Mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kota dengan cepat. Jalan yang ditempuh sepi dan sunyi, seakan-akan memberikan Arka ruang untuk berkendara.
Mobil tiba-tiba Melambat dan akhirnya berhenti. Suara mesin yang semula berdentum redup menjadi hening, memberi ruang bagi ketenangan yang tiba-tiba menyelimuti kabin kendaraan. Arka memandang keluar jendela dengan pandangan kosong, seakan-akan dia tengah merenungkan sesuatu yang mendalam.
Dengan gerakan mantap, Arka membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Di luar, dua orang tengah menunggu dengan posisi berdiri di depan Land Rover Defender militer. Pakaian mereka tampak seragam dan lengkap, dengan setiap detail menunjukkan bahwa mereka sedang bertugas dalam suatu tugas yang serius. Blickbats bertugas melekat pada pakaian mereka, menambahkan kesan profesionalisme dan keterlibatan dalam situasi yang ada.
Arka melemparkan kunci mobilnya ke arah salah satu dari dua pria tersebut. Dalam gerakan yang terampil, pria itu menangkap kunci dengan satu tangan, menunjukkan keahlian dan keterampilannya dalam menangani situasi semacam ini. Gagasan pertukaran tersebut, tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata, memperlihatkan pemahaman yang tersirat antara Arka dan mereka yang tengah menunggu di depan mobil Defender militer.
Dengan sikap yang penuh penghargaan, pria tersebut memberikan hormat dengan cara yang baku. "Komandan," ujarnya dengan suara rendah, menggambarkan respek dan ketaatan yang melekat pada jabatan Arka. Gestur tersebut juga mengisyaratkan hubungan hierarki dan otoritas yang ada di antara mereka.
Arka mengangguk sebagai tanggapan, lalu dengan langkah mantap ia melangkah ke dalam kabin mobIl di posisi co-pilot. Pria yang bernama Jace duduk di sampingnya, membawa aura profesionalisme yang tercermin dalam setiap gerakannya. Keduanya tampaknya siap untuk memulai tugas mereka dengan keterlibatan penuh.
"Balin, tolong masukkan mobil ke dalam garasi," ucap Jace dengan suara yang tenang namun jelas.
Permintaannya tersebut mengisyaratkan peran dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Balin dalam situasi ini. Tidak ada keberatan terlihat di wajah Jace, hanya ekspresi serius yang menggambarkan kesiapan untuk melanjutkan tugas.
Dengan sikap patuh, Jace menyerahkan kunci mobilnya kepada Balin. Tangan Balin merentang dengan mantap, menerima kunci dengan penuh tanggung jawab. Gagasan pertukaran kunci ini mengilustrasikan keterlibatan mereka dalam menjalankan tugas yang mungkin memiliki konsekuensi penting di baliknya.
"Kenapa kamu tidak mengembalikannya sendiri? Mengapa kamu menyusahkan bawahanmu?" tanya Arka dengan nada yang kalem namun memperlihatkan ketegasan dalam perkataannya.
Pertanyaannya mengandung ungkapan kebingungan terhadap pilihan yang dibuat oleh Jace, dan juga menunjukkan rasa pertimbangan atas situasi dan tindakan yang diambil dalam konteks hierarki mereka.
“Harusnya kamu yang mengembalikan mobilnya?” tanya balik Jace.
"Harusnya kamu yang mengembalikan mobilnya," tanya Jace balik dengan Tatapan yang tajam.
Pertanyaan baliknya mencerminkan argumen dan penegasan posisinya dalam dinamika tim. Tidak hanya sekadar menjawab, ia juga berusaha menghadirkan pemikiran lebih dalam terkait tanggung jawab yang mungkin muncul dalam situasi ini.
"Karena aku yang meminjamnya?" tanya Arka, suaranya memperlihatkan sikap yang lebih defensif. Pertanyaan itu menggambarkan bahwa Arka merasa perlu untuk memberikan alasan atas tindakannya dan juga mengklarifikasi alasan di balik keputusannya.
"Betul," kata Jace dengan singkat dan tegas. Tanggapannya tersebut mengindikasikan bahwa ia menerima penjelasan Arka dan seakan-akan memutuskan untuk mengakhiri perdebatan tersebut.
Ada rasa pengertian yang tersirat di dalam kata-kata tersebut, menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan pendapat, mereka tetap saling menghormati dan berusaha untuk mencapai pemahaman bersama.
Dengan penuh hormat, Balin memberikan penghormatan. "Kalau begitu, saya akan melaksanakan tugas, Komandan," ujarnya dengan sikap yang patuh dan penuh tekad.
Tatapannya mencerminkan rasa tanggung jawab dan kesiapan untuk menjalankan perintah dengan sebaik mungkin. Gestur ini menggarisbawahi kedudukan Jace sebagai pemimpin dan pentingnya ketaatan dalam tim.
Balin berbicara dengan gaya yang sangat formal, dengan setiap kata terucap dengan jelas dan tegas. Meskipun demikian, postur tubuhnya masih terasa kaku, menunjukkan bahwa dia merasa tegang dalam situasi ini. Getar yang terasa dalam tubuhnya menggambarkan gugup atau kecemasan yang dialaminya.
Terlepas dari ketegangan itu, dia telah ditempatkan di bawah bimbingan Komandan V yang dijuluki 'Jace'. Kehadiran Jace sebagai mentor memberikan nilai tambah bagi pembelajaran dan perkembangan Balin di dalam lingkungan militer. Dalam lingkungan tersebut, Komandan Jace dihormati dan dianggap memiliki otoritas yang sangat kuat.
Namun, sosok yang paling dihormati justru adalah orang yang berada di sebelah Jace. Meskipun usianya masih muda, dia telah mencapai posisi Komandan III Militer Angkatan Darat yang sangat bergengsi. Tanggung jawabnya melibatkan kepemimpinan dalam tugas-tugas yang sangat penting dalam dunia ketentaraan. Prestasinya gemilang, di mana setiap misi yang dia pimpin berakhir dengan sukses. Namun, yang menarik adalah bahwa sosok ini, meski memiliki reputasi yang begitu kokoh, jarang terlihat secara langsung di dalam lingkungan militer.
Balin berjalan menuju mobil yang dikendarai oleh Arka tadi. Dengan langkah mantap, ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Setelah menyalakan mesin mobil, keduanya memulai perjalanan mereka.
Dua mobil itu mergerak ke arah yang berbeda, meninggalkan titik awal mereka dan memasuki peran serta tanggung jawab masing-masing dalam tugas yang diemban. Keheningan di dalam mobil mengisyaratkan konsentrasi dan fokus mereka dalam menghadapi apa pun yang mungkin muncul di depan.
▪
▪
Saat perjalanan berlangsung, Jace melirik Arka yang terlihat sedang tersenyum dengan penuh kebahagiaan di sepanjang perjalanan. Tatapan itu mencerminkan pemahaman dan pengamatan Jace terhadap rekan kerjanya.
Namun, jarak perjalanan yang masih panjang menuju Markas Militer Angkatan Darat mengingatkan mereka bahwa masih ada banyak waktu untuk menghadapi apa pun yang mungkin menanti di depan.
Melihat bulu kuduknya merinding, Jace menggelengkan kepala dengan pelan, matanya kemudian terarah pada Arka yang masih terus tersenyum. Reaksi fisiknya menggambarkan adanya respons yang berbeda dari pengamatan dan perasaan yang dia alami dalam momen tersebut. Meskipun Arka tampak bahagia, ekspresi Jace mengisyaratkan bahwa ada lebih banyak hal yang mungkin belum terungkap di dalam situasi mereka saat ini.
“Aku sampe merinding.” Ucap Jace.
“Apa sesenang itu dengan pacar kecilmu?” bertanya Jace karena penasaran.
Jace sudah berumur tiga puluh tahun tetapi belum punya pacar. Karena sibuk di tentara, tidak ada waktu untuk pacaran, kalau ada misi dia tidak bisa di hubungi. Kadang di ikuti oleh musuh. Jarang pulang juga ke rumah dan dia menetap di asrama militer.
Sesekali dia menelepon ke rumah, kadang kala orang tua menghawatirkan tentang asmaranya. Umurnya sudah cukup tua untuk menikah.
“Kamu juga akan tau kalau punya pacar.” Kata Arka.
Arka masih fokus menyetir, di sepanjang jalan pohon menjulang tinggi. Tidak ada kehidupan di sekitar jalan.
"Kapan aku punya pacar!" ucap Jace dengan suara agak tertawa. Ungkapannya tersebut menciptakan sentilan ringan dalam percakapan mereka, menunjukkan sisi humor dan keterbukaan dalam berbicara. Meskipun konteksnya serius, Jace berhasil memunculkan atmosfer yang lebih santai dan akrab di antara mereka.
"Aku iri," kata Jace dengan jujur, ekspresi wajahnya mengungkapkan perasaan yang tulus.
Ungkapannya ini mengungkapkan rasa keterbukaan dan keakraban antara mereka. Dalam momen ini, Jace membagikan perasaannya dengan Arka, menghadirkan sisi manusiawi dan ranah pribadi yang mungkin jarang terlihat dari sosok yang memiliki posisi dan tanggung jawab sebesar dirinya.
Mengambil dokumen dari tasnya, Jace membuka lembaran-lembaran yang ada di dalamnya. Dengan penuh konsentrasi, dia mulai menganalisis setiap informasi yang tertera di dalam dokumen tersebut. Sementara itu, Arka melihat dengan penuh perhatian, matanya terfokus pada kertas yang dipegang oleh Jace. Ekspresi mereka mencerminkan fokus dan serius dalam membaca dan mengolah informasi yang terkandung di dalam dokumen tersebut.
"Apa ini adalah misi kasus?" tanya Arka dengan nada ingin tahu, ekspresi wajahnya menunjukkan ketertarikan pada konten dokumen yang tengah dianalisis oleh Jace.
Pertanyaannya tersebut mencerminkan keingintahuan dan semangat Arka dalam mencari pemahaman lebih dalam terkait isi dokumen tersebut.
"Iya," jawab Jace sambil terus membolak-balik dokumen di tangannya.
Gerakan tangan Jace yang cermat menggambarkan usaha dalam membaca dan memahami setiap detail yang ada dalam dokumen misi kasus tersebut. Tindakan ini menunjukkan tingkat ketelitian dan kesiapan Jace dalam menghadapi tugas-tugas yang kompleks dan penting dalam dunia ketentaraan.
"Misi kasus level S, sebuah kasus lama yang belum bisa terungkap," kata Jace dengan suara yang merendah.
Ungkapannya ini membuka pintu ke dalam aspek misteri dan tantangan yang dihadapi dalam misi kasus tersebut. Tatapan matanya mengisyaratkan keinginan untuk mengungkap kebenaran yang terpendam dan juga rasa tanggung jawab yang ia emban sebagai pemimpin dalam tugas ini.
Mata Jake masih terus fokus, namun dia sempat melirik Arka sejenak. "Kamu juga masuk ke dalam tim untuk menjadi komandan tim, dan aku akan menjadi wakil komandan," ujarnya dengan penuh tekad.
Ekspresi wajahnya mencerminkan komitmen dan keyakinan terhadap peran dan tanggung jawab yang telah mereka tentukan. Pernyataan ini menggarisbawahi rencana dan pembagian tugas di dalam tim, serta dinamika kerja sama di antara mereka.
"Misinya berlangsung selama dua Bulan," kata Jace dengan nada yang tenang namun jelas.
Ungkapannya ini mengungkapkan durasi yang cukup lama yang akan mereka hadapi dalam menjalankan misi kasus level S tersebut. Ada keseriusan dalam kata-katanya, yang mencerminkan kesiapan dan keterlibatan yang mereka perlu lakukan selama periode waktu tersebut.
“Dua bulan?” Arka bertanya dengan ekspresi yang mencerminkan kejutan.
Pertanyaannya ini mengungkapkan bahwa durasi misi selama dua bulan tampaknya memunculkan rasa penasaran dan mungkin juga keprihatinan. Tatapan matanya mengandung pertanyaan lebih dalam terkait persiapan, tugas, dan dampak dari periode waktu yang cukup lama tersebut.
"Dua bulan cukup lama buat yang baru punya pacar," ucap Jace sambil menggoda Arka yang masih sibuk menyetir.
Ungkapannya ini menciptakan sentilan ringan dalam percakapan mereka, mengungkapkan suasana santai dan akrab di antara mereka. Jace tampaknya ingin memecah kekakuan dan memberikan elemen humor di tengah topik yang serius.
"Iya, cukup lama," kata Arka sambil mengangguk setuju.
Ekspresinya mencerminkan pemahaman atas pernyataan Jace sekaligus mencerminkan perasaannya sendiri. Arka mengungkapkan bahwa dia merasa durasi dua bulan dapat terasa lama, terutama mengingat hubungannya dengan Davira. Pengakuan ini juga menggambarkan prioritas dan pentingnya menjaga hubungan pribadi di tengah tugas-tugas yang kompleks di dunia ketentaraan.
Jace mengamati foto-foto anak laki-laki dan perempuan yang tertempel di dinding, merupakan daftar anak-anak yang hilang. Setiap bulan, daftar tersebut semakin bertambah dengan nama-nama anak yang belum ditemukan. Di tengah situasi yang kompleks ini, pelaku yang menjadi dalang dari praktik penjualan anak-anak belum berhasil ditangkap.
Namun demikian, setiap tahun, usaha pencarian yang gigih telah membuahkan hasil dalam menemukan kembali anak-anak yang pernah diculik dan dijual. Fokus dalam upaya penyelidikan dan pemulihan ini mencerminkan pentingnya misi mereka dalam melawan kejahatan yang merugikan para anak-anak yang tak berdaya.
Namun, yang mengendarai mobil adalah Arka. Dia memegang setir dengan erat, mengencangkan pegangan dengan kuat. Dia telah lama mengetahui tentang kasus itu dan bahkan telah lama mengikutinya. Namun, hingga saat ini, informasi yang pasti mengenai keberadaan pemimpin di balik penculikan tersebut masih belum ditemukan. Keinginannya untuk mengungkap kebenaran dan mengakhiri kasus ini tercermin dalam rasa determinasinya yang tinggi, meskipun dia menyadari bahwa tugas ini tidak mudah dilakukan.
"Semua anak ini mau diapakan? Dijual atau dijadikan budak?" gumam Jace dengan suara yang penuh pertanyaan.
Ungkapannya ini mengungkapkan kegelisahan dan kebingungan yang ada dalam pikirannya mengenai nasib anak-anak yang hilang tersebut. Tanyaannya mencerminkan rasa keprihatinan terhadap nasib anak-anak tersebut, serta tekadnya untuk mencari tahu dan mengungkapkan kebenaran di balik kasus ini. Gumaman ini juga memperlihatkan bahwa kasus ini menggugah perasaan kemanusiaan mereka, bahkan di tengah tugas-tugas yang penuh dengan tantangan dan bahaya.
Jumlah anak yang hilang cukup mengkhawatirkan. Jace merasa tersentuh dengan nasib para anak yang hilang ini. Kasus ini memiliki dimensi internasional dan melibatkan urusan negara. Oleh karena itu, penyelidikan atas kasus ini dilakukan dengan sangat rahasia. Hanya anggota tim yang secara khusus ditugaskan Untuk menangani kasus ini yang memiliki akses terhadap informasi ini.
Diluar dari lingkup itu, orang lain atau orang awam tidak memiliki pengetahuan tentang hal ini. Fokus penyelidikan yang tertutup ini mencerminkan tingkat kerahasiaan dan sensitivitas dalam menangani masalah yang begitu kompleks dan melibatkan berbagai pihak.
Sebuah rasa sesak menyergap di dada Arka, seperti badai membanjiri ingatannya dengan kenangan yang selama ini ingin ia lupakan. Gambaran tentang darah, pistol, serta sosok Ibu dan Ayahnya muncul begitu tiba-tiba. Sensasi tersebut membuatnya merasa seperti tenggelam dalam gelombang emosi.
Matanya terbelalak saat ia mengerem mobilnya dengan tiba-tiba, mengejar napas yang terasa sesak di dadanya. Reaksi fisik dan psikologisnya mencerminkan perjuangan batin yang tak terlukiskan, serta kemampuannya untuk mengatasi gangguan yang tiba-tiba muncul dalam situasi yang sedang dihadapinya.
"Gejalanya kambuh lagi," kata Jace dengan suara yang penuh perhatian. Ungkapannya ini mencerminkan pemahaman Jace tentang kondisi Arka yang sedang dialami. Tindakan Jace untuk memberikan penjelasan ini menunjukkan tingkat kedekatan dan empati di antara mereka. Dalam situasi ini, Jace juga terlihat sebagai seseorang yang mengenal Arka dengan baik dan mampu mengenali tanda-tanda serta tantangan yang dihadapi oleh rekan kerjanya.
Jace dengan panik mengabil obat di Door pocket. Mengambil satu pil dan menyerahkan pil dan air minumnya. Arka meminumnya. Perlahan pandangannya mulai tenang.
Dia bernapas perlahan.
Jace baru ingat, Arka tidak bisa mengambil misi ini. Tapi atasan menyetujui Arka untuk mengambil misinya sebagai ketua tim.
“Tidak! Kamu tidak bisa ikut misi ini, aku akan melapor ke atasan.” Kata Jace.
Menutup dokumen kasusnya, meletakannya lagi di dalam tas.
Membuka pintu mobil, “kamu turun, aku yang menyetir.” ucap Jace
“Baik.” kata Arka.
Posisi mereka berpindah, Jace yang menyetir.
Arka yang duduk di co-pilot, memejamkan matanya dan tangannya bersandar di pintu mobil sambil memegang kepala.
“Aku akan mengambilnya ‘Misi’.” ungkap Arka
“Apa kamu gila!” Jace memandang Arka sekilas.
“Kamu tidak bisa ambil misi ini!” Tegas Jace.
Saat Jace meneriakinya, kilasan kejadian yang menimpa Arka waktu kecil teringat kembali. Darah dimana-mana, suara angin, hembusan angin menerpa ke wajahnya.
Trauma sudah sembuh sejak lama. Entah kenapa kambuh kembali.
Jace berbicara panjang lebar, mencegahnya melakukan misi. Tapi Arka ingin mengambil misi. Untuk bisa menuntaskan semuanya, antara memutuskan hubungan Ibu kandungnya dan juga membersihkan musuh yang bakal membahayakan keluarga, dia dan juga Davira.
Pintu gerbang militer terbuka. Tentara yang bertugas memberi hormat saat mobil militer lewat. Gerbang tertutup dan mobil melaju ke dalam.
Mobil terparkir di bawah pohon.
“Aku akan melapor, kamu mundur dari misi.”
“Aku sudah mempersiapkan untuk kasus yang satu ini, aku juga terlibat di dalamnya.”
“Arka!” memanggil namanya tanpa gelar.
“Aku akan mengatasinya, ini Cuma kambuh sementara.” Arka keluar dari dari dalam mobil.
Membuka pintu belakang mobil. Membawa barang bawaannya. Dia berjalan ke barak menjauhi mobil yang masih ada jace memandangnya dari dalam mobil.
Jace mengacak rambutnya sendiri.
“Keras kepala.” Memandang punggung Arka yang mulai menjauh.
Mengambil kunci kamar yang ada di dalam tas. Pintu terbuka dimasuk ke dalam ruangan.
Peralatan dalam kamar semuannya sederhana, dia meletakan tas di samping tempat tidur. Arka melihat jam tangannya, menunjukan pukul empat sore.
Masuk ke dalam kamar mandi. butuh dua puluh menit untuk mandi.
Keluar kamar mandi, handuk terlilit di pinggang dan atas badan telanjang dada. memperlihatkan otot yang terawat. Ada bekas luka tembakan dan juga sayatan senjata tajam di badannya. Membuat badannya terlihat lebih seksi dengan luka yang dia dapat dari tugas militer.
Memakai baju yang diambil dari dalam tas.
Duduk di tepi kasur sambil mengeringkan rambutnya. Ponsel yang diletakan di meja bergetar. Mengabilnya dan melihat nama penelepon istri kecil.
Menjawab panggilan Davira.
Suara lembut terdengar di telinganya, “Sudah sampai ke Kota H? Kalau aku tidak sibuk aku ingin ke kota H bareng kamu untuk mengunjungi nenek.”
Wajah sedih di ujung telepon.
Alasan Arka ke kota H, bukan untuk mengunjungi neneknya. tetapi untuk melakukan misi yang sudah diatur atasan.
Dia berbohong ke Davira.
“Sudah sampai.” Di telinganya terdengar hembusan napas Davira. mendengar suara Davira, dia merindukannya.
“Lain waktu kita berkunjung nenek.”
“Iya.”
Arka menghelak napas, “Merindukanmu.”
Baru saja berpisah satu hari terasa bertahun – tahun berpisah. Arka berpikir kalau misinya harus diselesaikan dengan cepat. Dua bulan cukup lama. Dia tidak bisa berpisah lama dengan Davira. hari ini pun dia sangat merindukannya.
Dia ingin menciumnya dan juga berdua menikmati keseharian.
“Baru sehari kamu sudah merindukanku?”
“Iya.”
Davira tersenyum di ujung telepon, “Aku juga merindukanmu.”
“Cepat pulang.”
“Hem ... Iya.”
Davira terbungkus di selimut Arka. mencium wanginya dari selimut Arka.
“Vira, aku bakal tinggal di rumah nenek selama dua bulan. tidak bisa bisa pakai ponsel untuk berkomunikasi. Di sini kurang sinyal. Jadi tunggu aku pulang.”
“Dua bulan? Cukup lama aku bakal merindukanmu,” sedih dari nada suara Davira.
“Iya, nenek lagi tidak sehat,” bohongnya.
“Baik.”
“Cepat tidur nanti telat besok ke kampus.”
“Aku masih ingin berbicara sama kamu.”
Ada suara ketukan dari arah pintu. “Iya.”
“Nenek memanggil, aku tutup teleponnya.”
“Selamat malam sayang, Aku mencintaimu,” kata Arka membayangkan Davira yang ada di depannya.
“Aku juga, mencintaimu.”
Arka mematikan poselnya. Memasukannya ke dalam saku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
kemana davira ny jd sm.jace
2023-08-20
0
Heny Janita Sari
😘😘😘😘
2023-07-15
0
Yun
pplot nya tidak bisa terduga
2023-06-08
0