12I Menyelinap

Mata semua orang memandang dengan serius ke papan tulis. Sudah beberapa bulan ini dia berperang dengan yang namanya tugas.  Tidak ada sehari ia bisa tenang. Di fikirannya penuh dengan bayangan-bayangan tugas menghantui. Ia menarik napas dalam-dalam.

Lelah itu sudah pasti. Tapi itu resiko yang harus ia hadapi sendiri. Ia tidak bisa menyesal masuk jurusan tersebut itu sudah jalannya. Waktu kuliah selesai dosen keluar dari kelas dan semua orang berhamburan keluar dari kelas. Davira masih membereskan buku dan memasukan ke dalam tas.

"Besok hari sabtu" Ley bersuara keras sambil mengangkat kedua tangannya.

"Bisa tidur seharian di kamar. Yes" kata Kila

"Iya bener sabtu gue mau libur dari tugas-tugas" ia menanggapi ucapan Kila.

Mereka  bertiga jalan keluar dari kelas. Berjalan menuju pintu lift. Ley berhenti melangkah mereka berdua memandang Ley dengan heran.

"Kenapa ada yang ketinggalan?" Davira hanya memandang Ley.

"Kenapa lu?" Vira memangang jidat Ley "Engga panas tuh"

"Gue punya ide" ia berteriak sambil lompat-lompat kegirangan.

"Kenapa lu Ley? Gila?" Kila melihat ke sekelilingnya. Untung aja kampus nya sudah sepi jadi dia tidak usah malu dengan tingkah Ley yang abstrak.

"Gue punya ide bagus gimana kalau kita nginep di rumah Davira?  Gimana?" Ley antusias dengan idenya.

"Kenapa di rumah gue?" sambil melihat ke arah Ley.

"boleh tuh" kata Kila

"Udah beberapa hari ini lu nginep di kosan gue karena tugas. Sekarang kita nginep di rumah lu sambil happy-happy. Menghilangkan penat" Ley membujuk Davira.

"Boleh" ia bersuara dengan tegas. "Yu kita jalan ke rumah gue" ia mengangkat tangannya ke udara.

"Udah mulai" kata Kila sambil melihat kelakuan kedua sahabatnya. Setiap hari mulai abstrak.

***

Meletakan tas mereka di bawah "sampai juga di rumah vira" Ley duduk sambil memejamkan matanya.

"Wah enaknya?" ia melihat sekeliling ruangan tempat Davira tinggal. "Beda banget dengan kosan gue yang kurang bagus"

"Pasti harganya mahal" kata Ley berbicara pelan.

"Kita nonton film" kata Ley antusias. Ia mengambil remot yang ada di sebelah tv. 

"Vira punya film rame engga?" ia berteriak ke arah Davira. 

Kila menoyor kepala Ley "engga usah teriak! Jarak vira aja engga jauh"

"Sakit bego" ia mengusap kepalanya yang terasa sakit.

Davira berjalan sambil membawa minuman yang ada di atas nampan. Ia menaruhnya di atas meja.

"Engga di kasih makanan?" dengan wajah polos.

"Ini bocah lama-lama ngelunjak" ia berbicara sambil menatap Ley dengan kesal.

"Bentar-bentar. Gue liat kulkas dulu kali aja masih ada makan" ia berjalan menuju kulkan. Ia melihat isi kulkannya kosong cuma ada apel kemarin yang di beli Arka.

Davira mengambil apel tersebut di potong dan di sajikan di atas piring. Ia berjalan menuju mereka berdua.

"Kulkas gue isinya kosong cuma ada ini" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Maaf ya jadi ngerepotin" kata Kila.

"Engga apa-apa ko" Davira sambil duduk di samping Ley yang sedang serius dengan film yang ia sedang nonton. Sialnya lagi Ley nonton film horror.

"Engga ada film lain apa?" kata Davira sambil memandang Ley

"Iya nih serem tau engga" Kila sependapat dengan Davira yang mulai ketakutan saat si hantu tersebut menampakkan diri.

"Gila!!!  Bego atau tolol malah di ikuti suaranya.yahh jangan ke sanaaa... Yahh!!! " Davira berteriak dengan kencang saat melihat hantu tersebut tiba-tiba muncul.

"Udah ahh gue nyerah engga bakal nonton" kata Kila sambil membuka hpnya.

"Kita tinggalin aja Ley di sini sendiri kita pergi kebawah nyari cemilan" kata Kila.

"Boleh-boleh aja sih tapi supermarket di sini lumayan jauh. Engga jauh jauh amat sih" ia berdiri dari duduknya.  "gue tau harus kemana. bentar gue mau ambil makanan dulu"

"Mau ambil makanan ke mana?" sambil memandang curiga.  Ley mulai melihat ke arah Davira.

"Bawa yang banyak ya" kata Ley dengan wajah polosnya.

"Ke sebelah" ia berjalan ke luar.

"Jam segini pasti Arka belum pulang ke rumah. Bagus gue bisa ambil makanannya" sambil menekan enam digit angka apartemen Arka.  Ia membuka pintunya melangkah masuk kedalam ruangan.

Ruangan masih gelap di semua ruangan ia mengendap masuk kedalam rumah ia lupa sakelar lampunya di mana.  Ia memakai senter hp untuk penerangan ia mulai membuka  kulkas. Mencari makanan.  Ia terkejut dengan isinya yang ada di kulkas tersebut. penuh dengan makanan.

"Wahh,  banyak banget kapan dia beli ini semua?" sambil senyum-senyum kegirangan.

"Ngapain? " masih dengan suara serak.

Dengan reflek ia berteriak tangannya hendak memukul ke arah Arka. Dengan sigap ia memegang tangannya.

"Ngapain malam-malam masuk ke rumah orang" ia masih memegang tangan Davira.

"Sebelum gue Jelasin lepasin dulu tangan gue" Arka melepaskan tangan Davira.

"Ahh itu.. " ia melihat jam yang menunjukan pukul tujuh malam. "Tunggu..  Ko tumben udah ada di rumah? " ia mengerutkan kening nya. Semua lampu sudah menyala ia sudah bisa dengan jelas wajah Arka.

"Emang engga boleh gue pulang cepet"

"Engga bukan itu.  Tumben aja" ia tersenyum ke arah Arka.

"Mulai so manis pasti ada maunya" ia melihat ke arah Davira mulai senyum penuh rayuan.

"tau aja" Davira tersenyum sambil tangannya mengambil makanan di dalam kulkas.

Arka masuk kekamar tanpa berbicara lagi ke arah Davira. Ia mengambil makanannya sambil keluar dan mulai masuk ke dalam apartemennya.

ia meletakan semua makanan yang ia dapat dari arka di atas meja.

Meraka mulai berbagi cerita tentang pengalaman yang memalukan sampai menceritakan pengalaman cinta. Kita ketawa lepas mendengar cerita Ley yang konyol saat ia menyatakan cinta. Dia bercerita waktu masuk smp ia masih murid baru dan rambutnya masih pendek seperti cowok. Saat itu ia masih tomboy. Untuk pertama kalinya ia melihat kakak kelas yang cukup ganteng. Ia mulai melihat kakak kelas tersebut dari kejauhan.

Ia hanya bisa memandang. Ley cukup malu untuk mengutarakan perasaannya. Sudah sebulan ia masih melihat dari kejauhan. Ia nekat untuk menyatakan perasaannya di luar sekolah.keluar dengan celana jin dan juga kaos yang ia sering ia pakai. Saat itu ia sudah berteman dengan Kila. Kila membantu Ley yang mau mengungkapkan perasaannya. tapi Ley gagal.

"Tau engga kalau ley di sangka gay" Kila hanya tertawa melihat ke arah Ley yang mulai mendidih. Ia menceritakan hal yang sangat busuk di kehidupannya.

"serius lu?" Davira tertawa.  Mereka berdua tertawa lepas membayangkan kalau cinta pertamanya itu bilang "maaf aku engga suka sama cowok"

"Ketawa aja sepuas kalian" kata Ley

Iya melihat jam sudah pukul dua belas malam. Mereka mulai mengantuk. Semua mulai tertidur di kasur yang cukup besar untuk tiga orang. Entah kenapa Davira  tidak begitu mengantuk. ia memandang langit-langit kamar.  Mereka berdua sudah masuk ke alam mimpi.

Ia bangun dari tidurnya berjalan menuju ke luar dan masuk ke apartemen Arka. Ia melihat ke sekitar terasa sepi. Apa Arka sedang keluar?  Ia berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu tersebut dengan perlahan. Ia melihat Arka yang sedang tidur.

"Dia ada di rumah" ia tersenyum memandangnya dari jauh. Ada yang berbeda dengan biasanya.

Entah kenapa tidurnya penuh dengan kegelisahan. Penuh dengan keringat dan bajunya masih pakai baju yang terakhir kali ia lihat.  Ia berjalan menuju Arka yang sedang tidur. Ia menaruhnya tangannya di dahi Arka. Ia kaget merasakan panas dari tubuhnya.

Ia mengangkat tangannya dari dahi Arka.  Ia hendak berbalik tangannya di tarik sampai ia jatuh di atas kasur dan tidur berhadapan. Tangannya masih di pegang oleh Arka dengan erat. Ia buru-buru berdiri lagi dari tidurnya. Ia harus segera mengompres suhu badannya. Ia mengambil handuk kecil dan baskom kecil air hangat.

Ia membawanya ke dalam kamar Arka. Davira mulai mengelap semua keringat Arka biar suhu badannya turun. Bajunya sudah basah dengan keringat.

" gimana nih?? Masa harus buka bajunya. Tapi ini bajunya udah basah banget dengan keringat" ia ragu ragu untuk menganti baju Arka dengan yang baru.

"Oke Davira tenang.  Ini bukan kejahatan lu cuma ganti bajunya biar suhu tubuh Arka bisa turun" ia mulai membuka kancing bajunya dan ia mulai menggantikan dengan baju yang baru.

Sudah menggantikan bajunya ia mulai mengompresnya. Ia meletakan handuk tersebut di atas dahi Arka. Davira menggantinya dan mengompreskan lagi ke dahi Arka. Ia mulai mengantuk ia tertidur. Davira duduk sambil kepalanya di letakan di atas kasur dan wajar nya menghadap ke  arah Arka.

Waktu berputar dengan cepat sekarang menunjukan pukul tiga subuh. Davira bangun sambil melihat jam yang ada di ponselnya. Rasa ngantuk itu masih ada.  Tangannya di tempelkan di dahi Arka. Menempelkannya beberapa kali untuk memastikan kalau dia sudah tidak demam lagi.

"Demamnya udah turun" ia berdiri dan keluar dari kamar Arka. Ia melangkah ke dapur untuk membuat bubur.

Tidak butuh lama ia sudah  membuatnya buburnya.  Ia meletakan di atas meja dekat tempat tidurnya. Davira harus cepet kembali. Nanti Ley dan Kila mulai bertanya macam-macam. Ia keluar dari kamar Arka dengan langkah pelan dan juga menutup pintunya.

Ia masuk ke apartemennya dengan pelan-pelan takutnya mereka ke bangun. Davira mulai mencari alasan. Saat melihat ke kamarnya untungnya mereka masih tidur dengan tenang. Ia menyelinap masuk ke dalam selimut dan lalu tertidur di samping Ley.

***

Arka terbangun dari tidurnya dan badannya sudah merasa baik dari sebelumnya. Ia mengambil handuk  di dahinya. Ia terduduk di pinggir kasur sambil melihat mangkuk isi bubur yang di letakan di  meja. Ia mengambil sebuah note yang tertulis 'makan buburnya biar cepet sembuh dan juga minum obat yang ada di laci bawah. Jangan sampai lupa!!' ia tersenyum.  Arka meletakan lagi  note nya di tempat yang tadi ia memakan buburnya.

Arka melihat jam yang menujukan pukul tujuh pagi. Ia melangkah masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Tubuhnya udah aga mendingan dari kemarin. Ia harus berterima kasih dengan Davira. Arka mau mengajaknya makan pagi, mungkin dia belum sarapan karena kebiasaan buruknya kalau hari libur dia pasti suka bangun siang. Apa lagi tadi malem ia menjaga Arka yang sakit.

Ia mengetuk pintu apartemen Davira. Tidak butuh waktu lama pintu tersebut terbuka. Yang keluar dari dalam bukan Davira melainkan Ley. Ley hanya memandangnya dengan tatapan bingung. Cowok pagi-pagi mau ngapain ke apartemen Davira?.

"Kaya pernah liat tapi dimana?" Ia menyipitkan matanya.

"Daviranya Ada?" Kata Arka.

"Daviranya masih tidur. Bentar aku...." omongannya terpotong dengan suara nyaringnya Davira. Dengan spontan Davira berlari menuju Arka.

"Udah sembuh. Badan kamu udah engga panas" ia memegang dahi Arka. Ley hanya mematung melihat kelakuan sahabatnya ini.

Ia hanya pura-pura ia sudah tau kalau Arka demamnya udah turun dari subuh tadi.

"Seharusnya kamu istirahat di kamar"

"Sekarang gue tau" dengan suara keras. "Davira dia itu ngebet..." ia buru-buru memberikan mulut Ley dengan tangannya. Telunjuk Tangan kirinya menempel tepat di depan bibirnya.

Arka bingung dengan tingkah kedua cewek tersebut. Davira membalik kebelakang ia hanya tersenyum. Yang tangannya masih membekam mulut Ley.

Ley mencoba melepaskannya tapi entah kenapa ia tidak bisa melepaskan tangan Davira dari mulutnya.

"Kalau butuh sesuatu nanti aja aku mau ngurus bocah yang Satu ini" ia langsung menyeret Ley masuk dan langsung menutup pintu. Arka hanya mematung sambil memandang pintu yang tertutup. Ia belum sempat berbicara satu katapun.

Melihat tingkah Davira yang tiap harinya ia hanya bisa tersenyum.

Terpopuler

Comments

Lela Lela

Lela Lela

enak ya deket sm pacar

2023-08-19

0

lihat semua
Episodes
1 1| Takdir yang Sial
2 2| Kilauan Agresif
3 3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4 4| Kilas Senyum Bahagia
5 5| Perubahan
6 6| Baru awal perubahan
7 7| Belajar
8 8I Berakhirnya Masa Sma
9 9I Awal yang baru
10 10I Gebetan
11 11| Mendekati
12 12I Menyelinap
13 13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14 14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15 15| Kencan pertama part 1
16 16| Kencan pertama part 2
17 17| Kencan pertama part 3
18 18| Misi
19 19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20 20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21 21| Satu hari sebelum misi
22 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24 22| Menyamar
25 23| Tuan muda Hans misterius
26 24| Kita hanya teman
27 25| Ibu?
28 26| Melawan Trauma
29 27| Dua Mayat Anak Kecil
30 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32 Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33 28| Dia sangat merindukannya
34 29| kota H saya datang
35 30| Rumah Nenek
36 31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37 32| Bertarung dengan Rasa Takut
38 33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39 34| Rencana yang Berisiko
40 35| Ketegangan
41 36| Momen Keputusan yang Sulit
42 37| Pencarian Putus Asa
43 38| Pesan Terakhir
44 39| Tidak Mungkin
45 40| Surat untuk Davira
46 41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47 42| Menangis dalam Kegelapan
48 Update setiap hari!
49 43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50 45| Penerbangan ke Negara N.
51 46| Namun, hidup terus berjalan.
52 47| Arka, aku kembali
53 48| Rutinitas Kuliahnya.
54 49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55 50| Pria itu membuka komputer
56 51| Kedipan Merah
57 52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58 53| Kotak-kotak berisi karya
59 54| Dr. X
60 55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61 56| Artful Essence Gallery
62 57| Pameran dimulai
63 58| Koridor Lantai Dua
64 59| Rasa Penasaran
65 60| Dalam Keheningan.
66 61| Sampai jumpa
67 62| Davira, di mana kamu?
68 63| mengetik kode-kode yang rumit
69 64| Kegelapan Ruangan
70 65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71 66| Melanjutkan Pelariannya
72 67| Siapa Kamu ?
73 68| Dia merunduk dan bersembunyi
74 69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75 70| Kakak, aku merindukanmu
76 71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77 72| Menyusun Rencana
78 73| Ponsel berdering.
79 74| Mereka tenggelam dalam momen
80 75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81 76| Permainan Bayangan
82 77| Bayangan di Antara Kita
83 78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84 79| Titik Balik Penangkapan
85 80| Menguak Tabir Kegelapan
86 81| Menelusuri Jejak Orakel
87 82| Perjalanan waktu
88 pengumuman
89 83| Rumah
90 84| Simpul Putus
91 85| Luka yang Tak Terhapuskan
92 86| Tidak Percaya
93 87| Merasa dikhianati
94 88| Tanpa Pilihan
95 89| Bercerita (Bagian 1)
96 90| Bercerita (Bagian 2)
97 91| Bercerita (Bagian 3)
98 92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99 93| Mencoba mengakses data
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1| Takdir yang Sial
2
2| Kilauan Agresif
3
3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4
4| Kilas Senyum Bahagia
5
5| Perubahan
6
6| Baru awal perubahan
7
7| Belajar
8
8I Berakhirnya Masa Sma
9
9I Awal yang baru
10
10I Gebetan
11
11| Mendekati
12
12I Menyelinap
13
13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14
14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15
15| Kencan pertama part 1
16
16| Kencan pertama part 2
17
17| Kencan pertama part 3
18
18| Misi
19
19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20
20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21
21| Satu hari sebelum misi
22
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24
22| Menyamar
25
23| Tuan muda Hans misterius
26
24| Kita hanya teman
27
25| Ibu?
28
26| Melawan Trauma
29
27| Dua Mayat Anak Kecil
30
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32
Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33
28| Dia sangat merindukannya
34
29| kota H saya datang
35
30| Rumah Nenek
36
31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37
32| Bertarung dengan Rasa Takut
38
33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39
34| Rencana yang Berisiko
40
35| Ketegangan
41
36| Momen Keputusan yang Sulit
42
37| Pencarian Putus Asa
43
38| Pesan Terakhir
44
39| Tidak Mungkin
45
40| Surat untuk Davira
46
41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47
42| Menangis dalam Kegelapan
48
Update setiap hari!
49
43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50
45| Penerbangan ke Negara N.
51
46| Namun, hidup terus berjalan.
52
47| Arka, aku kembali
53
48| Rutinitas Kuliahnya.
54
49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55
50| Pria itu membuka komputer
56
51| Kedipan Merah
57
52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58
53| Kotak-kotak berisi karya
59
54| Dr. X
60
55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61
56| Artful Essence Gallery
62
57| Pameran dimulai
63
58| Koridor Lantai Dua
64
59| Rasa Penasaran
65
60| Dalam Keheningan.
66
61| Sampai jumpa
67
62| Davira, di mana kamu?
68
63| mengetik kode-kode yang rumit
69
64| Kegelapan Ruangan
70
65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71
66| Melanjutkan Pelariannya
72
67| Siapa Kamu ?
73
68| Dia merunduk dan bersembunyi
74
69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75
70| Kakak, aku merindukanmu
76
71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77
72| Menyusun Rencana
78
73| Ponsel berdering.
79
74| Mereka tenggelam dalam momen
80
75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81
76| Permainan Bayangan
82
77| Bayangan di Antara Kita
83
78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84
79| Titik Balik Penangkapan
85
80| Menguak Tabir Kegelapan
86
81| Menelusuri Jejak Orakel
87
82| Perjalanan waktu
88
pengumuman
89
83| Rumah
90
84| Simpul Putus
91
85| Luka yang Tak Terhapuskan
92
86| Tidak Percaya
93
87| Merasa dikhianati
94
88| Tanpa Pilihan
95
89| Bercerita (Bagian 1)
96
90| Bercerita (Bagian 2)
97
91| Bercerita (Bagian 3)
98
92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99
93| Mencoba mengakses data

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!