Cuma satu kata yang terngiang dalam hatinya. Ingin mengatakannya tetapi terasa berat di mulutnya.
Ingin berbicara tetapi Davira, tapi ada rasa geli saat dia ingin menyebutnya.
“Lain kali saja, ayo kita wahana saja,” kata Arka sambil meletakan bandonya di tempat semula.
Davira mengambilnya kembali, “Tidak, tidak aku ingin melihat kamu memakainya.”
“Panggil aku?”
Kalau dia bisa memakainya sendiri ke Arka. dia akan bahagia. Selisih tinggi badannya dengan Arka hanya dua puluh lima sentimeter. Dia tidak bisa menggapai kepala Arka.
Davira memberanikan diri. Di sekitar sudah mulai banyak melihat mereka berdua. Karena ke gantengan Arka yang selalu banyak orang memandangnya. Ingin sekali Davira tidak memperlihatkan pacarnya yang ganteng.
“Hub —” Dia melihatnya, “Kamu menunduk.”
Arka menunduk tepat didepan wajah Davira. Tersipu malu semua orang memandangnya. Memberanikan diri untuk mengucapkan.
Menyisipkan bandonya di kepala Arka, tangannya turun ke bawah, melingkarkan tangannya di leher Arka.
Kepalanya bergerak maju membisikan, “Hubby.”
Melepaskan tangannya dari leher Arka. Mengeluarkan ponsel dan memotret Arka yang masih dilanda terkejut.
“Lucu.” Tersenyum melihat fotonya sambil sesekali melihat Arka.
“Tidak terhitung,” Arka mulai sadar. Dia membantahnya sambil melepaskan bandonya.
“Tidak— tidak ada pengulangan” tegasnya.
“Panggil lagi?”
“Tidak.”
Davira melambaikan ponselnya di depan Arka. Terpampang jelas wajah Arka yang memakai bando telinga kucing. Terlalu imut untuk dilihat. Davira tertawa bahagia.
Arka tercengang melihatnya. Sebelum Arka mengambil ponselnya dia langsung memasukan kebelakang celana jeans.
“Aku punya fotonya tidak butuh untuk memakainya— tidak perlu— untuk mengulanginya,” kata Davira.
Dia mundur dan berlari menjauh dari Arka.
Bandonya diletakan di rak. Mengejar Davira yang sudah berlari jauh. Sejauh apa pun dia berlari dia akan disusul oleh Arka yang berkaki panjang.
Menangkapnya tepat di belakangnya. Tangannya melingkar di pinggang, mengangkatnya tinggi.
“Yak —” Davira berteriak kaget saat diangkat tinggi-tinggi oleh Arka.
“Mau melarikan diri?”
“Tidak, Sayang.”
Davira memasang wajah sedihnya. Dia masih dalam gendongan Arka. Tangan Davira melingkar di leher Arka..
“Sayang?”
“Panggil Hubby,” tegas Arka.
Mengambil ponsel di saku belakang celana jeans Davira.
“Tidak —”
Mereka berdua menebarkan romantis di depan umum. Davira sudah tidak bisa melihat di sekitarnya, menunduk di leher Arka karena malu.
Arka menarik ponsel Davira. Menurunkan Davira dari gendongannya.
Tangan Davira masih mengait di leher Arka. Tidak ingin melepaskannya. Dia sangat malu. Dia juga tidak mau foto Arka terhapus.
“Hubby.”
Suaranya menggelitik di leher Arka. Ada getaran aneh saat napas Davira menerpa lehernya. Menelan air liurnya yang membuat jakunnya bergerak.
Pikiran Arka saat ini ingin segera menghalalkan Davira. segera, ingin menyeretnya mengambil surat nikah.
Pikiran Davira, dia tidak mau lagi menggoda pacarnya. Dia bisa malu karena tindakan Arka yang bisa membuat jantung Davira tidak karuan.
Melepaskan tangannya dari leher Arka, langsung menutup wajahnya berjalan pelan menjauh. Pandangan semua orang melihat ke arah Davira dan Arka.
“Mama kakak itu wajahnya merah,” kata anak kecil yang sedang memegang balon.
“Iya kakak itu kepanasan.”
Ibu itu hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak zaman sekarang.
“Panggil aku lagi Hubby lagi, kalau tidak Fotonya dihapus.”
Ingin mendengarnya lagi. Dia ketagihan dengan nama panggilan itu.
“Hapus saja— aku tidak peduli.” Berjalan, mengabaikan Arka yang melangkah tepat di sampingnya.
Dia sudah melihat ke lucuan Arka sudah cukup. Dia tidak mau malu dengan panggilan ‘Hubby’ ke Arka, dengan menyebutkannya di depan umum.
“Baik Aku hapus.”
Menekan tombol hapus. Ya atau tidak, dia menekan tombol tidak.
“Sudah menghapusnya.” Meletakan di saku belakang celana jeans Davira.
“Jangan marah.”
Davira berhenti berjalan, menurunkan kedua tangannya dari wajahnya.
“Tidak lagi menyebut kata itu di depan umum, aku cukup malu.”
“Kalau tidak di sini. Kamu akan memanggilku Hubby?"
“Tidak.” Davira menjawab dengan cepat.
Setelah insiden memalukan. Yang diperbuat oleh Davira sendiri. mereka berdua mencoba beberapa wahana yang ada di taman bermain. Tertawa, berteriak, saat menaiki wahana. Rambut Davira berantakan saat menaiki roller coaster.
“Aku tidak sanggup naik lagi— tidak akan naik roller coaster lagi kalau kesini.”
“Semua pandanganku berputar.” Menggenggam tangannya di tangan Arka.
Arka menuntunnya ke kursi depan dan duduk.
“Sayang, Rambutmu kaya singa,” ledeknya.
Dia hanya memanyunkan bibir. Cemberut karena diledek Arka.
Merapikan rambut Davira yang panjang sebahu. Menikmati sentuhan halus di kepalanya. Dengan lambat merapikan rambut Davira yang kusut.
“Sudah.”
“Sayangku hebat.” Mengacungkan jempol tangannya.
“Apa aku tidak kaya singa lagi?” memperlihatkan rambutnya yang sudah rapi.
“Hem — Sudah tidak kaya singa lagi.”
“Cantik.”
Davira tersenyum bahagia. Masih banyak wahana yang belum mereka coba.
Berjalan, bergandeng tangan. Menunjuk semua wahana. Berlari menarik Arka untuk mencoba semua wahana yang ada di sini. Membuat momen bahagia dan juga momen masa kecil yang tidak ada Davira pada masa kecilnya.
Ingin mengenangnya sampai tua. Dia jatuh cinta dengan pria yang baik dan juga sayang sama dia. tidak lupa berfoto untuk mengenang kencan pertama mereka di semua tempat.
Waktu berputar dengan cepat. Arka memandang jam tangan menujukan pukul lima sore. Tangan kirinya masuk ke dalam saku, memegang kotak biru. Cukup lama dia memegangnya, setiap pandangan Davira tidak melihatnya dia selalu memegang kotak biru itu, dalam satu hari ini.
Davira melihat sekitar tempat wahana, mulai ramai. Dia ingat kalau sore lebih bagus naik Bianglala untuk bisa liat matahari terbenam.
Sebelum Davira berbalik melihat Arka.
Arka mengeluarkan tangannya keluar dari saku celananya. Kotaknya masih di dalam saku.
“Ayo kita naik Bianglala, sangat bagus buat liat matahari terbenam dari atas Bianglala”
“Kamu tau itu?” Tanya Davira.
“Iya aku tau.”
“Sebaiknya kita segera, kalau tidak banyak orang yang naik,” menarik tangan Arka.
“Haruskah kita lari?”
“Em — ”
Mereka berdua berlari menuju wahana bianglala tidak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya. Sudah sampai di depan bianglalanya. Sudah ada yang mulai antri di depan wahana bianglala. Dia cukup beruntung yang antri belum terlalu panjang.
Davira tersenyum bahagia. Hari ini, hari keberuntungannya.
Banyak yang membicarakan kalau untuk melihat matahari terbenam dari wahana bianglala cukup susah karena banyak yang mengantri. Tak jarang banyak orang yang tidak bisa menaiki wahana satu ini karena saking banyak orang yang ingin melihat matahari terbenam dari atas bianglala.
Tangannya masih Menggenggam tangan Arka. tersenyum ceria memandang Arka.
“Apa sebahagia itu?”
“Hem ... Bahagia.” Dia tidak bisa menghilangkan senyumannya.
“Dulu hampir menaiki wahana ini. Tetapi tidak bisa naik karena sudah penuh. Waktu itu aku cukup sedih,” kata Davira.
“Sama Kakak Itu?”
“Iya, Sama kakak Itu— kamu jangan cemburu, aku dulu masih anak-anak belum tau cinta. Jadi, aku hanya ingin naik wahana bianglala.”
“Baik, tetapi sekarang kamu naiknya sama aku, dengan pacar?”
“Em — dengan Pacar.” Mempererat Menggenggam tangan mereka.
Tidak butuh lama. Antrian mulai maju. menaiki wahana bianglala harus menunggu selama lima belas menit. Hatinya mulai bergembira. Setiap menit, setiap detik, waktu berputar dengan cepat.
Waktunya mereka masuk kabin penumpang.
Pertama masuk Davira, disusul Arka yang masuk. Mereka duduk berhadapan. Wajah Davira penuh dengan senyum bahagia. Pertama kali dia naik bianglala.
Pertama kali juga naik bersama pacarnya Arka. bianglala mulai bergerak. Menarik penumpang lain satu demi satu. Bianglala berputar perlahan. Davira melihat ke sisi jendela saat bianglala berputar perlahan.
Melihat senyuman Davira, Arka juga bahagia melihat senyuman lebar Davira. pandangannya tidak lepas memandang Davira.
Arka bahagia bisa bersama dengan Davira.
Sebelum bertemu dengannya. Hatinya terasa kosong, hidup? Dia hanya manusia tanpa emosi. Dia tersenyum, sedih, marah dan ekspresi lainnya dia hanya bersandiwara ke orang sekitarnya. Menutupi semua kekelaman dalam hidup yang terjadi, pada saat dia anak-anak.
Secercah cahaya yang tidak terduga, aku menganggapnya bocah keras kepala, pertemuan pertamanya di pertemuan keluarga Davira. Davira yang masih Kecil. Pertemuan kedua saat dia study tour, awalnya Dia tidak tau kalau itu Davira. Masa pemberontakan pindah ke rumah nenek dan mengingkar janji saat pertemuan keluarga Davira. Dia janji akan mengajaknya bermain ketaman bermain. Tanpa terduga dia bertemu dengannya.
Pada saat itu dia mulai bertekat untuk menjadi, seseorang yang bisa diandalkan Davira.
Yang ketiga, dia bertemu dengannya lagi, pertemuannya yang tidak terduga. Dia tidak tau harus apa. Terlintas di pikirannya apa dia melupakannya atau dia mengingatnya. Berharap dia mengenalnya. Tetapi dia tidak mengenalnya. Hatinya cukup hancur.
Dia belum bisa mendekat sebelum semua masalahnya selesai. Dia tidak mau dia menyeretnya ke bawah. Tetapi dia mengejarnya. Mengguncang hatinya dengan beberapa trik yang terlihat olehnya. Ironisnya Arka tidak bisa hidup tanpa Davira.
Hari ini dia ada di depannya.
“Liat mataharinya terbenam.”
Bianglala mereka berhenti tepat ditengah, memperlihatkan matahari terbenam. Tangan Arka sudah lama di saku saat mulai masuk bianglala.
“Vira.”
“Hem.” Kepalannya berbalik memandang Arka.
Arka berlutut di depan Davira. Tangannya yang di saku mengeluarkan kotak biru. Membukanya di depan Davira.
Davira kaget dengan tindakan Arka. Di dalam kotaknya kalung bintang yang indah.
“Vira, kemarin saat aku menyatakan cinta terlalu asal-asalan.” Membenarkan posisinya, “maukah kamu menjadi pacarku?”
Jantung Davira tidak karuan pernyataan cinta Arka.
Davira mengangguk, “Baik.”
Arka berdiri, duduk di samping Davira memasangkan kalungnya di lehernya.
“Cantik kalungnya.” Dia memegang bintangnya di tangannya. Membalikan belakang kalungnya ada inisial nama dia dan Arka.
“D.A.”
“Inisial nama kita. Pakai terus kalungnya jangan sampe lepas,” kata Arka.
“Baik.”
“Saat mandi, kalungnya jangan dilepas, jangan dilepas dari lehermu sedetik pun,” tegas Arka.
“Jangan bilang kalungnya dipasang gps pelacak?” Canda Davira sambil tertawa ke Arka.
“Tidak.”
“...”
“Biar semua orang tau kalau kamu milikku.”
Memegang kalung yang ada di leher Davira. Dia tersenyum mendengar omongan Arka. Iya dia sekarang pacarnya Arka.
Saat matahari mulai tenggelam perlahan. Menempel tangannya di pipi Davira. mendekat kewajahnya, perlahan Davira memejamkan matanya. bibir mereka bersentuhan dan menciumnya perlahan.
Arka menciumnya seperti sesuatu yang harus di hargai seperti barang yang gampang pecah. Ciumannya, awalnya mencicipi mulai memperdalam memasuki ke rongga mulut Davira, menghisap dan menggigit, akan menelanya. Buru-buru Arka mengendalikan dirinya. Mereka hampir kehabisan napas.
Pemandangan di luar begitu indah dengan dua pasangan yang masih berciuman di bianglala.
Mereka kehabisan napas, melepaskan ciuman satu sama lain menempelkan dahinya. Tersenyum cerah dengan cahaya langit senja yang menerangi mereka di atas puncak bianglala.
“Terima kasih Vira, sudah menjadi, bintang terang di malam hariku yang gelap.” Dia bergumam pelan sambil memeluk Davira erat.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
wit wiw 👍
2023-08-20
0
Heny Janita Sari
❤❤❤❤
2023-07-15
0