Matanya memandang gedung yang selama ini ia idamkan. Bisa kuliah di tempat yang sebagus ini. Ini menjadi awal yang baru untuk masa kuliah. Davira hanya bisa memperlihatkan wajah lesunya. Bukannya ia tidak suka dengan bisa masuk dalam bidang seni rupa tapi ia terpisah dengan sasha sahabatnya.
“Vira kaya lo di tinggal jauh aja sama Sasha. Dia Cuma beda fakultas doang” ia berbicara di dalam hati sambil berpositif thinking.
Ia melangkah masuk kedalam gedung tersebut. Menyusuri setiap koridor kampus. Mencari ruangan kelasnya. Masih bingung dengan letak kelas yang begitu banyaknya ruangan.
Apalagi kampus ini begitu luas. Kadang-kadang bingung dengan semua bangunan yang ada di kampus.
Ia berhenti sebentar untuk melihat jadwal kuliah yang ada di dalam ponselnya.
“Ruangan 8” ia melihat pintu yang tak jauh dari hadapannya. Ruangan tersebut tertulis nomer 5.
“Ohh di sana” ia sambil berjalan menuju ruangan 8.
Suara ribut-ribut terdengar dari dalam ruangan. Semakin ia melangkah suara itu makin terdengar. Saat ia hendak masuk semua mata langsung tertuju pada Davira. Seketika ruangan yang ribut mendadak hening dan semu orang terdiam. Davira hanya terheran -heran emang ada yang salah sama bajunya.
Semua orang masih memandang Davira. Dengan wajah Davira yang cuek ia berjalan menuju kursi mahasiswa yang sudah di sediakan. Langsung semua orang merasa lega dan mereka pun mengobrol lagi dengan yang lain.
Davira duduk tepat di sebelah wanita dengan rambut pendek. Ia cukup cantik mungkin juga populer.
“Hei” ia menyapa wanita yang ada di sebelahnya. “tadi kenapa ya semua orang diam saat gue masuk? “ ada rasa tidak enak dengan wajahnya.
“Sepertinya dia sobong? Ahh engga bisa di cerna banget ini kata-kata. Sokenal so deket banget si gue” Davira berbicara dalam hati.
“Ahh itu. Yang tadi anak-anak diam. Di kirai lo itu dosen” ia dengan santai nya berbicara dengan Davira.
“Untung dia engga sombong. Mudah untuk di ajak bicara” ia menghembuskan napasnya.
“oh gitu toh, emang muka gue kaya dosen banget?”
“bukan soal muka tapi soal pakaian lo yang terlalu formal. Itu sih yang gue tangkap dari pembicaraan anak-anak” Davira hanya menganggukkan kepalanya.
“dari tadi kita udah ngobrol banyak belum tau nama masing-masing” Davira mengulurkan tangannya
“nama gue Davira Laquitta Carrissa. Bisa di panggil Davira atau Vira juga boleh” wanita tersebut menerima jabatan tangan Davira.
“Kenalin nama gue Keyla Dwi Utami. Bisa di panggil kila” mereka melepaskan jabatan dengannya. Mereka tersenyum satu sama lain.
“kalau mau nanya tentang yang ada di kampus. Tentang gosip bisa Tanya langsung ke gue” tiba-tiba cewek berambut panjang sudah ada di depan kita. Ia memandang kita.
“bisa engga si lo engga dateng kaya jalangkung. Serem amat tiba-tiba nimbrung” Kila merasa kesal dengan tingkah sahabatnya dari kecil itu.
“Kenalin teman gue yang paling gila dengan gosip namanya Hayley liana. Panggil aja Ley” Ley hanya menganggukkan kepalanya.
“Gue Vira. Salam kenal juga Ley”
“Kalau butuh gosip yang hangat langsung ke gue aja. Gue akan ceritain gosip apa aja yang ada di kampus”
“hangat-hangat. Hangat tai kotok ayam maksud lo” ia meledek Ley yang mencoba menghasut Davira dengan cerita gosipnya itu.
“Jangan di dengerin Vira nanti kebawah error”
“dasar penentang gosip” ia langsung duduk di sebelah Vira.
Saat ia melihat dosen mulai masuk di dalam kelas. Semua orang terdiam melihat dosen. Dosen tersebut menulis sesuatu di papan tulis.
Kali ini mereka tidak keliru.
Sekarang yang ada di depannya dosen pria yang sedang menjelaskan namanya dan juga jangan di bawa tegang saat mata kuliahnya. Yang penting acc lancar. Tugas lancar nanti kedepannya engga bakal ada masalah. Hal yang paling penting dalam kuliah itu absen tidak boleh di bawah tujuh puluh lima persen.
Kalau ada mata kuliah yang di bawah tujuh pulih lima persen tidak akan bisa mengikuti ujian (UAS). Ya hasil nilai UAS tidak akan keluar.
Hari ini hanya perkenalan antar dosen dan juga mahasiswa. Ada juga dosen yang langsung masuk dalam mata kuliah langsung belajar. Tergantung dengan dosennya itu sendiri.
Hari ini pulang aga cepat dari biasanya. Mungkin karena masih awal masuk kuliah. Cuma fakultas kita doang yang dibebaskan memakai baju bebas. Dalam artian bebas dan juga rapih. Kebanyakan kating memiliki rambut panjang gondrong buat cowok. Bisa di sebut si rambut gondrong. Lekat banget dalam hal seni rupa pasti cowok berambut gondrong. Tapi itu tidak semua.
Mata kuliah tersebut selesai. Dosen melangkah keluar dari ruangan. semua orang merasa senang di hari pertama masuk kampus hanya perkenalan doang. Mereka berhamburan keluar dari kelas.
“Vira ke kantin yu gue laper” sambil melihat kearah Davira.
“boleh tuh kil gue juga laper” Ley yang menjawab.
“Siapa yang ngajak lo. Gue ngajak Vira makan kenapa lo yang nyaber. Perasaan gue engga pake kabel deh”
“Jahat banget lo kil. Ketemu teman baru teman lama di buang” memasang muka sedih.
“Kil-kil. Manggil nama gue lengkap ke kila gitu atau Keyla. Sekalian aja sebut nama gue kikil” memasang muka ngambek.
“aduh berasa gue gunung. Membatu di tengah-tengah”
“gue mau keluar nih. Jadi mau makankan?” ia berdiri dari duduknya. Melihat dua teman barunya kaya tom and jerry.
“jadi-jadi” kata mereka berbarengan.
Mereka bertiga berjalan dari koridor menuju kantin yang yang lumayan jauh dari ruangan tempat mereka ngampus. Mereka mengobrol tentang kenapa mereka sampai suka dengan mata kuliah yang mereka ambil. Ada ada tawa dalam pembicaraan kami dan tidak terasa kita sudah sampai di kantin.
Kantin tersebut tidak terlalu ramai. Apalagi kita dateng nya bukan pas jam makan siang. Masing banyak bangku-bangku kosong yang belum terisi. Mereka berjalan menuju meja yang tepatnya berada si samping jendela.
Mereka bertiga mulai mencari makanan. Saat sudah memesan makana dan juga minuman mereka duduk kembali ke tempat duduk. Menunggu pesanan datang Davira melihat ponselnya mungkin saja Arka ngechat. Berharap ia inisiatif jemput.
“Vira lagi liatin apa sih serius amat” Ley berbicara ke arah Davira.
“mulai keponya” dengan suara menyindir.
“Apaan sih Kila. Emang lo engga kepo apa”
“kepo sih. Dikit” ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“engga ada apa-apa ko” ia langsung menutup ponselnya.
“Gue punya gosip hangat nih. Mau tau engga? “
“Engga!”penuh penekanan dari Kila
“bener engga kepo. Masih hangat banget. Masih ngebul lagi” ia mencoba meyakinkan.
“Kalau gue sih kepo”kata Davira.
“awas ya kalau gosipnya engga bermutu” kata Kila
“Tenang aja Kila bukan bermutu lagi tapi bercoet”
Selang Ley mau mulai bercerita makan mereka datang. Sambil makan Ley bercerita. Tentang Kating angkatan atas yang beda satu tahun dari mereka.
“pasti taulah Bang Adit waktu pkkmb yang ganteng itu dari anak fakultas kita”
“emang kenapa dia? Kecelakaan?”
“Lah nih bocah. Bukan kecelakaan bego. Tapi dia baru putus dengan pacarnya”
“terus apa hubungannya dengan kita?” Oonnya kila kambuh lagi.
“Maksudnya Ley itu mungkin ada yang mau maju buat dapet Bang Adit. Secara dia populer di kampus ini” sambil ia menyuap nasi goreng kedalam mulutnya.
“Vira aja tau Maksud gue cerita ini. Ko lo oonnya kambuh lagi?”
“cari ribut lo sama gue” ia menarik lengan bajunya ke sikut. Ia langsung memandang tajam ke arah Ley yang ada di depannya. Di samping Kila ada Davira.
“Yah.. Cowok yang kita bicarakan dateng tuh. Wah gila rejeki nomplok. Kapan lagi liat cogan ganteng di pagi buta ini” kila merinding melihat Ley yang mulai alai.
“pagi buta? Udah siang bolong kali?”
“udah jam sebelas Ley” kata Davira melihat tingkah anehnya.
“Gila! Dia mendekat ke arah meja kita”
“jangan ngarep gitu deh Ley. Jijik liat nya” Davira berbicara ke arah Ley.
“Lo engga percaya?”
“kali aja mau duduk di depan sana” Davira melihat tempat duduk yang masih kosong di depan kita.
“engga pada percayaan banget sih. Insting seorang Ley itu tidak pernah salah”
“udah makan mienya. Nanti mienya keburu bengkak” Kila berbicara ke arah Ley yang mulai cemberut.
Adit dan temanya berjalan ke arah tempat duduk Davira. Ia melewati tempat duduk tersebut dan mereka duduk tepat di depan tempat duduk yang masih kosong. Rencana untuk mendekati gagal. Engga tau kenapa tidak seperti Adit yang pedenya engga ketulungan mendadak dia menciut seperti di telan bumi.
“Bro lo engga jadi deketin dia? “ kata Erik berbicara ke arah Adit.
“engga tau kenapa jadi engga pede” sambil ia memandang cewek dengan rambut panjang yang duduk di sebelah wanita berambut pendek sepundak.
“engga biasanya. Lo biasanya pedenya akut kalau tentang cewek”
“untuk hari ini cukup hanya memandangnya”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
iya pandang aja teus
2023-08-19
0