Dia berjalan menuju pintu. Membukanya, Jace berdiri tepat di depan pintu. Ambil menyerahkan dokumen misi.
Jace sangat menentang Arka untuk ikut misi. Tapi dia terlalu keras kepala.
“Ini ambil,” menyerahkan ke tangan Arka. “Aku akan mengawasi selama misi, kalau traumanya kambuh cepat berhenti ditengah misi.
“Iya.”
“Misi dua hari lagi, kumpul di Stasiun kereta Kota H.”
Selama misi, tim semua yang bertugas dalam kasus ini akan menyamar. Untuk bisa mendapat informasi dan berbaur dengan organisasi pedagang anak.
Jace kembali ke kamarnya.
Arka melihat dokumen tugas yang ada ditangannya. percis sama dengan informasi yang dia kumpulkan bertahun-tahun ini.
***
Merias wajahnya di depan cermin. dengan sentuhan lipstik merah merubah wanita menjadi, lebih sexy. di celah pintu, anak laki-laki di depan pintu memandangnya. setiap malam wanita itu akan keluar dan pulang disiang hari.
Bergerak cepat dengan kaki kecilnya bersembunyi di kamarnya. wanita tersebut keluar dari kamar.
Mengetuk pintu Liam, "Liam apa kamu tidur?"
Tidak ada tanggapan dari kamarnya. Membuka hendel pintu kamar Liam, tetapi terkunci.
Liam berdiri di belakang pintu.
Wajah tanpa emosi, dia tau apa yang akan dilakukan ibunya di luar.
"Bagus kalau dia tertidur."
Dia berjalan keluar rumah. Suara hak sepatu terdengar di rumah kecilnya. Saat suaranya hilang Liam membuka pintunya.
Keluarga mereka miskin. Ayahnya berkerja keras buat mencari nafkah keluarga. Liam sudah berumur lima tahun dalam satu tahun lagi dia akan sekolah. Ayahnya bekerja sangat keras.
Sesekali Liam juga membantu mencari uang. Dengan menjual botol ditukar dengan uang. Saat ayahnya berangkat kerja buat belayar. Setiap belayar bisa berbulan-bulan tidak pulang.
Setiap malam dia selalu mendengar suara aneh terdengar dari kamar ibunya. Awalnya dia tidak tau itu apa.
Liam penasaran, dia mengendap untuk keluar dari kamar. Kamar ibunya tepat ada di sampingnya. Jam menunjukan pukul dua belas malam. suara jam terdengar dengan jelas di telinga Liam.
Saat keluar kamar ada sepatu pria di ruang tengah dan juga sepatu hak tinggi ibunya.
Liam ingat kalau Ayahnya belum pulang dari belayar. Liam juga ingat kalau sepatu ayahnya sudah lama dipakai, ada warna yang usang. Sepatu yang dia lihat bersih seperti baru.
“Jangan mengodaku,” suara genit terdengar dari dalam kamar.
Tergesa-gesa ingin melakukannya. Mereka lupa menutup pintunya, ada celah pintu yang terbuka.
“Kamu terlalu manis.”
Pria tersebut menciumnya. Suara ciumannya terdengar jelas di telinga Liam. Ciuman yang bergebu-gebu di dalam kamar membuat mereka merasa panas.
Liam mematung di celah pintu kamar ibunya. Mereka berciuman dengan ganas. Dengan sekilas dia tau kalau itu bukan Ayahnya.
Bajunya sudah berantakan tetapi masih melekat di tubuh mereka.
Liam tidak tau harus bagaimana. Wajah Liam berubah suram memandang mereka yang masih berciuman. Ada suara ambigu di dalam kamar ibunya yang menikmati sentuhan pria tersebut.
Ingin mengeksposnya tapi ...
Apa ada yang berubah kalau Liam marah dengan ibunya yang masih bercumbu dengan pria itu.
Yang ada dia kena pukul lagi oleh ibunya dan menguncinya di dalam kamar.
Pemikirannya sudah dewasa sebelum waktunya. Karena dia hidup susah, Liam tidak berteman dengan teman sebayannya. Dia lebih suka menyendiri dan juga mencari botol bekas.
Pria melepas ciumannya, “Anakmu sudah tidur?"
Masih dengan posisi wanita itu di bawah dan prianya di atasnya. Tangannya bergerak-gerak di antara dua kaki wanita itu. sambil bertanya, wanita itu mendesah.
Masih memakai pakaian lengkap, dan wanita itu memakai rok. Dengan bebas tangan pria itu bergerak memasukinya lebih dalam.
“Dia sudah ... Ah ... tidur.” Dia mendesah saat saat tangan pria itu memasukinya lebih dalam “Masukan ke dalam ...”
Liam yang di depan pintu berjalan keluar dari rumah. Masih dengan wajah tanpa emosi. Liam berlari ke pelabuhan. Dia ingin pergi menemukan Ayahnya.
Berlari dengan cepat. malam ini udaranya dingin. Liam yang masih pakai baju tidur merasa kedinginan. Sangat sedih dan juga terpukul. Tetapi Liam tidak mengeluarkan air mata.
Dia tau kalau ibunya tidak sayang sama Liam. Ayah yang baik, dia selalu memanjakannya. Tetapi sebenarnya ibunya menyesal sudah menikah dengan Ayahnya Liam. Hidupnya menderita dengan kemiskinan.
Ada orang yang mau berangkat belayar. Liam yang berbadan kecil ke arah kapal.
Memeriksa wajah satu persatu. Kalau Liam ikut mereka apa bisa bertemu dengan Ayahnya?.
Liam membuang jauh-jauh pemikiran yang terlintas di pikirannya. Dia ingin menunggu disini untuk menunggu Ayahnya.
Menunggu lama Ayahnya tidak pulang. sudah tiga bulan sejah Ayahnya belayar. Biasanya dua bulan Ayahnya sudah pulang. tetapi kali ini lebih lama.
Terik matahari siang, Liam berdiri di depan pintu rumah. Dengan sekejap mata dia berpindah. Pandangan matanya melihat ruang sempit dan dia terikat.
Suara langkah kaki mendekat ke tempat Liam. Liam menutup matanya.
"Ada anak baru?"
"Iya, wajahnya cukup bagus."
Mereka berdua berhenti di depan jeruji besi. Melihat Liam yang masih pingsan. Posisinya yang masih tergeletak di bawah lantai keras dan tangannya terikat.
"Tidak terlalu bagus kalau dia jadi, tentara anak, kita bisa menjualnya keluar negeri. Pasti laku keras dengan wajah tampannya."
Liam terus berpura-pura masih pingsan.
"Liat wajahnya pasti dia keras kepala"
"Sebelum dijual cuci otaknya dulu biar patuh"
Jantungnya berdetak dengan cepat. dia harus keluar dari sini. Ayahnya pasti sudah pulang. dia tau kalau Liam menghilang dan mencarinya.
"Sungguh menyedihkan dia dijual oleh ibunya dan ayahnya meninggal."
Seperti tersambar petir saat saat dia mendengar obrolan mereka berdua.
"Menyedihkan, tetapi kita mencari uang dari ini."
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Pria sebelahnya hanya mengangguk.
"Aku mendengar gosip kalau bos juga akan menikahi ibu dari anak ini."
"Gila."
"Semuanya di rencanakan."
Liam mengepalkan tangannya. Tangannya masih terikat di belakang. Dia tau kelakuan ibunya. Ayahnya meninggal saat belayar. Sekarang dia dijual oleh ibunya sendiri hanya karena dia ingin menikahi pria itu.
Dia ingin tertawa dengan kemalangannya sendiri. Ini seperti mimpi siang bolong.
Di sisi lain tubuh Arka berkeringat, wajah gelisah. bajunya sudah penuh dengan keringat. Dengan matanya masih terpejam.
Berhasil untuk melarikan diri. Liam masuk ke ruang senjata. Untuk pertama kalinya dia memegang senjata. Pistol dia pegang di tangannya.
Meletakannya di saku celananya.
“Cepat cari anak itu.”
Semua orang mencari Liam. Dia bersandar di pintu, tangannya mengeluarkan pistol di dalam saku.
Hatinya sudah tidak karuan. Liam berusaha tenang. Dia harus keluar dari sini. tubuh kecilnya tidak kuat menahan rasa sakit dan perutnya belum makan seharian.
Dia harus kuat.
Liam mengintip dicela pintu. melihat situasi di luar. Orang-orang menyebar dan di luar aman dia menyelinap ke luar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Rohad™
Ibu kandung Arka, kok tega ya sama anak sendiri? 🤦♂️
2023-10-11
2
Rohad™
Ini scene flashback masa lalu Arka kah?
2023-10-11
1
Lela Lela
davira ny mn ah thor
2023-08-20
0