Davira menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang ia sedang fikirkan. Ia berhenti mengguling badannya. Suara keras yang keluar dari dalam mulutnya.
"Yah ...." dengan suara yang keras tangan menjulur ke atas "Aku pasti bisa, semangat"
Ia memejamkan matanya sebentar dan langsung berjalan ke meja belajar. Ia meniatkan diri untuk membuka halaman buku matematika yang sudah ada di depan matanya. Davira harus mengerjakan PR yang harus dikumpulkan minggu depan. Padahal sudah ada penjelasan dari rumus yang ada tapi tetap saja tidak mengerti. Davira hanya bisa melihat dan menggarukan kepala yang tidak gatal. Selama ini ia hanya menggandalkan contekan alias menyalin dari yang lain. Entah kenapa mulai hari ini ia ingin bisa mengerjakan soal matematika yang menurutnya susah.
"Yah kenapa rumusnya ribet banget. susah di mengerti" Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "Ini apa lagi makin rumit" Ia menunjuk soal yang nomer dua.
Davira mengambil ponselnya mengetik mencari rumus yang mudah untuk menentukan hasil dari soal. Ia menemukannya, rumus sederhana tapi mending yang ada di internet dari pada yang di buku terlalu panjang. Ia mengambil tengah dari bukunya untuk di sobek. Ia langsung menulis di sobekan kertas. Tangannya mulai menulis rumusnya.
"Hemm" Ia masih mencari angka-angka. Jam sudah berjalan dengan cepat ia baru mengerjakan satu soal lima belas menit.Itu pun satu soal belum selesai ia kerjakan.
"Semangat ini belum seberapa" Ia mengerjakan soalnya lagi dan lagi. "Cari soal yang mudah dulu untuk di kerjakan" Ia melewati soal yang nomer satu ke nomer lima.
"Ko aneh udah sama kenapa engga ada jawabanya. Ahh bingung" Ia menutup mukanya dengan kedua tanggannya.
"Apa aku sms Sasha aja?"
Ia langsung mengetik pesan ke nomer Sasha. "Sasha lo udah ngerjain tugas mtk?"
Belum ada balasan dari Sasha sudah ada dua pulih menit berlalu. Ia sesekali melihat kearah layar ponselnya. Kertas yang ia pegang sudah berganti dengan kertas ia sobek dari bukunya. kertas itu sudah penuh dengan coretan. Ia selalu berharap punya seseorang yang bisa membantunya. Orang tuanya selalu sibuk urusan bisnis mereka tidak ada di rumah. Ia hanya anak tunggal tidak punya kakak atau pun adik. Ia mersa kesepian kadangkala Sasha menginap dirumahnya itu pun tidak sering.
Lima menit kemudian suara ponsel Davira bergetar. Ia langsung melihat pesan yang tertera di sana. "Udah, tapi ada dua soal lagi yang belum gue kerjain"
"Bantuin gue dong ngerjain tugas matematikanya. Gue engga ngerti! :(" Ia langsung mengirim pesannya Sasha. Ia meletakan ponselnya lagi ke meja belajarnya.
"Soal berapa yang engga bisa? Tumben biasanya nyontek?hahah. Sini gue bantuin. Kerumah gue aja. Kebetulan kakak gue ada dirumah. Sekalian gue juga mau nanyain soal yang lain"
"Semuanya gue engga bisa" Balas Davira.
"Gue belajar jadi anak rajin. masa gue mau nyontek melulu" Sasha hanya bisa tertawa membaca pesan Davira. Tumben aja ia mengerjakan soal matematika yang menurutnya susahnya keterlaluan.
"Ya elah dikirain lo udah ngerjain satu atau dua soal. Ternyata belum semua"
"Tau sendiri otak gue dangkal kalau soal matematika. gue kerumah lo deh. gue mau siap-siap dulu kalau udah sampe rumah lo, gue kabarin" Ia mulai menutup bukunya memasukan kedalam tasnya yang tak jauh dari meja belajar.
"Iya gue tau otak lo dangkal kalau berurusan dengan matematika" Sasha masih di kamar dan membalas pesan dari Davira.
Sasha berjalan keluar kamar menuju dapur. Mamahnya masih asik melakukan kegiatan yang sering di lakukan kalau hari minggu membuat kue.
"Mah, Papah kemana ? Ko jam segini engga ada?" Ia sudah ada di samping mamanya yang sedang mengaduk adonan.
"Ada urusan kantor. papah pergi ke kantor" Mamah Sasha masih fokus dengan adonan yang ia buat.
"Ohh" Masih membantu mamahnya membuat kue.
"Bangunin kakak kamu gih. Dari tadi belum bangun padahal udah siang bolong. Masih aja tidur"
Sasha mencuci tangannya langsung melangkah munuju kamar kaknya. Ia membuka pintu tapi pintunya tidak terbuka. Yang punya kamar menguncinya dari dalam. Sasha mengetuk pintunya dengan kencang .
"Kak bangun udah siang. udah siang masing tidur" Ia masih mengetuk pintunya. Dari dalam kamar menutup telinganya dengan bantal yang ia ambil sembarangan.
"Berisik!" terdengar dari dalam kamar.
"Woi! kaka gue yang jelek bangun udah siang" Ia menekan semua kata yang ia ucapkan.
"Mah! si Gibran engga mau bangun" Ia berteriak ke mamahnya yang masih membuat kue. Tangan Sasha masih mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Adik tidak tau di untung manggil kakaknya sendiri dengan sebutan nama. Engga sopan lo" Gibran berteriak dari arah kamar.
"Bangun gibran. gibran..!!!" Sasha berteriak.
"Ya elah ini bocah" Gibran bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu. saat membuka pintu Sasha udah ada di depan pintu sambil menjulurkan lidahnya. Ia langsung berlari cepat menuruni tangga.
"Mau kemana lo cebol"
"Mau kemana aja boleh. Dadah buta ijo"
"Sini lo sha. Kakak pites sampai remuk baru tau rasa" Ia berjalan menuruni tangga.
"Sini kalau berani bilangin ke mama baru tau rasa" Ia berlari kearah mamanya yang sudah selesai dengan aktifitasnya. Yang tinggal menunggu kuenya matang.
"Bisanya ngadu ke mama. Dasar cebol"
"Mah, Kak gibran mangil aku cebol lagi" Sasha menunjuk ke arah kakaknya yang masih berdiri di pintu dapur.
"Emang cebol ko" Dengan entengnya Gibran memanggil nama ke sayangan adiknya.
"Itu kan dulu" Sasha cemberut dan seketika raut wajahnya berubah menyeramkan.
"Dulu dan sekarang sama aja cebol" Gibran hanya bisa tertawa.
"Udah ah jangan berantem melulu kalian udah gede masih aja berantem"
Deringan telepon yang ada di saku Sasha bergetar. Ia megangkat telepon tersebut.
"Halo Vira udah sampe mana?"
"Udah di depan rumah lo" Mata Davira melihat ke dalam pagar.
"Tunggu benar gue kedepan" Ia berjalan melewati Gibran.
"Siapa ***?"
"Davira. mau ngerjain tugas bareng" Sasha berjalan keluar rumah membuka pagar rumah.
Mereka berdua sudah ada di ruang tv. Buku Sasha udah ada di atas meja. Di situ juga ada Gibran yang datang langsung menyalakan tv. Tanpa mempedulikan kalau adiknya sedang melotot ke arahnya. Davira hanya bisa tertawa melihat kakak adik ini engga bisa akur. Davira juga sudah kenal dengan kak Gibran dari ia dan Sasha berteman waktu smp. bisa di bilang sudah akrab banget. kadang juga Davira suka diledekin tidak bedahalnya dengan Sasha. kadangkala Sasha suka sebel sendiri dengan kakaknya super jail tidak ketulungan.
"Davira masih betah sahabatan sama si cebol?" Gibran bersuara. ia melirik Davira sekilas dan melanjutkan menonton tv.
"Pertanyaan macam apa itu?" Sasha mengambil remot dari tangan Gibran. Ia langsung mematikan tvnya.
"Betul, itu pertanyaan macam apa coba? aneh banget kak Gibran." Membetulkan perkataan Sasha.
"Karena dia cebol"
"Apaan sih kak, Geje banget." Ia meletakan remotnya di atas meja. "Dari pada ngeledekin mendingan bantuin adik lo yang cantik ini" Kata Sasha.
"Kak Gibran bisa matematika?" Ia bertanya kearah Gibran. Gibran hanya bisa menggarukan kepalanya yang engga gatal dan bibirnya tersenyum.
"Kaga bisa"Ia hanya tertawa renyah.
"Jangan bohong lo kemarin aja bantuin tugas gue" Kata Sasha ngotot.
"Bener dah gue bisanya soal kelas satu sdgue tau. Satu tambah satu sama dengan satu"
"Bego lu" kata Sasha
"Bego, dua bukan satu" Davira mulai kesal dan menebal perkataan gibran.
"Yah berarti gue salah" Ia sengaja membuat keduanya jengkel. mereka berdua sebelas dua belas mempunyai wajah abstrak kalau lagi marah.
"Kemarin siapa yang kerjain soal yang nomer enam?" Ia membuka buku catatanya.
"Yang kemarin kak kasih ke lo cebol fotonya. Di situ udah ada jawabannya"
"Ohh iya-iya"
"Siapa yang ngerjain soalnya kak Gibran" Davira mulai bersuara.
"Temen gue"
"Ohh..." Mereka berdua berkata berbarengan.
"Terus kita gimana dong. Engga ada yang bisa ngebantuin ngerjain soal-soal ini" Davira membuaka buku paketnya.
"Bener kak Gibran engga bisa bantu? Soalnya gue engga ngerti semua" kata Davira.
"Gue bisa bantuin ada beberapa yang engga bisa gue terangin"
"Cebol bawa minum buat vira masa di biarin aja engga di suguhin makanan" Tangannya mulai mengabil remot yang ada di meja. Dengan cepat Sasha mengambilnya lagi.
"Jangan nyalain tv. gue mau belajar tau" Ia menaro remotnya lagi di atas meja. Sasha berjalan ke arah dapur.
"Belajarnya di ruang tamu aja" Gibran berteriak. Ia melihat kearah Davira yang sedang melihat buku matematikanya.
"Serius amat bu"
"Hehe, engga ngerti sih sama semua rumus-rumus ini" Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gibran duduk di bawah langsung berhadapan dengan Davira. Ia mengambil buku paket yang punya cebol.
"Halaman berapa?" Tangannya masih bergerak membuka buku paket.
"Halaman 53 kak" Sambil melihat kearah Gibran.
"Yang ini aja soalnya " Sambil melihat soalnya lekat.
"Iya yang itu emang mau seberapa banyak soal. Segitu aja udah buat gue mual"
Gibran hanya tertawa "Sabarin aja masa sma emang berat"
"Ini semua cetek. Gampang-gampang semua" Ia tertawa kecil.
"Katanya engga bisa?"
"Shut jangan bilang Sasha kalau kaka bisa ngerjain matematika ini. cuma mau ngerjain si cebol. soalnya tadi sudah nyebelin banget" Ia mengangkat tangannya dan telunjuknya menempel di bibirnya sendiri.
"Lagi ngapain buta ijo" Ia berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Dari arah belakang ada tante Ririn.
"Engga ngapa-gapain ko"
"Ada nak Davira. Kapan datengnya?" Kata tante Ririn sambil tersenyum.
"Baru nyampe tante"
"Angep rumah sendiri ya vira jangan sungkan-sungkan"
"Iya tante makasih"
"Tante tinggalin masih ada kerjaan di belakang. Belajar yang rajin Sasha. Gibran jangan ganggu adik mu"
Sepeninggalan tante Ririn ke belakang. Sasha meletakan makanan dan minum di atas meja. mulai mengerjakan tugas-tugasnya yang di bantu oleh Sasha. Gibra masih ada di sana tidak beranjak dari duduknya. Ia memperhatikan adiknya sedang belajar. Davira menyenggol tangannya ke kak Gibran.
"Bantun nomer sembilan" Ia menggambil buku paket Davira. melihat soal nomer sembilan. ia berusaha memecahkannya.
"Katanya engga bisa" Sasha bergumam kecil tapi masih bisa terdengar oleh kakaknya. "Pembohong besar" Ia bergumam lagi. Ia masih mencari jawaban nomer sembilan sama dengan Gibran.
"Yah ketau bohongnya" Ia masih terpaku dengan soalnya. "Sini cebol mendekat"
"Ogah"
"Ya udah kalau engga mau dikasih tau caranya mah" Sasha membuang ego itu semua ia mulai mendekat ke arah Kak Gibran.
Ia mulai menerangkan jawaban dari soal nomer sembilan dengan rumus yang mudah dimengerti oleh mereka. Mereka hanya menganguk mengerti. tapi Davira hanya memandang semua yang di tulis dengan mencernanya. Hasil dari jawaban nomer sembilan nol.
"Nol?" Kata Davira dan Sasha hanya menganggukkan kepalanya.
"Jadi dari tadi kita masukin rumus dengan susah payah dan hasilnya nol"
"Tapi dari hasilnya nol itu kita tau dan ingin mencari tau jawaban dari soal matematika. Bukan berarti nol itu hanya angka semata yang tidak mempunyai arti dan membuat matematika itu jadi menyenangkan. Jadikan matematika itu teman bukan musuh yang harus di jauhkan" Ia berkata panjang lebar.
"Wah bijak banget perkataannya" Suara terdengar dari arah belakang Gibran. Mereka bertiga melihat kearah sumber suara.
"Lo kapan dateng kampret" Keanu duduk di sofa di ruangan tv.
"Baru dateng. Gue telepon engga di angkat "
"Sorry ponsel gue di atas"
"Sendiri ?" kata Gibran
"Engga" Ia menunjuk orang yang berjalan kearah ruang tv. Yang tadinya Davira biasa aja tapi kali ini ia mematung.
"Kenapa Vira?" kata Gibran sambil melihat Davira tingkahnya jadi aneh.
Dia juga bingung apa Davira harus senang. Arka masih belum menyadari kalau Davira ada di sana. Gibran berdiri dari duduknya ia langsung berjalan ke arah Arka.
"Gue aja belum siap-siap kalian udah dateng"
"Engga tau tuh si Arka minta cepet-cepet" Kata Keanu
"Eh Sasha lagi belajar ?" Keanu melihat ke arah Sasha masih fokus dengan prnya begitu halnya dengan Davira. Di berusaha tenang jangan gegabah seperti pertama bertemu dengannya.
"Iya ni kak. Lagi belajar matematika"
"Sini sama kakak Keanu ajarin" Ia langsung berjalan kearah Sasha dan duduk di sebelahnya.
"Kaya bisa aja lo. Otak udang" Kata Arka.
"Ya-ya Arka si pintar"
"Halo siapa namanya ?" Ia memandang kearah Davira. Davira masih fokus dengan pr tapi itu hanya alasannya saja.
"Semuanya aja sosor" kata Gibran " Dia itu masih bocah jangan di deketin"
"Apaan sih kak gibran gue buka bocah kali. dasar buta ijo" Ia memandang marah ke arak kak Gibran. Di sebelah Gibran ada Arka yang sedang berdiri dan langsung memandang langsung dengan Davira. Membuat keduanya kaget. tapi Davira yang mulai memutuskan pandangan pertama kali.
"Betul dasar buta ijo" Sasha mengikuti perkataan Davira.
"Dasar dua bocah ini gue mau pites" Ia berjalan menuju Davira. Davira langsung menutup kepala dengan kedua tangannya.
"Sasha bantuin gue dong. kakak lo rese bang..." belum saja menyelesaikan perkataannya ia sudah di jitak .
"Awww, sakit bego" Tapi di sisi lain Arka hanya bisa memandang saja. Melihat kedekatan antara Davira dengan Gibran.
Ada rasa kesal didalam hatinya. Entah apa itu. Semenjak ia mengembalikan kemeja ke Davira dan menuliskan di sepucuk kerta kalau Davira tidak boleh mengirimnya sms atau telepon ke nomernya Arka. Dua minggu ini Davira mulai berhenti mengsms Arka. Harusnya dia senang kalau cewek itu tidak lagi mengganggu.
Ia terus memandangi Davira. Masih di tempat dia berdiri. Ia melihat Davira tertawa lepas karena candaan Gibran. Entah kenapa hatinya tidak suka. Keanu yang melihat ke anehan Dari sosok Arka yang selalu murung belakangan ini tidak banyak berbicara. Tidak seperti biasanya. Tapi kali ini sangat jelas ia melihat Arka dengan raut wajah marah.
"Gibran" Ia berbicara pelan ke arah Gibran "Kenapa tuh si Arka"
"Kenapa apanya?" Ia melihat ke arah Keanu.
"Kenapa kak? Serius amat" Davira bertanya ke arah Gibran.
"Gue tunggu di mobil" Arka berjalan kearah luar rumah. Perasaannya campur aduk entah kenapa. Akhir-akhir ini ia tidak mood untuk berbicara banyak.
"Kak temen kakak kenapa?" kata Sasha.
Tapi kecurigaan Keanu malah tampak jelas di matanya. Soalnya dari tadi Arka hanya memandang Davira. Seperti ada sesuatu dia antara mereka. Ia mulai menerka-nerka. saat kepergian Arka pun Davira berubah derastis.
"Davira kenal sama Arka" Ia langsung bertanya kearah Davira.
"Ahh.. apa kak?" Davira tambah galau di tanya sama kak Keanu.
"Kenapa lo?" kata Gibran
"Gue binggung aja dari tadi si Arka mandang Davira mulu. Davira juga mencoba menghindar" Jarinya Keanu mengetuk-ngetuk meja.
Sasha hanya bisa diam walau pun dia tau semuanya. Soal Davira sudah cerita tentang Arka. Tapi sebatas nama tidak dengan wajahnya. Ia tidak tau Arka yang di maksud temen kakaknya sendiri.
"Sampe sejelas itu" Ia pura menyibukan diri . Mengambil minumnya menegung dengan cepat masuk kedalam tenggorokannya.
Ditempat lain Arka duduk di jok mengemudi. Ia memukul stir mobil dengan keras dan menenggelamkan wajahnya di stir mobil kedua tangannya memegang stir mobil. Ada apa dengan hatinya ini. Tidak seperti biasanya ia bingung sendiri.
Ia coba menenangkan diri "Lupakan kejadian hari ini" Kalimat itu yang ia ulang didalam hatinya.
"Jangan interogasi Davira liat mukanya sape pucet gitu" Gibran berdiri dari duduknya.
Davira hanya bisa tutup mulut takutnya kak Arka engga suka. Itu tak-tiknya Davira untuk menjauh dulu dari Arka. Dua minggu ini dia juga jarang sms ke nomer Arka. Setiap ketemu atau tidak sengaja ketemu pura-pura tidak mengenal.
"Kakak lo belum mandi?" Davira berbisik ke Sasha. Tapi terdengar oleh dua cowok yang ada di sana.
"Iya, belum" Sasha memegang hidungnya. Gibran melihat kelakuan adiknya itu.
"Gue mau ke atas mau siap-siap. Jangan kemana-mana" Ia berjalan kearah kamarnya yang ada dilantai atas.
"Mandi lo bau !!" Teriak Davira kencang.
Tiba-tiba suara hening di ruang ini. tidak ada pembicaraan . Sasha fokus lagi dengan soal nomer sepuluh yang belum mereka kerjakan . Itu soal terakhir. Davira hanya bisa memainkan pensil mekaniknya. Mulai canggung dengan kak Keanu. keanu sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia melirik Sasha dan Davira yang kesusahan.
"Bisa jawabnya ?" Keanu bertanya kearah mereka berdua.
"Engga bisa kak. ini soal terakhir" Kata Sasha.
"Coba liat soalnya"
"Ini kakak" Davira mengasih buku paketnya ke kak Keanu.
"Oh ini" ia mulai berfikir . Lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Maaf ya kakak juga engga tau jawabanya apa"
"Apa mau kak panggil kak Arka"
"Jangan Kak" Davira dengan cepat menjawab.
"Kenapa? di antara kita bertiga yang paling pintar Arka" Keanu masih memegang buku paketnya "Biar cepet selesai sebentar lagi mau sore"
"Ya udah dek kak" ia hanya pasrah. Sasha tidak bisa berbuat apa-apa.
Keanu berjalan ke luar rumah dan melihat mobil hitam yang terparkir di sana. Ia mengetok kaca pengemudi Arka masih menenggelamkan wajahnya di stir mobil. Ketukan keras terdengar di sebelahnya. Arka mengangkat wajahnya dan menurunkan kaca mobil.
"Ada apa lo?"
"Jutek amat mas bro"
"Lo bisa matematika?" Arka tidak keluar dari mobinya "Bantuin anak-anak di dalem. kasian Sasha sama Davira"
"Ada Gibran di dalem minta bantuan dia aja"
"Ya elah, si Gibran lagi mandi. tadi aja di teriakin sama Davira mandi lo bau!" Keanu hanya tersenyum kecil. Terlihat jelas di muka Arka kalau dia cemburu.
"Sial" Dia mengumpat pelan. "Awas lo gue mau keluar dari mobil"
Keanu mengekori Arka dari belakang. Arka berusaha menenangkan diri biar tidak terliat jelas kalau ia lagi kesal. Sampai di ruang tv ia langsung duduk di samping Davira. Mejanya persegi panjang di depanya Davira ada Sasha di sebelahnya ada kak Keanu. Membuat Davira tidak karuan. Jantungnya tidak berhenti berdetak.
"Mana yang engga mengerti?" Sambil melihat ke buku paket.
"Nomer sepuluh kak soal terakhir" Kata Sasha sambil menunjuk soalnya. Davira masih melihat bukunya sendiri.
Detakan jantungnya masih terdengar dengan jelas. Davira berfikir apa Kak Arka mendengar suara jantungnya.
Ia menarik napas dan membuangnya lewat mulut "Fokus Davira, fokus!"
"Kenapa vira?" Arka bertanya langsung tingkahnya aneh tidak seperti dua minggu yang lalu terang-terangan kalau ia suka dengan Arka.
"Engga apa-apa ko kak" Ia gugup
Arka mulai menjelaskan soal matematika ke pada keduannya. Sasha banyak bertanya ko itu di pindahin kesana dan ko hasinya bisa sigitu. Sedangkan Davira hanya mengangguk.
"Kenapa Vira engga ada yang ngerti? tanya aja sama kak Arka. Tenang aja engga bakal di gigit ko" Keanu melihat Davira kaya kesusahan dan dahinya mengerut.
"Engga ngerti semua yang di jelasin sama kak Arka" suaranya mengecil ia malu sendiri.
"Engga tau semua?" kata Arka . Keanu hanya ketawa melihat tingkah Davira.
"Les privat aja berdua" kata Keanu.
"Diam lo"
"Soal matematika aku rada lemot" Davira tidak menggunakan kata lo-gue mendadak aku-kamu. "Maksudnya kaga bisa" Mendadak muka Davira memerah. malu banget.
"Ya udah aku terangin lagi. Sha kamu udah ngertikan?"
"Udah ngerti kok kak"
Arka mulai menjelaskan kearah Davira dengan pelan. Biar dia mulai mengerti.
"Ngangerti" ia bergumam kecil sambil menggelengkan kepala. Arka mendengar itu.
Arka melihat ke arah Davira "Ngangerti juga?"
"Hah"
"Emang gitu vira mah cuma iya-iya pas aku nerangin semua soal satu sampe delapan"
Ingin rasanya menutup mukanya. Malu banget yang Davira rasakan.
"Bisanya apa? engga suka belajar ya" Kata keanu "Pacaran mulu ya?"
"Iy.. engga ko aku suka belajar kak. Pelajaran yang lain nilainya bagus-bagus" Kata Davira "Tapi matematika aja yang paling jelek" Ia berusaha mengecilkan suaranya.
"Engga pacaran ko" Terdengar suara ngetaran dari dalam tasnya. Ia langsung mengambilnya melihat ke layar ponselnya.
"Bentar ya kak ada telepon masuk" Davira langsung berdiri dari duduknya.
Arka memandang Davira lekat.
"Engga kepo lo" Kata keanu. Tak ada jawaban dari Arka.
Davira menjauh dari ruang tv. Ia langsung mengangkat teleponnya.
"Halo ada apa telepon?" Dengan suara kesal.
"Kenapa lo lagi M. Gue telepon marah marah"
"Mau apa nelepon ?"
"Mau ngasih contekan matematika ke lo. Mau engga ?"
"Gue udah ngerjain. Telat lo"
"Ngerjain sendiri?" Raga kepo aja tumben aja ini anak udah selesai ngerjain tugas yang menurut Vira susah.
"Ya ngerjain sendiri.... kaga deng di bantuin" ia hanya tertawa.
"Sekarang di mana?"
"Di rumah Sasha. Kenapa lo kangen ?"
"Najis banget kangen sama lo meninggan gue kangen-kangen nan sama pacar gue" Raga hanya menganggap Davira sebatas teman tidak lebih. "Udah gue tutup teleponnya nanti pulsa gue abis"
"Suruh siapa nelepon. Dasar kampret" Ia langsung mematikan ponselnya. Davira berjalan ke ruang tv duduk lagi di sebelah kak Arka.
"Siapa Vira?" Sasha berbicara ke Davira.
"Si gagak"
"Ngapain nelepon?" mereka berdua asik sendiri tidak tau kalau Keanu sama Arka masih ada di situ.
"Engga tau ngajak ribut. So-soan mau ngasih gue contekan. Bilang aja kangen sama lo" Davira tidak sengaja mengatakan kata kangen. 'Sama lo' nya dia berbicara dengan pelan. Dia sengaja dan langsung menutup mulutnya. Untuk mencari perhatian Arka.
"Ohh.. "
"Kalian berantem lagi?" Ia berbicara pelan kearah Sasha.
"Dianya rese engga mau ngalah"
Davira hanya mengangguk mendengar Sasha.
Davira langsung melihat ke arah Arka. Terlihat jelas kalau Arka tidak suka. "Tadi baru sampe mana? maaf"
Belum sempat mau menjelaskan Gibran udah ada dan sudah siap.
"Ayo berangkat"
"Sampe disini aja dulu. Kita mau pergi dulu" Kata Keanu
"Makasih ya kak Arka udah bantu" Sasha melihat ke arah Arka.
"Sama-sama" kata Arka tanpa ekspresi.
Davira masih duduk yang lain udah pada berdiri. ia pun berdiri " makasih" ia bergumam kecil hanya terdengar sama Arka.
Arka berfikir kenapa ini cewek berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kak Gibran makasih bantuin Davira" Kata Davira.
"Ok. kalau butuh bantuan soal matematika telepon aja Vira"
"Ok kak"
Mereka bertiga sudah keluar dari ruang tv. Terlihat jelas kalau Arka tidak suka. Tadi juga mukanya datar tanpa ekspresi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Erina Munir
arka plinplan luuh...masa davira ga boleh ngobrol sama cowo2
2025-02-10
0
M akhwan Firjatullah
davira berbanding terbalik dengan jagoan bungsu ku...biarpun baru 6th perkalian sampe seratus dia bisa...aku aja bingung kok bisa...
2023-09-11
0
Lela Lela
cemburu kah arka
2023-08-19
0