"Belom. Gue udah bilang, itu internal TNI, susah buat ngelacaknya. Gue sampe nyewa hacker buat nyelidikin itu. Tapi susah. Kenapa emang? Lo masih penasaran?" Tanya Tere. Ia bekerja sangat keras untuk mengetahui kenapa Dev dikeluarkan dari militer, karena Bella pasti sangat penasaran dengan itu.
"Iyalah. Gue penasaran banget kenapa dia sampe dipecat secara tidak hormat. Oh iya, tahu gak lo, ternyata gue sama Dev pernah ketemu waktu dia masih kelas 1 SMP!" Kemudian Bella menceritakan mengenai semua yang Dev ceritakan padanya tadi.
"Gue kira kalian cuma kenal selewat doang. Gak nyangka lo yang sengklek begini jadi sosok yang berjasa buat dia. Eh tapi dari cerita lo barusan gue jadi yakin, Dev ini emang beneran cowok yang baik. Dia enggak berani nyentuh lo, berarti dia ngehargain lo dan dia juga gak manfaatin tajirnya lo padahal dia tahu lo bucin sama dia. Lo harus pertahanin dia, Bel."
"Iya dong. Cowok yang gue suka bukan cowok sembarangan." Ucap Bella merasa bangga laki-laki pujaan hatinya dipuji oleh Tere yang selama ini selalu berhati-hati dengan laki-laki yang dekat dengan Bella.
"Iya gue dukung kali ini hubungan lo sama Dev. Akhirnya lo nemuin cowok yang tepat. Semoga Dev bisa ngubah lo jadi lebih waras."
"Sialan, jadi selama ini lo nganggep gue gila?!" Tanya Bella tersinggung, untuk kedua kalinya Tere mengatakan ia harus lebih waras.
"Bagus deh kalau lo nyadar." Ucap Tere tanpa perasaan. Bella hanya mendengus kesal.
"Ter, lo harus cari tahu terus ya tentang alasan Dev sampe diberhentiin dari TNI. Lo pernah bilang 'kan dia pilot handal, berarti dia kepake dong. Tapi kenapa malah dikeluarin? Ganjil banget gak sih?"
"Iya sih, emang aneh. Oh Iya, tadi sore gue dapet info terbaru dari detektif yang gue sewa." Tere mengeluarkan tab dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Bella.
Dalam laporan itu mengatakan bahwa Ayah Dev adalah seorang pemilik perusahaan farmasi. Ia seorang ilmuwan sekaligus pebisnis. Perusahaannya sudah cukup besar, namun bangkrut pada saat Dev kelas 8 dan setelah itu ibunya meninggal karena sakit jantung. Dev dan sang ayah hidup dengan sederhana karena semua harta mereka sudah tidak ada lagi sejak itu. Saat Dev lulus dari pendidikan militer, ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan.
"Gue makin penasaran." Gumam Bella setelah melihat laporan itu.
"Ngungkap kasus pemberhentian dia dari militer adalah kesempatan lo buat deket sama Dev, Bel. Gue yakin ada sesuatu di kasus ini. Sekarang gue mau nanya sama lo. Lo sampe kapan bakal ngajakin Dev nikah?"
"Ya sampe dia maulah." Ucap Bella dengan semangat pantang menyerah.
"Lo salah strategi. Kalo lo emang pengen milikin dia, lo gak bisa terus-terusan minta dia nikah. Dev bukan tipe cowok yang bakal bilang iya, mau lo ngajakin dia nikah ribuan kali juga pasti dia gak akan mau."
"Terus gimana?" tanya Bella.
"Lo harus bisa bikin dia sendiri yang bilang mau nikah sama lo."
"Gimana caranya?"
"Lo harus deketin dia pelan-pelan. Salah satunya lo tawarin dia bantuan buat ngungkap alasan kenapa dia sampe harus ngakuin sesuatu yang gak pernah dia lakuin, sampe-sampe dia dicap sebagai pengkhianat. Untuk itu lo butuh kekuasaan yang besar biar lo bisa punya akses kemana-mana. Lo harus mulai mikirin buat bisa ada di posisi paling tinggi, lebih tinggi dari siapapun juga." ucap Tere.
Bella menatap Tere tidak mengerti. Ia termenung mencerna ucapan sahabatnya.
***
Pagi harinya Bella terbangun karena suara dering telepon di ponselnya. Dalam keadaan setengah sadar, Bella mengangkat telepon itu.
"Halo?" Bella masih memejamkan matanya.
"Bel, gue ada di basement apartemen lo. Lo bisa kesini?" Tanya seseorang bersuara bass di seberang sana.
Bella menjauhkan HPnya dari telinganya dan menatap layar, terpampang nama laki-laki pemilik hatinya disana. Seketika dia bangkit dari tidurnya.
"Dev?! Lo di basement? Lo kesini aja. Lantai paling atas unit 401." Ucap Bella segera.
"Ya udah, gue ke atas." Ucap Dev kemudian menutup teleponnya.
"Gila, gue mimpi gak sih, ngapain Dev kesini?" Kantuk yang Bella rasakan beberapa detik lalu kini menghilang setelah mendengar suara Dev.
Ia bergegas ke kamar mandi, mencuci mukanya dan gosok gigi. Ia menyisir rambutnya dan bel apartemennya berbunyi.
"Okay, gue gak terlalu kelihatan berantakan. Malahan gue keliatan imut baru bangun tidur kayak gini. Gue emang cantik dalam keadaan apapun." Ucap Bella memeriksa penampilannya sebelum membukakan pintu untuk Dev.
Bella berjalan bergegas menuju pintu apartemennya dan ketika pintu terbuka, Dev berdiri disana. Terlihat sangat tampan seperti biasa.
"Masuk, Dev." Bella mempersilahkan Dev masuk ke apartemennya sambil tersenyum manis pada sang pujaan hati.
Dev melangkahkan kakinya dan melepas sepatu yang dikenakannya. Masuk beberapa langkah dan terlihat mengedarkan pandangannya beberapa saat, terlihat sedikit terperangah melihat betapa mewahnya apartemen Bella. Kemudian Dev menatap ke arah Bella.
"Gue gak akan lama. Gue kesini mau ngambil jaket gue, dan ngembaliin ini." Dev menyodorkan sebuah tote bag pada Bella.
Bella menerimanya dengan bingung, ia lihat di dalam tote bag itu terdapat kunci motor dan juga BPKB motor ninja kawasaki H2 yang tempo hari ia serahkan pada geng Black Panther.
"Ini kenapa dibalikin?" Tanya Bella, perasaannya tidak enak.
"Gue gak bisa ngebiarin lo ngasih motor ini ke anak-anak. Gue gak pengen mereka ngerasa berhutang budi sama lo." Ucap Dev.
"Tapi mereka 'kan fair taruhannya. Mereka berhak dapetin motor ini."
"Lo 'kan yang menang, lo yang harus nerima hadiahnya. Gue udah ngikutin mau lo waktu itu. Itu udah cukup 'kan, mereka gak perlu dapetin motor lo juga. Motor lo udah ada di basement. Sekarang gue minta jaket gue balik."
Bella menatap kedua mata Dev, "Lo kenapa kayak yang nyuruh gue buat gak ketemu lo lagi?"
"Ternyata lo pinter bisa tahu maksud gue, gue minta kita gak usah ketemu lagi seudah ini." Ucap Dev dengan wajah sedih.
"Kenapa?" Bella merasakan hatinya berdenyut nyeri.
Dev menghela nafasnya dan kemudian berkata, "Udah gak usah kita terusin semua ini, Bel."
"Iya kenapa?! Kenapa lo gak mau nerusin semuanya sama gue? Kita pacaran aja belum. Gue kurang apa? Kalau ada yang lo gak suka, gue bakal berubah demi lo!" Bella begitu histeris.
"Gue gak bisa terus-terusan deket sama lo. Gue gak mau ngasih lo harapan. Lo harus lanjutin hidup lo kayak sebelum kenal gue. Dunia kita beda, Bel. Kita gak mungkin jadian."
"Beda kenapa? Gue udah bilang gue bakal lepasin semua yang gue punya, gue bakal masuk ke dunia lo!"
"Bel, lo gak akan bisa hidup kayak gue. Mulai sekarang gue gak akan nerima telepon lo lagi, gue juga gak akan ngebiarin lo masuk ke tempat kost gue lagi. Lo jangan cari gue lagi."
Bella tidak bisa menahan emosinya, seketika ia rengkuh tubuh Dev dalam pelukannya.
"Lo jangan gini dong. Gue sayang sama lo, Dev." Sebutir air mata jatuh di pipi Bella.
Dev melepaskan tangan Bella yang melingkar di tubuhnya.
"Sorry, Bel. Gue gak bisa." Ucap Dev. Ia tatap dengan lekat wajah Bella sebelum membalikkan badannya dan melangkah keluar apartemen.
Bella masih terpaku pada posisinya memandang Dev yang keluar dari pintu apartemen. Pintupun tertutup dan tepat saat itu, Bella melemparkan tote bag itu ke pintu.
"Dev, lo jahat!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Yaser Levi
cwo payah..tp klu hatinya cuma setengah2..ya bgtu lah
2024-01-13
2
Erni Fitriana
aku pikir dev ada yg neken nih????
2023-01-21
1
Chandra Dollores
sudah q duga... judul babnya menyeramkan...
ternyata Dev milih mundur.. belum juga jadian..
bangke ko Dev... seenaknya aja ninggalin.. berjuang juga belum..
awas ko Dev!!!
2023-01-03
1