Davira hanya bisa membuka mata lebar-lebar. Melihat semua tumpukan buku yang ada di depannya. Semua itu harus di pelajari setiap harinya. Yang sudah di tentukan oleh si bos killer yang satu ini. Tiga bulan menuju ujian nasional.
Mulai hari ini dan detik ini hidupnya mulai tidak tenang. Saat pulang sekolah ia sudah menyeretnya ke perpustakan yang disediakan di kota H. Tapi engga begini juga !. Belajar itu tidak harus setiap hari menurut Davira. Apa lagi Arka lagi sibuk dengan projek kampusnya.
Arka taro buku tepat didepan Davira "Ya..!! apa engga salah kamu ngasih buku sebanyak ini" Ia menaikan satu oktaf. Semua orang yang ada di perpustakaan langsung melihat kearah Davira.
Davira menutup mukanya dengan kedua tangan. Ia berusaha mengecilkan suaranya. Davira langsung melihat Arka dengan mata membara seperti ada api yang menyala di matanya. Tapi Arka malah menggambil buku membuka halaman yang sudah ia tandain. memberikan kearah Davira yang masih memandangnya dengan kesal. Dengan pasrah ia belajar menuruti semua perkataan Arka.
Matanya fokus dengan buku seketika matanya terpejam dan terbuka lagi itu perulang sampai ia tertidur. Melihat Davira mulai tertidur Arka melihat jam tangan sudah pukul tujuh malam . Semua orang sudah banyak yang pulang. Arka memasukan bukunya kedalam tas.
Ia membangunka Davira "Ra bangun" ia menepuk pundaknya. Davira membuka matanya tapi nyawanya belum sepenuhnya kumpul. Ia masih ling-lung melihat kearah kanan dan kiri.
"Udah sepi" Ia bergumam dengan pelan. Arka bisa mendengar gumamannya. Ia tersenyum melihat sisi lain dari Davira.
Davira membereskan buku yang ada di meja dan Arka membantunya memasukan kedalam tas. Setelah membereskan semua mereka berdua berjalan beriringan keluar dari perpustakaan. Arka mengantarnya pulang. Mobilnya berhenti depan rumah Davira.
"Mau mampir dulu kerumah. Sambil kenalan sama mama dan papa?" Davira melepaskan safety belt.
"Lain kali aja, salam aja buat mama dan papa kamu"
"Ya udah kalau gitu aku masuk dulu" Ia membuka pintu mobil dan tangan Arka menahan pintunya untuk di buka.
"Ini.." Dengan bingung Davira memegang selebar yang ada di tangannya. "Apa ini?" kata Davira dengan muka bingungnya. Dahinya berkerut setiap membaca kata-perkata.
"Jadwal belajar selama tiga bulan ini" Masih memasang wajah yang datar sekejap mata ia tersenyum bagaikan iblis.
Membuat Davira merinding seketika. dia paling anti yang namanya belajar. Apalagi ini belajarnya setiap hari termasuk hari libur juga. Mati sudah tidak ada namanya ke bioskop mau pun main bareng teman.
"Apa...!" Ia menaikan suaranya satu oktaf. Arka langsung menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Engga salah ini, sabtu minggu juga belajar. Yaaa!! bisa-bisa aku serangan jantung melihat daftar belajar yang tidak ada hentinya ini" Ia berbicara tanpa henti dan memandang Arka dengan tatapan yang tajam.
"Dan yang ini" Ia menunjuk jadwal belajar yang ada di kertas. "Gila ya kamu..." Ia menghembuskan napas dan matanya terpejam sebentar. Ia melanjutkan bicaranya lagi "Jam istirahat sekolah juga di pake untuk belajar. Hapus bagian ini sekarang"
Arka mengambil kertasnya dari tangan Davira. Bukannya di hapus malah ia menambah dengan istirahat jam kedua. Ia memberikannya lagi ke Davira.
"ya....!! Arka!! " ia melihat wajah Arka dengan tatapan membara. "Sini pulpennya" ia menariknya dari tangan Arka. Ia menyoret bagian jadwal istirahat pertama dan juga kedua.
"Kenapa di coret" Dengan suara polosnya membuat Davira melotot kearahnya. Arka tau dia bakal berwajah cemberut dan juga marah.
"Pikir aja sendiri"
"Udah belajar di sekolah istirahat sekolah malah di pake belajar bukannya masuk malah mudal"Ia menggerutu di dalam mobil.
"Udah sana masuk. Jangan menggerutu terus nanti gila loh"
"Iya aku udah gila liat daftar belajar yang tidak ada habisnya selama tiga bulan. Berasa punya kakak yang ngasih belajar segini banyaknya" Entah kenapa yang tadinya ia tersenyum tiba-tiba senyuman itu hilang dengan perkataan terakhir Davira ucapkan.
"Udah sana masuk" dengan suara datar.
"Iya-iya aku masuk" kertas jadwal belajar ia masukan kedalam tas dan membuka pintu mobil. sebelum menutup pintu ia berbicara ke Arka "Dadah ka mimpi indah" Ia langsung menutup pintu mobil.
***
Davira hanya bisa memandang kearah pagar besi sekolahnya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Ia mencoba menyalakan radarnya untuk mengetahui keberadaan Arka. sering ia menjemput Davira hanya untuk mengajarinya belajar. Tapi bagi Davira membuat hatinya berdetak lebih cepat. Ia senang kalau Arka sering menjemputnya. Disisi lain ia juga risih, setiap Arka datang ke sekolahnya semua mata memandang Arka dengan genit.
Yang paling resenya lagi semua orang pasti nanya 'Itu siapa? Ganteng banget? Kakak lo? Kenalin gue sama dia dong kali aja jodoh?' itu semua pertanyaan yang sering di tanyakan ke Davira.
Dia aja susahnya setengah mati untuk deketin Arka. Kenalnya aja engga, temen deket juga bukan, mau so akrab. Yang selama ini ia sering di asingkan dengan sekelilingnya karena kelakuanya yang sering melanggar peraturan yang ada di sekolah.
Sebuah tangan menepuk pundaknya. Seketika badan Davira bergetar hampir memukul orang yang menepuknya. Jangan coba-coba mengagetkan Davira sebuah tangan selalu akan melayang memukul. Itu kebiasaan Davira sejak kecil.
Seketika tangannya di pegang oleh Rafa "Astaga lo mau mukul gue?" ia melepaskan tangan Davira. Ia masih melirik ke sekitarnya.
"Sorry, kebiasaan buruk gue" Davira tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nyariin siapa sampe serius gitu?"
"engga nyariin siapa-siapa. Rafa lo mau balikkan, gue nebeng ya" Davira mencari cara untuk kabur dari setumpuk buku pelajaran.
"oke, lo tunggu di sini gue mau ngambil motor dulu"
"gue ikut" ia berjalan beriringan dengan Rafa.
Ia kumat kamit sambil berjalan ke parkiran motor 'jangan ketahuan' dengan kata yang di ulang-ulang . "berharap gue menghilang biar engga ke ketahuan sama..." belum sempat melanjutkan perkataannya ia menubruk seseorang. Reflek memukulnya hilang entah kemana, ia mencium bau parfum yang ia kenal.
Ia mengupat dalam hati 'Mati gue!' kepalanya masih menunduk sambil menggigit bibirnya. Rafa udah pergi entah kemana ia berjalan dengan cepat. Karena dari tadi Davira terus mendumel tanpa melihat kearah Rafa.
Ia merasa tercyduk sedang selingkuh. Ia mulai mundur kebelakang tanpa melihat muka Arka. Davira hendak berlari, ia sudah melakukan ancang-ancang memutarkan badannya. Kerah belakang Seragamnya di tarik membuat Davira terbatuk-batuk. Ia memutar badannya melihat kearah Arka.
"Mau kemana?" dengan nada suara yang datar.
"Aku lupa kalau hari ini ada kelas tambahan bahasa indonesia" Davira mulai berbohong. Ia mencari alasan agar dia bisa terbebas dengan buku-buku yang tidak ada habisnya.
"Aku udah nanyain ke Raga kalau hari ini engga ada yang namanya kelas tambahan bahasa indonesia" ia mecubit pipi Davira.
Davira hanya meringis ke sakitan "sakit Ka" ia megelus pipinya yang di cubit Arka.
"Kenapa Cuma aku yang di ajarin kaya gini. Aku cape butuk rekreasi. Kenapa Raga engga belajar kaya aku. Kan lo kakaknya?"
"Dia itu engga usah di tanya Raga udah pinter sejak lahir. Yang perlu di asah otaknya itu kamu Vira"
"Cepet jalan ke mobil nanti keburu malam. nanti Bukannya belajar malahan ngantuk" ia tersenyum kearah Davira.
"Iya bawel" Ia berjalan dengan muka sebal. Davira mengeluarkan hpnya mengirim chat ke Rafa. Kalau ia tidak bisa pulang bareng dengannya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Arka menyalakan mobilnya mulai melaju ke jalan. Davira masih kesal dengan Arka ia lebih sering memandang ke jendela yang di sebelahnya. Arka yang masih fokus menyetir sesekali melihat kearah Davira.
"Masih marah, gitu aja marah, biasanya juga engga marah"ia masih fokus mengendarai mobil.
"Engga marah, tapi sebel" ia melihat Arka dengan muka ketusnya.
"Itu sama saja Davila"
"mulai meledek" Davira menyalakan radio yang ada di mobil. "ya elah lagunya Dangdutan , asoy geboy" tangan Davira di angkat sebatas dada dan jempolnya saja yang bergerak.
"tarian apaan tuh gokil abis" Arka tertawa melihat tingkat laku Davira yang ajaib.
"ka tahan ka" ia memegang pundak Arka
"Apaan sih kamu" melihat dengan matanya.
"tahan ka aku tau kamu itu jiwa ekpresif ingin selalu ingin joget dimanapun kamu berada. Kalau kamu joget disini kita berdua bisa celaka"ia masih memegang pundaknya Arka.
"geje banget kamupp Vira. Siapa lagi yang mau joget" Arka memutar tombol Radionya. Yang keluar bukan lagu barat tapi masih lagu Dangdut.
"Aku tau pikiran lo muterin ke lagu ini" dengan senyuman sinis ia mulai menyanyi dengan lagu yang sedang berputar "Cinta satu malam Oh indahnya Cinta satu malam Buatku melayang...." belum melanjutkan lagunya Arka mematikan Radionya.
"yaa kenapa di matiin. Lagunyakan lagi asik banget buat joget" tidak ada respon darinya. Ia fokus dengan jalan.
"ngambekk, engga asik banget" Davira melihat keluar jendela hujan mulai turun membasahi bumi. Davira mulai menghitung titik hujan yang ada di kaca. Karena Davira sedang kesal dan karena tadi malam ia bergadang hanya untuk nonton film.
Dengan perlahan mata Davira terpejam. Kepalanya menempel kearah kaca membuat suara benturan. Arka yang melihatnya langsung menepi di pinggir jalan. Ia menggambil bantal leher yang ada di jok belakang.
Memasangkan di leher Davira. Jarak wajah mereka dekat banget. Arka masih memegang ujung bantal dipandangnya muka Davira dengan lekat. Arka mulai menyadari kalau ia selama ini suka dengan Davira. Entah kapan? di mulainya sejak kapan?. Mungkin ini takdir yang tidak bisa di hindarkan. Dia sendiri yang mulai menjauh dan ia sendiri yang mulai mendekat. Arka ingin bisa lebih mengenal Davira.
Matanya melihat muka Davira mulai dari mata, hidung sampai bibir. Matanya berhenti tepat di bibir Davira. Ia mulai mengingat kejadian di mana Davira mulai menciumnya pertama kali. Apa mulai dari situ ia suka dengan Davira. Apa mungkin sebelum itu. ia mulai mendekat. Kepalanya di miringkan ia hendak mencium Davira yang sedang tidur. Dengan napas mereka yang cukup dekat membuat hawa panas dari setiap hembusan napasnya.
Tidur Davira terusik tidak ada suara mesin yang menyala. Apa dia sudah sampai?. Ia membuka matanya dengan cepat. Ia kanget setengah mati depannya ada Arka. Jarak wajah mereka sangat dekat. Mata mereka bertemu dan langsung menatap satu sama lain. Jantung Davira terasa mau copot.
"Ka" Cuma kata itu yang keluar dari mulutnya. Mereka masih memandang satu sama lain.
Arka mulai mundur ke belakang dan duduk di jok mengemudi. "hah.. tadi itu Cuma mau masang bantal leher aja" kata Arka. Ia gugup setengah mati.
Terasa bodoh dengan perkataannya mana mungkin masang bantal leher sampai sedekat itu. ia menggutuk dirinya sendiri dengan apa yang ia mau perbuat. Davira hanya mengangguk dengan apa yang Arka jelaskan ia masih mode setengah tidur dan setengah bangun. Bisa di bilang masih mengumpulkan nyawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Erina Munir
ternyata oh ternyata Arkaaa
2025-02-10
0
Lela Lela
wit wiw
2023-08-19
0
Heny Janita Sari
😊😊😊
2023-07-15
0