Selama ini, dia hanya tersenyum sendiri saat melihat foto Arka. Dia mengambil fotonya ketika Arka sakit. Tanpa sepengetahuan Arka. Davira masih melihat foto Arka.
Sasha menatapnya dengan rasa ingin tahu. Apa yang Davira lihat?
"Lagi liat apa sih kamu? Gambar aneh ya?" Sasha mencoba menebak. Rasa penasaran muncul saat Sasha meihat wajah Davira.
"Tidak boleh lihat. kamu tidak perlu tau." Dia masih tersenyum melihat foto Arka.
"Kamu pelit." Sambil membuang muka. Ia beranjak dari kursi untuk membeli makan.
"Mau ke mana kamu? Ngambek? segitu aja marah."
"Bukan marah tapi lapar. Perut yang bersuara, perut ini harus diisi." Sasha menepuk perutnya yang kosong.
"Beli aku makan juga. Nasi goreng." Pinta Davira.
"Siap." Jawab Sasha.
Ia masih memandangi foto Arka. Tidak ada kebosanan. Padahal dia selalu diabaikan oleh Arka. Tapi Arka adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan pacar.
Ponsel Davira ada yang menarik dari belakang. Sontak membuat Davira melihat ke arah belakang. Raga memegang ponselnya.
"Foto apa yang kamu lihat sampai tersenyum seperti itu?" Raga masih memegang ponsel Davira.
Davira ingin mengambil ponsel yang dipegang tangan Raga.
"Bentar dulu kenapa. Buru-buru banget. Bikin aku penasaran." Ungkap Raga sambil menjauhkan Ponsel dari jarak yang tidak bisa digapai Davira.
"Kembalikan Raga." Ucap Davira.
"Tidak mau! aku tau foto porno ya? Lo suka yang begituan?" Raga mendelik curiga.
"Enak aja, aku anak baik-baik." Tegas Davira, dia menyangkal pertanyaan Raga.
"Anak baik-baik?" Sambil menggaruk kepalanya, "perasaan kamu sering ke ruang bk karena kamu berulah terus."
"Gak enak kalau nggak ganggu orang. Rasanya gatal di tangan." Ungkap Davira.
"Sini kembalikan ponselku." Raga secepat kilat, dia melihat foto di ponsel Davira. Betapa terkejutnya dia saat melihat foto kakaknya di ponsel Davira. Dia melihat foto sebelumnya dan itu masih sama dengan foto kakak Arka.
"Kembalikan." ia mencoba merebut dari Raga tapi dia mundur mencoba menghindari dari Davira.
"Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" Dia mencoba mengklasifikasi. Raga tahu foto itu diambil di apartemen Arka.
"Hem ..." ia menghentikan pembicaraan sejenak, "kamu pengen tau banget sih!. kembalikan ponselku. Jangan melihat fotonya lagi."
"Aku hanya mau tanya, kamu dapat foto ini dari mana? kamu kenal kakakku?" Tanya Raga.
"Hah, kakakmu?" Dia tertawa terbahak-bahak. Semua orang mulai melihat ke arah Davira yang tertawa terbahak-bahak. "Apakah kamu bermimpi? Jika kamu bermimpi, jangan tinggi, nanti kamu akan jatuh." Ledek Davira ke arah Raga.
"Aku tanya. Malah di ledekin." Kata Raga.
"Kamu lihat fotonya bandingkan sama muka mu jauh banget. masa Arka kakak kamu? Mimpi!" Ucap Davira.
"Kamu tidak percaya?" Tanya Raga.
"Ya, aku tidak percaya," dia menyilangkan tangan di depan dada.
Raga mengambil telepon di celananya. Buka galeri foto. Mencari foto keluarga yang tidak sengaja dia simpan di ponselnya.
"Di Sini." dia langsung melihat foto keluarganya.
"Apa ..." Dia membuka mulutnya melihat foto Raga. "Kamu mengedit fotonya?" Tanya Davira.
"Foto ini asli, tidak diedit." Tegas Raga.
"Tidak ada kemiripan antara kamu dan Arka." Mengembalikan ponsel, "jauh berbeda." Davira tekankan setiap kata.
"Kamu sebaiknya tidak dekat dengan kakakku. Dia sangat dingin secara pribadi. Satu hal lagi, dia membutuhkan calon istri, bukan pacar." Raga mencoba menjelaskan.
"Apa sih kamu! melarangku untuk tidak berada di dekat Arka sama sekali." Dia mengambil ponselnya dari Raga. Davira duduk memperhatikan Sasha membawa makanannya.
"Lagi membicarakan apa sih." Sasha langsung duduk di depan Davira.
"Tidak lagi berbicara apa-apa. Tidak penting juga." Ia makan nasi gorengnya. Raga duduk di sebelah Sasha.
"Nanti aku kasih tau. Kalau Raga sudah tidak ada," ia mengetik pesan ke ponsel sasha.
Sasha pulang ke rumah karena ada urusan yang harus ia selesaikan. Mereka berdua masih berada di kantin sekolah.
"Kenapa harus kakakku yang kamu incar?" Raga langsung ke topik pembicaraan.
"Incar?" Ia mengerut dahi, "emang kakak kamu hewan. tidak lah, aku tidak mengincar kakak kamu."
"Terus apa maksudnya kamu menyimpan foto kak Arka?"
"Hem, bisa dibilang cinta pertama."
"Kamu gila? kak Arka umurnya dua puluh dua tahun."
"Kalau dua puluh dua tahun emang kenapa? Bedanya juga lima tahun."
"Aku yang tidak mau. Punya kakak ipar kaya kamu. Apa lagi mainnya pakai fisik." ia memegang kepalanya yang sering di pukul Davira.
"Nanti apa kabar dengan kakakku kalau bener pacaran sama kamu." Ujar Raga.
"Jangan khawatir, aku akan baik pada kakakmu. Lain halnya denganmu, yang pikirannya selalu ingin mengerjai orang." Jawab Davira.
"Tetap saja, aku tidak mau. Aku merinding hanya dengan memikirkanmu dan kakak Arka." Dia segera melihat bulu kuduk tangannya berdiri. "Liat bulu kuduk tanganku langsung bediri semua"
"Aku tetap mendekati kakakmu. Aku akan pulang dulu." Dia berjalan keluar dari sekolah.
Mobil jemputan belum datang. Dia sedang menunggu di halte bus dekat sekolah. Tapi Pak Ujang belum datang. Akhirnya, Pak Ujang datang. Butuh waktu tiga puluh menit baginya untuk menunggu Pak Ujang.
Dia membuka pintu belakang. “Maaf Non, saya telat jemput. Di persimpangan jalan ada demo, jadi lama jemput Nona,” kata Pak Ujang.
"Tidak apa-apa Pak. Yang penting Pak Ujang jemput Davira." Ucap Davira
“Pak, ke toko buku sebentar. Ada buku yang mau Vira beli,” matanya menatap telepon. Mengetik pesan ke Sasha buku apa yang harus dia beli.
"Baik Non." Pak Ujang menyalakan mobil menuju toko buku.
***
Angin berhembus kencang ke arah pria yang sedang membaca buku. Sesekali rambutnya bergerak mengikuti angin. Tapi matanya masih terfokus pada buku yang dia pegang.
Dia berada di belakang kampus yang jarang diketahui oleh para siswa di sini. Dia sering berada di tempat ini untuk membaca buku. Lingkungan tidak bising seperti di tempat lain.
Tempat ini juga tidak terlalu buruk untuk tempat rahasianya. Ngobrol atau hang out bareng temen selalu ada disini.
Ponselnya berdering di sakunya. Dia fokus pada buku, langsung terganggu oleh dering ponselnya. Dia dengan malas mengangkat telepon Keanu.
"Halo," suara malas keluar dari suaranya. Apalagi saat dia sedang fokus pada buku dia tidak ingin diganggu.
"Ada apa? Kau mengganggu Keanu!" Keluh Arka.
"Maaf. Ada yang mau ketemu sama kamu? Aku tunggu di kantin." Ucap Keanu.
"Siapa?" Dia masih membolak-balik halaman buku.
"Kamu akan tahu nanti. Cepat kemari!" Keanu mencoba memaksa Arka untuk datang.
"Tidak, terima kasih. Hari ini aku tidak bisa diganggu!" Tegas Arka.
"Tidak asik banget. Ini orang mau ketemu sama kamu malah diabaikan. Bertemu sebentar saja." Dia terus membujuk. Pasti jawabannya tetap tidak.
"Ya sudah aku ke sana. Cuma sebentarkan?" Untuk beberapa alasan, pikiran Arka terlintas dengan seorang wanita bernama Davira.
"Iya sebentar," kata Keanu tegas. Arka menutup telepon. Tutup buku dan masukkan ke dalam tas.
Ia berjalan menuju kantin. Melalui lorong kampus. Taman belakang ke kantin harus memakan waktu lima belas menit. Itu cukup jauh tapi tempat itu lebih nyaman untuk Arka. Tidak ada kebisingan orang-orang.
Dari kejauhan, Arka melihat temannya duduk di meja pojok. Seorang wanita duduk membelakangi. Dia hanya bisa melihat punggungnya. Dengan langkah santai ia mendekati Keanu.
Keanu hanya melambai tangan ke arah Arka. Gibran duduk di samping wanita tersebut. Ia juga tidak tau siapa wanita tersebut. Saat Arka duduk di sebelas Keanu. Seketika raut muka Arka berubah tidak suka.
Dia ingin beranjak pergi. Arka berdiri dari duduk. Saat ingin melangkah pergi tangannya ditahan sama Keanu.
"Duduk dulu kenapa? Dia hanya ingin kenalan sama kamu." Keanu melepaskan tangannya. Ia melihat raut muka Arka berubah seketika. Ke tidak sukaan tampak jelas di wajahnya.
"Aku ada urusan mendadak," alasanya.
"Kamu selalu menghindar kalau urusan tentang wanita. Kenalan doang ko." Arka terpaksa untuk duduk.
Ia melihat senyuman kemenangan di mata wanita tersebut. Kalau usaha kenalan dengannya berjalan dengan lancar. Tidak sia-sia ia mendekati Keanu untuk bisa berkenalan dengan Arka. Yang banyak disukai akan ketampanannya.
Senyuman itu tidak luput dari wanita tersebut. Yang membuat Arka jijik sendiri. Matanya memandang terus ke arahnya. Pakaian yang dia pakai tidak sesuai dengan keadaan. Kalau sekarang wanita ini sedang di kampus bukan diacara pernikahan. Dia mau kuliah atau menjadi penyanyi dangdut. Memakai baju serba mini seperti kekurangan bahan.
Mukanya juga di dempul seperti badut ancol. Cantik sih cantik tapi liat kondisi dan situasi yang ada. Arka membuka ponselnya pura-pura menyibukkan diri.
"Hei, kita ketemu lagi," ia berusaha genit ke arah Arka. Ia terus memandang Arka tanpa berkedip.
"Hm." Dengan gamblang ia tidak tertarik dengan wanita di depannya.
"Aku Sylvia. Bisa panggil Via" ia mengulurkan tangan.
"Oh, Arka," ia berbicara dengan dingin. sekilas ia melihat tangan Sylvia yang mengulur ke arahnya. Ia mengabaikannya.
"Oh iya ada tempat baru dibuka. Tempat makan. Katanya tempatnya bagus buat berkumpul sama teman. Kita ke sana yu?" Kata Sylvia.
"Boleh, Hari minggu kita bisa ke sana," kata Keanu antusias. Apa lagi ia suka sama Sylvia.
"Aku tidak bisa, sudah ada janji sama nyokap," kata gibran.
"Kalau kamu gimana? Bisakan ka?" Dia mengajak, tidak berharap lebih kalau Arka akan ikut. Keanu akan senang kalau Arka tidak ikut otomatis ia akan berduaan dengan Sylvia.
Sylvia harap-harap cemas dan juga menantikan jalan-jalan berdua dengan Arka.
"Tidak bisa. Aku tidak biasa keluar hari minggu." Tetap saja ia masih fokus dengan ponselnya.
Ada rasa kecewa di wajah Sylvia. Rencana untuk pergi bareng Arka harus di buang jauh-jauh.
Deringan ponsel terdengar dari arah Arka. Ia mengangkat teleponnya.
"Hallo," bernada lembut. Dahi Keanu langsung berkerut. Apa dia salah dengar?
"Kak masih di kampus ?" Tanya mamahnya.
"Siapa ka?" Tanya Keanu. dia penasaran.
"Pacar." Nada bicara Arka sangat lembut saat menyebut kata pacar.
ponselnya masih menempel di telinga Arka.
"Kak ini mamah bukan pacar. Kamu bercanda ya? Mamah tanya malah dibercandain." Ucap Mamahnya kesal dengan jawaban Arka.
"Ia aku dengar. Aku Masih di kampus." Ucap Arka.
"Sebelum pulang ke apartemen mampir dulu ke rumah. Mamah baru masak makanan kesukaan kamu." Ucap Mamah.
"Iya nanti ka mampir," ia langsung menutup telepon.
"Aku balik duluan. Pacarku lagi menunggu di rumah nanti dia marah lagi." Bergegas untuk berdiri.
"Kapan kamu punya pacar. Ko aku tidak tau?" Kata Keanu.
"Emang kalau aku punya pacar harus bilang sama kamu?" Ia beranjak dari kursi.
"Kamu tau Gibran kalau Arka punya pacar?" Tanya Keanu.
"Aku juga tidak tau. Ajaib banget Arka punya pacar. Good luck semoga langgeng." Ia mendoakan semoga sahabatnya itu tidak jomblo lagi.
"Sip," sekilah ia melihat muka Sylvia yang terang-terangan kalau ia tidak suka Arka punya pacar.
"Kalau begitu aku duluan," ia berjalan meninggalkan mereka. Mengendarai mobil menuju rumahnya.
Tapi Sylvia tidak akan diam semudah itu. Ia tau kalau Arka sudah punya pacar. Hal itu masih dapat direbut. Ia akan terus mendekati Arka bagaimanapun caranya. Buka namanya Sylvia kalau ia gampang menyerah.
Setiap hari ia mendekati Arka dengan ke genitnya. Sekian kalinya Arka mencoba menghindar Dari Sylvia Tapi usaha itu sia-sia. Keanu malah tidak membantu sama sekali.
Ia merasa akrab Dengan Arka. Membuat wanita yang mengagumi Arka jijik melihat Tingkah laku Sylvia. Ia merasa jengkel dengan kelakuan Sylvia selalu dekat terus seperti perangko.
Arka sudah bisa tenang kalau sudah di apartemennya. Sudah tidak ada mengganggunya lagi. Sering kali ia tidak ingin berangkat kuliah. Mengingat kalau Sylvia ada di sana.
Keanu malah seneng banget kalau Sylvia dekat dengannya. Apa lagi dia bisa sekalian pendekatan.
Arka mencoba menjauh. Ia sering banget menghabiskan waktunya di taman belakang. Menghindari yang namanya tante genit. Yang selalu menempel terus sama dia.
"Keanu, Arka ke mana sih?" Sylvia Sedari tadi ada di kelasnya Keanu.
"Tidak tau. Aku sudah telepon tapi Tidak diangkat sama dia," Keanu berhenti sejenak "kamu tau tidak Gibran?" Sambil ke arah Gibran.
Gibran hanya mengangkat bahunya. Kalau ia tidak tau ke beradaan Arka. Tapi sebenarnya Gibran tau di mana Arka. Ia tidak akan ngasih tau si Sylvia. Apa lagi Sylvia terus mendekati Arka.
Apa lagi Arka minta tolong ke dia. Kalau ada yang bertanya Arka di mana, bilang aja tidak tau. Gibran hanya mengangguk. Dia tau kalau sahabatnya yang satu ini paling tidak suka berdekatan dengan wanita. Itu sudah ada di kamusnya sejak dulu. Kalau wanita itu hanya merepotkan dan itu terbukti. Contohnya aja Sylvia.
"Dari pada kamu cari Arka mendingan sama Aku aja," dengan percaya diri Keanu berkata seperti itu.
"Kalau begitu aku balik kelas aja." Dia mengabaikan perkataan Keanu. Sylvia meninggalkan kelasnya Keanu.
"Sabar aja ya bro. Da hirup mah perih." Sambil menepuk-nepuk punggung Keanu.
"Kamu benar tidak tau Arka di mana?" Ia melirik curiga ke arah Gibran.
"Barusan aku bohong," ia mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kampret kamu. Jadinya sayangku pergi." Kesal Keanu.
"Manggil sayang? jadian aja belum. Sylvia aja sukanya sama si Arka." Celetuk Gibran.
"Hati seseorang bisa aja berubah." Ucap Keanu.
"Berubah jadi apa superman atau spiderman?" Kata Gibran.
"Berubah ke hatiku lah." Dia jengkel dengan lelucon anehnya itu.
"Dibercandain kaya segitu aja sensitif banget. Lagi dapet ya? Biasanya kamu yang suka di ledekkin" Canda Gibran.
"Dapet? emang aku cewek. sekali-kali aku jaim boleh dong," ia hanya tertawa. Gibran hanya merinding mendengar ketawa Keanu.
"Kalau aku berubah mendadak malah merinding. Liat tangan aku merinding." Tangannya terulur ke arah Keanu.
"Emang aku ke sambet setan!"
"Iya setan." Gibran hanya bisa tertawa. Sampe jam kuliah mau di mulai. Saat itu Arka datang ke kelas mata kuliah Pak Aldi.
***
Lelah di setiap hari selalu ada Sylvia. Mendekat ke arah dia dengan genit. Merasa jengkel dengan kelakuannya. Bisa tidak dekat dengannya. Ada satu wanita lagi yang selalu meneror dengan pesan yang masuk ke ponselnya.
Sering Arka abaikan tapi dia terus mengajanya bertemu. Alasannya hanya untuk berbicara dengan Arka secara langsung. Tidak bagus menyampaikan sesuatu melalu telepon.
Kepalanya penat hanya dengan gangguan ini. Biasanya hidupnya tenang. Sekarang tidak bisa tenang. Tidurpun tidak tenang. Masuk kampus kaya masuk ke sarang harimau. Bertemu tante ganjen. Dia sering menggunakan baju mini. Serba pendek.
Membuatku jengah apa dia tidak kedinginan dengan baju seperti itu. Apa lagi di kota N sedang musim hujan. Suhu kota N sedang menurun membuat setiap hari selalu dingin.
Apa lagi mamah sudah menanyakan 'kapan kamu membawa pacar ke rumah'. Selalu seperti itu.
Menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Lelah yang Arka rasakan. Keanu malah tidak mendukung sama sekali. Ia selalu mendekatkan dia dengan Sylvia. Untungnya Gibran bisa membantu menjauhkan Sylvia.
Sebelum kuliah Arka suka berada di taman belakang. Dia tau kalau Sylvia akan ke kelas. Keanu malah sering menelepon. Ia mengatakan kalau Sylvia ada di kelas. Keanu menyuruhnya ke kelas. Persetanan dengan perkataan Keanu. Tidak ada niatan untuk ke kelas sekarang!.
Deringan ponsel terdengar dari dalam celana. Arka melihat nama yang tertera di ponselnya. Davira. Nama itu yang selalu mengganggunya. Beberapa hari ini.
Arka mengabaikan telepon dari Davira. Mengambil bantal menutup kepalaku dengan bantal. Deringan ponsel itu masih terdengar nyaring. Kapan aku akan terbebas dengan wanita sialan itu. Mengganggu.
Dengan malas dia mengambil ponsel yang ada di kasur. Mengangkatnya dengan rasa malas mendengar suara yang ada di ujung sana.
[ Hallo, ] dengan malas aku menjawab teleponnya.
[ Kau masih ingat denganku? Seminggu yang lalu kau merusak mobilku. ] Ucap Davira.
[ Hm. ] Malas, itu yang dia rasakan, [ iya aku ingat. ] Jawab Arka.
[ Bisa kita bertemu? ] Tanya Davira.
Apa maunya wanita ini. Mau bertemu lagi.
[ Aku hanya ingin bicara tentang mobil yang kemarin, ] kata Davira tegas.
Bukanya kemarin sudah dia bayar. Apa lagi maunya?. Apa lagi kemarin dia menciumnya. membuat hatinya sedikit goyah.
[ Mobil kemarin sudah saya bayar, ] kata Arka menjelaskan. kalau dia bertemu dengannya membuat hati terdalam Arka sedikit goyah.
[ Ya sudah dibayar. Aku hanya ingin bicara. Sebentar tidak akan lama. ] Desak Davira.Dia ingin sekali bertemu dengan Arka.
[ Oke. Di mana? ] Tanya Arka.
[ Aku kirim alamatnya lewat pesan, ] Arka langsung mematikan ponsel. Sial ketemu wanita itu lagi.
Sepulang dari kampus aku langsung ke alamat yang sudah dikasih sama Davira. Di cafe daerah yang terkenal di kota N.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ludfiana Izzul Hikmah Hakiki
kadang ada kalimat yg membingungkan maksudnya gimana?
2022-11-05
1
Saodah
kn bisa di silen abnk jika gk mau dengr hp bunyi😄😆
2022-10-13
1
mrs YoYaman
harinya arka bneran beku.ceriatnya bgus.tp penulisanya perlu dibenahi lg ya thor.pkai bhasa yg baik dan benar biar enek.biar terasa mhal
2022-09-29
3