Sudah dua minggu dari kejadian yang membuat mobilnya penyok. Davira yang sedang tidur di atas kasur. Memandang langit-langit kamar. Tangannya memegang ponsel. Dengan sekali tarik ia menarik ponsel. Mata Davira melihat nama yang tertera di ponsel.
"Arka." Davira menyebut nama itu dengan nada yang sangat pelan.
Davira mulai penasaran dengan sesosok pria yang bernama Arka. Sifat dinginnya membuat Davira ingin mendekati pria ini. Cuma Arka yang melihat dia dengan tatapan biasa saja. Tidak tertarik dengan penampilan Davira saat itu.
Tangannya mulai mengetik sebuah pesan. Ia mulai Agresif seperti semula.
[ Kita ketemuan. saya membahas tentang ganti rugi. Saya tunggu di perumahan tempat saya tinggal.] Davira menulis pesan alamat rumah, Langsung mengirim ke nomor Arka.
Ia bersiap-siap dengan memakai baju tanpa lengan dan celana jin sepaha. Tak lupa memakai sepatu kets hitam.Sekarang pukul dua siang. Tidak ada balasan dari Arka dan hanya pesannya dibaca sama dia. Davira berjalan menuju taman dekat rumahnya.
Davira duduk di kursi taman. Banyak pria yang sedang bermain bola. Bolanya menggelinding ke arah Davira yang sedang duduk. Pria itu berlari ke arah Davira. Mengambil bola sambil melirik Davira.
"hai. Kenalan dong namaku Rafa." Rafa mengulurkan tangannya kehadapan Davira. Ia membalas dengan senyuman.Tangannya menjabat tangan Rafa.
"Davira," kata Davira singkat. Lepas jabatan tangan mereka.
Teman Rafa teriak di ujung lapangan, " Rafa over bolanya ke sini. Malah modusnya sama cewek."
"Iya, cerewet lo pada." Teriak Rafa, berlari ke lapangan.
Davira masih duduk di bangku taman. Masih menunggu tapi Arka masih belum datang. Langit sudah mau mendung. Suara petir terdengar di sekitar taman. Ia melihat jam tangannya yang menunjuk pukul tiga sore.
Sosok pria memakai jaket menghampiri Davira. Yang dia tunggu akhirnya datang. Arka duduk di samping Davira. Saat ia ingin berbicara tentang ganti rugi mobilnya. Hujan turun dengan deras membasahi semua yang ada.
Mereka berdua berdiri. Arka memegang tangan Davira dan berlari menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari taman.
Mereka berdua duduk di dalam mobil. Baju Davira basah, terlihat jelas pakaian dalamnya. Arka melirik sekilas ke arah Davira. Ia mengambil jaket yang ada di jok kursi penumpang menyerahkan ke Davira.
"Terima Kasih" kata Davira. Davira langsung memakai jaket Arka. Seleting ditarik sampai atas.
"Langsung ke topik pembicaraan." Kata Arka, dengan nada dingin.
Saat memberi kuitansi tangan Davira bergetar karena dingin. Davira berbicara, " itu yang harus anda bayar." Suara Davira bergetar.
Arka masih melihat Davira dengan lekat. Entah mengapa tertarik. Ingin melihatnya lagi dan lagi. Apa lagi yang kedua kalinya ia bertatapan langsung dengan Davira.
"Rumah kamu dekat sini?" Tanya Arka. Ada nada khawatir dari nada bicara Arka. tapi dia seperti tidak tertarik dengan masalah saat ini.
“Iya,” jawab Davira, masih dengan suara yang bergetar.
"Aku antar sampai rumah," Ucap Arka, dia memdengar perubahan nada suara Davira tadi, Davira memberi tau alamat rumahnya.
Saat sampai di gerbang rumah. Davira menatap ke Arka sekali lagi.
"Mau mampir dulu ke dalam? Baju kamu basah juga. Sambil menghangatkan diri di dalam," bujuk Davira. Awalnya Arka menolak, dengan paksaan dari Davira ia menerima tawarannya.
Arka sudah duduk di ruang tamu. Matanya melihat-lihat ke penjuru ruangan. Davira yang masih berdiri di depannya membuatnya salah fokus. Tidak biasanya ia melanggar seperti ini.
"Tunggu dulu di sini aku mau ambil baju Ayahku. Mungkin saja muat buat kamu." Ia berjalan menghilang dari pandangan Arka.
Arka mengacak rambut sendiri. Hatinya berdebar, Ada apa dengannya?
Beberapa menit kemudian Davira datang membawa baju. Menyerahkan bajunya ke Arah Arka. Ia mengganti baju di kamar mandi. Bajunya pas melekat di badan Arka.
Ia duduk di ruang tamu dan samping ada Davira yang masih menggunakan jaketnya. Davira belum mengganti baju. Arka tidak terlalu tertarik atau mengabaikan Davira. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu tidak ganti baju," Ucap Arka dengan suara yang dingin membuat Davira merasa penasaran.
"Tidak nanti saja." Kata Davira, memandang Arka dengan lekat.Tapi Arka mengabaikan tatapan Davira.
"Aku langsung pulang saja. Makasih bajunya nanti aku balik kan" saat Arka hendak berdir, Davira memegang tangan Arka .
"Tunggu dulu." katanya sambil memegang tangan Arka dengan erat. Posisi mereka masih duduk di sofa.
Tatapan mereka bertemu. Seketika Arka melihat ke arah lain. Dengan cepat Davira mengecup bibir Arka dengan lekat. Arka kaget apa yang dilakukan wanita ini. Matanya membulat dengan sempurna.
Permain Davira yang mendominasi membuat Arka membalas ciuman Davira. Dia seorang pria siapa yang tidak tahan dengan pancingan seperti itu. Ia mulai mengikuti permainan wanita ini. Arka mulai sadar apa yang dilakukannya salah.
Arka mendorong bahu Davira ke belakang. Sontak membuat Davira mematung di tempat.
"Kenapa?" Itu yang keluar dari mulut Davira. Dengan gerakan cepat Arka berdiri.
Tanpa berkata-kata Arka keluar dari rumah Davira.
"Hei ... Tunggu dulu!" ia berdiri juga berlari mengejar Arka yang sudah masuk ke dalam mobil.
Tanpa mempedulikan teriakan Davira. Dia menyalakan mobil dan meninggalkan rumah Davira. Ia hanya melihat mobil Arka yang mulai tidak terlihat dari pandangannya.
***
Arka berjalan dengan gusar menuju kelas. Lelah yang ia rasakan saat ini. Badannya terasa berat untuk digerakan. Hangat badan tidak membuat Arka bolos kuliah. Ia menggunakan masker menutupi hidung dan mulutnya.
"Woy ..." Gibran merangkul sahabatnya itu. Tangannya terlepas dan berjalan mundur sambil melihat ke arah Arka.
"Kenapa ka sakit?" Ia berjalan di samping Arka.
"Siapa yang sakit?" Keanu menyambung ke dalam pembicaraan mereka berdua.
"Kapan kamu sampainya?. Nyambung aja kaya Hantu. Serem banget auranya mistis" Gibran menjauh dari Keanu.
"Sarap lo Gib. Tidak ada Hantu secakep aku."
"Itu si Arka yang sakit." Gibran menunjuk ke arah Arka.
"Oh. Sayang Arka sakit. Sakitnya di mana?" Keanu memegang dahi Arka. Ia berniat menjahili Arka. Ia menepis tangan Keanu yang menempel di dahinya.
"Sarap. Sayang-Sayang geli dengarnya." Keanu dan Gibran tertawa melihat Arka yang marah setengah mati.
Selesai mata kuliah hari ini. Dia menyempatkan diri ke perpustakaan untuk mengumpulkan bahan mata kuliah. Keadaan badan yang tidak sedang baik ia memutuskan untuk tidak berlama-lama di perpustakaan.
"Gib, Aku balik duluan." Tangannya mengangkat ke atas tidak ada suara dari Gibran. Ia masih serius melihat buku yang ada di depannya.
Ia mengendarai mobil sampai apartemen. Menekan enam digit angkat dan langsung membuka pintu. Kepala terasa pusing. Pandangan hampir memudar. Ia berjalan menuju sofa dan merebahkan diri. Menutup mata. Pusing masih terasa apa lagi dengan suhu panas meningkat.
Harusnya kemarin langsung minum obat bukan langsung mengerjakan kerjaan kampus.
Ada suara bel dari arah pintu. Mau berdiri dari duduknya saja susah. Apa lagi untuk membuka pintu. Dengan tubuh sempoyongan memegang benda yang ada di sekitarnya. Ia membuka pintu apartemennya.
Tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang ke apartemennya. Wanita itu langsung masuk meletakan obat yang ia beli di apotek. Arka langsung menutup pintu tanpa bertanya kepada wanita itu.
Ia membopong Arka masuk ke dalam kamar. Merebahkan badannya di atas kasur. Ia ke dapur mencari wadah dan handuk untuk mengompres. Tidak ada penolakan dari Arka. Ia hanya menurut.
Tangan yang mungil menempelkan handuk di dahi Arka. Mata Arka sudah menutup rapat. Beberapa kali ia mengompres pakai air hangat. Arka tidur dengan pulas. Panasnya mulai menurun. Berjalan ke dapur lagi untuk membuat bubur instan yang dia beli di supermarket. Menyajikan di mangkok.
Mengambil nampan dan meletakan mangkok yang berisi bubur disebelahnya air putih dan juga obat. Membawanya ke kamar Arka. Arka masih tidur dengan pulas. Ia mengguncangkan tubuh Arka. Ia bangun dengan muka bingungnya. Kenapa Davira ada di apartemennya.
Arka duduk menyandarkan punggungnya. Badannya sudah mendingan. Panas tubuhnya juga sudah turun. Tatapannya masih dengan wanita itu. Ia baru dua kali bertemu dengannya. Kenapa dia tau apartemennya?.
"Kamu tau dari mana apartemenku?" Berkata dingin yang matanya yang tidak lepas dari pandangan ke arah Davira.
"Nanti saja menanyakan itu kamu harus makan dulu dan juga minum obat." Davira mengambil mangkok yang ia letakan di atas meja. Tangannya mengambil sendok dan mulai menyendok bubur.
Ia berniat menyuapi Arka tapi tangan Arka menahan.
"Aku bisa makan sendiri," dengan nada datar. Dia mengambil sendok dan memasukan ke dalam mulut.
Bukan namanya Davira hanya menyerah di sini. Ia malah semakin tertarik dengan pria yang ada di hadapannya. Semakin ia pernasaran semakin Davira mendekatinya.
Bubur sudah habis dan obatnya juga sudah di minum. Arka melirik ke arah Davira.
"Makasih, kamu boleh pulang sekarang," dengan suara yang serak. Davira masih di tempatnya. Masih duduk tenang di kursi. Mata Davira masih memandang Arka.
"Sekarang sudah jam dua aku boleh tinggal malam ini?" Ia memelas.
"Tidak baik wanita berada di apartemen pria. Apa lagi di sini cuma ada kita berdua."
"Tidak baik lagi kalau aku pulang malam sendirian. Lebih baik menginap di sini," kata Davira meminta perkataannya di kabulkan.
"Tidak," katanya dingin. Seketika muka Davira cemberut. "Biar aku antar kamu pulang." Dia berdiri dari tempat tidur. Berjalan dan mengambil kunci mobil.
Dengan berat hati Davira mengekorinya dari belakang. Masuk kedalam mobil Arka menyalakan mesin mobilnya.
"Pakai sabuk pengamanmu kalau terjadi apa-apa aku yang kena imbasnya." Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Davira. Menarik sabuk pengaman memasang di samping tempat duduk.
Ia melajukan mobil menuju rumah Davira. Tidak ada percakapan antara Davira dan Arka di dalam mobil. Setiap Davira bertanya atau bicara ke Arka tidak pernah menanggapi. Membuat dia kesal sendiri.
Mobilnya berhenti di depan pagar rumahnya. Rumah Davira gelap belum sempat ia nyalakan tadi sore. Mata Arka melihat ke arah luar. Davira membuka sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil. Sebuah tangan menghentikan tangan Davira yang hendak membuka pintu.
"Di rumah tidak ada siapa-siapa?" Pertanyaan itu yang keluar dari mulut Arka.
"Iya, emang kenapa?" Kata Davira tenang.
Davira mau membuka pintunya lagi tapi tangan itu masih menahannya.
"Aku sudah biasa ditinggal sendirian. Jangan memasang muka kaya gitu." Sambil melepaskan tangan Arka.
Arka langsung mengunci mobilnya dari dalam.
"Ko dikunci?" Protes Davira. Bukanya Arka sendiri yang mau dia pulang.
"Lebih baik kamu tinggal di apartemenku dari pada di rumah yang tidak ada siapa-siapa. Itu lebih berbahaya."
Davira hanya bisa tersenyum. Memandang Arka yang mengkhawatirkan. Kadang-kadang dia marah dengan kedua orang tuanya yang tidak selalu ada di rumah.
Tapi kali ini dia berterima kasih karena orang tuanya lagi keluar kota.
Davira tinggal di apartemen Arka tapi hanya sampai besok pagi. Jam lima pagi ia sudah diantar Arka menuju rumahnya. Pukul setengah tujuh ia harus berangkat sekolah apa lagi dia masih kelas dua sma
Pak ujang datang menyalakan mobil untuk mengantar Davira sampai ke sekolah. Pak ujang sering pulang pergi tidak menginap di rumah Davira. Sedangkan pembantunya kemarin baru pulang kampung. Mama sama papahnya lagi pergi keluar kota karena urusan bisnis.
Sesampainya di sekolah. Davira berjalan melewati lorong sekolah.
"Woy!" Sasha mengagetkan Davira dari belakang. Dengan refleks ia memukul kepala Sasha.
"Sakit tau." Ia mengusap kepalanya sendiri.
"Makanya jangan coba-coba ngagetin aku lagi." Mereka berdua berjalan menuju kelas.
Di pintu kelas sudah ada si Raga menyender di pintu kelas.
"Lagi apa kamu Ga? Lagi jadi penunggu kelas?" Kata Davira sinis.
"Lagi menunggu kamu," candanya. Davira yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Raga merasa merinding sendiri.
"Bercanda kali. Jangan dibawa serius," katanya sambil tertawa.
Davira yang masih merinding dengan kata-kata Raga ia langsung masuk dengan Sasha. Raga mengikutinya dari belakang.
"Jauh-jauh dari aku. Bisa-bisa aku ikutan sarap kaya kamu." Ia mencoba menjauh dari Raga.
Tapi ke isengan Raga tidak berhenti. Ia terus mengikuti Davira dari belakang. Sampe bel pertama berbunyi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Amelia
❤️❤️❤️👍👍
2024-04-20
0
Lela Lela
raga itu kan ade ny arka
2023-08-18
1
Lela Lela
gila ya sm perempuan berani
2023-08-18
0