Hari ini Davira pulang malem karena tugas yang mengharuskannya ia berada di kampus. Ley dan kila sudah pulang duluan. Mereka ngekos di daerah deket sini. Tadinya ia di tawaran untuk sekedar menunggu Arka yang hendak menjemputnya.
Tapi ia menolaknya pikirnya mungkin Arka sudah dekat dari kampus nya. Jam-jam malam di kampus masih ramai dengan mahasiswa yang mencari makan. Apalagi yang belajar di kampus ini bukan hanya orang Bandung saja tetapi ada orang luar Bandung yang ngampus di sini. Pastinya banyak orang-orangan yang ngekos di daerah sini.
Ia melihat jam tangannya "mana sih, lama banget" ia masih menunggu sambil sesekali ia melihat ponselnya.
Ia masih fokus dengan ponselnya tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di hadapan Davira. Ia melihat dengan bingung. Siapa?. Ia mengabaikan mulai melihat ponselnya kembali. Mulai kesal sendiri pesannya tidak di balas oleh Arka.
"Mau gue anter? "
"Apaan in cowok kenal aja engga. Aja anter segala" ia berbicara dalam hati sambil memandang wajahnya dengan sinis.
"Engga gue di jemput" dengan suara ketus ia memandang wajah Adit.
Ada telepon masuk dari ponselnya.
Ia melihat nama yang tertera di ponselnya tersebut. Dengan gerakan cepat ia mengangkatnya dan menempelkannya di telinga.
"Lama banget baru sampe mana?" tanpa basa-basi Davira berbicara dengan suara mulai kesal.
"Maaf engga bisa jemput ada kerjaan mendadak yang engga bisa di tunda"
"Dari tadi ke kasih kabarnya. Kalau kaya gitu aku mampir dulu ke rumah Ley" matanya melihat ke sekeliling.
"kenapa ini cowok masih di sini sih" memandang pria tersebut dengan sekilas.
"Vira lo masih di situhkan" suara terdengar dari seberang telepon.
"Ah ia" Davira langsung ingat dengan wajahnya yang tidak asing.
Ia menutup bibirnya sendiri yang lancang berbicara tidak sopan dengan kating yang satu ini. Ia mengumpat sendiri dengan ketidak pekaannya.
"Maaf Bang Adit" suaranya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia lupa kalau ia belum menutup teleponnya.
"Udah ya ka gue tutup teleponnya"
"Itu ada kue di kulkas ambil aja"
"Siap" ia langsung mematikan teleponnya.
"Maaf Bang Adit di kirain orang iseng" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Engga apa-apa ko. Kali aja butuh tumpangan pulang"
"Sengaja menunggu" ia berbicara dalam hati.
"Engga apa-apa nih. Engga ngerepotin Bang Aditkan?"
"Engga ko" saat Bang Adit berbicara tersebut ia langsung naik ke motornya. Ia memberi tau kan alamat rumahnya yang tidak jauh dari kampus.
Tidak ada pembicaraan khusus dari kita berdua. Davira hanya melihat pemandangan jalanan yang penuh dengan lalu-lalang motor dan juga mobil . Tidak butuh lama ia sudah sampai di depan Apartemennya.
"Tinggal di sini?" ia mematikan mesin motornya.
"Iya kak. Makasih udah mau nganterin pulang. Maaf sempet engga ngenalin kakak" ia berdiri tepat di sebelah Adit.
"Sans aja. Kalau mau di anter lagi bilang aja"
"Kan engga punya nomer Bang Adit"
"Mana ponselnya" Davira masih memegang ponselnya di tangan. Ia memberikan ponselnya ke Adit. Pikir Davira mungkin ada untungnya. Ia hanya berfikir positif.
Ia mengetik angka-angka di ponselnya Davira ia miskol nomernya ke ponselnya. Ia langsung mengembalikan ponselnya lagi ke Davira.
"Kalau butuh apa-apa telepon aja"
"Gue balik ya" ia menyalakan mesin motornya.
"Makasih Bang" motornya sudah menjauh dari hadapannya.
Davira masuk ke dalam gedung.
Ia berjalan menuju lift yang tak jauh dari pintu masuk. Ia menekan tombol panah yang menujuk ke atas. Tidak butuh waktu lama lift tersebut terbuka. Ia masuk dan menekan tombol empat. Pintu lift tersebut tertutup.
Sambil menunggu ia mengecek ponselnya yang ada chat dari Ley dan juga Kila. Saat membalas pesan lift tersebut terbuka ia melangkah ke pintu Apartemennya. Masuk ke Apartemennya Davira hanya untuk mengganti baju tidur yang sering ia gunakan kalau ada di rumah.
Ia mengambil ponselnya dari atas meja ia melangkah keluar untuk ke tempat Arka. Ia mengetik enam digit angka yang sudah ia ingat di luar kepala. pintu tersebut terbuka ia langsung masuk ke dalam. Hal yang pertama ia lakukan mengambil kue yang ada di dalam kulkas Arka. ia berjalan sambil membawa kuenya ke ruang tv yang tidak jauh dari dapur.
Davira menyalakan tv. Dengan matanya yang masih fokus memandang tv ia memakan kuenya sampai habis. untungnya besok adalah hari liburnya ia bebas untuk malem ini. Hanya saja besok ia harus mengerjakan setumpuk tugas yang di berikan dari dosen. Walaupun malasia harus mengerjakan semua itu.
"Yah habis" ia masih memandang piring yang tadinya berisi kue yang ia suka
Davira duduk di atas sofa ia mulai merebahkan diri sambil melihat ke arah tv. Awalnya hanyaia tidak mengantuk lama-lama ia tertidur dengan lelapnya.waktu terus berputar Davira masih terlelap di atas sofa. Jam menunjukan pukul sebelas malam.
Suara digit angka yang berbunyi dari luar. Arka membuka pintu memandang sekeliling ruangan. Tv masih menyala dan juga Davira yang tidur di atas sofa. Ia berjalan menuju meja mengambil remote tv Arka mematikan tv tersebut. Davira tertidur sambil memegang ponselnya yang ada di tangan sebelah kanan.
Arka hanya memandang tingkah polos dari wajah Davira yang belum ia lihat. Tanpa sadar ia memandang Davira sudah cukup lama. Tidak di pungkiri kalau dia sudah masuk kedalam hatinya. Dalam artian kalau dia mulai suka dengan Davira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
ternyata jd mau jg arka
2023-08-19
0