Malam datang. Matahari berwarna jingga itu kini pergi. Langit sudah sepenuhnya berwarna biru tua. Sekelompok orang-orang itu tidak memerdulikan perubahan yang terjadi pada langit. Perhatian mereka tertuju pada beberapa motor sport yang berlari di lintasan dengan kecepatan lebih dari 100 KM/jam.
Mereka bersorak saat sebuah motor ducati merah sampai di garis finish pada lap terakhir.
"RED EAGLE! RED EAGLE!" Orang-orang itu terus meneriakkan nama Red Eagle, julukan dari pembalap kebanggaan geng Black Panther yang baru saja memenangkan balapan, Dev Bentlee.
Dev membuka helmnya dan semua anggota geng Black Panther menghampirinya, begitu mengelu-elukannya.
"Kita menang lagi! WHOOHOOOO!" Teriak seorang pria dengan rambut gondrong menggunakan jaket bomber dengan logo panther hitam di belakangnya.
"Pulang sana ANJ*NG para pecundang!" Teriak anggota Black Panther yang lain.
Geng lawan terlihat tidak senang, namun mereka tidak mencari masalah. Mereka melemparkan sekeresek uang taruhan yang sudah dijanjikan oleh kedua belah pihak sebelum balapan motor dilakukan. Seorang anggota Black Panther mengambil uang itu dan membawanya ke hadapan ketua geng itu dan juga Dev.
"Woy, hadiah taruhan satu lagi mana?" Teriak pria gondrong, yang merupakan ketua geng.
"Udahlah, Bro. Gak usah ditagih yang satu lagi." Ucap Dev pada sang ketua geng yang bernama Abbas.
"Weiysh, gak bisa Dev. Taruhan tetep taruhan harus sesuai sama perjanjian awal."
Seorang pria di geng lawan terlihat marah dan mendorong seorang perempuan ke arah geng Black Panther.
"Wah asyik nih malu-malu ceweknya. Dev, lo suka 'kan sama yang begini." Celetuk seorang anggota geng lain yang bertubuh tambun.
Dev tidak menjawab dan menghela nafas kasar. Perempuan itu terlihat ketakutan.
"Lo pulang sana. Ngapain lo disini kalo mental lo cemen gitu!" Ucap Dev dingin pada perempuan itu.
"Beneran gue boleh pergi? Makasih Red Eagle!" Perempuan itu segera berlari meninggalkan gerombolan pria yang secara fisik memang sangat menyeramkan bagi gadis yang terlihat polos itu.
"Yah, Dev! Kalo lo gak suka buat gue aja. Kenapa lo suruh pergi?" Protes pria bertubuh tambun itu lagi.
"Gak lihat lo badannya kecil gitu. Dipake sama lo bisa jadi peyek badannya, Mon!" Canda Abbas yang diikuti sorakan dari anggota geng lainnya.
"Sialan lo pada!" Gerutu pria tambun bernama Mondi itu.
Di tengah candaan kegembiraan itu dari kejauhan terdengar sebuah motor ninja dengan knalpot meraung-raung mendekat kepada mereka.
"Siapa tuh?" Tanya Mondi.
"Gila motornya, Bro! Itu 'kan Kawasaki Ninja H2!" Celetuk seorang anggota geng dengan banyak tindikan di wajahnya.
Dev memerhatikan pengendara motor sport mahal itu.
"Cewek yang bawa." Ucap Dev.
"Wah iya bener." Ucap Abbas mulai menyadarinya juga.
Perempuan yang membawa motor itupun berhenti di depan para anggota geng Black Panther dengan helm fullface yang masih dipakainya. Perempuan itu begitu mengundang perhatian. Ia menggunakan jaket kulit hitam dan kaos hitam, serta hot pants berbahan denim dengan beberapa bagian yang sobek, memperlihatkan paha mulusnya. Ia juga menggunakan sepatu adidas berwarna merah muda, dengan polet ungu disisinya.
Perempuan itu membuka helm fullfacenya dengan dramatis. Kepalanya ia gerakkan ke kanan dan ke kiri, membuat rambut indahnya berkibas dengan indah, menghipnotis semua orang yang melihatnya.
Dev terperangah. Perempuan yang pernah menciumnya tempo hari ada di hadapannya. Dalam benak Dev bertanya, mengapa dia ada disini? Apakah perempuan itu serius dengan ucapannya terakhir kali yang ingin mendekatinya dan menikah dengannya?
"Gila, Bella Ratu Xander!" Ucap Mondi heboh.
"Lo kenal?" Tanya Dev.
"Dia terkenal banget kali. Dia cucu konglomerat Xander Corp, perusahaan yang sering ada di TV itu! Mereka punya stasiun TV, bank, ritel, properti! Masa lo gak tau! Dia disebut Dewi jalanan, saking jagonya dia balapan. Udah lama dia gak keliatan dan sekarang dia ada di depan mata gue! Gue mimpi gak sih?!" Mondi menepuk-nepuk pipinya.
"Thanks buat perkenalannya." Ucap Bella pada Mondi. Bella berdiri di hadapan para anggota geng Black Panther. Tatapannya tertuju pada Dev.
Dev yang masih duduk di motornya, memalingkan wajahnya.
"Gue kira lo semua udah tahu gue siapa karena temen lo udah kenal siapa gue. Gue mau nantang geng Black Panther balapan." Tantang Bella.
Beberapa dari mereka tidak dapat menahan tawa meremehkan Bella. Bella tidak menggubris mereka yang meremehkannya. Ia melemparkan sebuah buku yang terbungkus plastik pada Abbas.
"Lo ketua gengnya kan. Itu BPKB motor ini." Ucap Bella, dagunya mengarah pada motor kawasaki Ninja H2 yang tadi dibawanya.
Abbas dan anggotanya terdiam, mencerna maksud dari Bella yang melemparkan BPKB itu pada Abbas.
"Kalau kalian menang, kalian dapetin motor ini. Kalau gue menang gue pengen salah satu dari kalian buat gue pake malam ini." Ucap Bella menatap para anggota geng itu dengan tatapannya yang menghipnotis.
"Dev, lo harus menang kali ini! Kawasaki ninja H2 bisa jadi milik kita!" Ucap Mondi heboh.
"Kita kalah juga gapapa, Bro. Kita bisa nununana semalem sama Bella." Timpal anggota geng yang lain.
"Gak bisa. Dev gak bisa balapan lawan gue." Ucap Bella.
"Kenapa, lo takut lawan dia?" Tanya Abbas meremehkan Bella.
"Karena cowok yang mau gue dapetin dan nemenin gue malem ini adalah dia. Karena dia taruhannya, gak mungkin dia yang lawan gue." Bella menatap ke arah Dev.
Begitu juga semua anggota Black Panther bertukar pandang dan kemudian melihat ke arah Dev.
"Dev, lo kenal sama Bella?!" Tanya Mondi.
Dev menghela nafasnya. Ia beranjak dari motornya dan menghampiri Bella.
"Maksud lo apa jadiin gue taruhan?" Dev sangat marah. Harga dirinya terluka.
"Udah gue bilang, gue bakal jadiin lo milik gue. Sekarang lo minggir, tunggu di pinggir lintasan. Gue bakal bawa lo seudah gue menangin balapan ini." Ucap Bella dengan angkuhnya seperti biasa.
Bella kembali ke motornya, memakai helmnya lagi, dan membawa motornya ke lintasan.
"Ayo siapa diantara kalian yang mau lawan gue?" Tanya Bella.
Tidak ada satupun dari mereka yang menanggapi.
"Kenapa, lo semua takut? Kalo gak ada balapan otomatis gue menang. Baguslah gue jadi gak perlu cape-cape. Dev, lo ikut gue sekarang."
"Eh, bentar. Itu gak fair, Bel." ucap Abbas.
"Terus lo maunya gimana? Kalian gak ada yang mau lawan gue, 'kan?"
Abbas memandang ke arah Dev. Dev masih menahan rasa kesalnya dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Okay. Kalau gitu Mondi yang bakal lawan lo." Ucap Abbas.
"Kok gue?!" Mondi terkejut karena dia yang harus melawan Bella.
"Lo 'kan tadi yang paling semangat pengen dapetin motornya."
Para anggota geng Black Panther itupun mulai menyemangati Mondi. Mau tidak mau Mondipun segera memakai helmnya dan membawa motor CBR miliknya ke lintasan.
"Lo harus menang, Mon! Inget Kawasaki Ninja H2 jadi milik kita!" Abbas menyemangati.
"Lo mau ngorbanin gue?" Ucap Dev marah pada Abbas, sahabatnya.
"Sorry, Bro. Kita liat positifnya aja. Lo gak akan rugi kalopun kita kalah. Lo bakal nununana bareng Bella, Bro!" Ucap Abbas sambil merangkul Dev, namun Dev yang kesal melepas tangan Abbas yang melingkar di lehernya.
Mondi dan Bellapun bersiap melajukan motor mereka. Seorang perempuan anggota Black Panther bersiap di lintasan antara Bella dan Mondi dan kemudian menerbangkan sebuah sarung tangan berwarna putih bermotif hitam. Kedua motor itupun segera melaju kencang membelah angin malam. Pertarungan berlangsung sengit, hingga saat lap terakhir Mondi berhasil tertinggal sekitar satu meter dibelakang Bella.
Semua orang bersorak kecuali Dev. Dev menyapu rambutnya dengan tangannya merasa frustasi. Bella memarkirkan motornya dan menghampiri Abbas.
"Gue menang. Tapi karena temen lo udah balapan fair sama gue, dia gak ngalah sama sekali sama gue. Motor itu gue kasih ke kalian." Cetus Bella sambil melemparkan kunci motor itu pada Abbas.
"Serius lo, Bel?!" Tanya Abbas masih tidak percaya, kini kunci motor dengan harga ratusan juta itu berada di tangannya.
"Gue serius. Sekarang gue mau bawa dia." Bellapun meraih tangan Dev.
Dev pasrah tangannya digandeng oleh Bella. Merekapun mengendarai motor Dev dan meninggalkan anggota Black Panther yang terus bersorak mengantarkan kepergian Bella dan Dev.
"Kita mau kemana?" Tanya Dev di tengah perjalanan.
"ke Hotel lah. Masih nanya." Ucap Bella dengan senyum kemenangan di bibirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
aira aira
uhuy
2024-03-11
1
Yaser Levi
ampum dech bella genitnya tp gw suka😁
2024-01-13
1
Erni Fitriana
geleng geleng kepala gue baca tingkahnya bella
2023-01-19
1