Bangunan kumuh penuh dengan ruangan yang tidak dipakai. Liam dengan erat memegang senjata ditangannya, mulai berjalan ke arah berlawanan dengan jalan yang ia lewati tadi.
Berjalan terus menelusuri lorong. Cahaya bulan menerangi setiap celah jendela.
Rasa takut menghampiri Liam. Kalau dia tidak keluar dari sini, apa dia akan hidup atau akan dijual.
Tangan yang memegang pistol bergetar. Dia ingin menangis. Tetapi kalau dibersedih apa akan menyelesaikan semuannya.
Tidak !.
Dia harus kuat. Liam harus keluar dari sini dengan cepat. Dengan kaki kecilnya dia berlari.
Bersembunyi saat ada langkah kaki mendekat.
Punggung Liam penuh dengan keringat. Menempel ditembok. Saat orang itu lewat jantung Liam berdetak sangat cepat.
"Bos." Pria itu memberi hormat.
"Apa kamu menemukan anak itu?"
"Belum ketemu bos," kata pria itu.
"Tangkap anak kecil kamu tidak becus."
"Tetapi bos anak ini terlalu pintar, dia bersembunyi deng ..." Sebelum dia selesai berbicara bosnya menyela. "Apa hubungannya dengan pintar, Dia hanya anak kecil. kalau kamu tidak menangkapnya kamu tau konsekuensinya kalau tidak menangkapnya."
Dia teringat dan tertegun peringat tegas bosnya.
Itu sudah menjadi, risiko pekerjaan ilegal ini. Dia juga tidak mau melakukan, dia tau kalau dimasuk ke sarang harimau.
Semua ini hanya untuk sebuah misi.
Menunggu waktu untuk bisa mencari bos besar dalam perdagangan anak. Kasus besar pada tahun ini.
"Baik."
"Bagus sekarang kamu cari anak itu." Selesai berbicara bosnya pergi.
Liam yang masih bersembunyi mendengar percakapan mereka berdua. Dia mengintip di celah pintu. Melihat pria berumur sekitar tiga puluh tujuh tahun.
Pria itu memandang ke arah bos dengan tatapan membenci.
Kalau bukan karena misi. Eka tidak akan menuruti perintahnya. Dia berbalik pergi dari sana.
Liam yang sedang bersembunyi menghela napas lega.
Merasa lelah kakinya merosot ke bawah. Terduduk di lantai.
Liam beristirahat sebentar dan mulai mencari jalan keluar. Melihat kondisi di sekeliling. Di luar jendela terlihat pohon-pohon mengelilingi bangunan ini.
Semua jendela terkunci dengan rapat. Tetapi Liam melihat ke satu jendela yang terbuka.
Jendelanya cukup tinggi untuk anak seusia Liam.
Liam melihat ke sekeliling, apa ada barang yang bisa dipakai buat pijakan.
Liam melihat kotak kayu buah. Dia menyeretnya ke jendela. menumpuknya dua box kayu. Sudah menumpuk Liam naik disela-sela kayu.
Dengan tekat yang kuat Liam meraih jendela.
Dia terduduk di jendela. melihat ke bawah cukup tinggi. Liam sempat ragu. Ini jalan satu-satunya untuk keluar dari sini.
Sekali tarikan napas dia melompat ke bawah. Liam melompat membuat bunyi cukup keras.
Saat menyentuh tanah kakinya terlipat dan membuat kaki Liam terkilir.
Di sisi lain Eka sedang berkomunikasi dengan tentara yang sedang menyamar.
"Satu anak laki-laki berusaha kabur." Eka gelisah.
Ini pertama kali ada anak yang nekat untuk kabur. Biasanya tim akan menyelamatkan anak yang ditahan, saat perjalanan mereka mau dipindahkan ke tempat lain.
Tapi kali ini ada satu anak yang berusaha kabur. Anak ini cukup pintar untuk seusianya. Dia bisa bersembunyi dari orang-orang dari organisasi perdagangan anak.
"Coba untuk menyebar mencarinya, tapi jangan sampai ketahuan mereka," tegas Eka.
"Siap komandan."
Pria itu berlari untuk mencari anak laki-laki itu. Menyebarkan informasi ke tim penyamaran.
Eka mulai mencari ke semua ruangan yang ada di bangunan ini. Tetapi dia tidak menemukannya. Semua orang sibuk mencari Liam.
Liam yang kakinya terkilir tidak bisa berjalan cepat. Dia menemukan semak-semak yang tidak jauh dari dia loncat.
Dia berjalan dengan kaki yang pincang menuju semak-semak. Kedua tangannya masih memegang pistol. Liam bersembunyi disemak-semak.
Dia melihat kakinya yang bengkak.
Menyentuh bengkak pada kakinya. Ekspresi kesakitan terlihat di wajahnya.
Semua orang mulai mencari Liam di dalam Bangunan dan juga di luar. Liam yang masih bersembunyi. Mendengar langkah kaki beberapa orang.
Ada percakapan antara anggota pedangan anak. Percakapan berhubungan dengan Liam. Liam masih diam di tempatnya.
Eka yang sudah di luar dengan pakaian serba hitam dan juga menggunakan penutup mulut. Dia menggunakan semua ini untuk mudah menemukan Liam.
Dia juga tidak akan ketahuan kalau dia tentara yang menyamar ke sarang musuh.
Ada gerakan di tempat Liam berdiam. Dilihat oleh salah satu anggota pedagang anak.
"Ada sesuatu di sana." Dia berbisik ke rekannya.
Melihat ke arah yang ditunjuk pria sebelahnya, "Kita periksa."
"Baik."
Berjalan ke arah tempat Liam bersembunyi. Liam yang sedang bersembunyi mendengar langkah kaki mendekat kearahnya.
Memegang erat pistol ditangannya. Melirik ke arah suara langkah kaki mereka. Kalau dia keluar pasti akan tertangkap.
Liam mundur perlahan ke belakang. Kakinya yang sakit dia paksa untuk bergerak.
Walau Liam bergerak perlahan, tetapi semak-semak bergoyang saat dia berjalan.
"Anak itu ada di sana," Teriak pria itu. Keduanya berlari ke semak-semak.
Liam yang mendengar omongan pria itu, dia berdiri. Memegang pistolnya mengarah ke arah mereka berdua.
Mata yang tajam, penuh tekat "Kalau anda berani menangkap saya, saya akan menembak"
Di dalam hatinya dia bergetar, ada rasa takut. Dia tidak percaya diri, Liam hanya anak kecil baru lima tahun. Tangannya yang kecil memegang pistol cukup berat untuk dipegang seumurnya.
Tidak ada anak kecil yang memegang pistol selain Liam.
"Cepat tangkap, dia cuma anak kecil. tidak akan bisa menarik pelatuknya," kata rekannya.
Rekan yang disebelahnya mengangguk. mereka berdua berlari ke Liam.
Liam yang panik. menarik pelatuk dikedua tangannya. Pelurunya mengenai lutut salah satu rekan pedagang anak
Eka yang mendengar suara tembakan. Mulai berlari ke arah sumber suara.
Tangan Liam bergetar saat peluru itu mengenai Pria itu. Darahnya mengalir di lututnya. pria itu berteriak kesakitan.
Rekannya tercengang dengan aksi Liam. Dia tidak tau Anak kecil ini akan menembakan pistolnya. Ini di luar logika. Pistol itu cukup berat buat dipegang anak kecil.
Sebelum Pria yang tidak terluka bergerak. Eka menari Liam dalam gendongannya.
Liam yang masih shock. masih memegang pistol dengan erat di tangannya
"Kamu sudah aman, Aku akan membawamu pulang." Membisikannya di telinga Liam.
Liam yang mendengarkan suara Eka mulai tenang. Eka mengambil pistol yang ada di tangan Liam.
"Siapa Kamu?" Kata pria itu.
"Kamu tidak perlu tau."
Eka membalikan Liam yang digendongnya ke arah punggungnya. Dia menembak keduanya tepat di jantungnya. di tempat mereka penuh dengan darah.
Liam yang mendengar suara tembakan dengan refleks melihat ke arah kedua orang itu.
Dia melihatnya.
Darah dimana-mana. Eka menundukkan kepala Liam di lehernya.
"Jangan dilihat."
Liam makin bergetar. Ini bukan yang dia inginkan. Liam ingin bertemu ayahnya. Kehangatan tubuh Eka membuat Liam menangis.
Eka terus berlari ke tempat yang aman. menyusuri jalan ke tempat perkumpulan tim penyamaran.
Mendengar Liam yang menangis. Dia teringat anaknya laki-lakinya yang masih seumuran dengan Liam.
Penuh dengan gelisah Arka terbangun dalam tidurnya. Dia terduduk tarikan napasnya tidak teratur. seperti sedang lari jauh.
Bajunya basah dengan keringat. Suara jarum jam terdengar pelan dengan suara napas Arka yang tidak teratur.
Mengambil pil penenang di atas meja. Arka meminum obatnya. Dia mulai tenang saat sudah meminum obatnya.
Melihat jam menunjukan pukul tiga subuh.
Arka sudah melupakannya saat dia mulai bersama Davira. Setiap hari penuh dengan kenangan dengan Davira.
Tetapi saat dia dipanggil ke militer. Kenangan manis dengan pacarnya hanya sesaat, dan sekarang dia harus bertarung dengan kenangan lamanya lagi.
Ingatan itu muncul kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
lanjutkn dgn davira
2023-08-20
1
Erni Syah
saya suka ceritanya penuh dgn ktegangan dan romantis cinta ...thor cinta arka dan davira jgn dipisahkan aplgi adanya plakor.. saya tak suka adanya pihak ketga..
2022-11-18
2