Bab 14: Masa lalu

Dev terdiam mendengar permintaan Bella.

"Lo gak mau nikah sama Kris?" Tanya Dev.

"Ya enggaklah! Gue gak suka sama dia! Gue maunya nikah sama lo!" Ucap Bella dengan tegas.

"Bel, nikah itu bukan main-main. Lo belum kenal siapa gue. Gue gak bisa nikah sama lo, apalagi ketemu sama kakek lo." Dev melepas genggaman tangan Bella.

Bella merasakan hatinya berdenyut sakit.

"Jadi lo lebih suka gue nikah sama cowok lain? Kenapa sih lo gak ngakuin kalo lo juga suka sama gue?"

Dev menatap Bella dengan perasaan bersalah.

"Gue cuma mau lo realistis. Sekarang lo liat diri lo sendiri, dan lo liat gue. Kita tuh beda, gue gak mungkin nikahin lo."

"Kenapa? Karena lo gak punya pekerjaan tetap? Lo keberatan karena gue berasal dari kalangan atas? Gue bersedia kok kalo harus ngelepas semuanya demi lo." Ucap Bella lirih.

Dev menghela nafas.

"Bel, gue gak seberharga itu sampe lo harus ngelepas semua yang lo punya demi gue. Lo harus mertahanin apa yang udah jadi milik lo. Gue sama lo gak mungkin bisa bareng-bareng."

"Lo masih suka sama cewek itu!? Makanya lo ngomong kayak gitu, iya 'kan!?" Teriak Bella.

Bella beranjak dari duduknya, dengan marah ia berkata, "Gue bakal cari cewek itu! Lihat aja lo bakal nyesel nolak gue!"

Bella keluar dari kamar Dev. Ia menembus guyuran hujan dan berlari menuruni tangga. Dev mengejar Bella yang terus berlari hingga keluar dari gerbang rumah susun itu.

"Bel! Lo mau kemana? Ini hujannya gede banget. Lo bisa sakit nanti." Akhirnya Dev berhasil meraih tangan Bella, namun dengan cepat Bella menangkis tangan Dev.

"Lo tuh kalo mau nolak, nolak aja! Gak usah sok baik sama gue! Lo gak perlu peduliin gue lagi. Gue mau pulang!" Bella membalikkan badannya dan bersiap pergi.

"Lo kelas 10 sekolah di SMA Satya Bandung 'kan." Teriak Dev di tengah hujan.

Bella menghentikan langkahnya.

"Lo waktu itu pernah nolongin anak SMP yang lagi dibuli. Pulang sekolah anak itu dipalak sama temen-temennya terus dihajar rame-rame. Anak itu ketakutan teriak minta tolong sambil nangis."

Bella membalikkan badannya. Kisah yang sedang Dev ceritakan terasa familiar baginya.

"Terus lo dateng nolongin anak itu. Lo hajar mereka satu-satu sampe mereka minta maaf sama anak itu. Terus lo bilang: Lo tuh cowok! Masa digangguin lo malah diem aja? Lawan dong! Cowok itu harus kuat! Gimana lo bisa

lindungin orang yang lo sayang kalo lo lemah kayak gitu? Lo tahu tentara 'kan? Mereka cowok-cowok keren yang berhati baik dan kuat fisik juga mentalnya. Lo harus bisa kayak gitu!"

Bella teringat kacamata yang ia lihat di kamar Dev tadi. Ia menatap Dev yang sekujur tubuhnya basah karena hujan.

"Lo anak gendut yang pake kacamata itu?" Bella mulai mengingat kejadian itu.

Dev menganggukkan kepalanya.

Bella masih belum mempercayainya. Anak laki-laki berbadan gemuk yang saat itu lebih pendek darinya, berkacamata, dan berpakaian culun itu berubah menjadi seorang Dev yang bertubuh kekar, tampan, dan begitu mempesona.

"Omongon lo selalu gue inget. Gue mulai berubah sejak ketemu lo waktu itu. Gue belajar bela diri, gue lawan semua yang ngebuli gue sampe gak ada lagi yang berani gangguin gue."

Dev melangkah menghampiri Bella yang masih menyimaknya.

"Semenjak ketemu lo waktu itu, gue gak pernah berhenti mikirin lo. Gue sering nanya kapan gue bisa ketemu lo lagi. Tapi kesempatan itu gak pernah ada karena ternyata lo pindah ke Jakarta. Gue cuma bisa liat lo di instagram lo. Sampe akhirnya lo muncul di depan gue waktu di Hotel Logan Ritz. Gue bener-bener gak nyangka bisa ketemu lo lagi setelah sekian lama."

Dev meraih tangan Bella.

"Bel, lo cewek itu. Cewek yang selalu gue kagumin sejak kelas 1 SMP sampai sekarang. Lo cewek yang bikin gue mutusin buat masuk AKMIL.”

***

Hujan masih turun dengan sangat deras. Bella kini terduduk di sofa kamar Dev setelah ia mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos dan celana boxer milik Dev. Dev keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemarinya sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya.

Bella beranjak dari duduknya dan memeluk Dev yang baru saja memakai kaosnya.

"Bel!" Dev kembali terkejut karena sekali lagi Bella memeluknya dari belakang.

"Gue kedinginan." Rajuk Bella.

"Lo nyadar gak sih, omongan lo barusan itu bahaya, tahu gak?"

"Gue mau kok ngelakuin sesuatu yang berbahaya bareng lo. Lo 'kan suka sama gue. Kita lakuin sekarang juga gue mau!" Ucap Bella dengan frontalnya.

Dev dengan sekuat tenaga melepas tangan Bella yang melingkar di sekeliling tubuhnya.

"Gue gak mau ngelakuin itu sama lo." Ucap Dev dengan tegas.

"Kok gitu? Gue udah siap lahir batin, kok!"

"Emang lo siapa gue sampe kita harus ngelakuin itu." Tanya Dev yang kini mengeluarkan selimut tambahan dari dalam lemarinya.

"Lo pacar gue. Lo 'kan tadi udah nyatain perasaan lo." Ucap Bella tersenyum manis.

Dev tersipu mendengar ucapan Bella, namun dengan segera ia menguasai dirinya lagi.

"Gue cuma bilang, lo itu cewek yang selama ini gue kagumin. Gue gak nyatain perasaan gue. Udah sekarang lo tidur, besok pagi gue anter lo pulang."

“Lo masih aja pura-pura gak suka sama gue.” Ucap Bella tersenyum gemas.

Dev tidak melanjutkan percakapan itu. Ia mengambil sebuah bantal di kasurnya dan meletakkannya di sofa. Kemudian berbaring disana dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dibawanya dari lemari.

"Lo kok tidur di sofa? Kasur lo 'kan luas. Kita bisa tidur berdua disini. Beneran tidur gak ngapa-ngapain. Ntar lo sakit badan tidur di sofa kayak gitu."

Dev menantap ke arah Bella, "gue gak mau ambil resiko."

"Lo takut ya gak bisa nahan pesona gue." Ucap Bella dengan percaya diri.

"Nah itu lo tahu." Ucap Dev yang kini sudah memejamkan matanya.

Bella tersenyum kemudian menghampiri Dev, dan berbisik "Marry Me, Dev."

Dev membuka matanya, dan berkata, "tidur, Bel." Kemudian ia memenjamkan matanya lagi.

Bella cemberut karena Dev mengacuhkannya.

“Ini baru jam 7 malem. Masa lo udah mau tidur sih?” Gerutu Bella.

Dev tidak menjawab dan masih memejamkan matanya.

“Dev, gue laper. Emang lo gak akan makan malem? Lo juga belum makan 'kan?” Bella menggoyang-goyangkan bahu Dev.

“Lo tuh jadi cewek ngerepotin banget sih.” Devpun bangkit dengan kesal. Namun kemudian berkata, “mau makan apa?”

“Lo punya apa? Di luar hujan kita gak bisa nyari makanan. Pesen online juga gue bosen. Makan yang ada aja gak apa-apa.”

“Gue cuma punya mie instan.”

“Gue mau!” ucap Bella sumringah.

Dev pun berjalan ke dapur kecilnya dan mulai memasak mie instan untuk Bella. Bella memperhatikan Dev yang sedang meracik mie instan untuknya.

“Lo kayak yang kelaperan gitu sih? Udah tunggu di sofa aja.” Dev membuka bumbu dan menuangkannya ke mangkok.

“Gue kalau di rumah gak boleh makan ini. Hmmm.. wangi banget, cepetan Dev gue udah laper banget!” Ucap Bella yang sudah tidak sabar.

“Kenapa gak boleh? Siapa yang gak ngebolehin?” Tanya Dev.

“Bodyguard gue, ART gue. Mereka selalu ngecekin semua yang gue makan. Mie instan 'kan gak sehat. Jadi gue suka gak dibolehin makan ini.”

“Lebay.” Ucap Dev sambil menuangkan mie yang sudah matang ke dalam mangkok.

“Ya gitu deh jadi gue, malesin 'kan.” Timpal Bella dengan wajah cemberut.

Dev membawakan mangkok berisi mie itu ke meja yang terdapat di depan sofa. Bella duduk di sofa itu dan segera menyantap mie yang masih panas. Suapan pertama berhasil masuk ke mulutnya.

“Enak banget. Udah lama gue gak makan mie!” Ucap Bella sumringah. Dev hanya tersenyum melihat Bella yang terlihat gembira hanya karena makan mie instan.

Bella memandang ke arah Dev, “lo gak makan?”

“Enggak. Lo aja yang makan.” Ucap Dev. Melihat Bella yang makan dengan lahap sudah membuatnya kenyang.

“Emang lo gak laper?” Ucap Bella kemudian menyeruput kuah mienya hingga habis tak bersisa.

“Enggak. Gue gak laper.”

Tiba-tiba terdengar suara perut Dev yang meminta untuk diisi.

“Bohong banget.” Cibir Bella, “Gue bikinin ya!” Dengan riang Bella berjalan menuju dapur.

“Gak usah, Bel.” Ucap Dev. Bella tidak memerdulikan Dev dan mulai mengambil sebungkus mie instan yang terletak di cabinet dapur kecil itu.

Dev menunggu Bella membuat mie untuknya sambil duduk di sofa dan memainkan HPnya.

PRAKK!!

Tiba-tiba terdengar suara benda pecah dari dapur. Dev segera menghampiri Bella.

“Sorry, gue gak hati-hati.” Ucap Bella, mangkok yang akan dipakainya untuk menuangkan bumbu pecah menjadi beberapa serpihan dan berserakan di lantai.

“Kaki lo berdarah.” Dev melihat punggung kaki Bella sedikit tergores oleh pecahan kaca dan mengeluarkan sedikit darah.

Terpopuler

Comments

Erni Fitriana

Erni Fitriana

sukaaaaaaa bacanya....angkat topi sama dev...kuat menjaga iminnnnn nyah💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏

2023-01-20

1

Chandra Dollores

Chandra Dollores

ayoo kisanak...tetap tancap gas.... aq setia menunggu.....

2022-12-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Prolog
2 Bab 2: Perdebatan
3 Bab 3: Laki-laki Spiderman
4 Bab 4: Siasat
5 Bab 5: Red Eagle
6 Bab 6: Taruhan
7 Bab 7: Lo Gak Inget Siapa Gue?
8 Bab 8: Kissmark
9 Bab 9: Dua Laki-laki
10 Bab 10: Dua Yatim Piatu
11 Bab 11: Perempuan yang Disukai Dev
12 Bab 12: Ambisi Kris
13 Bab 13: Cuma Gue yang Boleh Nyium Lo
14 Bab 14: Masa lalu
15 Bab 15: Selamat Tidur, Anak Gendut
16 Bab 16: Peran Ganda Tere
17 Bab 17: Dev, Lo jahat!
18 Bab 18: Ratu Xander Corp
19 Bab 19: Tekad Bella
20 Bab 20: Bertemu di Tempat Tertinggi
21 Bab 21: Jebakan untuk Dev
22 Bab 22: Mengisi Posisi Kris
23 Bab 23: Bodyguard Kesayangan
24 Bab 24: Ungkapan Hati Dev
25 Bab 25: Selamat Pagi
26 Bab 26: Memahami Bella
27 Bab 27: Dev Cemburu
28 Bab 28: Obat Sakit Kepala
29 Bab 29: Pengawal vs Mantan Pengawal
30 Bab 30: Hari yang Buruk bagi Dev
31 Bab 31: Penyesalan Dev
32 Bab 32: Komitmen
33 Bab 33: Pillow Talk di Pagi Hari
34 Bab 34: Pacar Kepala Batu
35 Bab 35: Jamuan Bisnis
36 Bab 36: Ledakan Emosi
37 Bab 37: Kebenaran
38 Bab 38: Syarat
39 Bab 39: Amarah
40 Bab 40: Resah
41 Bab 41: Aku dan Kamu
42 Bab 42: Lelah
43 Bab 43: Sayang
44 Bab 44: Pengawal Resmi Xander
45 Bab 45: Strategi
46 Bab 46: Tipe Ideal
47 Bab 47: Bantuan Mr. Nates
48 Bab 48: Transformasi
49 Bab 49: Kelopak Mawar Merah
50 Bab 50: Sesi Berendam
51 Bab 51: Hacker Pro
52 Bab 52: Abbas
53 Bab 53: Duel Dua Putri Xander
54 Bab 54: Tenang Sebelum Badai
55 Bab 55: Instruksi Sederhana
56 Bab 56: Alpha Eagle
57 Bab 57: Pembalasan
58 Bab 58: Hilang Kontak
59 Bab 59: Penculikan
60 Bab 60: Breaking News
61 Bab 61: Pengadilan
62 Bab 62: Hukuman
63 Bab 63: Ditemukan Selamat
64 Bab 64: Makasih Udah Bertahan
65 Bab 65: Bahagia dan Ringan
66 Bab 66: Konsekuensi
67 Bab 67: Muak
68 Bab 68: Diculik
69 Bab 69: Alasan Kuat
70 Bab 70: Malam Sekelam Vantablack
71 Bab 71: Menghukum Kris
72 Bab 72: Menjadi Suami Bella
73 Bab 73: Anak Kita
74 Bab 74: Pembenaran
75 Bab 75: Marry Me, Bella
76 Bab 76: Alec Xander Bentlee (end)
77 Ekstra 1: Terimakasih Banyak Readers!
78 Ekstra 2: Wanita Rahasia Daddy Zach
79 Ekstra 3: Pengorbanan Nayara
80 Ekstra 4: The Bad Boy and His Nanny
81 Ekstra 5: Om Rey Tersayang
82 Ekstra 6: My Big Girl
83 Ekstra 7: Single Mom
84 Ekstra 8: Miss Rania, I Love You
85 Ekstra 9: Mengejar Cinta Nabila
86 Ekstra 10: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1: Prolog
2
Bab 2: Perdebatan
3
Bab 3: Laki-laki Spiderman
4
Bab 4: Siasat
5
Bab 5: Red Eagle
6
Bab 6: Taruhan
7
Bab 7: Lo Gak Inget Siapa Gue?
8
Bab 8: Kissmark
9
Bab 9: Dua Laki-laki
10
Bab 10: Dua Yatim Piatu
11
Bab 11: Perempuan yang Disukai Dev
12
Bab 12: Ambisi Kris
13
Bab 13: Cuma Gue yang Boleh Nyium Lo
14
Bab 14: Masa lalu
15
Bab 15: Selamat Tidur, Anak Gendut
16
Bab 16: Peran Ganda Tere
17
Bab 17: Dev, Lo jahat!
18
Bab 18: Ratu Xander Corp
19
Bab 19: Tekad Bella
20
Bab 20: Bertemu di Tempat Tertinggi
21
Bab 21: Jebakan untuk Dev
22
Bab 22: Mengisi Posisi Kris
23
Bab 23: Bodyguard Kesayangan
24
Bab 24: Ungkapan Hati Dev
25
Bab 25: Selamat Pagi
26
Bab 26: Memahami Bella
27
Bab 27: Dev Cemburu
28
Bab 28: Obat Sakit Kepala
29
Bab 29: Pengawal vs Mantan Pengawal
30
Bab 30: Hari yang Buruk bagi Dev
31
Bab 31: Penyesalan Dev
32
Bab 32: Komitmen
33
Bab 33: Pillow Talk di Pagi Hari
34
Bab 34: Pacar Kepala Batu
35
Bab 35: Jamuan Bisnis
36
Bab 36: Ledakan Emosi
37
Bab 37: Kebenaran
38
Bab 38: Syarat
39
Bab 39: Amarah
40
Bab 40: Resah
41
Bab 41: Aku dan Kamu
42
Bab 42: Lelah
43
Bab 43: Sayang
44
Bab 44: Pengawal Resmi Xander
45
Bab 45: Strategi
46
Bab 46: Tipe Ideal
47
Bab 47: Bantuan Mr. Nates
48
Bab 48: Transformasi
49
Bab 49: Kelopak Mawar Merah
50
Bab 50: Sesi Berendam
51
Bab 51: Hacker Pro
52
Bab 52: Abbas
53
Bab 53: Duel Dua Putri Xander
54
Bab 54: Tenang Sebelum Badai
55
Bab 55: Instruksi Sederhana
56
Bab 56: Alpha Eagle
57
Bab 57: Pembalasan
58
Bab 58: Hilang Kontak
59
Bab 59: Penculikan
60
Bab 60: Breaking News
61
Bab 61: Pengadilan
62
Bab 62: Hukuman
63
Bab 63: Ditemukan Selamat
64
Bab 64: Makasih Udah Bertahan
65
Bab 65: Bahagia dan Ringan
66
Bab 66: Konsekuensi
67
Bab 67: Muak
68
Bab 68: Diculik
69
Bab 69: Alasan Kuat
70
Bab 70: Malam Sekelam Vantablack
71
Bab 71: Menghukum Kris
72
Bab 72: Menjadi Suami Bella
73
Bab 73: Anak Kita
74
Bab 74: Pembenaran
75
Bab 75: Marry Me, Bella
76
Bab 76: Alec Xander Bentlee (end)
77
Ekstra 1: Terimakasih Banyak Readers!
78
Ekstra 2: Wanita Rahasia Daddy Zach
79
Ekstra 3: Pengorbanan Nayara
80
Ekstra 4: The Bad Boy and His Nanny
81
Ekstra 5: Om Rey Tersayang
82
Ekstra 6: My Big Girl
83
Ekstra 7: Single Mom
84
Ekstra 8: Miss Rania, I Love You
85
Ekstra 9: Mengejar Cinta Nabila
86
Ekstra 10: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!