7| Belajar

Davira hanya bisa membuka mata lebar-lebar. Melihat semua tumpukan buku yang ada di depannya. Semua itu harus di pelajari setiap harinya. Yang sudah di tentukan oleh si bos killer yang satu ini. Tiga bulan menuju ujian nasional.

Mulai hari ini dan detik ini hidupnya mulai tidak tenang. Saat pulang sekolah ia sudah menyeretnya ke perpustakan yang disediakan di kota H. Tapi engga begini juga !. Belajar itu tidak harus setiap hari menurut Davira. Apa lagi Arka lagi sibuk dengan projek kampusnya.

Arka taro buku tepat didepan Davira "Ya..!! apa engga salah kamu ngasih buku sebanyak ini" Ia menaikan satu oktaf. Semua orang yang ada di perpustakaan langsung melihat kearah Davira.

Davira menutup mukanya dengan kedua tangan. Ia berusaha mengecilkan suaranya. Davira langsung melihat Arka dengan mata membara seperti ada api yang menyala di matanya. Tapi Arka malah menggambil buku membuka halaman yang sudah ia tandain. memberikan kearah Davira yang masih memandangnya dengan kesal. Dengan pasrah ia belajar menuruti semua perkataan Arka.

Matanya fokus dengan buku seketika matanya terpejam dan terbuka lagi itu perulang sampai ia tertidur.  Melihat Davira mulai tertidur  Arka melihat jam tangan sudah pukul tujuh malam . Semua orang sudah banyak yang pulang. Arka memasukan bukunya kedalam tas.

Ia membangunka Davira "Ra bangun" ia menepuk pundaknya. Davira membuka matanya tapi nyawanya belum sepenuhnya kumpul. Ia masih ling-lung melihat kearah kanan dan kiri.

"Udah sepi" Ia bergumam dengan pelan. Arka bisa mendengar gumamannya. Ia tersenyum melihat sisi lain dari Davira.

Davira membereskan buku yang ada di meja dan Arka membantunya memasukan kedalam tas. Setelah membereskan semua mereka berdua berjalan beriringan keluar dari perpustakaan. Arka mengantarnya pulang. Mobilnya berhenti depan rumah Davira. 

"Mau mampir dulu kerumah. Sambil kenalan sama mama dan papa?" Davira melepaskan safety belt.

"Lain kali aja, salam aja buat mama dan papa kamu"

"Ya udah kalau gitu aku masuk dulu" Ia membuka pintu mobil dan tangan Arka menahan pintunya untuk di buka.

"Ini.." Dengan bingung Davira memegang selebar yang ada di tangannya. "Apa ini?" kata Davira dengan muka bingungnya. Dahinya berkerut setiap membaca kata-perkata.

"Jadwal belajar selama tiga bulan ini" Masih memasang wajah yang datar sekejap mata ia tersenyum bagaikan iblis.

Membuat Davira merinding seketika. dia paling anti yang namanya belajar. Apalagi ini belajarnya setiap hari termasuk hari libur juga. Mati sudah tidak ada namanya ke bioskop mau pun main bareng teman.

"Apa...!" Ia menaikan suaranya satu oktaf. Arka langsung menutup telinganya dengan kedua tangannya.

"Engga salah ini, sabtu minggu juga belajar. Yaaa!! bisa-bisa aku serangan jantung melihat daftar belajar yang tidak ada hentinya ini" Ia berbicara tanpa henti dan memandang Arka dengan tatapan yang tajam.

"Dan yang ini" Ia menunjuk jadwal belajar  yang ada di kertas. "Gila ya kamu..." Ia menghembuskan napas dan matanya terpejam sebentar. Ia melanjutkan bicaranya lagi "Jam istirahat sekolah juga di pake untuk belajar. Hapus bagian ini sekarang"

Arka mengambil kertasnya dari tangan Davira. Bukannya di hapus malah ia menambah dengan istirahat jam kedua. Ia memberikannya lagi ke Davira. 

"ya....!! Arka!! " ia melihat wajah Arka dengan tatapan membara. "Sini pulpennya" ia menariknya dari tangan Arka. Ia menyoret bagian jadwal istirahat pertama dan juga kedua.

"Kenapa di coret" Dengan suara polosnya membuat Davira melotot kearahnya. Arka tau dia bakal berwajah cemberut dan juga marah.

"Pikir aja sendiri" 

"Udah belajar di sekolah istirahat sekolah malah di pake belajar bukannya masuk malah mudal"Ia menggerutu di dalam mobil.

"Udah sana masuk. Jangan menggerutu terus nanti gila loh" 

"Iya aku udah gila liat daftar belajar yang tidak ada habisnya selama tiga bulan. Berasa punya kakak yang ngasih belajar segini banyaknya" Entah kenapa yang tadinya ia tersenyum tiba-tiba senyuman itu hilang dengan perkataan terakhir Davira ucapkan.

"Udah sana masuk" dengan suara datar.

"Iya-iya aku masuk" kertas jadwal belajar ia masukan kedalam tas dan membuka pintu mobil. sebelum menutup pintu ia berbicara ke Arka "Dadah ka mimpi indah" Ia langsung menutup pintu mobil.

***

Davira hanya bisa memandang kearah pagar besi sekolahnya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Ia mencoba menyalakan radarnya untuk mengetahui keberadaan Arka. sering ia menjemput Davira hanya untuk mengajarinya belajar. Tapi bagi Davira membuat hatinya berdetak lebih cepat. Ia senang kalau Arka sering menjemputnya. Disisi lain ia juga risih, setiap Arka datang ke sekolahnya semua mata memandang Arka dengan genit.

Yang paling resenya lagi semua orang pasti nanya 'Itu siapa? Ganteng banget? Kakak lo? Kenalin gue sama dia dong kali aja jodoh?' itu semua pertanyaan yang sering di tanyakan ke Davira.

Dia aja susahnya setengah mati untuk deketin Arka. Kenalnya aja engga, temen deket juga bukan, mau so akrab. Yang selama ini ia sering di asingkan dengan sekelilingnya karena kelakuanya yang sering melanggar peraturan yang ada di sekolah.

Sebuah tangan menepuk pundaknya. Seketika badan Davira bergetar hampir memukul orang yang menepuknya. Jangan coba-coba mengagetkan Davira sebuah tangan selalu akan melayang memukul. Itu kebiasaan Davira sejak kecil.

Seketika tangannya di pegang oleh Rafa "Astaga lo mau mukul gue?" ia melepaskan tangan Davira. Ia masih melirik ke sekitarnya.

"Sorry, kebiasaan buruk gue" Davira tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Nyariin siapa sampe serius gitu?"

"engga nyariin siapa-siapa. Rafa lo mau balikkan, gue nebeng ya" Davira mencari cara untuk kabur dari setumpuk buku pelajaran.

"oke, lo tunggu di sini gue mau ngambil motor dulu"

"gue ikut" ia berjalan beriringan dengan Rafa.

Ia kumat kamit sambil berjalan ke parkiran motor 'jangan ketahuan' dengan kata yang di ulang-ulang . "berharap gue menghilang biar engga ke ketahuan sama..." belum sempat melanjutkan perkataannya ia menubruk seseorang. Reflek memukulnya hilang entah kemana, ia mencium bau parfum yang ia kenal.

Ia mengupat dalam hati 'Mati gue!' kepalanya masih menunduk sambil menggigit bibirnya. Rafa udah pergi entah kemana ia berjalan dengan cepat. Karena dari tadi Davira terus mendumel tanpa melihat kearah Rafa.

Ia merasa tercyduk sedang selingkuh. Ia mulai mundur kebelakang tanpa melihat muka Arka. Davira hendak berlari, ia sudah melakukan ancang-ancang memutarkan badannya. Kerah belakang Seragamnya di tarik membuat Davira terbatuk-batuk. Ia memutar badannya melihat kearah Arka.

"Mau kemana?" dengan nada suara yang datar.

"Aku lupa kalau hari ini ada kelas tambahan bahasa indonesia" Davira mulai berbohong. Ia mencari alasan agar dia bisa terbebas dengan buku-buku yang tidak ada habisnya.

"Aku udah nanyain ke Raga kalau hari ini engga ada yang namanya kelas tambahan bahasa indonesia" ia mecubit pipi Davira.

Davira hanya meringis ke sakitan "sakit Ka" ia megelus pipinya yang di cubit Arka.

"Kenapa Cuma aku yang di ajarin kaya gini. Aku cape butuk rekreasi. Kenapa Raga engga belajar kaya aku. Kan lo kakaknya?"

"Dia itu engga usah di tanya Raga udah pinter sejak lahir. Yang perlu di asah otaknya itu kamu Vira"

"Cepet jalan ke mobil nanti keburu malam. nanti Bukannya belajar malahan ngantuk" ia tersenyum kearah Davira.

"Iya bawel" Ia berjalan dengan muka sebal. Davira mengeluarkan hpnya mengirim chat ke Rafa. Kalau ia tidak bisa pulang bareng dengannya.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Arka menyalakan mobilnya mulai melaju ke jalan. Davira masih kesal dengan Arka ia lebih sering memandang ke jendela yang di sebelahnya. Arka yang masih fokus menyetir sesekali melihat kearah Davira.

"Masih marah, gitu aja marah, biasanya juga engga marah"ia masih fokus mengendarai mobil.

"Engga marah, tapi sebel" ia melihat Arka dengan muka ketusnya.

"Itu sama saja Davila"

"mulai meledek" Davira menyalakan radio yang ada di mobil. "ya elah lagunya Dangdutan , asoy geboy" tangan Davira di angkat sebatas dada dan jempolnya saja yang bergerak.

"tarian apaan tuh gokil abis" Arka tertawa melihat tingkat laku Davira yang ajaib.

"ka tahan ka" ia memegang pundak Arka

"Apaan sih kamu" melihat dengan matanya.

"tahan ka aku tau kamu itu jiwa ekpresif ingin selalu ingin joget dimanapun kamu berada. Kalau kamu joget disini kita berdua bisa celaka"ia masih memegang pundaknya Arka.

"geje banget kamupp Vira. Siapa lagi yang mau joget" Arka memutar tombol Radionya. Yang keluar bukan lagu barat tapi masih lagu Dangdut.

"Aku tau pikiran lo muterin ke lagu ini" dengan senyuman sinis ia mulai menyanyi dengan lagu yang sedang berputar "Cinta satu malam Oh indahnya Cinta satu malam Buatku melayang...." belum melanjutkan lagunya Arka mematikan Radionya.

"yaa kenapa di matiin. Lagunyakan lagi asik banget buat joget" tidak ada respon darinya. Ia fokus dengan jalan.

"ngambekk, engga asik banget" Davira melihat keluar jendela hujan mulai turun membasahi bumi. Davira mulai menghitung titik hujan yang ada di kaca. Karena Davira sedang kesal dan karena tadi malam ia bergadang hanya untuk nonton film. 

Dengan perlahan mata Davira terpejam. Kepalanya menempel kearah kaca membuat suara benturan. Arka yang melihatnya langsung menepi di pinggir jalan. Ia menggambil bantal leher yang ada di jok belakang. 

Memasangkan di leher Davira. Jarak wajah mereka dekat banget. Arka masih memegang ujung bantal dipandangnya muka Davira dengan lekat. Arka mulai menyadari kalau ia selama ini suka dengan Davira. Entah kapan? di mulainya sejak kapan?. Mungkin ini takdir yang tidak bisa di hindarkan. Dia sendiri yang mulai menjauh dan ia sendiri yang mulai mendekat. Arka ingin bisa lebih mengenal Davira.

Matanya melihat muka Davira mulai dari mata, hidung sampai bibir. Matanya berhenti tepat di bibir Davira. Ia mulai mengingat kejadian di mana Davira mulai menciumnya pertama kali. Apa mulai dari situ ia suka dengan Davira. Apa mungkin sebelum itu. ia mulai mendekat. Kepalanya di miringkan ia hendak mencium Davira yang sedang tidur. Dengan napas mereka yang cukup dekat membuat hawa panas dari setiap hembusan napasnya.

Tidur Davira terusik tidak ada suara mesin yang menyala. Apa dia sudah sampai?. Ia membuka matanya dengan cepat. Ia kanget setengah mati depannya ada Arka. Jarak wajah mereka sangat dekat. Mata mereka bertemu dan langsung menatap satu sama lain. Jantung Davira terasa mau copot.

"Ka" Cuma kata itu yang keluar dari mulutnya. Mereka masih memandang satu sama lain.

Arka mulai mundur ke belakang dan duduk di jok mengemudi. "hah.. tadi itu Cuma mau masang bantal leher aja" kata Arka. Ia gugup setengah mati.

Terasa bodoh dengan perkataannya mana mungkin masang bantal leher sampai sedekat itu. ia menggutuk dirinya sendiri dengan apa yang ia mau perbuat. Davira hanya mengangguk dengan apa yang Arka jelaskan ia masih mode setengah tidur dan setengah bangun. Bisa di bilang masih mengumpulkan nyawa.

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

ternyata oh ternyata Arkaaa

2025-02-10

0

Lela Lela

Lela Lela

wit wiw

2023-08-19

0

Heny Janita Sari

Heny Janita Sari

😊😊😊

2023-07-15

0

lihat semua
Episodes
1 1| Takdir yang Sial
2 2| Kilauan Agresif
3 3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4 4| Kilas Senyum Bahagia
5 5| Perubahan
6 6| Baru awal perubahan
7 7| Belajar
8 8I Berakhirnya Masa Sma
9 9I Awal yang baru
10 10I Gebetan
11 11| Mendekati
12 12I Menyelinap
13 13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14 14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15 15| Kencan pertama part 1
16 16| Kencan pertama part 2
17 17| Kencan pertama part 3
18 18| Misi
19 19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20 20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21 21| Satu hari sebelum misi
22 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24 22| Menyamar
25 23| Tuan muda Hans misterius
26 24| Kita hanya teman
27 25| Ibu?
28 26| Melawan Trauma
29 27| Dua Mayat Anak Kecil
30 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32 Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33 28| Dia sangat merindukannya
34 29| kota H saya datang
35 30| Rumah Nenek
36 31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37 32| Bertarung dengan Rasa Takut
38 33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39 34| Rencana yang Berisiko
40 35| Ketegangan
41 36| Momen Keputusan yang Sulit
42 37| Pencarian Putus Asa
43 38| Pesan Terakhir
44 39| Tidak Mungkin
45 40| Surat untuk Davira
46 41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47 42| Menangis dalam Kegelapan
48 Update setiap hari!
49 43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50 45| Penerbangan ke Negara N.
51 46| Namun, hidup terus berjalan.
52 47| Arka, aku kembali
53 48| Rutinitas Kuliahnya.
54 49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55 50| Pria itu membuka komputer
56 51| Kedipan Merah
57 52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58 53| Kotak-kotak berisi karya
59 54| Dr. X
60 55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61 56| Artful Essence Gallery
62 57| Pameran dimulai
63 58| Koridor Lantai Dua
64 59| Rasa Penasaran
65 60| Dalam Keheningan.
66 61| Sampai jumpa
67 62| Davira, di mana kamu?
68 63| mengetik kode-kode yang rumit
69 64| Kegelapan Ruangan
70 65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71 66| Melanjutkan Pelariannya
72 67| Siapa Kamu ?
73 68| Dia merunduk dan bersembunyi
74 69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75 70| Kakak, aku merindukanmu
76 71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77 72| Menyusun Rencana
78 73| Ponsel berdering.
79 74| Mereka tenggelam dalam momen
80 75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81 76| Permainan Bayangan
82 77| Bayangan di Antara Kita
83 78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84 79| Titik Balik Penangkapan
85 80| Menguak Tabir Kegelapan
86 81| Menelusuri Jejak Orakel
87 82| Perjalanan waktu
88 pengumuman
89 83| Rumah
90 84| Simpul Putus
91 85| Luka yang Tak Terhapuskan
92 86| Tidak Percaya
93 87| Merasa dikhianati
94 88| Tanpa Pilihan
95 89| Bercerita (Bagian 1)
96 90| Bercerita (Bagian 2)
97 91| Bercerita (Bagian 3)
98 92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99 93| Mencoba mengakses data
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1| Takdir yang Sial
2
2| Kilauan Agresif
3
3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4
4| Kilas Senyum Bahagia
5
5| Perubahan
6
6| Baru awal perubahan
7
7| Belajar
8
8I Berakhirnya Masa Sma
9
9I Awal yang baru
10
10I Gebetan
11
11| Mendekati
12
12I Menyelinap
13
13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14
14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15
15| Kencan pertama part 1
16
16| Kencan pertama part 2
17
17| Kencan pertama part 3
18
18| Misi
19
19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20
20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21
21| Satu hari sebelum misi
22
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24
22| Menyamar
25
23| Tuan muda Hans misterius
26
24| Kita hanya teman
27
25| Ibu?
28
26| Melawan Trauma
29
27| Dua Mayat Anak Kecil
30
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32
Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33
28| Dia sangat merindukannya
34
29| kota H saya datang
35
30| Rumah Nenek
36
31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37
32| Bertarung dengan Rasa Takut
38
33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39
34| Rencana yang Berisiko
40
35| Ketegangan
41
36| Momen Keputusan yang Sulit
42
37| Pencarian Putus Asa
43
38| Pesan Terakhir
44
39| Tidak Mungkin
45
40| Surat untuk Davira
46
41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47
42| Menangis dalam Kegelapan
48
Update setiap hari!
49
43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50
45| Penerbangan ke Negara N.
51
46| Namun, hidup terus berjalan.
52
47| Arka, aku kembali
53
48| Rutinitas Kuliahnya.
54
49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55
50| Pria itu membuka komputer
56
51| Kedipan Merah
57
52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58
53| Kotak-kotak berisi karya
59
54| Dr. X
60
55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61
56| Artful Essence Gallery
62
57| Pameran dimulai
63
58| Koridor Lantai Dua
64
59| Rasa Penasaran
65
60| Dalam Keheningan.
66
61| Sampai jumpa
67
62| Davira, di mana kamu?
68
63| mengetik kode-kode yang rumit
69
64| Kegelapan Ruangan
70
65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71
66| Melanjutkan Pelariannya
72
67| Siapa Kamu ?
73
68| Dia merunduk dan bersembunyi
74
69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75
70| Kakak, aku merindukanmu
76
71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77
72| Menyusun Rencana
78
73| Ponsel berdering.
79
74| Mereka tenggelam dalam momen
80
75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81
76| Permainan Bayangan
82
77| Bayangan di Antara Kita
83
78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84
79| Titik Balik Penangkapan
85
80| Menguak Tabir Kegelapan
86
81| Menelusuri Jejak Orakel
87
82| Perjalanan waktu
88
pengumuman
89
83| Rumah
90
84| Simpul Putus
91
85| Luka yang Tak Terhapuskan
92
86| Tidak Percaya
93
87| Merasa dikhianati
94
88| Tanpa Pilihan
95
89| Bercerita (Bagian 1)
96
90| Bercerita (Bagian 2)
97
91| Bercerita (Bagian 3)
98
92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99
93| Mencoba mengakses data

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!