4| Kilas Senyum Bahagia

Duduk di tempat kosong. Sesekali dia melihat keluar jendela. melihat ke arah pintu masuk. orang yang Arka tunggu

belum saja datang. Dia sendiri yang mau bertemu tapi dia sendiri telat. Membuat suasana hatinya buruk.

Arka memesan minum sambil menunggunya datang. Ia melirik jam tangan. Menunjukan pukul dua siang. Sudah tiga puluh menit Dia menunggu di cafe. Davira masih saja belum datang. Saat Arka mau beranjak dari duduk untuk keluar dari cafe ini. Davira datang ke arah Cafe.

Arka hanya bisa berdiri melihat Davira. Dia duduk lagi di tempat semula. Davira duduk di depan Arka. Ia mencoba bersikap biasa saja.

"Maaf aku telat."

"Hem ... " Kata Arka mencoba berbicara seperti semestinya.

"Mau berbicara apa? Langsung ke topik pembicaraan saja" kata Arka  ketus. Sudah dari tadi, dia tunggu orangnya baru datang.

"Ini aku mau mengembalikan jaket kamu" ia mengeluarkan tas dan menaruhnya di atas meja. Wajahnya terus memandang kearahku.

Biasanya aku selalu tidak peduli entah kenapa ia membuat ku tertarik. Cuma sedikit tapi aku buang jauh-jauh. Aku mengambil tasnya melihat isinya.

"Sudah? cuma ini aja? Kalau begitu aku pulang." Arka sudah berdiri mau pergi dari cafe.

Tangan Arka dipegang. Davira berbicara, "sebentar!" tegasnya. "Bisa menemaniku sebentar saja?"

Arka hanya menghembus napas gusar. Aku hanya tersenyum ramah. entah kenapa dia lemah dengan wajah Davira yang sedang memohon.

"Baiklah. Tapi sebentar."Tegas Arka ke arahnya.

"Iya hanya sebentar."kata Davira.

Ia memesan cake dan juga minum. Tapi matanya masih memandang Arka. Membuatnya risih. Sesekali ia melontarkan pertanyaan. Tapi dia abaikan.

Aku melirik jam sudah pukul tiga sore. Katanya sebentar ternyata lama sampe satu jam Arka menemaninya di sini.

Makannya belum saja selesai. Ia terus pesan cake beberapa kali. Apa dia sengaja untuk berlama-lama dengan Arka.

Akhirnya dia makannya selesai. Makan Davira cukup banyak membuat Arka bingung. Makannya banyak tetapi dia badannya cukup kurus. Melihat makan Davira membuat dia kenyang sendiri.

"Sudah selesai?"

"Sudah." kata Davira

"Kalau begitu aku pulang." Arka berajak dari tempat duduk. Melihat Davira juga ikut berdiri.

"Makasih, sudah mau temani aku makan cake. Aku tidak biasa makan sendiri."

Memang Davira paling tidak suka makan sendiri. Karena orang tuanya tidak sering ada di rumah. Dia selalu makan sendiri. kalau mba tidak pulang diselalu di temani makan.

"Oh ... Iya sama-sama. Aku balik duluan." Arka melangkah keluar dari cafe. Melangkah masuk ke dalam mobil. Menjalankan mobil menuju apartemen.

***

Arka berjalan menuju lorong kampus. Matanya mulai waspada melihat ke seliling lorong. Kali aja ada nenek sihir

datang. Siapa lagi nenek sihir yang selalu datang tiba-tiba. Selalu menempel ke lengan Arka. Seperti koala. Tapi kalau koala lucu kalau Sylvia amit-amit. Bisa-bisa Arka mengucap tiap hari.

"Woy." Gibran merangkul pundak Arka. Seketika badan Arka menegang.

Ia langsung melihat ke sampingnya.

"Gila kamu!! Buat aku jantungan." Melepaskan rangkulan Gibran di pundaknya.

"Emang siapa yang kamu pikirkan?"

"Kamu juga tau siapa." kata Arka sambil mengecilkan suaranya.

"Maksud kamu Sylvia?" Sambil berjalan beriringan menuju kelas.

"Iya siapa lagi yang selalu nganguin aku?"

"Kamu hari ini aman. Soalnya kata Keanu, dia tidak kuliah hari ini gara-gara sakit." Menepuk pundak Arka.

"Bisa juga itu orang sakit."

"Jleb banget omongannya."

Bereka berdua masuk ke dalam kelas. Sudah ada sosok Keanu duduk di bangkunya. Tumben dia tidak kesiangan. Mereka duduk disebelah Keanu. Dia cemberut tidak ada ayang Sylvia. Biasanya Sylvia sering berkunjung ke kelasnya.

"Kenapa kamu? tidak ada Sylvia? Cup-cup sabar ya bro, Sylvianya juga suka sama Arka." Menepuk punggung Keanu.

"Kampret kamu!!" Ia menendang kaki Gibran.

"Sakit kampret. Kalau kaki aku bengkak awas kamu. Aku tendang kaki kamu berkali-kali"

"Tidak ada Sylvia, aku yang aman" Arka menyandar ke kursi sambil memejamkan mata.

"Kamu kemarin di cafe sama siapa? Sama cewek lagi. Ceweknya juga masih muda." Keanu penasaran. jarang

banget Arka mau berlama-lama dengan Wanita.

Arka langsung membuka matanya.

"Oh ... cewek itu..." Arka menggantungkan bicaranya "Penasaran banget sih kamu."

"Aku punya fotonya. Mau liat Gibran?" Keanu mengeluarkan ponsel dari saku celana. Membuka galeri foto. memberikan ponsel ke Gibran.

"Wah ..." mulutnya terbuka karena terkejut Seorang Arka jarang banget buat dekat dengan cewek. Apa lagi raut mukanya kaku tetapi dari foto ini ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

Ada sesuatu yang mencurigakan?

"Kamu kenal di mana nih cewek. Bening banget. Sylvia aja kalah sama dia" Gibran memuji foto Davira. Tapi fotonya sedikit ngeblur. Dia hanya tau itu cukup cantik.

"Berapa umurnya" kata Gibran.

"Entah, mungkin dua puluh atau

dua puluh satu" Arka tidak tau berapa umur Davira ia hanya menebak.

"Apa ini pacar kamu?" Keanu mendelik curiga.

"Pacar ? Kenal juga tidak" Kata Arka membantah perkataan Keanu.

"Awas kamu jodoh sama dia" kata Gibran.

***

Bel masuk sekolah berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Hari ini pelajaran Matematika dengan guru yang paling galak dari pada guru yang lainnya.

Davira hanya duduk tenang. Soalnya dia sudah di cap sebagai biang rusuh. Mata bu linda menatap ke arah Davira. Membuat bulu tangannya berdiri.

"Vira kayanya itu guru mau makan lo. Matanya tajam banget kaya elang." Raga berbisik dari arah belakang.

"Berisik lo!!" Ia membalikan mukanya. Tangannya memukul kepala Raga.

"Sakit bego." Raga mengusap kepalanya.

Bu Linda Matanya mulai melihat lagi ke Davira. Bukan Davira saja yang dilihat tapi Raga juga.

"Bisa kalian tidak berisik. Mata pelajaran saya mau di mulai. Kalau mau berisik silahkan keluar." kata Bu Linda tegas. Tangannya meletakan tas dan juga buku yang bakal dibahas.

Mereka berdua hanya terdiam. Tidak ada yang bisa melawan guru ini. Bu Linda tidak segan-segan menjemur mereka ditengah lapangan.

"Sebelum ibu menjelaskan materi hari ini. Ibu akan memperkenalkan murid baru"

Cowok berjalan menuju kelas. Semua orang yang ada di dalam memandang ke arahnya. Sesekali bersiul. Apa lagi anak cewek menatap ketertarikan kepadanya.

"Wah ... bening banget. Cakep lagi" kata Lisa.

"Iya bener cakep banget." Siska menanggapi perkataan Lisa.

"Apa si kamu. Masih cakepan juga aku," kata Raga sambil mengangkat wajahnya.

"Iya cakep kalau diliat dari atas gedung sate pakai sedotan," kata Davira menjulurkan lidahnya.

"Kampret lo," ia langsung

menjitak kepala Davira.

"Sudah jangan berisik!!"

Kata Bu Linda. "Sekarang perkenalkan diri kamu ke teman-teman."

"Nama saya Rafa putra nugraha

bisa panggil Rafa. Asal dari kota S. Salam kenal"

"Salam kenal juga

ganteng." Lisa langsung berteriak.

"Norak banget sih lo." Raga melihat ke arah Lisa.

"Sirik lo?"

"Tidak."

"Sekarang kamu duduk di bangku yang kosong disebelah Lisa."

Rafa berjalan bangkunya. Lisa senang bisa bersebelahan dengan Rafa.

"Awas hidungnya terbang." Raga berbicara tanpa melihat ke orangnya.

Lisa hanya kesal dengan tingkah Raga yang selalu menjengkelkan.

"Sekarang buka buku paket halaman 63." Kata bu Linda.

Semua mulai membuka buku masing-masing. Davira hanya bengong melihat sederet soal. Ia memijat kepalanya yang tidak pusing. Matanya terpejam sebentar lalu melihat lagi ke arah buku.

Bu Linda mulai menjelaskan contoh soal yang ada di buku. Davira hanya melongo melihat rumus-rumus yang membuatnya pusing sendiri. Dari semua pelajaran yang tidak bisa ia kuasai hanya pelajaran matematika.

Walau pun Davira suka jahil tapi soal pelajaran dia selalu bagus. Tapi tidak dengan pelajaran matematika.

Selama pelajaran Bu Linda hanya diam. Tanpa mengerti. Kepalanya hanya mengangguk. Agar tidak ditunjuk oleh Bu Linda. Pura-pura mengerti tapi tidak ada yang masuk ke dalam kepalanya. Hanya didengar di telinga kanan keluar lagi di telinga kiri.

Pelajaran berasa berjam-jam. Bel istirahat belum berbunyi. Ia melirik jam tangan masih sisa waktu setengah jam lagi. Perasaan belajarnya sudah lama banget. Tapi belum kelar juga. Kalau ia tidur bisa dijewer kupingnya sama Bu Linda.

Menangkup kedua tangannya di pipi. Memandang ke arah papan tulis. Saat matanya terpejam bel sekolah berbunyi. Membuat dia berdiri yang lain masih duduk. Bu Linda melihat kearahnya.

"Aku hanya ingin beri salam bu," ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Alasan saja kamu," kata bu Linda. "Pelajaran hari ini selesai jangan lupa kerjakan tugas rumahnya. Di kumpulkan minggu depan."

"Baik Bu."

Bu Linda jalan keluar kelas. Davira duduk di bangkunya sambil menenangkan dirinya. Untung bel sudah bunyi kalau tidak bisa dihukum sama bu Linda.

"Gila kamu!! Nekat banget." Raga duduk di kursi depan dan berhadapan ke arah Davira.

"Bukan nekat tapi aku ketiduran."

"Makan yu aku lapar." Raga sudah ada di samping Davira. Tangannya sudah merangkul lehernya.

"Ini tangan tidak pernah disekolahkan?" Ia menarik tangan Raga dari lehernya.

"Sudah aku menyekolahkan ini tangan."

"Yu Sha, kita ke kantin tinggalkan bocah gila di sini" dia berdiri dari duduknya menggandeng  tangan Sasha.

"Cebol jangan tinggalkan aku." ia menarik Sasha dari Davira.

"Perkataan sahabatku mutlak. Maaf gagak" sambil berjalan keluar kelas. meninggalkan Raga yang sedih ditinggalkan Sasha.

"Jahat banget." Memandang mereka berdua. "Cebol." Memandang sedih.

"Biarkan," ia menjulurkan lidahnya "jauh-jauh... Aku rebut Sasha hari ini"

Tapi Raga terus mendekat ke Sasha. Ia duduk di meja yang kosong. Mereka mulai memesan makanan. Cowok berjalan ke arah Davira. Ia hanya cuek bebek.

"Boleh duduk di sini?" Sambil membawa makanan. Meja di kantin sudah penuh semua.

"Boleh." kata Davira "Tidak boleh." kata Raga berbicara bersamaan.

Dia melihat kalau dia akan duduk di sebelah Sasha. Raga langsung duduk bersebelahan dengan Sasha.

"Kamu duduk di sana. Kalau di sana boleh," ia menunjuk tempat duduk di depan.

Tiga orang ini duduk di jajaran yang sama dan Sasha yang tepat ditengah mereka berdua.

"Kenapa sih kamu sensi banget. Kalah saing?" ia tersenyum ke arah Rafa. Rafa duduk di depan Davira.

"Davira?" Kata Rafa menunjuk ke arahnya. Davira hanya mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat.

"Rafa." kata Davira

"Kita ketemu lagi."

"Iya,  tidak menyangka kita sekelas."

"Hem ... makan lo sudah datang." kata Raga ketus.

Mereka semua makan tenang. Davira Menghabiskan semua yang ada apa lagi pelajaran selanjutnya olah raga. Yang banyak mengeluarkan tenaga.

***

Davira berjalan menuju depan sekolah menunggu jemputan. Beberapa menit kemudian pak ujang mengirim pesan, kalau dia tidak bisa menjemput. Kalau ban mobilnya harus ditambal. Terpaksa ia harus mencari taksi atau uber.

Ia menunggu di halte depan. Saat tangannya sedang mencari aplikasi pemesanan uber. Suara motor terdengar di telinganya dan berhenti di depan Davira.

Ia melihat depan ternyata yang datang Rafa. Ia tersenyum ke arah Davira.

"Hy lagi menunggu siapa?"kata Rafa

"Hy juga."

"Lagi mau pesan uber buat pulang."

"Mau bareng?"

"Boleh. Aku tidak ngerepotin?" Kesempatan jangan di sia-siakan.

"Tidak ko. Apa lagi rumah kita juga searah." Davira langsung naik ke motor Rafa.

Motor Rafa berhenti di depan pagar rumah Davira. Ia turun dari motor.

"Makasih ya."

"Iya. kamu duluan." Rafa menjalankan motornya. Davira melihat motor Rafa menjauh sampai tidak terlihat. Barulah ia masuk ke dalam rumah.

Bi Inah berjalan ke arah Davira sambil membawa tas.

"Non Vira ini ada titipan dari cowok" kata Bi Inah sambil memberikan tas itu.

"Cowok siapa Bi?"

"tidak tau Non, Bibi lupa menanyakan namanya siapa."

"Makasih Bi."

"Iya Non. Bibi ke belakang dulu. Makan sudah Bibi siapkan di meja makan." Bi Inah berjalan ke arah dapur.

Beberapa minggu ini Davira di temani oleh Bi Inah . Mamah dan papah lagi tugas di luar kota. Alhasil Davira berdua dengan Bi Inah.

Ia melangkah ke kamar yang berada di lantai atas. Mengganti baju. Ia mulai membuka isi yang ada si tas tersebut. Ia melihat baju papahnya yang dipinjamkan ke Arka. Ada sepucuk kertas yang menempel di dalam tas.

"Makasih bajunya dan jangan kirim pesan lagi ke nomerku!" Arka.

Davira hanya tersenyum melihat sepucuk kertas dari Arka. Ia menempel di meja belajar. Davira mengambil spidol warna pink dan menggambarkan bentuk hati di sudut sebelah kanan.

Ia berjalan ke bawah dengan riang. Davira tidak akan menyerah. Berjalan menuju meja makan. Ia mulai makan semua yang ada di meja makan. Dia suka makan banyak tapi badanya masih ramping.

"Makannya pelan-pelan. Nanti tersedak," kata bi Inah. Sambil menuangkan air ke dalam gelas.

"Iya Bi," ia hanya tersenyum. Suasana hatinya lagi baik.

Sambil makan ia membuka ponsel, sambil mengetik pesan ke Arka. pesannya tidak pernah di balas. Tapi sering dia baca. Di baca aja sudah sukur. Nanti juga lama-lama terbiasa.

Terpopuler

Comments

Lela Lela

Lela Lela

semangat terus davira

2023-08-19

0

Arthur

Arthur

Terus semangat kak
udah rate, boom like nih

Mampir yuk ke Fur Therese ❤
Jangan lupa like, rate, and vote, klik fav karena bakal up everyday 🐇

2020-05-27

2

No Name

No Name

Semangat terus bikin lanjutannya thor..🔥🔥 udah saya like dan rate 5 mampir juga ya ke karya perdana saya CATATAN ISI HATI. Bantu vote juga ya mari saling support. Terima kasih....😊😊

2020-05-27

1

lihat semua
Episodes
1 1| Takdir yang Sial
2 2| Kilauan Agresif
3 3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4 4| Kilas Senyum Bahagia
5 5| Perubahan
6 6| Baru awal perubahan
7 7| Belajar
8 8I Berakhirnya Masa Sma
9 9I Awal yang baru
10 10I Gebetan
11 11| Mendekati
12 12I Menyelinap
13 13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14 14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15 15| Kencan pertama part 1
16 16| Kencan pertama part 2
17 17| Kencan pertama part 3
18 18| Misi
19 19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20 20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21 21| Satu hari sebelum misi
22 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24 22| Menyamar
25 23| Tuan muda Hans misterius
26 24| Kita hanya teman
27 25| Ibu?
28 26| Melawan Trauma
29 27| Dua Mayat Anak Kecil
30 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32 Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33 28| Dia sangat merindukannya
34 29| kota H saya datang
35 30| Rumah Nenek
36 31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37 32| Bertarung dengan Rasa Takut
38 33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39 34| Rencana yang Berisiko
40 35| Ketegangan
41 36| Momen Keputusan yang Sulit
42 37| Pencarian Putus Asa
43 38| Pesan Terakhir
44 39| Tidak Mungkin
45 40| Surat untuk Davira
46 41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47 42| Menangis dalam Kegelapan
48 Update setiap hari!
49 43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50 45| Penerbangan ke Negara N.
51 46| Namun, hidup terus berjalan.
52 47| Arka, aku kembali
53 48| Rutinitas Kuliahnya.
54 49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55 50| Pria itu membuka komputer
56 51| Kedipan Merah
57 52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58 53| Kotak-kotak berisi karya
59 54| Dr. X
60 55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61 56| Artful Essence Gallery
62 57| Pameran dimulai
63 58| Koridor Lantai Dua
64 59| Rasa Penasaran
65 60| Dalam Keheningan.
66 61| Sampai jumpa
67 62| Davira, di mana kamu?
68 63| mengetik kode-kode yang rumit
69 64| Kegelapan Ruangan
70 65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71 66| Melanjutkan Pelariannya
72 67| Siapa Kamu ?
73 68| Dia merunduk dan bersembunyi
74 69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75 70| Kakak, aku merindukanmu
76 71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77 72| Menyusun Rencana
78 73| Ponsel berdering.
79 74| Mereka tenggelam dalam momen
80 75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81 76| Permainan Bayangan
82 77| Bayangan di Antara Kita
83 78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84 79| Titik Balik Penangkapan
85 80| Menguak Tabir Kegelapan
86 81| Menelusuri Jejak Orakel
87 82| Perjalanan waktu
88 pengumuman
89 83| Rumah
90 84| Simpul Putus
91 85| Luka yang Tak Terhapuskan
92 86| Tidak Percaya
93 87| Merasa dikhianati
94 88| Tanpa Pilihan
95 89| Bercerita (Bagian 1)
96 90| Bercerita (Bagian 2)
97 91| Bercerita (Bagian 3)
98 92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99 93| Mencoba mengakses data
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1| Takdir yang Sial
2
2| Kilauan Agresif
3
3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4
4| Kilas Senyum Bahagia
5
5| Perubahan
6
6| Baru awal perubahan
7
7| Belajar
8
8I Berakhirnya Masa Sma
9
9I Awal yang baru
10
10I Gebetan
11
11| Mendekati
12
12I Menyelinap
13
13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14
14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15
15| Kencan pertama part 1
16
16| Kencan pertama part 2
17
17| Kencan pertama part 3
18
18| Misi
19
19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20
20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21
21| Satu hari sebelum misi
22
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24
22| Menyamar
25
23| Tuan muda Hans misterius
26
24| Kita hanya teman
27
25| Ibu?
28
26| Melawan Trauma
29
27| Dua Mayat Anak Kecil
30
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32
Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33
28| Dia sangat merindukannya
34
29| kota H saya datang
35
30| Rumah Nenek
36
31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37
32| Bertarung dengan Rasa Takut
38
33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39
34| Rencana yang Berisiko
40
35| Ketegangan
41
36| Momen Keputusan yang Sulit
42
37| Pencarian Putus Asa
43
38| Pesan Terakhir
44
39| Tidak Mungkin
45
40| Surat untuk Davira
46
41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47
42| Menangis dalam Kegelapan
48
Update setiap hari!
49
43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50
45| Penerbangan ke Negara N.
51
46| Namun, hidup terus berjalan.
52
47| Arka, aku kembali
53
48| Rutinitas Kuliahnya.
54
49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55
50| Pria itu membuka komputer
56
51| Kedipan Merah
57
52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58
53| Kotak-kotak berisi karya
59
54| Dr. X
60
55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61
56| Artful Essence Gallery
62
57| Pameran dimulai
63
58| Koridor Lantai Dua
64
59| Rasa Penasaran
65
60| Dalam Keheningan.
66
61| Sampai jumpa
67
62| Davira, di mana kamu?
68
63| mengetik kode-kode yang rumit
69
64| Kegelapan Ruangan
70
65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71
66| Melanjutkan Pelariannya
72
67| Siapa Kamu ?
73
68| Dia merunduk dan bersembunyi
74
69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75
70| Kakak, aku merindukanmu
76
71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77
72| Menyusun Rencana
78
73| Ponsel berdering.
79
74| Mereka tenggelam dalam momen
80
75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81
76| Permainan Bayangan
82
77| Bayangan di Antara Kita
83
78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84
79| Titik Balik Penangkapan
85
80| Menguak Tabir Kegelapan
86
81| Menelusuri Jejak Orakel
87
82| Perjalanan waktu
88
pengumuman
89
83| Rumah
90
84| Simpul Putus
91
85| Luka yang Tak Terhapuskan
92
86| Tidak Percaya
93
87| Merasa dikhianati
94
88| Tanpa Pilihan
95
89| Bercerita (Bagian 1)
96
90| Bercerita (Bagian 2)
97
91| Bercerita (Bagian 3)
98
92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99
93| Mencoba mengakses data

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!