(di balkon tempat kost Dev, setelah Bella dan Dev melarikan diri dari kejaran para bodyguard)
"Marry me, Dev." Lirih Bella.
Dev bergeming memandang wajah cantik di depannya yang sedang melamarnya. Jantungnya berdetak kencang.
"Dev, Gue mau lo nikah sama gue," Tegas Bella.
Dev segera mengumpulkan akal sehatnya, ia melepas cengkraman tangan Bella di rambutnya kemudian berdiri dan menatap tajam kedua mata indah Bella.
"Kayaknya gue harus ngomong serius sama lo." Ucap Dev. "Lo gak kenal gue. Lo baru liat gue di Hotel Logan Ritz waktu itu, kenapa lo dengan gampangnya bilang pengen nikah sama gue? Lo ngerti gak sih arti nikah itu apa?"
"Gue udah tahu semua tentang lo, jadi dengan kata lain gue udah kenal siapa lo. Setelah tahu latar belakang lo, gue makin yakin kalo lo adalah cowok yang selama ini gue cari buat jadi suami gue." Tegas Bella dengan nada yang terdengar waras.
Dev tertegun mendengar Bella yang berbicara dengan nada serius padanya.
"Apa aja yang lo tahu tentang gue." Tanya Dev.
Kemudian Bella membeberkan semua yang Tere ucapkan mengenai informasi yang berhasil didapatkannya tentang Dev.
"Jadi, lo percaya 'kan kalo gue tahu semua tentang lo. Bahkan tiga cewek yang lo dapetin pas menang balapan. Gue punya datanya." Ucap Bella bangga.
"Cuma itu?" Tanya Dev meremehkan.
"Iya gue akuin gue belum tahu kenapa lo bisa sampe keluar dari TNI AU dan berakhir jadi badboy jalanan, dan ngejalanin hidup tanpa pekerjaan tetap. Tapi, saat lo nikah sama gue hidup lo bakal berubah. Lo gak perlu mikirin masalah uang bahkan lo bisa jadi CEO Xander Corp."
Dev terlihat tidak terkesan dengan semua yang Bella ucapkan. Jantungnya yang berdetak kencang kini melambat, mendengar kata-kata yang tadi terdengar seperti sebuah lamaran, namun kini lebih seperti negosiasi. Ia berjalan menjauh dari Bella dan berdiri di sisi balkon, masih menikmati rokoknya dan memandang ke arah pemandangan malam.
"Lo serius mau jadiin gue suami lo? Kenapa gue?"
"Karena gue gak perlu cowok yang punya materi atau jabatan. Gue udah punya semuanya. Uang dan semua harta berharga, gue udah punya. Gue cuma butuh lo jadi suami gue."
Dev merasa tersinggung dengan ucapan Bella. Harga dirinya terluka. Bagaimana bisa Bella berkata seakan dirinya hanya pelengkap dari hidupnya yang sudah sempurna. Ia menatap kedua mata Bella dan menghembuskan asap rokok tepat di wajah Bella.
Bella pun terbatuk karenanya.
"Gue gak suka asep rokok!" Protes Bella.
"Bagus dong, jadi masih mau lo nikah sama perokok kayak gue?" Ucap Dev masuk ke dalam kamar kostnya dan meninggalkan Bella yang masih terbatuk.
Dev menutup pintu kamar dan melepas jaketnya dengan marah. Dia masih mendengar Bella terbatuk di luar sana, namun ia mengabaikannya. Dev memilih untuk mengeluarkan HPnya dan membalas beberapa chat yang masuk. Terdengar suara pintu Dev diketuk, namun Dev tidak menghiraukannya.
Beberapa saat suara ketukan pintu itu berhenti. Dev terdiam. Merasa aneh karena terakhir ketukan itu cepat dan kemudian melambat sedikit demi sedikit. Dev pun beranjak dari duduknya. Ia ingin sekedar mengecek apakah Bella sudah pergi dari sana atau belum. Iapun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya Dev melihat tubuh Bella terkapar di depan kamarnya.
"Bella!" Dev segera memangku tubuh Bella.
"Bel! Lo gak usah akting!" Ucap Dev panik dan mencoba menyadarkan Bella yang tatapannya kosong. Bella terlihat sesak nafas dan bibirnya pucat, kedua tangan Bella kaku mengerucut.
Bella menatap ke arah Dev namun kemudian pingsan. Dev segera menggendong tubuh Bella di punggungnya dan membawanya ke sebuah klinik yang tidak jauh dari rumah kostnya. Untung saja klinik itu buka 24 jam dan seorang dokter jaga memeriksanya.
"Kenapa dia, Dok?" Tanya Dev masih panik.
"Asmanya kambuh." Ucap sang Dokter sambil memasang selang oksigen di hidung Bella.
"Asma?" Seketika Dev merasa sangat menyesal. Bella terbatuk cukup lama setelah ia menghembuskan asap rokok tepat di wajah Bella tadi.
"Iya, Mas siapanya Mbak ini? Kok sampe gak tau mbaknya punya asma. Udah gak apa-apa sekarang. Kita tunggu aja dia sadar." Ucap Dokter itu dan pergi meninggalkan Dev dan Bella.
Dev mengelus rambut Bella dan menatapnya lekat, seakan Bella adalah orang yang sangat penting baginya. Dev memijit kedua tangan Bella yang masih agak kaku. Perasaan bersalah dan khawatir masih menguasainya.
Setelah beberapa saat Bella mulai sadar. Tangan Bella yang kaku perlahan mulai melemas karena Dev terus memijitnya.
"Bel? Lo udah sadar?" Dev merasa lega.
"Gue dimana?" Tanya Bella.
"Lo di klinik. Tadi lo pingsan. Lo udah gak apa-apa?" Tanya Dev menatap kedua mata Bella masih merasa khawatir.
Bella merasa aneh dengan sikap Dev yang begitu hangat.
"Iya gue gak apa-apa. Gue emang gak bisa ngisep asep rokok." Jelas Bella, "tapi gue gak nyalahin lo, kok."
"Gue minta maaf banget. Gue gak tau kalo lo punya asma. Maafin gue." Ucap Dev dengan penuh penyesalan.
Bella kembali tertegun. Selama ini belum pernah ada orang yang begitu mengkhawatirkannya seperti ini. Bahkan kakeknya sekalipun, tidak pernah menunjukkan sikap seperti yang Dev tunjukkan. Juga ini pertama kalinya, Dev menatapnya dengan tatapan yang hangat dan begitu mengkhawatirkannya.
"Gue beneran gapapa. Lo kenapa sih lebay banget." Bella sedikit salah tingkah.
Dev tiba-tiba tersadar telah bersikap terlalu mengkhawatirkan Bella. Dia pun berdeham dan bangkit dari sisi Bella dan memalingkan wajahnya dari Bella.
"Mbaknya udah bangun toh." Dokter klinik itu menghampiri keduanya.
"Iya saya udah gak apa-apa, Dok." ucap Bella sambil melepas alat bantu nafas di hidungnya.
"Mbak harusnya bawa inhaler kemanapun Mbak pergi. Jadi saat tiba-tiba asmanya kambuh gak bikin semua orang khawatir. Kasihan Masnya dari tadi cemas nungguin Mbak sadar." Ucap Dokter itu.
Bella menatap tidak percaya pada Dev, 'Dev cemas gara-gara gue pingsan? Gak mungkin,' batinnya.
"Dia udah gak apa-apa 'kan, Dok? Udah boleh pulang?" Tanya Dev.
"Iya udah bisa dibawa pulang. Silahkan ke bagian administrasi dulu aja ya." Ucap Dokter itu kemudian pergi meninggalkan Dev dan Bella.
"Gue ke depan dulu." Ucap Dev tanpa memandang ke arah Bella.
Setelah membayar biaya pengobatan merekapun keluar dari klinik dan berjalan menuju tempat kost Dev. Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
"Thanks ya. Gue bakal ganti biaya berobat gue barusan. Sini minta nomor rekening lo, gue transfer." Ucap Bella memecah keheningan.
"Gak usah. Gue emang miskin, tapi gue punya uang. Lagian lo sakit gara-gara gue." Ucap Dev.
Dengan riang, Bella merangkul lengan Dev dan menyandarkan kepalanya pada bahu Dev.
"Lo ngapain? Lepasin!" Ucap Dev. Namun Bella masih merangkul tangan Dev dengan erat.
"Bener 'kan lo juga suka sama gue, lo khawatir banget sama gue pas tadi gue sakit." Ucap Bella sumringah.
"Jangan suka asal nyimpulin. Gue cuma ngerasa bersalah aja." Dev mengelak.
Ia menyerah untuk melepaskan tangan Bella yang melingkar erat di lengannya dan membiarkannya.
Bella hanya tersenyum mendengar alasan klasik yang Dev lontarkan. Sayup-sayup Bella mencium aroma parfum dari tubuh Dev yang begitu menghipnotisnya.
"Gue suka wangi parfum lo. Walaupun gue yakin bukan parfum mahal, tapi wanginya cocok banget sama lo." Ucap Bella jujur.
"Selera lo aneh. Kalau lo cucu konglomerat, lo harusnya nyari cowok yang segalanya pake barang-barang mahal. Baru cocok sama sosialita kayak lo."
"Sosialita?" Tanya Bella.
"Gue pernah kepoin instagram lo." Ucap Dev.
Bella tidak menyangka Dev pernah menstalking instagramnya. Ia memang kerap membagikan momen-momennya di berbagai kesempatan. Ia sering memposting liburan-liburannya ke tempat-tempat mahal dan mewah di seluruh dunia, memakai pesawat jet pribadi, menaiki helikopter, yacht, supercar, dan motor sport miliknya, berbelanja barang-barang mewah, dan perawatan di salon yang sering didatangi oleh para artis kelas dunia. Belum lagi pesta-pesta mewah yang sering Bella datangi yang diadakan oleh teman-temannya dari kalangan 'rich' hingga 'crazy rich' sepertinya. Ia mengenal orang-orang dari kalangan atas yang ada di level 'biasa', hingga selebgram terkenal, bahkan artis dan model internasional.
"Gue gak nyangka lo kepoin gue." Ucap Bella.
"Iyalah. Ada cewek aneh deketin gue sampe ngajakin nikah, jelas bikin gue kepo."
Dev berhenti melangkah, kemudian berkata, "tapi gue mau nanya satu hal sama lo."
Dev melepas tangan Bella yang melingkar di lengannya, kemudian berdiri menghadap Bella.
"Lo beneran gak inget siapa gue?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Erni Fitriana
apa pernah ketemu mereka????
2023-01-19
2
Chandra Dollores
ingat soal apa seh Dev??? bikin penasaran aja... ujung-ujungnya lupa waktu dan baca terus neh
hahaahH
2022-12-27
1