Dev terdiam mendengar permintaan Bella.
"Lo gak mau nikah sama Kris?" Tanya Dev.
"Ya enggaklah! Gue gak suka sama dia! Gue maunya nikah sama lo!" Ucap Bella dengan tegas.
"Bel, nikah itu bukan main-main. Lo belum kenal siapa gue. Gue gak bisa nikah sama lo, apalagi ketemu sama kakek lo." Dev melepas genggaman tangan Bella.
Bella merasakan hatinya berdenyut sakit.
"Jadi lo lebih suka gue nikah sama cowok lain? Kenapa sih lo gak ngakuin kalo lo juga suka sama gue?"
Dev menatap Bella dengan perasaan bersalah.
"Gue cuma mau lo realistis. Sekarang lo liat diri lo sendiri, dan lo liat gue. Kita tuh beda, gue gak mungkin nikahin lo."
"Kenapa? Karena lo gak punya pekerjaan tetap? Lo keberatan karena gue berasal dari kalangan atas? Gue bersedia kok kalo harus ngelepas semuanya demi lo." Ucap Bella lirih.
Dev menghela nafas.
"Bel, gue gak seberharga itu sampe lo harus ngelepas semua yang lo punya demi gue. Lo harus mertahanin apa yang udah jadi milik lo. Gue sama lo gak mungkin bisa bareng-bareng."
"Lo masih suka sama cewek itu!? Makanya lo ngomong kayak gitu, iya 'kan!?" Teriak Bella.
Bella beranjak dari duduknya, dengan marah ia berkata, "Gue bakal cari cewek itu! Lihat aja lo bakal nyesel nolak gue!"
Bella keluar dari kamar Dev. Ia menembus guyuran hujan dan berlari menuruni tangga. Dev mengejar Bella yang terus berlari hingga keluar dari gerbang rumah susun itu.
"Bel! Lo mau kemana? Ini hujannya gede banget. Lo bisa sakit nanti." Akhirnya Dev berhasil meraih tangan Bella, namun dengan cepat Bella menangkis tangan Dev.
"Lo tuh kalo mau nolak, nolak aja! Gak usah sok baik sama gue! Lo gak perlu peduliin gue lagi. Gue mau pulang!" Bella membalikkan badannya dan bersiap pergi.
"Lo kelas 10 sekolah di SMA Satya Bandung 'kan." Teriak Dev di tengah hujan.
Bella menghentikan langkahnya.
"Lo waktu itu pernah nolongin anak SMP yang lagi dibuli. Pulang sekolah anak itu dipalak sama temen-temennya terus dihajar rame-rame. Anak itu ketakutan teriak minta tolong sambil nangis."
Bella membalikkan badannya. Kisah yang sedang Dev ceritakan terasa familiar baginya.
"Terus lo dateng nolongin anak itu. Lo hajar mereka satu-satu sampe mereka minta maaf sama anak itu. Terus lo bilang: Lo tuh cowok! Masa digangguin lo malah diem aja? Lawan dong! Cowok itu harus kuat! Gimana lo bisa
lindungin orang yang lo sayang kalo lo lemah kayak gitu? Lo tahu tentara 'kan? Mereka cowok-cowok keren yang berhati baik dan kuat fisik juga mentalnya. Lo harus bisa kayak gitu!"
Bella teringat kacamata yang ia lihat di kamar Dev tadi. Ia menatap Dev yang sekujur tubuhnya basah karena hujan.
"Lo anak gendut yang pake kacamata itu?" Bella mulai mengingat kejadian itu.
Dev menganggukkan kepalanya.
Bella masih belum mempercayainya. Anak laki-laki berbadan gemuk yang saat itu lebih pendek darinya, berkacamata, dan berpakaian culun itu berubah menjadi seorang Dev yang bertubuh kekar, tampan, dan begitu mempesona.
"Omongon lo selalu gue inget. Gue mulai berubah sejak ketemu lo waktu itu. Gue belajar bela diri, gue lawan semua yang ngebuli gue sampe gak ada lagi yang berani gangguin gue."
Dev melangkah menghampiri Bella yang masih menyimaknya.
"Semenjak ketemu lo waktu itu, gue gak pernah berhenti mikirin lo. Gue sering nanya kapan gue bisa ketemu lo lagi. Tapi kesempatan itu gak pernah ada karena ternyata lo pindah ke Jakarta. Gue cuma bisa liat lo di instagram lo. Sampe akhirnya lo muncul di depan gue waktu di Hotel Logan Ritz. Gue bener-bener gak nyangka bisa ketemu lo lagi setelah sekian lama."
Dev meraih tangan Bella.
"Bel, lo cewek itu. Cewek yang selalu gue kagumin sejak kelas 1 SMP sampai sekarang. Lo cewek yang bikin gue mutusin buat masuk AKMIL.”
***
Hujan masih turun dengan sangat deras. Bella kini terduduk di sofa kamar Dev setelah ia mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos dan celana boxer milik Dev. Dev keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemarinya sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya.
Bella beranjak dari duduknya dan memeluk Dev yang baru saja memakai kaosnya.
"Bel!" Dev kembali terkejut karena sekali lagi Bella memeluknya dari belakang.
"Gue kedinginan." Rajuk Bella.
"Lo nyadar gak sih, omongan lo barusan itu bahaya, tahu gak?"
"Gue mau kok ngelakuin sesuatu yang berbahaya bareng lo. Lo 'kan suka sama gue. Kita lakuin sekarang juga gue mau!" Ucap Bella dengan frontalnya.
Dev dengan sekuat tenaga melepas tangan Bella yang melingkar di sekeliling tubuhnya.
"Gue gak mau ngelakuin itu sama lo." Ucap Dev dengan tegas.
"Kok gitu? Gue udah siap lahir batin, kok!"
"Emang lo siapa gue sampe kita harus ngelakuin itu." Tanya Dev yang kini mengeluarkan selimut tambahan dari dalam lemarinya.
"Lo pacar gue. Lo 'kan tadi udah nyatain perasaan lo." Ucap Bella tersenyum manis.
Dev tersipu mendengar ucapan Bella, namun dengan segera ia menguasai dirinya lagi.
"Gue cuma bilang, lo itu cewek yang selama ini gue kagumin. Gue gak nyatain perasaan gue. Udah sekarang lo tidur, besok pagi gue anter lo pulang."
“Lo masih aja pura-pura gak suka sama gue.” Ucap Bella tersenyum gemas.
Dev tidak melanjutkan percakapan itu. Ia mengambil sebuah bantal di kasurnya dan meletakkannya di sofa. Kemudian berbaring disana dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dibawanya dari lemari.
"Lo kok tidur di sofa? Kasur lo 'kan luas. Kita bisa tidur berdua disini. Beneran tidur gak ngapa-ngapain. Ntar lo sakit badan tidur di sofa kayak gitu."
Dev menantap ke arah Bella, "gue gak mau ambil resiko."
"Lo takut ya gak bisa nahan pesona gue." Ucap Bella dengan percaya diri.
"Nah itu lo tahu." Ucap Dev yang kini sudah memejamkan matanya.
Bella tersenyum kemudian menghampiri Dev, dan berbisik "Marry Me, Dev."
Dev membuka matanya, dan berkata, "tidur, Bel." Kemudian ia memenjamkan matanya lagi.
Bella cemberut karena Dev mengacuhkannya.
“Ini baru jam 7 malem. Masa lo udah mau tidur sih?” Gerutu Bella.
Dev tidak menjawab dan masih memejamkan matanya.
“Dev, gue laper. Emang lo gak akan makan malem? Lo juga belum makan 'kan?” Bella menggoyang-goyangkan bahu Dev.
“Lo tuh jadi cewek ngerepotin banget sih.” Devpun bangkit dengan kesal. Namun kemudian berkata, “mau makan apa?”
“Lo punya apa? Di luar hujan kita gak bisa nyari makanan. Pesen online juga gue bosen. Makan yang ada aja gak apa-apa.”
“Gue cuma punya mie instan.”
“Gue mau!” ucap Bella sumringah.
Dev pun berjalan ke dapur kecilnya dan mulai memasak mie instan untuk Bella. Bella memperhatikan Dev yang sedang meracik mie instan untuknya.
“Lo kayak yang kelaperan gitu sih? Udah tunggu di sofa aja.” Dev membuka bumbu dan menuangkannya ke mangkok.
“Gue kalau di rumah gak boleh makan ini. Hmmm.. wangi banget, cepetan Dev gue udah laper banget!” Ucap Bella yang sudah tidak sabar.
“Kenapa gak boleh? Siapa yang gak ngebolehin?” Tanya Dev.
“Bodyguard gue, ART gue. Mereka selalu ngecekin semua yang gue makan. Mie instan 'kan gak sehat. Jadi gue suka gak dibolehin makan ini.”
“Lebay.” Ucap Dev sambil menuangkan mie yang sudah matang ke dalam mangkok.
“Ya gitu deh jadi gue, malesin 'kan.” Timpal Bella dengan wajah cemberut.
Dev membawakan mangkok berisi mie itu ke meja yang terdapat di depan sofa. Bella duduk di sofa itu dan segera menyantap mie yang masih panas. Suapan pertama berhasil masuk ke mulutnya.
“Enak banget. Udah lama gue gak makan mie!” Ucap Bella sumringah. Dev hanya tersenyum melihat Bella yang terlihat gembira hanya karena makan mie instan.
Bella memandang ke arah Dev, “lo gak makan?”
“Enggak. Lo aja yang makan.” Ucap Dev. Melihat Bella yang makan dengan lahap sudah membuatnya kenyang.
“Emang lo gak laper?” Ucap Bella kemudian menyeruput kuah mienya hingga habis tak bersisa.
“Enggak. Gue gak laper.”
Tiba-tiba terdengar suara perut Dev yang meminta untuk diisi.
“Bohong banget.” Cibir Bella, “Gue bikinin ya!” Dengan riang Bella berjalan menuju dapur.
“Gak usah, Bel.” Ucap Dev. Bella tidak memerdulikan Dev dan mulai mengambil sebungkus mie instan yang terletak di cabinet dapur kecil itu.
Dev menunggu Bella membuat mie untuknya sambil duduk di sofa dan memainkan HPnya.
PRAKK!!
Tiba-tiba terdengar suara benda pecah dari dapur. Dev segera menghampiri Bella.
“Sorry, gue gak hati-hati.” Ucap Bella, mangkok yang akan dipakainya untuk menuangkan bumbu pecah menjadi beberapa serpihan dan berserakan di lantai.
“Kaki lo berdarah.” Dev melihat punggung kaki Bella sedikit tergores oleh pecahan kaca dan mengeluarkan sedikit darah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
sukaaaaaaa bacanya....angkat topi sama dev...kuat menjaga iminnnnn nyah💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
2023-01-20
1
Chandra Dollores
ayoo kisanak...tetap tancap gas.... aq setia menunggu.....
2022-12-30
1