Suasana sekolah mulai ramai murid-murid bergegas memasuki kelas. suara bel sudah terdengar. Davira berlari melewati koridor sekolah. Dia kesiangan untuk berangkat kesekolah pagi ini. Davira masuk kedalam kelas. masih banyak murid yang bercanda dan tertawa di dalam kelas, itu tandanya belum ada guru yang mengajar. berjalan menuju bangku ia duduk tepat di sebelah Sasha.
Davira mengatur napas pelan-pelan.
telat beberapa menit saja pasti dia sudah dapat hukuman bersihin toilet sekolah. udah beberapa jam guru yang mengajar tidak datang juga. ketua kelas keluar menuju ruang guru menanyakan guru yang mengajar hari ini datang atau tidak. ternyata gurunya tidak ada jadi kita hanya di beri tugas. semua murid bersorak bahwa guru yang menggajar hari ini tidak ada.
Davira menghembuskan napasnya ia masih teringat dengan pertemuan dengan Arka. Sasha yang ada di sebelahnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"kenapa lo?" kata Sasha.
"taulah gue kenapa. nanti si kepo denger" ia menyindir.
Raga menjitak belakang kepala Davira dengan kencang. "Aww, sakit bego" ia mengusap kepalanya yang sakit.
"ngerasa ya ? tersindir ya?" ia hanya tertawa.
"kerjain itu soalnya"
"iya bawel"
semua pada serius awalnya. tapi lama kelamaan banyak murid yang sudah mulai menyerah mengerjakan soal yang di berikan guru. suasana kelas yang awalnya hening menjadi berisik. itu pun berlangsung sampai jam pelajaran ke tiga di mulai.
Davira melihat jam yang ada di ponselnya sudah menunjukan pukul empat sore kurang lima menit. tandanya sebentar lagi pulang sekolah.
bel sekolah berbunyi ia langsung memasukan bukunya ke dalam tas.
"Vira pulang sama siapa?" Rafa menawarkan tumpangan kearahnya.
"hari ini engga ada yang jemput. paling sama Sasha" Davira melirik sahabat satu-satunya itu.
"pulangnya bareng sama gue? rumah kita jugakan deketan"
"terima aja kali. mubajir di sia-siain" kata Raga.
"apa sih nyamber aja kaya petir. ya udah deh gue bareng sama lo Rafa" ia menyeletingkan tas ranselnya.
"hayu cebol keluar" Raga mengambil tasnya memakainya di pudaknya.
"apaan sih cebol jangan panggil gue cebol Raga...!" ia menaikan suaranya.
Ia mencubit pipi Sasha.
mereka berempat bejalan menuju parkiran sekolah. melewati koridor yang mulai di penuhi oleh murid yang berhamburan keluar sekolah.
"gagak lo bawa mobil?" kata Sasha.
"kaga bawa mobil. emang kenapa? mau nebeng?" Raga berjalan bersebelahan sama Sasha. mereka berdua sudah kenal semenjak masih kecil.
"iya gue mau nebeng" ia selalu blak-blakan kalau sama Raga maupun Davira.
"kalau gitu bareng sama gue"
"katanya engga bawa mobil" kata Sasha.
"kakak gue jemput" Sasha hanya mengangguk kepalanya.
Davira asik mengobrol dengan Rafa. mereka akhir-akhir ini mulai deket. yang sering ngedeketin tuh Rafanya bukan Daviranya.
"gue ke parkiran motor dulu. lo tungguin di depan" Rafa berjalan menuju parkiran motor. ia menunggu dengan Raga dan juga Sasha.
sebuah mobil hitam lewat dan berhenti di depan kita bertiga. dari dalam mobil seseorang membuka jendela mobil sampe bawah. dari dalam mobil Arka hanya melihat kearah depan. tidak melihat kesampingnya.
"Vira gue duluanya, hayu cebol" kata Raga sambil membuka pintu belakang mobil kak Arka.
"di depan bego emang gue supir lo" kata Arka.
Raga langsung pindah ke depan dan Sasha duduk di jok belakang.
"Sasha hati-hati di jalan" Davira melambaikan tangannya. Arka yang tadi biasa saja ia langsung melihat kearah samping. di situ ada Davira.
"ke gue kaga ?" kata Raga
"kaga" Davira menjulurkan lidahnya.
"lo juga hati-hati. tuh si Rafa udah datang" Sasha menujuk tepat kearah Rafa.
"ok" Davira berjalan menuju Rafa dan naik ke motornya. tanganya memegang jaket Rafa. seseorang melihat dengan kesal.
Arka menjalankan mobilnya. Tapi suasana hati Arka lagi tidak bagus.
***
tidur di atas kasur memandang langit-langit kamar yang penuh dengan bintang tempelan. ia merentangkan kedua tangannya. sesekali memejamkan mata. sepi dan juga hening. bosan yang ia rasakan saat ini.
"bosan.." ia berteriak di dalam kamar.
biasanya ia suka nonton film tapi Davira tidak lagi mood yang bagus. ia mengambil ponsel yang tak jauh darinya. mengetik sebuah kata-kata di google. mencari tempat yang bagus untuk menghilangkan kebosanan.
"masih jam tujuh, masih sempat ke cafe ini" melihat alamat yang ada di ponselnya. menurut google tempat ini terkenal dengan pemandangan indah yang terdapat di atas cafenya. ia mulai penasaran.
Davira mulai pergi ke cafe dengan mobil online yang ia pesan. ia tersenyum melihat foto yang ada dalam histori di web site cafenya. membuat ia ingin segera sampai kesana. butuh tiga puluh menit untuk sampai. sesekali ia melirik keluar jendela mobil. mobil itu berhenti pas di depan cafe. menggambil uang di dalam tas dan membayar uang mobil.
ia turun dari mobil dan berdiri melihat cafe yang ada di depan mata.
"Antara Cafe, nama cafenya aneh" ia bergumam sambil berjalan menuju cafe tersebut.
Davira mulai melihat ke penjuru cafe. banyak pengunjung yang datang. cafe ini mulai di penuhi oleh pengunjung. banyak anak muda yang nogkrong atau mengerjakan tugas kuliah di sini. ia mulai melangkah kelantai dua.
matanya terpanah dengan apa yang ia lihat. melihat pemandangan kota di malam hari yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Davira mencari tempat duduk yang pas untuk menikmati malam ini. ia membuka buku menu yang di sediakan.
tanganya mengangkat ke atas " Caffe lattenya satu sama makaroni schotelnya satu" pelayannya mulai menulis pesanan Davira.
Davira masih menikmati ke indahan dari tempat duduknya.
"Liat deh baristanya cakep banget" ia tidak segaja menguping orang yang ada di sebelahnya.
"Mana?" Davira mulai tidak fokus dengan pandangannya. mulai menajamkan pendengaranya. "Itu di sana liat deh. masih muda lagi. tipe gue banget itu mah"
"Iya bener cakep banget. sayangnya gue udah punya pacar" kata temen di sebelahnya.Davira pura-pura masih melihat ke arah luar Cafe.
"Nanti kita kesana, sayang banget kalau engga kenalan sama baristanya. kali aja dapet nomer telepon"
ia mencoba melirik ke arah tempat yang di bicarakan oleh orang yang duduk di sebelahnya.Davira mulai penasaran. apa bener baristanya cakep?. belum sempat melihat dengan jelas pesanan yang di pesan sudah datang. pelayan mulai meletakan makanan di atas meja.
"Lebih mengiurkan makanan dari pada barista itu" Davira bergumam sambil menggambil Caffe lattenya. di atas minumanya itu di gambar bentuk hati.
ia masih fokus dengan minumanya. suara orang yang ada di sebelahnya terdengar lagi. "gila, baristanya jalan kearah sini"
"dari deket cakep banget" mereka mulai mengecilkan suara. Davira mulai kepo akut.
'ngomong apa lagi mereka, engga kedengaran. ngomong lagi gue kepo baristanya kemana ? woi-woi' dengan suara yang pelan tapi matanya tidak melihat ke arah samping.
tangan yang besar menjepit hidung Davira . membuat Davira kesakitan. Secara otomatis ia melihat sesosok pria yang sedang berdiri di depannya.
"Sayang banget dia udah punya pacar" kata orang yang ada di sebelah Davira.
"Lepasin hidungku" dengan suara aneh yang keluar dari mulutnya. pria ini melepaskan hidung Davira dan duduk di depannya.
"Udah malem masih aja keluyuran" ia duduk tepat di depan Davira.
"Kenapa kamu di sini ? pake baju barista ? kerja? apa udah engga punya uang untuk hidup?" Jari telunjuknya menunjuk tepat di depan mukanya. mendengar pertanyaan yang panjang dari Davira membuat orang yang ada di depan Davira tersenyum.
"Bisa engga satu-satu pertanyaannya" tangan pria itu menurunkan tangan Davira yang tepat di wajahnya.
"Engga bisa" ia meminum Caffe lattenya dan meletakannya lagi di atas meja. tangannya yang besar mengacak rambut Davira.
"Arka jangan ngacak rambutku" ia merapihkan rambutnya. Arka hanya bisa tersenyum geli melihat kearahnya. bocah yang satu ini tidak ada sopan-sopanya. padahal Arka lebih tua dari dia.
mungkin ini keajaiban, yang mengirim pesan sekarang lebih sering Arka. entah apa yang di rasukinya. semenjak pulang dari rumah Sasha dua minggu kemudian mulai ada pesan yang datang dari Arka. yang pasti Davira senang dengan perubahan Arka. rencana yang selama ini ia jalani berhasil dengan mulus.
"Ini Cafe yanga aku kelola" ia masih memandang Davira. semua orang yang ada di Cafe ini melihat kearah mejanya Davira. ia yang masih asik memakan makaroni schotelnya tersedak dengan ucapan Arka.
Davira hanya bisa terdiam di tempat. bahwa Arka yang terbilang muda udah punya sebuah Cafe yang sukses. banyak nya pengunjung yang datang kesini. ia mulia ngobrol dengan Arka menceritakan semuanya. mulai dari tugas sekolah atau tentang kegiatan di sekolah. Davira senang bisa ngobrol dengan Arka seperti ini. bagaikan kakak yang mendengarkan cerita adiknya tapi baginya dia bukan kakak melainkan cinta pertamanya.
"Pulang udah malam" Arka melihat jam tangannya menunjukan pukul sembilan malam.
"Bentar pesan mobil online dulu" ia membuka aplikasi yang ada di ponselnya. Arka mengambil ponsel Davira.
"Ponselku.. ngapain lo ambil?" Ia mencoba menggambilnya lagi.
"Aku anter kamu pulang" hp Davira masih ada di tangannya Arka. Ia memegang tangan Davira ke luar dari Cafe.
Davira sangat senang bisa dekat dengan Arka. Tapi belum tentu Arka punya perasaan yang sama. Entah kenapa ia mulai berusaha tidak terlalu nekat mendekati Arka dan hasilnya dia mendekat sendiri. Bagaikan mimpi di siang bolong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Erina Munir
ooohh...punya arka taa
2025-02-10
0
Lela Lela
good davira
2023-08-19
0
Heny Janita Sari
❤
2023-07-15
0