pemilik Xander Corp.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Liu Zhi
Ck bgtu toh, seru seru
2023-04-17
1
Liu Zhi
huhuhu Bella
2023-04-17
1
Erni Fitriana
ohhhhh dunia novellll....enak banget yakkkkk
2023-01-19
1