Bella menempelkan kartu untuk mengakses salah satu kamar hotel yang disewakan sahabatnya, Hazel, setelah menghadiri acara perpisahan pacar Hazel yang akan kuliah ke Korea. Pintupun terbuka dan Bella masuk ke kamar suite itu.
Seluruh badannya sangat lelah, lengket dengan keringat. Siang tadi ia baru saja tiba dari Los Angeles, langsung menemui sang Kakek, kemudian berkendara ke Bandung dengan mobil sport kesayangannya. Ia masuk ke kamar mandi, dan berjalan menuju sebuah bathtub berbentuk bulat yang ada di sisi dinding kaca kamar mandi mewah itu.
Bella menyalakan keran air hangat untuk mengisi bathtub, ia meletakkan telapak tangannya di aliran air keran itu. Hanya menyentuhnya saja sudah membuat Bella tidak sabar untuk ingin segera masuk ke dalamnya dan memanjakan dirinya dengan air hangat yang sudah dicampur dengan bubble bath. Ia menyalakan beberapa lilin aromaterapi yang terdapat di meja, di sisi bathtub. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya bathtub terisi penuh dan busa putihpun menyelimuti permukaannya.
Ia melepas satu persatu pakaian yang dikenakannya, kemudian masuk ke dalam bathtub. Seketika tubuhnya merasa sangat nyaman. Iapun menggosok setiap inci tubuhnya agar kotoran yang menempel hilang dari kulitnya yang putih mulus bak pualam. Aroma dari bubble bath dan lilin aromaterapi yang digunakannya untuk berendam juga membuat pikirannya menjadi lebih rileks.
"Hotelnya Logan emang selalu ngasih pelayanan terbaik." Gumam Bella.
Seketika iapun mengingat Logan, laki-laki yang pernah menjadi partner in crime-nya setahun yang lalu. Seorang anak SMA yang lugu dan bernasib sama sepertinya, hidup sebagai anak yang sudah dibentuk dari kecil untuk menjadi seorang pewaris perusahaan besar. Bahkan Logan bernasib lebih mengerikan darinya, ia mengalami KDRT dari sang ayah. Karena hasutannya dulu akhirnya Logan yang anak baik itu mulai membangkang kepada sang ayah. Bella yang mengajarinya minum, merokok, balapan liar, dan bersikap juga berkata agar orang lain tidak meremehkannya. Alhasil Logan berhasil menjadi laki-laki kuat dan bahkan menjadi ketua geng motor di SMA Centauri, salah satu SMA elit di Jakarta.
Namun Logan menemukan jalan lain hingga keluar dari dunia gelap itu. Bahkan laki-laki yang masih bocah bagi Bella itu kini sudah menikah.
Menikah.
Kata itu tidak pernah terbersit dalam pikiran Bella. Selama ini hidupnya fokus untuk bisa membuat sang Kakek kesal. Ia bertekad untuk terus menjadi anak badung, cucu pembangkang, dan orang yang menyebalkan hingga akhir hidupnya. Setelah ibu dan ayahnya meninggal karena suatu kecelakaan, Bella terus menyalahkan dan sangat membenci sang Kakek.
"Kalo kakek pengen gue nikah, okay, gue bakal cari cowok itu. Tapi gue bakal cari cowok yang gak akan pernah bisa diterima sama Kakek." Gumam Bella sambil memandang kemilau lampu kota Bandung dari dinding kaca di depan bathtub. "Tapi siapa ya?" Tanyanya entah pada siapa.
Otaknya terus berputar. Memikirkan laki-laki yang pernah ditemuinya, siapa yang kira-kira bisa dia nikahi untuk membuat sang kakek menyerah menjodohkannya dengan laki-laki pilihannya. Namun tidak ada yang cocok dengan selera Bella. Mereka semua pasti berasal dari keluarga kaya raya, berjas, menggunakan aksesoris dan kendaraan mewah, dan juga mampu bersikap romantis bak Casanova.
Mereka mampu membelikan Bella seisi toko dari butik yang menjual baju dari brand-brand terkenal, ataupun menyewa seluruh restoran dan memenuhi seluruh kolam renang dengan bunga mawar merah yang masih segar untuk makan malam romantis. Atau mengajak Bella bersenang-senang dengan kapal pesiar ataupun pesawat jet pribadi, hanya untuk membuat Bella terpikat. Namun bagi Bella semua laki-laki seperti itu sangat membosankan.
Ia ingin seorang laki-laki yang berbeda. Yang bisa membuatnya merasa tertantang untuk menaklukannya. Seorang laki-laki yang justru tidak tertarik dengan segala kecantikan dan kemewahan yang dimilikinya. Memikirkannya membuat Bella merasa frustasi. Laki-laki yang hanya melihat dirinya sebagai dirinya sendiri, tidak melihat cantik, kaya, dan tubuh indahnya, apakah ada di dunia ini?
Bella memutuskan untuk menyudahi sesi berendamnya itu saat busa-busa di permukaan air mulai menghilang. Iapun beranjak dan berjalan ke arah ruang shower dan membilas sisa-sisa busa yang masih menempel di tubuhnya. Kemudian ia berjalan untuk mengambil bath robe yang tergantung di sisi bathtub.
BUG!!
Bella terkejut mendengar suara dari luar jendela kamar mandi hotel. Sontak ia menoleh ke arah jendela. Seorang laki-laki menggantung disana dengan sebuah tali yang mengikat bawah tubuhnya. Suara itu berasal dari kedua kaki laki-laki itu yang menumpu pada dinding kaca, beban tubuhnya membawanya turun ke bawah secara perlahan.
"Ngapain facade cleaning bersihin kaca jam segini?" Tanya Bella marah, merasa terganggu apalagi dirinya sedang tidak berpakaian saat itu.
Pria yang berprofesi sebagai seorang facade cleaner itu mulai membersihkan dinding kaca luar jendela. Pria itu juga terlihat tidak memerhatikan Bella karena kaca sudah dilapisi dengan pelapis sehingga tidak tembus pandang. Bella yang sudah menggunakan bath robenya berjalan ke arah dinding kaca. Ia ingin memerhatikan pria itu lebih dekat.
Pria itu menggantung pada seutas tali tepat berada di depan Bella. Ia terlihat masih muda. Alisnya tebal, hidungnya mancung, dan bibirnya sangat indah. Sesekali pria itu tersenyum melihat indahnya kemilau lampu kota Bandung di belakangnya dari lantai 45. Senyum laki-laki itu juga begitu menghipnotis Bella. Pria itu menggunakan kaos putih dan kemeja kotak-kotak dibalik peralatan safety yang dikenakannya. Lengannya terlihat sangat kuat dan berotot, rambut hitam pendeknya tertiup angin yang ia yakin pasti sangat kencang di luar sana.
Bella juga kagum karena pria itu berani melakukan pekerjaan berbahaya itu. Tubuhnya hanya menggantung di seutas tali, tapi Ia terlihat menikmati pekerjaannya.
Tiba-tiba pria itu seperti menyadari Bella sedang menatapnya, wajahnya terkejut melihat Bella yang berada di kamar mandi dan menatapnya dengan tangan bersilang di depan dadanya.
Pria itu mendongak ke atas berteriak pada seseorang. Pria itu menyatukan kedua tangannya dan seperti berkata 'maaf' pada Bella. Kemudian pria itupun turun satu lantai di bawahnya.
Bella menggedor kaca itu namun pria itu sudah tidak melihatnya lagi.
"HEY!" Teriak Bella saat tali membawa pria itu turun ke bawah.
Bella segera berlari ke luar kamar. Dengan hanya menggunakan jubah mandinya, iapun berlari menuju lift dan menekan tombol rooftop. Ia menunggu hingga lift terbuka. Bella melihat seorang laki-laki paruh baya sedang berdiri di sisi gedung, mengamati dan memastikan tali tetap aman menjaga pria yang sedang membersihkan dinding kaca itu.
Bellapun menghampiri sisi gedung dan menumpukan tubuhnya pada tembok gedung yang setinggi dadanya.
"MBAK! Mbak mau ngapain! Disitu bahaya, Mbak!" Teriak laki-laki paruh baya itu.
Bella melihat laki-laki itu masih menggantung di seutas tali dan masih membersihkan kaca jendela. Tubuhnya seperti merangkak di dinding kaca, bak spiderman dalam film.
"Pak, siapa cowok itu?" Tanya Bella pada pria paruh baya yang masih menatapnya dengan panik.
"Siapa, Mbak?"
"Itu cowok yang lagi facade cleaning." Bella menunjuk ke arah bawah.
"Oh itu pekerja part time, Mbak. Gondola yang biasa dipake buat bersihin lagi rusak jadi kita panggil pekerja part time yang bisa bersihin pake teknik rope access."
"Pekerja part time? Jadi dia gak kerja di Hotel ini?" Tanya Bella.
"Nggak, Mbak. Kita semua di jasa facade cleaning memang bukan pegawai di Hotel ini. Kami dari perusahaan jasa kebersihan. Saya sendiri kerja disini kontrak 6 bulan, Mbak."
"Kalo dia gimana?" Tanya Bella lagi.
"Kalau dia memang sering kita panggil kalau perusahaan lagi butuh, Mbak. Soalnya yang bisa pake teknik rope access memang masih sedikit di perusahaan kami, Mbak."
"Dia nanti kesini gak?"
"Kayaknya nggak, Mbak. Dia bersihin sampai lantai bawah dan gak akan ke atas lagi. Katanya tadi udah selesai dia mau simpen alat-alat dan langsung balik ke Jakarta, Mbak."
"Dia tinggal di Jakarta?!"
"Iya, Mbak." Ucap Pria itu semakin merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan Bella.
"Kalau saya mau cari dia, bapak punya alamatnya? Saya bisa minta?"
"Wah saya gak tahu, Mbak. Saya cuma tahu dia suka ada di markas geng Black Panther."
"Dia anak geng motor?" Tanya Bella yang mengetahui geng kumpulan anak-anak badung di pinggiran Kota Jakarta itu.
"Bilangnya sih bukan. Tapi gak tau juga, Mbak."
"Siapa nama dia, Pak?"
"Dev, Mbak."
Dev, bahkan mendengar namanya sudah membuat Bella terpesona. Bella kembali melihat Dev yang masih menggantung di seutas tali itu, sibuk membersihkan kaca jendela gedung Hotel Logan Ritz.
'Gue udah nemuin cowok itu. Cowok yang bakal gue nikahin. Gue bakal nikah sama lo, Dev.' Ucap Bella dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Yaser Levi
hehehe...pepet teruss
2024-01-13
1
Liu Zhi
ah kasihan Logan
2023-04-17
1
Erni Fitriana
seeuuuu thorrr lanjuttt...critanya bagus👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾
2023-01-19
1