Senja mulai datang. Cahaya matahari berwarna jingga itu masuk menembus dinding kaca dan menerpa wajah Bella yang masih termenung di ruang tengah apartemennya. Kata-kata Dev tadi pagi masih terngiang di telinganya. Hatinya masih terasa berdenyut sakit. Kini Bella berpikir keras, bagaimana cara agar Dev mengubah keputusannya? Dev sudah terlanjur menduduki singgasana hatinya, menjadi Raja di hati seorang Bella.
Ponselnya berbunyi, muncul sebuah pesan dari Tere, mengingatkannya mengenai makan malam dengan seluruh keluarganya nanti malam. Seharusnya ia membawa serta Dev dan memperkenalkannya sebagai calon suaminya, namun Dev baru saja mencampakkannya.
Setelah kepergian Dev dari apartemennya tadi pagi, Bella terus berpikir dan kini sebuah rencana tersusun rapi di dalam benaknya. Ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Ia segera bersiap untuk makan malam di Rumah Besar. Bella tidak akan gentar, Dev pasti akan ia dapatkan.
Bella menggunakan sebuah dress hitam di atas lutut tanpa lengan. Ia gunakan lipcream berwarna merah menyala di bibirnya. Ia membutuhkan kekuatan melalui penampilannya. Ia akan mengumumkan sesuatu yang sangat penting malam ini.
Setelah memandang penampilannya di cermin, iapun beranjak menuruni lift menuju lobi apartemen dan berjalan keluar. Sebuah mobil alphard hitam sudah berada di sana, pintunya terbuka seketika saat Bella keluar dari pintu masuk apartemen. Ia masuk ke dalam mobil itu.
Setelah beberapa saat mobil itu berhenti di depan pintu Rumah Besar milik Hirawan Alexander. Bella memasuki pintu utama dan berjalan menuju ruang makan. Semua orang sudah ada di sana. Pamannya, Hendra beserta istrinya Lidya juga anak mereka Stella dan Stuart. Hadir juga Vanessa, istri Stuart, dan seorang laki-laki menggunakan blazer berwarna coklat muda, Kris.
Semua orang memandang ke arah Bella. Kedatangannya begitu mengundang perhatian. Semua orang tidak ada yang menggunakan pakaian berwarna gelap karena Hirawan tidak menyukainya. Warna hitam hanya untuk pemakaman, para bodyguard, dan juga acara-acara tertentu. Namun seperti biasa, Bella selalu menentang sang Kakek. Bella melepaskan blazer yang menggantung di pundaknya. Kini dress hitam dengan belahan yang rendah itu begitu menarik perhatian.
Seorang perempuan berseragam pelayan menerima blazer yang Bella lepaskan dan mengantar Bella duduk di kursinya, tepat di sebelah kiri Hirawan.
"Maaf aku telat, Kek." Ucap Bella.
"Kamu emang selalu terlambat 'kan, Bella. Kamu 'kan suka cari perhatian." Ucap Lidya dengan gayanya yang berlagak seperti nyonya besar, berbagai perhiasan menghiasi jari, telinga, dan lehernya.
"Kak Bella selalu pake baju item kalau lagi acara gini, kak Bella gak punya baju warna lain emang?" Tanya Stella yang sama menyebalkannya dengan sang ibu.
"Kayaknya gue selalu berhasil bikin kalian jadi merhatiin gue. Kalian perhatian banget. Makasih ya." Ucap Bella sarkas.
Lidya bersiap menimpali Bella, namun Hirawan menghentikan perdebatan itu sebelum bertambah panjang.
"Bella, mana calon pilihan kamu itu? Kenapa kamu datang sendirian?" Tanya sang Kakek.
Bella menghela nafas kesal. Bahkan ia baru saja datang, namun rasanya ia ingin segera pergi dari sana.
"Dia gak bisa dateng." Ucap Bella sambil melahap makanan pembuka yang telah disiapkan pelayan di piringnya.
"Ya ampun, kenapa bisa gak dateng? Kita ngumpul disini ingin ketemu calon pilihan kamu, Bella. Disini juga udah ada Kris. Gak nyangka bodyguard kamu ini bisa duduk di meja yang sama dengan kita. Om bener-bener gak ngerti kenapa dia seberani itu ada disini." Ucap Hendra yang memiliki sifat sebelas duabelas dengan istrinya, Lidya. Kris terlihat bergeming, menampakkan wajah dingin andalannya seperti saat masih berseragam bodyguard.
"Aku juga gak ngerti kenapa selama ini ada Om dan keluarga Om disini pas kita adain acara makan malam penting. Harusnya 'kan cuma aku sama kakek." Ucap Bella dengan nada bicara datar.
"Mau sampe kapan kamu gak sopan sama Papaku, Bel. Kalau gak ada Papa, siapa yang jalanin perusahaan saat Kakek sakit? Kamu? Kamu 'kan selama ini cuma bisa foya-foya hambur-hamburin uang Kakek. Kamu gak sadar Kakek sakit gara-gara kamu?!" Bentak Stuart, putra tertua Hendra yang berusia satu tahun lebih tua dari Bella.
Bella melempar garpu dan pisau yang sedang dipakainya ke piring sehingga menimbulkan suara dentingan yang keras. Semua orang terdiam. Ia ambil segelas air putih yang terletak di sebelah kanan piringnya, dan meneguknya. Ia menempelkan pelan napkin pada bibirnya, mengelap sisa air putih yang baru saja diminumnya.
"Maka dari itu hari aku mau ngomong sama semua yang ada disini. Sama kakek, Om Hendra dan keluarga, juga Kris." Bella memandang ke semua orang yang ada di meja makan.
Kemudian Bella memandang ke arah sang Kakek. "Kakek, malam ini aku ingin bilang sesuatu yang penting."
"Apa itu?" Tanya sang Kakek.
Semua orang pun menunggu hal penting apa yang akan Bella sampaikan.
"Aku bersedia gantiin kakek sebagai CEO dari Xander Corp." Ucap Bella menggenggam tangan sang Kakek.
Semua orang terbelalak mendengar ucapan Bella.
Stuart bangkit dari kursinya dan mulai berbicara dengan nada tinggi, "Kamu mau jadi CEO Xander Corp?! Kamu tuh cuma cewek yang gak tau apa-apa tentang bisnis. Kerjaan kamu selama ini cuma seneng-seneng terus kamu pamerin di instagram. Tiba-tiba kamu mau mimpin perusahaan Kakek yang udah sebesar itu?! Kamu mau ngancurin kerja keras Kakek selama ini?!" Vanessa, Istri Stuart, meraih lengan sang suami, berusaha menenangkan suaminya itu.
"Lo lupa gue lulusan bisnis UCLA? Gue lebih dari mampu buat gantiin kakek gue! Selama ini gue cuma ngasih kesempatan aja sama lo dan bokap lo buat ngerasain ada di tampuk kepemimpinan itu kayak gimana, walaupun paling tinggi juga jadi wakil presdir. Lo denger ya, kalian gak akan pernah bisa gantiin posisi kakek gue! Cuma gue yang bisa!" Ucap Bella dengan angkuh.
"Gak usah bilang 'kakek gue' deh, Kak. Kakek itu Kakek aku dan Kak Stuart juga!" Ucap Stella.
Bella bersiap mengeluarkan kata-kata balasan, namun Hirawan menggebrak meja cukup keras.
"Sudah cukup!" Ucap Hirawan. Semua tidak ada lagi yang berani berbicara.
"Kalian ini orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis, tapi sama sekali tidak mengerti bisnis! Xander Corp adalah hasil merger dari beberapa perusahaan. Perusahaan nenek kalian, mendiang ibunya Bella, juga beberapa perusahaan lain yang berhasil Kakek akuisisi. Dalam bisnis harus ada kerjasama, Itu yang harus kalian lakukan, bukan saling menjatuhkan." Ucap Hirawan dengan bijak.
Semua orang masih terdiam tidak ada yang berani menimpali ucapan Hirawan.
"Bella," ucap Hirawan pada sang cucu, "kamu yakin dengan apa yang kamu bilang barusan? Kamu mau jadi CEO menggantikan kakek?"
"Iya, Kek." Ucap Bella dengan mantap. "Udah saatnya aku gantiin Kakek dan biarin kakek istirahat."
"Kenapa tiba-tiba? Selama ini kamu selalu menolak." Tanya Hirawan ingin lebih memastikan.
"Aku akhirnya sadar, kalau apa yang jadi milik kita harus bisa kita perjuangkan dan jaga baik-baik. Jangan sampe lepas dari genggaman kita dan diambil sama orang lain. Dan seperti yang selalu Kakek bilang, cuma aku yang bisa jadi Ratu di Xander Corp. Gak ada yang lain." Ucap Bella menyindir orang-orang tamak itu, terutama Kris.
"Kakek bangga pada kamu. Kamu memang cucu Kakek." Hirawan dengan sumringah menggangguk bangga, merasa puas dengan jawaban Bella.
Semua orang di ruangan itu menampakkan wajah yang marah, tak terkecuali Kris.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
maaf y orang orang🙏🙏🙏🙏
2023-01-21
2