13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)

Menekan password pintu apartemen Arka. ia sudah biasa menyelinap masuk tanpa minta ijin sama yang punya rumah. Ia memegang flashdisk yang isinya film horor yang ia pinjam dari Ley. Entah kenapa ia seneng dengan film yang berbau horror. Mungkin karena dia sering di ajak Ley nonton film horror setiap ia pergi ke kosannya. Orang lain pasti menyangka kalau Davira berani banget nonton horror sendirian. Engga takut ada yang benerannya muncul di hadapannya. Davira sebenarnya orangnya penakut dengan hal yang berbau mistis. Ia melihat ponselnya pesannya belum di bales oleh Arka. saking sibuknya Arka tidak akan mengabaikan pesannya.

"Kemana sih ini orang pesan engga di bales-bales, masa harus nonton sendiri?." Davira masih melihat layar ponselnya. Tadinya mau nonton bareng dengan Ley dan juga Kila tapi mereka berdua ada urusan di kampus.

"Nonton engga ya?." iya mengambil flashdisk dan memainkan flashdisk tersebut ia bingung mau nonton atau engga.

"Nonton aja lah." ia menempatkan flashdisk tersebut di pinggir tv. Film tersebut diplay ia membesarkan volume suaranya. Davira duduk di sofa melipat kakinya menyilang dan mengambil batal menempatkan di pelukanya.

Pertama film diputar Davira belum merasa takut. Bisa mengamati alur yang dirasa dalam film horror tersebut. Mulai di pertengahan ia terus menutup matanya dengan bantal. Sesekali ia mengintip apa yang terjadi dengan orang yang ada didalam rumah tersebut. Setiap menit di bawa tegang dengan jumpscare yang ada di dalam film. Membuat Davira tambah tegang.

Saking seriusnya ia tidak mendengar seseorang sedang membuka pintu. Arka masuk melihat lampu sudah menyala dan satu hal yang ia dengar ada yang menonton tv. ia melangkah masuk keruang tv melihat Davira sedang menonton film Horror. Arka tersenyum melihat Davira menonton film horor tapi wajahnya di tutup dengan bantal.

Arka berjalan mengendap kearah Davira yang masih serius dengan filmnya. Ia menepuk pundaknya dan Arka membuat wajak jeleknya untuk menakutin Davira.

'Ada yang megang pundakku! harusnya aku engga nonton ini film.' reflek ia membalikan mukanya ke belakang. Ia kaget setengah mati melihat seseorang yang mencoba mengagetkannya. Tangannya yang memegang bantal melemparkanya ke Arka.

"Pergi jauh-jauh hantu sialan." ia melempar bantal untuk kedua kalinya dan ia langsung menutup matanya.

"Ini aku.. Arka." ia kena dua kali tepat di wajahnya. Ia harusnya tidak mengagetkannya.

Beda hal dengan Davira ia membuka matanya dan melihat Arka dengan tatapan yang membunuh. Arka hanya mematung dengan tatapan yang biasa di keluarkan Davira kalau lagi marah dengan dia.

"Aku salah" ia memasang wajah dengan penuh penyesala. Ia duduk di samping Davira ia masih memasang wajah marahnya.

"Ngapain duduk?." masih dengan muka kesal ia menatap Arka dengan tatapan membara.

"Ini sofaku. bebas dong mau duduk di sini juga." dengan santai ia berbicara ke arah Davira.

"Ohhh, gitu!! Ceritanya mau balas dendam." ia melipat tangannya di dada. "Mau aku apaiin? Mau aku pukul bantal atau aku tarik pipi kamu." kata Davira sambil memandang Arka

"Ahhhh" ia menghelak napas. "Udah mulai siklus cewek" kalau lagi pms engga ada angin engga ada hujan pasti Davira sukanya mencari kesalahan untuk menghukum Arka.

Arka langsung berdiri dari duduknya. "Mau kemana?" Davira melihat kearahnya.

"Engga boleh dudukkan?." ia menatap kearah Davira.

"Kapan aku ngomong engga boleh duduk." ia pura-pura lupa dengan perkataan yang ia sudah lontarkan keluar.

"Dasar pelupa"

"Duduk Arka,, temenin nonton filmnya." dia mohon dengan wajah polosnya yang tidak bersalah.

"Engga, aku mau mandi. Nonton aja sendiri filmnya tadi jugakan nonton sendiri berani." Arka yang masih berdiri dan berhadapan dengan Davira yang sedang duduk menangkup kedua tangannya di sadaran sofa.

"Ohh mau mandi...." belum menyelesaikan perkataannya Arka langsung berbicara "Kenapa mau ikut mandi?." Arka bercanda ke Davira. Pipi Davira mulai memerah memikirkan yang tidak-tidak.

Ia mengambil bantal yang ada di sebelahnya. Davira melemparkannya kearah Arka yang masih berdiri di depannya.

"Mandi aja sendiri!!" Arka menangkap bantal tersebut dengan kedua tangannya. Ia mematikan tvnya dengan cepat ia mengambil flashdisk dan ia keluar dari apertemen dengan secepat kilat.

Ia hanya tersenyum melihat reaksi Davira yang tidak terduga oleh Arka. ia tidak tau kalau Davira akan menganggap perkataan tadi dengan serius. Arka juga melihat sekilas pipi Davira memerah dengan candaannya.

***

Davira selalu membawa buku gambar kecil. Setiap ada waktu kosong ia selalu mencoba untuk menggambar yang ada di sekitarnya. Ia masih di kelas masih mengerjakan tugas yang belum selesai. Disela tugas tersebut Ley selalu menceritakan tentang gosip. Vira tidak mempedulikan Ley gomong apa ia sedang serius dengan tugasnya. Davira hanya mengangguk kepalanya mendengar semua cerita Ley.

"Selesai juga." Kila mengangkat tangannya ke atas dan badannya bergerak kebelakang senderan ke kursi.

"Akhirnya." Kata Davira menyahut kalimat Kila. "Aku cabut duluan ya. Mau toko buku" ia merapihkan bukunya dan memasukan bukunya kedalam tas.

"Okk, hati-hati." kata Kila

"Pasti ketoko bukunya sama kak Adit ya?." Ley tersenyum jail kearah Davira.

"Tau aja sih kamu. Aku duluan." ia melihat sahabatnya. Davira melangkah keluar kelas berjalan menuju lobby fakultasnya.

Ia melihat kak Adit sedang berdiri melihat kearah luar. Ia medekatnya sambil menepuk pundaknya.

"Kak udah lama nunggunya?." mereka berbicara sambil melihat satu sama lain.

"Engga ko baru, tugasnya sudah selesai?."

"Udah kak."

Semua orang sedang menatap kearah mereka berdua. Mereka lebih melihat kearah kak Adit orang yang paling cakep di fakultanya. Siapa yang tidak suka dengan Adit. Davira dan Adit sudah mulai dekat. Davira sering menanyakan tugas ke pada Adit. Bukan hal tugas aja tapi ia mulai dekat hanya sebatas kakak tingkatnya.

"Kalau gitu kita jalan sekarang." mereka berjalan beriringan sambil ngombrol ringan tentang kegiatan di kampus.

Kita mulai akrab satu sama lain. Davira rasakan saat ini Kita punya hobi yang sama suka baca buku. Dengan seiringnya waktu kita semakin akrab. Tapi semua orang mulai melihat dan memandang ia dengan iri. Gimana engga iri kak Adit termasuk orang yang susah untuk di dekati. Banyak orang yang bilang kalau mereka berdua cocok. Ada juga yang benci dengan Davira karena deket dengan Adit.

Ini konyol!! Masih ada bullying di tempat kuliah. Paras cantik tidak memungkinkan kalau dia tidak di bullying. Saat dekat dengan Kak Adit mulai banyak sampah memenuhi akun sosial mediannya. Ia menghelak napas sambil memasukan ponselnya kedalam saku.

Davira berjalan menuju mobil Adit yang di parkir di dekat fakultasnya. ia masuk kedalam mobil sambil memasang sabuk pengaman. Adit mulai menyetir menuju tempat tujuan. Dalam perjalana dia memandang kearah Kak Adit dengan mata yang menyipit.

"Kenapa? Ada apa?." ia menyetir sambil melihat sekilas kearah Davira.

"Hidupku susah karena kau. Kak Adit!!." ia menyender punggungnya ke jok mobil. "dihapus juga percumah malah akan tambah banyak. Untung mentalku kuat" sambil melihat akun sosial mediannya penuh dengan komen yang buruk.

"Maaf, ini salah ku karena punya muka tampan." ia melihat kearah Davira dan menaikan alih sebelah kiri.

"Malah tebar pesona. Narsis banget" Davira menarik napas dalam-dalam ia menghembuskan dengan cepat. "Kenapa aku bertemu dengan orang yang kepercayaan tinggi seperti ini ya tuhan" suarannya penuh penekanan dalam setiap kata yang ia ucapkan.

"Kali aja kita berdua berjodoh." ia berbicara sambil menyetir mobil.

"Ehh..." ia mematung sambil memandang Kak Adit.

"Itu yang Allah bilang padaku." ia berbicara penuh dengan kebanggaan.

"Mana mungkinlah...." ia tertawa sambil melihat jendela mobil. Ia juga bigung mau menjawab apa. Merasa ia berdiri di ujung jurang.

Davira tau kalau Kak Adit suka dengannya. Kelebihannya dia selain bisa gambar. Ia juga bisa merasakan semua perkataan setiap orang. Baik gerak-gerik setiap orang yang mencoba mendekat dengannya. Tebakannya pasti selalu benar. Davira menerka-nerka kalau mencoba menebak apa isi hati orang dengan perkataan maupun gerak-gerik.

Cuma satu orang yang tidak bisa ia baca. Arka yang tidak bisa ia baca semua omongan ataupun gerak gerik yang sering ia lakukan. mungkin Davira yang mulai menyukai Arka. ia mulai mencoba menebak apakah Arka suka dengan dia atau engga. Tapi semua ia lihat di matanya datar.

"Ahh.." ia menghela nafas.

"Kita sudah sampai." Kak Adit melepaskan sabuk pengaman. Mereka turun dari dalam mobil.

Berjalan meriringan masuk ke toko buku yang cukup besar. Saat masuk ia memandang semua buku yang ada di sini. Penuh dengan buku. Matanya bersinar seperti menemukan sebuah harta Karun. Ia baru tau kalau di Daerah sini ada toko buku yang cukup komplit.

Ia berjalan melihat buku yang ada di rak. "gila-gila buku ini juga ada... ini juga..., jadi pingin beli semuanya" ia sekilas memikirkan Arka. kalau ia pergi dengan Arka pasti yang akan bayar. Tapi harus ada balasan semua yang ia belikan dengan uang Arka. satu buku yang ia bayar harus digantikan dengan membersihkan Apartemennya selama tiga hari. Tapi tidak apa-apa asalkan ia bisa membeli buku yang ia mau.

"Gimana ada buku yang menarik perhatian kamu Davira." ia melihat Davira dengan senyuman yang menawan.

"Ada banyak buku yang aku suka di sini. Tapi aku mau ambil yang ini sama buku yang ini dulu" ia meletakan lagi buku-buku yang ia ambil dari rak.

'Uangku engga cukup untuk membeli buku. Hanya bisa beli dua buku saja. Kenapa harus hari ini uang jajanku di potong.' ia berbicara dalam hati sambil menghelak napas panjang dengan memegang bukunya.

"Kenapa? Ada buku lain yang kamu suka? Ambil aja nanti biar aku bayar bukunya." ia mengambil buku yang ada di tangan Davira. Ia menahannya.

"Ahh.. engga kak aku aja yang bayar. Kakak bayar buku sendiri. aku bayar bukuku sendiri." ia menarik buku tersebut. Mereka berdua berjalan menuju kasir. Ia taro buku tersebut.

"Bukunya digabungin sama yang punya mbannya?." ia berbicara kearah mereka berdua.

"Gabungin aja mb..." perkataannya di potong oleh Davira "Pisah aja mba. Bayar terpisah." ia melihat kearah mbannya.

"Baik mba. Tapi bentar dulu ya mba." tumpukan buku yang berada disana.

"Baik mba" ia tau kalau ada pembeli yang masih mengambil barangnya tapi ia sudah meletakan buku di kasir.

Seeorang berjalan menuju kasir dengan langkah yang panjang. Ia mengulurkan tangannya sambil meletakan buku.

"Sama yang ini juga mba" dengan nada bicara yang dingin ia memandang kearah depan tanpa melihat kearah lain.

'Ehh tunggu aku mengenal suaranya.' reflek ia melihat kearah samping kanannya. Dengan mata terbuka penuh ia melihat orang yang dia pikirkan ada di depan matanya saat ini.

"Yah...!! kenapa kau ada di sini" ia memandang jengkel kearah Arka saat ini. Dia tau toko buku ini tapi dia tidak pernah sekalipun ia mengajaknya ke sini. Tapi dia ada di sini.

"Beli bukulah masa beli makan kesini." dengan suara yang biasa ia lontarkan kearah Davira. ia memandang Davira dengan pandangan jahil.

"Ada apa Davira?." Adit dengan wajah bingung ia memandang Davira. apa dia kenalan Davira?.

Ia baru ingat kalau di sebelahnya ada Kak Adit. Mati sudah! Gimana kalau Arka menyimpulkan sendiri kalau ia punya pacar.

"Ahh engga kok." ia bingung juga mau menjelaskan apa sama Kak Adit. Mau bilang pacar juga bukan. Mau bilang gebetan berasa menjatuhkan diri sendiri. harga diri Davira.

"Semuanya jadi 285.000 rupiah." Arka mengambil buku Davira.

"Bayar sama yang ini juga mba."

Davira menahan tangan mbanya yang akan mengecek harga bukunya "Tunggu mba jangan di hitung dulu" ia memutar kepalanya memandang kearah Arka.

"Kenapa? Engga mau gue bayarin bukunya. Biasanya juga minta di bayarin." ia memandang Davira.

'Senyum itu mencoba membunuhku' ia menunjuk tepat di depan muka Arka. "Mba jangan di satuin sama pak tua ini. Aku bayar sendiri"

"Gabungin aja mba" kata Arka.

"Jangan mba.." sebelum selesai berbicara mba kasir sudah mentotalkan belajaannya dengan belanjaan Arka. mati sudah riwayatnya. mulai besok, enam hari dia akan hidup bagaikan di neraka.

'Mati saja aku!!' Jiwanya terasa di banting  dengan semua kenyaataan ini.

Adit merasa tersingkirkan dengan kedatangan pria tersebut. Siapa sebenarnya dia? Apa hubungan dengan Davira? mengganggu satu kata yang Adit pikirkan saat ini. Gimana tidak mengganggu Arka masih bersama mereka berdua.

"Kak hayu kita pulang." ia memandang kearah Kak Adit.

"Hyu Vira." Arka dan Adit menyaut ucapan Davira berbarengan. Davira hanya bisa ketawa lebar mendengar mereka menyaut berbarengan. Kak Adit dan nama pangilan Arka, ka. Kalau di ucap terdengar seperti kak. Davira lupa itu.

"Aku balik sama Kak Adit." ia melihat kearah Kak Adit "Hayu Kak Adit."

Adit bingung dengan situasi ini. Siapa pria ini dengan santainnya dia berbicara dengan Davira.

"Balik sama gue Vira. Ia menarik tangan Davira." ia memandang Davira.

Tanganya reflek menaring tangan Davira. Ia memandang dengan wajah serius memandangnya. Sekilas di wajahnya sudah terlihat jelas kalau dia mengharapkan Davira pulang dengannya.

"Maaf ka, aku pulang bareng Kak Adit" ia melepaskan tangan Davira yang ia tarik dengan paksa. Rasa cemburu mengguasai hati Arka saat ini. Baru kali ini ia melihat Davira dengan orang lain selain dirinya.

"Bye gue balik, ayo kak Adit" ia berjalan menjauhi dari tempat ia berdiri. Arka juga mulai masuk kedalam mobil. Ia mengikuti mobilnya Adit dari belakang.

"haaa..!!." ia memukul setir dengan tangan kanannya. "Kenapa aku bisa sebodoh ini. Harusnya aku menahanya. Bodoh kau Arka." ia masih menyetir sambil terus memperhatikan mobil yang ada di depan.

Disisi lain mereka berdua terdiam tanpa ada pembicaraan yang bagus untuk di bicarakan.

"Pria tadi siapa ya?." ia mencoba memberanikan diri untuk berbicara.

"Ahh dia itu... kakak, ia kakak" ia menggaruk rambut yang tidak gatal. Sepontan ia mengaku kalau Arka adalah kakak kandungnya. Kebohongan macam apa itu.

'Maaf aku kak Adit aku memanfaatkan kamu untuk membuat Arka cemburu' saat tadi di parkiran mobil ia melihat emosi itu. cemburu ia cemburu. Dia akhirnya melihatnya ekspresi yang tidak bisa ia baca dari Arka.

Mobil tersebut berhenti diparkiran Apartemen. "Sudah sampai." kata Adit. Di susul dengan mobil Arka yang terparkir di sebelah mobil Adit.

"Kalau gitu aku balik. Makasih udah nganterin beli buku. Makasih banyak bye." ia keluar dari mobil dan kacanya di buka oleh Adit. Davira melabaikan tangannya.

Arka mulai keluar dari mobil saat Davira berjalan jauh dari mobil Adit. Ia keluar mobil sambil memasang muka sinis kearah Adit.

"Kenapa itu orang." ia bergumam dan mulai meninggalkan kawasan Apartemen.

Arka jalan cepat menyusul langkah Davira. ia sudah di dalam lift, pintunya masih terbuka dengan cepat Davira menekan tombol tutup. Arka berlari dan menyelipkan kakinya di tengah pintu lift.

"Yahh...!." ia meninggikan suaranya. "Apa kau gila. Gimana kalau pintu ini tertutup." ia memandang kesal kearah Arka.

"Kenapa menghindar?." ia memandang Davira. Cuma ada mereka berdua di dalam lift.

"Siapa yang menghindar."

Ia melangkah maju kearah Davira. selangkah Arka maju dan selangkah juga Davira mundur.

"Liat kau menghindariku." ia terus melangkah ke depan Davira dan Davira terus mundur sampai ia terpojok. Hanya dengan jarak cukup dekat, tangannya di tempelkan di ding-ding lift yang tepat di seblah telingga Davira.

"Mau ngapain?." ia menelan ludahnya sendiri, jarak mereka cukup dekat.

"Pikir, apa yang akan terjadi kalau Cuma ada satu perempuan dan satu pria di dalam lift." mata Davira melotot kearah Arka. ia mengeluarkan senyum jahilnya.

Davira menekuk kakinya mencoba meloloskan diri ke sebelah tangan kanan Arka. ia tidak bisa lolos Arka menahannya dengan tangan kanannya.

"Auu..." ia tersadar kalau tangannya lagi memar karena memukul setir. Saat ia sangat marah melihat Davira dengan cowok tadi.

"Kenapa?." ia memandang Arka. "Engga kenapa-kenapa ko" liftnya terbuka Arka langsung berjalan tidak memandang Davira.

Davira berlari mengejar Arka yang berjalan menuju tempat tinggalnya. Davira menarik tangan kanan Arka dan ia menahan rasa sakit. Ia melihat bengkak di tangan kanan Arka yang mulai membiru.

"Ini yang kamu bilang engga apa-apa. Ini bengkak Arka kalau di biarin ini bakalan tambah bengkak banget" ia megang tangan Arka yang memar.

Ia menarik Arka dengan memegang tangan sebelah kiri. Ia mengetik enam digit password apartemen Arka.

"Duduk jangan kemana-mana." Arka sudah duduk di sofa ruang tv. ia melangkah kedapur untuk mengambil es batu. Tapi ia butuh handuk untuk mengompresnya.

"Arka handuknya di mana? Biasanya juga di taro di sini." ia berteriak kearah Arka.

"Engga usah teriak. Jarak kita juga deketkan." ia mengelak nafas "Ada di laci baju di bagian bawah"

"Oke." ia berjalan ke kamar Arka. Davira membuka laci bagian bawah lemari yang ia temukan bukan handuk tapi majalah.

"Wahh.. engga nyangka." ia menggelengkan kepalannya sambil mengambil satu majalah tersebut "Seorang Arka baca majalah Dewasa."

"Ada engga handuknya?." ia berbicara sambil berjalan menuju kamarnya.

"Ketemu." ia memegang majalahnya sambil melihatkan kearah Arka.

Arka berlari dan mencoba menggambil majalahnya dari tangan Davira. dengan cepat ia menghindar Arka yang mencoba mengambil majalah.

"Jangan di buka." ia mengerjar Davira. ia hanya mutar-mutar di kamar Arka.

"Isinya apa sih?." ia pura-pura tidak tau. Ia berdiri tepat di depan kasur.

Saat ia akan membukanya Arka menarik majalahnya dengan tangan kirinya. Karena tidak ada keseimbangan karena tangan kanan Arka yang lagi memar. Mereka berdua jatuh keatas kasur. Bibir mereka menempel dan mata Davira melebar. Bukannya tidak mau tapi terasa mendadak. Dengan posisi seperti ini. Arka berada tepat di atasnya dan dia di bawah. Arka tidak melepaskan Davira. ia mencium Davira dengan lembut dan juga berirama.

Rasa cemburu tadi sudah meledah dengan kejadian ini. Ia tidak bisa membendungnya lagi. Arka tidak menyangkalnya lagi kalau ia sudah jatuh cinta dengan Davira. ia memejamkan matanya menerima ciuman Arka. mata mereka tertutup dan bibir merekan yang berciuman dengan berirama. Arka melepaskan ciuman tersebut. Mata mereka memandang satu sama lain.

Jantung merekan berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dengan posisi ini membuat Arka memikirkan hal yang lain. ia langsung berdiri dan memegang majalah yang ada di tangannya. Davira duduk di tepi tempat tidur sambil memandang punggung Arka yang sedang meletakan majalahnya ke dalam lacinya lagi dan ia membuka laci yanga ada di sebelahnya di sana ada handuk.

"Ini handuk yang kau cari, majalah tadi bukan punyaku itu punyanya Keanu." ia menjelaskan semua ke Davira.

"Ahh..." pikiran Davira lagi tidak ada di sini. Ia masih memikirkan ciuman tadi. Davira bukannya menghindar tapi ia menciumnya dengan lembut juga.

"Malah ahh.. lagi, ini handuknya." ia meletakan handuknya di kepala Davira yang menutupi setengah wajahnya. Arka berjalan keluar dari kamar dan duduk di sofa.

"Apa yang aku lakukan." ia bergumman, mengacak rambutnya sendiri. "ais.." ia merasa sakit di bagian tangan kanan.

Davira membawa handuk yang sudah berisi es batu. Ia berjalan menuju Arka yang sedang duduk di sofa.

"Tangan." ia duduk di samping Arka. Arka mengulurkan tangannya ke arah Davira.

Davira mengompres tangan Arka yang bengkak. Ia meringgis kesakitan "Pelan-pelan Vira." ia melihat raut muka Arka yang ke sakitan.

"Ini juga udah pelan." masih mengompres dengan pelan dan lembut.

"Au.. au.." kata Arka membuat suara orang kesakitan banget.

"Ais.. lebay banget aku teken memarnya baru tau rasa." ia menekan dengan keras memarnya dengan kompresan es batu.

"Vira.." ia meneriakan namannya dengan wajah kesal.

"Kenapa bisa memar gini sih. Perasaan pas di toko buku engga ada memar di tangan kamu." ia masih mengompres sesekali ia memandang Arka.

"Ahh.. itu..." ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal dengan tangan kirinya.

"Itu apa?." ia memandnag Arka

"Kejepit pintu mobil." sepontan ia menjawab itu. basa ia bilang kalau ia cemburu dan ia memukul setir mobil.

"Kejepit pintu mobill engga akan seperti ini. Ini lebamnya karena memukul suatu barang." ia tersenyum jail kearah Arka.

"Apa tadi Cemburu?." ia terbatuk- batuk mendengar pertanyaan Davira.

"Hahh.." Arka pura-pura bodoh.

"Malah hahh.. lagi! Di jawab dong!" ia memberikan kompresannya di tangan kiri Arka.

"Itu.." ia mau menjawabnya tapi ia di potong oleh Davira "udah gue mau balik. Udah malem juga" ia berdiri berjalan menuju pintu.

Arka berdiri dan menjatuhkan kompresanya ke lantai. mulai berjalan mengikuti langkah Davira. tepat ia akan membuka pintu Arka memeluknya dari belakang. Memendamkan wajahnya di leher Davira. hembusan napas Arka tepat di lehernya membuat Davira geli.

"Tadi aku cemburu Saat di toko buku. tapi itu bukan kebetulan aku ingin membeli buku ke situ. Aku hanya mengikutimu dari belakang. Tadinya aku hanya ingin menjemputmu dan memberi kejutan karena hari ini ulang tahunmu" ia menarik napas. Dengan posisi masih memeluk Davira dari belakang.

"Aku melihat kau pergi dengan cowok lain selain aku. Aku mengikutimu sampai toko buku tersebut. Buku yang ku beli tadi hanya buku yang secara acak aku ambil dan membelinya tanpa pikir panjang. Yang hanya ku lihat hanya kamu Vira. Apa kau seseneng itu jalan dengan cowok itu? apa artinya aku buat kamu sampai kau tertawa lebar dengan cowok tersebut? Aku terlalu terbakar cemburu. Rasanya ingin meledak saat itu juga" ia mengeratkan pelukannya di pinggang Davira.

"Saat kau bilang 'Kak hayu kita pulang' aku pikir kau berbicara dengan ku. Ternyata aku hanya salah mendengar kak dan ka berbeda. Saat itu rasa cemburuku memuncak tidak bisa di bendung. Maaf aku sudah menarik tangan mu dengan kasar. Maaf aku tadi mengambil kesempatan saat bibir kita bersentuhan. Saat itu hanya berfikir... kalau aku benar-benar cinta dengan kamu Davira. aku hanya ingin bisa terus bersama mu.. aku ingin memegang tanganmu.." ia mengeluarkan air matanya jatuh tepat di pundak Davira. isakan tangis itu terdengar oleh Davira. benar, dia sangat takut kehilangan Davira yang sudah mengisi semua kehidupannya.

"Ingin mencium mu...aku ingin kau hanya milikku seorang. Kau hanya akan memandangku seorang tanpa melihat pria lain. saat kau masuk ke mobilnya hatiku merasa hancur berkeping-keping. Tadi juga aku mengikutimu..." ia mulai terisak. Davira yang mendengar semuanya menangis. Butiran air mata jatuh ke pipinya. Ia memegang pipi Arka dengan tanganya. Menghapus air matanya.

"Tapi lampu merah aku tidak bisa mengerjarmu. Aku mulai frustasi .. aku merasa telat merasakan hati ini. Aku baru menyadari kalau dapat saja memberikan hati mu untuk orang lain dan itu bukan aku... saat itu tanpa pikir panjang aku memukul setir dengan penuh tenaga. Dan hasilnya tanganku seperti ini.." ia mengulurkan tangannya ke depan.

"Maaf..." itu yang keluar dari mulut Arka. baru kali ini ia melihat sisi Arka yang terpuruk seperti ini.

"Bahkan aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku" ia terisak posisinya masih sama ia masih dipeluk Arka dari belakang. Ia membalikan badannya ke depan Arka. posisi mereka berhadapan.

"Kau tidak perlu minta maaf Arka" ia memeluk Arka dengan erat. Detak jantungnya, ia mendengar setiap detak jantungnya yang gugup karena kita saling memeluk. Ini bukan mimpi ini nyata Arka mencintai Davira.

"Aku cinta kamu Arka... selama ini aku masih suka sama kamu. Tapi aku tidak senekat pertama kali kita ketemu. Aku yang langsung menciummu. Aku takut kalau kamu akan menghindar lagi. Makanya itu menahannya kalau aku sangat-sangat suka denganmu Arka" mereka melepaskan pelukanya memandang satu sama lain.

"Davira aku ingin kau selalu bersamaku selamanya. Aku ingin kau pertama dan terakhir untukku" Arka mencium kening Davira. ia hanya bisa memejamkan matanya.

"Jadi kita pacaran?" Davira memandang ngenit kearah Arka. ia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Davira.

"Iya" kata Arka sambil memandang Davira.

Davira mengecup bibir Arka sekilas "Ehh..." kata Arka.

ia menciumnya lagi "Ohh..." Arka mengerutkan alisnya.

"Ternyata Viraku nakal ya" Davira hanya bisa tertawa mendengarnya.

Davira menciumnya lagi dan ia hanya ingin menjahili dia. Hanya mengecupnya saja. Tapi saat ia melepaskan ciumannya ia menarik Davira. dengan ciuman yang berirama sama dengan hati mereka yang sedang kasmaran.

Di luar apartemen mereka mamanya Vira datang membawa kotak dengan isi kue.

"Vira... mana ini anak di telepon engga di jawab" ia meletakan hpnya ke telinganya.

Suara getaran di saku celana Davira. ia masih dengan posisi berciuman. Ia mendorong Arka.

"Ada apa?" kata Arka sambil memandang Davira.

Ia mengeluarkan hpnya dari saku celananya. Ia kaget setengah mati yang tertera di layar ponselnya mamanya menelepon.

Iya melihatkan ke Arka.

Sepontan Arka berbicara "Ibu mertua?" mendengar ini Davira merasa aneh dan juga bahagia.

"Iya.." ia menjawab dengan jawaban iya. mengangkat panggilan dari ibunya dengan Davira yang masih menempel dipelukan Arka.

"Ya hallo mah. Ada apa ya?." ia menghembuskan napas.

"Akhirnya kamu angkat telepon juga. Password apertemen kamu ganti?" kata mamanya di sebrang telepon.

"Kenapa mama bisa tau? Mama sekarang dimana?" ia memandang kearah Arka.

"Mama di depan pintu apartemen kamu" seketika Davira mematung di tempat. Ia memandang Arka satu sama lain.

"APA?" ia reflek ia berteriak. Davira langsung menutup mulutnya. Gimana ini?

"Ada apa? Mama kamu kenapa?" ia berbicara pelan ke arah Davira. dia menujukan telunjuknya di bibirnya.

"Ko suaranya kaya deket dari sini" kata mamanya.

"Ahh .. itu Cuma perasaan mama aja kali. Aku lagi kebawah lagi nyari angin. Mama masuk aja dulu password 200195" ia tersenyum saat menyebutkan password apartemennya.

"Udah ya mah aku tutup teleponnya bye" ia menutup teleponnya.

"Dari kapan kamu pasang password apertemen pake tanggal lahirku?" ia tersenyum jail.

"Ahh.. itu.. " ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal "pertama tinggal di sini aku udah pake tanggal lahir mu sebagai password"

"Curang..!" ia cemberut seperti anak kecil. " Kamu sering keluar masuk ke apertemenku dan juga kau tau passwordku tanpa di berit tau" memasang muka kesal.

"Aduh bayi besarku ini lagi merajuk. Lucunya" ia mengusap rambut Arka. "Aku bakalan sering kesini dari pada di Apartemenku sendiri. nanti kaya gini lagi kejadiannya yang tiba-tiba mamaku dateng tanpa memberi tau" kening mereka menempel dan mata mereka terpejam merasakan hembusan napas mereka masing-masing.

"Aku pulang dulu" mereka memandang satu sama lain.

"Bisakah tinggal dulu beberapa menit saja. Aku masih kangen. Kalau bisa kamu tetap di sini" ia memegang tangan Davira.

"Aku inginnya juga begitu. Tapi mama.. kenapa harus dateng di momen yang lagi bagus" ia memandang Arka.

"Kalau mama udah pulang aku ke sini lagi. Jangan cemberut gitu dong" ia mencium Arka sekilas ia langsung membuka pintu Apartemen Arka.

"Bye" ia melambaikan tangan dan langsung menutup dengan pelan. Ia merapihkan bajunya yang berantakan. Ia menarik napas dalam-dalam. Davira masuk ke dalam Apartemennya sendiri.

Terpopuler

Comments

Lela Lela

Lela Lela

ternyata di apartemen sebelah

2023-08-20

0

Heny Janita Sari

Heny Janita Sari

2023-07-15

0

Mila Chandrayanti

Mila Chandrayanti

nex
bagus banget cerita ny

2022-05-28

1

lihat semua
Episodes
1 1| Takdir yang Sial
2 2| Kilauan Agresif
3 3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4 4| Kilas Senyum Bahagia
5 5| Perubahan
6 6| Baru awal perubahan
7 7| Belajar
8 8I Berakhirnya Masa Sma
9 9I Awal yang baru
10 10I Gebetan
11 11| Mendekati
12 12I Menyelinap
13 13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14 14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15 15| Kencan pertama part 1
16 16| Kencan pertama part 2
17 17| Kencan pertama part 3
18 18| Misi
19 19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20 20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21 21| Satu hari sebelum misi
22 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24 22| Menyamar
25 23| Tuan muda Hans misterius
26 24| Kita hanya teman
27 25| Ibu?
28 26| Melawan Trauma
29 27| Dua Mayat Anak Kecil
30 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32 Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33 28| Dia sangat merindukannya
34 29| kota H saya datang
35 30| Rumah Nenek
36 31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37 32| Bertarung dengan Rasa Takut
38 33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39 34| Rencana yang Berisiko
40 35| Ketegangan
41 36| Momen Keputusan yang Sulit
42 37| Pencarian Putus Asa
43 38| Pesan Terakhir
44 39| Tidak Mungkin
45 40| Surat untuk Davira
46 41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47 42| Menangis dalam Kegelapan
48 Update setiap hari!
49 43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50 45| Penerbangan ke Negara N.
51 46| Namun, hidup terus berjalan.
52 47| Arka, aku kembali
53 48| Rutinitas Kuliahnya.
54 49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55 50| Pria itu membuka komputer
56 51| Kedipan Merah
57 52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58 53| Kotak-kotak berisi karya
59 54| Dr. X
60 55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61 56| Artful Essence Gallery
62 57| Pameran dimulai
63 58| Koridor Lantai Dua
64 59| Rasa Penasaran
65 60| Dalam Keheningan.
66 61| Sampai jumpa
67 62| Davira, di mana kamu?
68 63| mengetik kode-kode yang rumit
69 64| Kegelapan Ruangan
70 65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71 66| Melanjutkan Pelariannya
72 67| Siapa Kamu ?
73 68| Dia merunduk dan bersembunyi
74 69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75 70| Kakak, aku merindukanmu
76 71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77 72| Menyusun Rencana
78 73| Ponsel berdering.
79 74| Mereka tenggelam dalam momen
80 75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81 76| Permainan Bayangan
82 77| Bayangan di Antara Kita
83 78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84 79| Titik Balik Penangkapan
85 80| Menguak Tabir Kegelapan
86 81| Menelusuri Jejak Orakel
87 82| Perjalanan waktu
88 pengumuman
89 83| Rumah
90 84| Simpul Putus
91 85| Luka yang Tak Terhapuskan
92 86| Tidak Percaya
93 87| Merasa dikhianati
94 88| Tanpa Pilihan
95 89| Bercerita (Bagian 1)
96 90| Bercerita (Bagian 2)
97 91| Bercerita (Bagian 3)
98 92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99 93| Mencoba mengakses data
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1| Takdir yang Sial
2
2| Kilauan Agresif
3
3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4
4| Kilas Senyum Bahagia
5
5| Perubahan
6
6| Baru awal perubahan
7
7| Belajar
8
8I Berakhirnya Masa Sma
9
9I Awal yang baru
10
10I Gebetan
11
11| Mendekati
12
12I Menyelinap
13
13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14
14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15
15| Kencan pertama part 1
16
16| Kencan pertama part 2
17
17| Kencan pertama part 3
18
18| Misi
19
19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20
20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21
21| Satu hari sebelum misi
22
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24
22| Menyamar
25
23| Tuan muda Hans misterius
26
24| Kita hanya teman
27
25| Ibu?
28
26| Melawan Trauma
29
27| Dua Mayat Anak Kecil
30
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32
Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33
28| Dia sangat merindukannya
34
29| kota H saya datang
35
30| Rumah Nenek
36
31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37
32| Bertarung dengan Rasa Takut
38
33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39
34| Rencana yang Berisiko
40
35| Ketegangan
41
36| Momen Keputusan yang Sulit
42
37| Pencarian Putus Asa
43
38| Pesan Terakhir
44
39| Tidak Mungkin
45
40| Surat untuk Davira
46
41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47
42| Menangis dalam Kegelapan
48
Update setiap hari!
49
43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50
45| Penerbangan ke Negara N.
51
46| Namun, hidup terus berjalan.
52
47| Arka, aku kembali
53
48| Rutinitas Kuliahnya.
54
49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55
50| Pria itu membuka komputer
56
51| Kedipan Merah
57
52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58
53| Kotak-kotak berisi karya
59
54| Dr. X
60
55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61
56| Artful Essence Gallery
62
57| Pameran dimulai
63
58| Koridor Lantai Dua
64
59| Rasa Penasaran
65
60| Dalam Keheningan.
66
61| Sampai jumpa
67
62| Davira, di mana kamu?
68
63| mengetik kode-kode yang rumit
69
64| Kegelapan Ruangan
70
65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71
66| Melanjutkan Pelariannya
72
67| Siapa Kamu ?
73
68| Dia merunduk dan bersembunyi
74
69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75
70| Kakak, aku merindukanmu
76
71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77
72| Menyusun Rencana
78
73| Ponsel berdering.
79
74| Mereka tenggelam dalam momen
80
75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81
76| Permainan Bayangan
82
77| Bayangan di Antara Kita
83
78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84
79| Titik Balik Penangkapan
85
80| Menguak Tabir Kegelapan
86
81| Menelusuri Jejak Orakel
87
82| Perjalanan waktu
88
pengumuman
89
83| Rumah
90
84| Simpul Putus
91
85| Luka yang Tak Terhapuskan
92
86| Tidak Percaya
93
87| Merasa dikhianati
94
88| Tanpa Pilihan
95
89| Bercerita (Bagian 1)
96
90| Bercerita (Bagian 2)
97
91| Bercerita (Bagian 3)
98
92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99
93| Mencoba mengakses data

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!