Mata semua orang memandang dengan serius ke papan tulis. Sudah beberapa bulan ini dia berperang dengan yang namanya tugas. Tidak ada sehari ia bisa tenang. Di fikirannya penuh dengan bayangan-bayangan tugas menghantui. Ia menarik napas dalam-dalam.
Lelah itu sudah pasti. Tapi itu resiko yang harus ia hadapi sendiri. Ia tidak bisa menyesal masuk jurusan tersebut itu sudah jalannya. Waktu kuliah selesai dosen keluar dari kelas dan semua orang berhamburan keluar dari kelas. Davira masih membereskan buku dan memasukan ke dalam tas.
"Besok hari sabtu" Ley bersuara keras sambil mengangkat kedua tangannya.
"Bisa tidur seharian di kamar. Yes" kata Kila
"Iya bener sabtu gue mau libur dari tugas-tugas" ia menanggapi ucapan Kila.
Mereka bertiga jalan keluar dari kelas. Berjalan menuju pintu lift. Ley berhenti melangkah mereka berdua memandang Ley dengan heran.
"Kenapa ada yang ketinggalan?" Davira hanya memandang Ley.
"Kenapa lu?" Vira memangang jidat Ley "Engga panas tuh"
"Gue punya ide" ia berteriak sambil lompat-lompat kegirangan.
"Kenapa lu Ley? Gila?" Kila melihat ke sekelilingnya. Untung aja kampus nya sudah sepi jadi dia tidak usah malu dengan tingkah Ley yang abstrak.
"Gue punya ide bagus gimana kalau kita nginep di rumah Davira? Gimana?" Ley antusias dengan idenya.
"Kenapa di rumah gue?" sambil melihat ke arah Ley.
"boleh tuh" kata Kila
"Udah beberapa hari ini lu nginep di kosan gue karena tugas. Sekarang kita nginep di rumah lu sambil happy-happy. Menghilangkan penat" Ley membujuk Davira.
"Boleh" ia bersuara dengan tegas. "Yu kita jalan ke rumah gue" ia mengangkat tangannya ke udara.
"Udah mulai" kata Kila sambil melihat kelakuan kedua sahabatnya. Setiap hari mulai abstrak.
***
Meletakan tas mereka di bawah "sampai juga di rumah vira" Ley duduk sambil memejamkan matanya.
"Wah enaknya?" ia melihat sekeliling ruangan tempat Davira tinggal. "Beda banget dengan kosan gue yang kurang bagus"
"Pasti harganya mahal" kata Ley berbicara pelan.
"Kita nonton film" kata Ley antusias. Ia mengambil remot yang ada di sebelah tv.
"Vira punya film rame engga?" ia berteriak ke arah Davira.
Kila menoyor kepala Ley "engga usah teriak! Jarak vira aja engga jauh"
"Sakit bego" ia mengusap kepalanya yang terasa sakit.
Davira berjalan sambil membawa minuman yang ada di atas nampan. Ia menaruhnya di atas meja.
"Engga di kasih makanan?" dengan wajah polos.
"Ini bocah lama-lama ngelunjak" ia berbicara sambil menatap Ley dengan kesal.
"Bentar-bentar. Gue liat kulkas dulu kali aja masih ada makan" ia berjalan menuju kulkan. Ia melihat isi kulkannya kosong cuma ada apel kemarin yang di beli Arka.
Davira mengambil apel tersebut di potong dan di sajikan di atas piring. Ia berjalan menuju mereka berdua.
"Kulkas gue isinya kosong cuma ada ini" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ya jadi ngerepotin" kata Kila.
"Engga apa-apa ko" Davira sambil duduk di samping Ley yang sedang serius dengan film yang ia sedang nonton. Sialnya lagi Ley nonton film horror.
"Engga ada film lain apa?" kata Davira sambil memandang Ley
"Iya nih serem tau engga" Kila sependapat dengan Davira yang mulai ketakutan saat si hantu tersebut menampakkan diri.
"Gila!!! Bego atau tolol malah di ikuti suaranya.yahh jangan ke sanaaa... Yahh!!! " Davira berteriak dengan kencang saat melihat hantu tersebut tiba-tiba muncul.
"Udah ahh gue nyerah engga bakal nonton" kata Kila sambil membuka hpnya.
"Kita tinggalin aja Ley di sini sendiri kita pergi kebawah nyari cemilan" kata Kila.
"Boleh-boleh aja sih tapi supermarket di sini lumayan jauh. Engga jauh jauh amat sih" ia berdiri dari duduknya. "gue tau harus kemana. bentar gue mau ambil makanan dulu"
"Mau ambil makanan ke mana?" sambil memandang curiga. Ley mulai melihat ke arah Davira.
"Bawa yang banyak ya" kata Ley dengan wajah polosnya.
"Ke sebelah" ia berjalan ke luar.
"Jam segini pasti Arka belum pulang ke rumah. Bagus gue bisa ambil makanannya" sambil menekan enam digit angka apartemen Arka. Ia membuka pintunya melangkah masuk kedalam ruangan.
Ruangan masih gelap di semua ruangan ia mengendap masuk kedalam rumah ia lupa sakelar lampunya di mana. Ia memakai senter hp untuk penerangan ia mulai membuka kulkas. Mencari makanan. Ia terkejut dengan isinya yang ada di kulkas tersebut. penuh dengan makanan.
"Wahh, banyak banget kapan dia beli ini semua?" sambil senyum-senyum kegirangan.
"Ngapain? " masih dengan suara serak.
Dengan reflek ia berteriak tangannya hendak memukul ke arah Arka. Dengan sigap ia memegang tangannya.
"Ngapain malam-malam masuk ke rumah orang" ia masih memegang tangan Davira.
"Sebelum gue Jelasin lepasin dulu tangan gue" Arka melepaskan tangan Davira.
"Ahh itu.. " ia melihat jam yang menunjukan pukul tujuh malam. "Tunggu.. Ko tumben udah ada di rumah? " ia mengerutkan kening nya. Semua lampu sudah menyala ia sudah bisa dengan jelas wajah Arka.
"Emang engga boleh gue pulang cepet"
"Engga bukan itu. Tumben aja" ia tersenyum ke arah Arka.
"Mulai so manis pasti ada maunya" ia melihat ke arah Davira mulai senyum penuh rayuan.
"tau aja" Davira tersenyum sambil tangannya mengambil makanan di dalam kulkas.
Arka masuk kekamar tanpa berbicara lagi ke arah Davira. Ia mengambil makanannya sambil keluar dan mulai masuk ke dalam apartemennya.
ia meletakan semua makanan yang ia dapat dari arka di atas meja.
Meraka mulai berbagi cerita tentang pengalaman yang memalukan sampai menceritakan pengalaman cinta. Kita ketawa lepas mendengar cerita Ley yang konyol saat ia menyatakan cinta. Dia bercerita waktu masuk smp ia masih murid baru dan rambutnya masih pendek seperti cowok. Saat itu ia masih tomboy. Untuk pertama kalinya ia melihat kakak kelas yang cukup ganteng. Ia mulai melihat kakak kelas tersebut dari kejauhan.
Ia hanya bisa memandang. Ley cukup malu untuk mengutarakan perasaannya. Sudah sebulan ia masih melihat dari kejauhan. Ia nekat untuk menyatakan perasaannya di luar sekolah.keluar dengan celana jin dan juga kaos yang ia sering ia pakai. Saat itu ia sudah berteman dengan Kila. Kila membantu Ley yang mau mengungkapkan perasaannya. tapi Ley gagal.
"Tau engga kalau ley di sangka gay" Kila hanya tertawa melihat ke arah Ley yang mulai mendidih. Ia menceritakan hal yang sangat busuk di kehidupannya.
"serius lu?" Davira tertawa. Mereka berdua tertawa lepas membayangkan kalau cinta pertamanya itu bilang "maaf aku engga suka sama cowok"
"Ketawa aja sepuas kalian" kata Ley
Iya melihat jam sudah pukul dua belas malam. Mereka mulai mengantuk. Semua mulai tertidur di kasur yang cukup besar untuk tiga orang. Entah kenapa Davira tidak begitu mengantuk. ia memandang langit-langit kamar. Mereka berdua sudah masuk ke alam mimpi.
Ia bangun dari tidurnya berjalan menuju ke luar dan masuk ke apartemen Arka. Ia melihat ke sekitar terasa sepi. Apa Arka sedang keluar? Ia berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu tersebut dengan perlahan. Ia melihat Arka yang sedang tidur.
"Dia ada di rumah" ia tersenyum memandangnya dari jauh. Ada yang berbeda dengan biasanya.
Entah kenapa tidurnya penuh dengan kegelisahan. Penuh dengan keringat dan bajunya masih pakai baju yang terakhir kali ia lihat. Ia berjalan menuju Arka yang sedang tidur. Ia menaruhnya tangannya di dahi Arka. Ia kaget merasakan panas dari tubuhnya.
Ia mengangkat tangannya dari dahi Arka. Ia hendak berbalik tangannya di tarik sampai ia jatuh di atas kasur dan tidur berhadapan. Tangannya masih di pegang oleh Arka dengan erat. Ia buru-buru berdiri lagi dari tidurnya. Ia harus segera mengompres suhu badannya. Ia mengambil handuk kecil dan baskom kecil air hangat.
Ia membawanya ke dalam kamar Arka. Davira mulai mengelap semua keringat Arka biar suhu badannya turun. Bajunya sudah basah dengan keringat.
" gimana nih?? Masa harus buka bajunya. Tapi ini bajunya udah basah banget dengan keringat" ia ragu ragu untuk menganti baju Arka dengan yang baru.
"Oke Davira tenang. Ini bukan kejahatan lu cuma ganti bajunya biar suhu tubuh Arka bisa turun" ia mulai membuka kancing bajunya dan ia mulai menggantikan dengan baju yang baru.
Sudah menggantikan bajunya ia mulai mengompresnya. Ia meletakan handuk tersebut di atas dahi Arka. Davira menggantinya dan mengompreskan lagi ke dahi Arka. Ia mulai mengantuk ia tertidur. Davira duduk sambil kepalanya di letakan di atas kasur dan wajar nya menghadap ke arah Arka.
Waktu berputar dengan cepat sekarang menunjukan pukul tiga subuh. Davira bangun sambil melihat jam yang ada di ponselnya. Rasa ngantuk itu masih ada. Tangannya di tempelkan di dahi Arka. Menempelkannya beberapa kali untuk memastikan kalau dia sudah tidak demam lagi.
"Demamnya udah turun" ia berdiri dan keluar dari kamar Arka. Ia melangkah ke dapur untuk membuat bubur.
Tidak butuh lama ia sudah membuatnya buburnya. Ia meletakan di atas meja dekat tempat tidurnya. Davira harus cepet kembali. Nanti Ley dan Kila mulai bertanya macam-macam. Ia keluar dari kamar Arka dengan langkah pelan dan juga menutup pintunya.
Ia masuk ke apartemennya dengan pelan-pelan takutnya mereka ke bangun. Davira mulai mencari alasan. Saat melihat ke kamarnya untungnya mereka masih tidur dengan tenang. Ia menyelinap masuk ke dalam selimut dan lalu tertidur di samping Ley.
***
Arka terbangun dari tidurnya dan badannya sudah merasa baik dari sebelumnya. Ia mengambil handuk di dahinya. Ia terduduk di pinggir kasur sambil melihat mangkuk isi bubur yang di letakan di meja. Ia mengambil sebuah note yang tertulis 'makan buburnya biar cepet sembuh dan juga minum obat yang ada di laci bawah. Jangan sampai lupa!!' ia tersenyum. Arka meletakan lagi note nya di tempat yang tadi ia memakan buburnya.
Arka melihat jam yang menujukan pukul tujuh pagi. Ia melangkah masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Tubuhnya udah aga mendingan dari kemarin. Ia harus berterima kasih dengan Davira. Arka mau mengajaknya makan pagi, mungkin dia belum sarapan karena kebiasaan buruknya kalau hari libur dia pasti suka bangun siang. Apa lagi tadi malem ia menjaga Arka yang sakit.
Ia mengetuk pintu apartemen Davira. Tidak butuh waktu lama pintu tersebut terbuka. Yang keluar dari dalam bukan Davira melainkan Ley. Ley hanya memandangnya dengan tatapan bingung. Cowok pagi-pagi mau ngapain ke apartemen Davira?.
"Kaya pernah liat tapi dimana?" Ia menyipitkan matanya.
"Daviranya Ada?" Kata Arka.
"Daviranya masih tidur. Bentar aku...." omongannya terpotong dengan suara nyaringnya Davira. Dengan spontan Davira berlari menuju Arka.
"Udah sembuh. Badan kamu udah engga panas" ia memegang dahi Arka. Ley hanya mematung melihat kelakuan sahabatnya ini.
Ia hanya pura-pura ia sudah tau kalau Arka demamnya udah turun dari subuh tadi.
"Seharusnya kamu istirahat di kamar"
"Sekarang gue tau" dengan suara keras. "Davira dia itu ngebet..." ia buru-buru memberikan mulut Ley dengan tangannya. Telunjuk Tangan kirinya menempel tepat di depan bibirnya.
Arka bingung dengan tingkah kedua cewek tersebut. Davira membalik kebelakang ia hanya tersenyum. Yang tangannya masih membekam mulut Ley.
Ley mencoba melepaskannya tapi entah kenapa ia tidak bisa melepaskan tangan Davira dari mulutnya.
"Kalau butuh sesuatu nanti aja aku mau ngurus bocah yang Satu ini" ia langsung menyeret Ley masuk dan langsung menutup pintu. Arka hanya mematung sambil memandang pintu yang tertutup. Ia belum sempat berbicara satu katapun.
Melihat tingkah Davira yang tiap harinya ia hanya bisa tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
enak ya deket sm pacar
2023-08-19
0