Mobil bergerak ke arah pusat kota. Pemandangan di luar cerah, mobil berlalu-lalang di jalan raya. Davira tidak tau mau kencan di mana. Semuanya sudah diatur oleh Arka. Ia memandang Arka yang sedang mengemudi, mobil.
‘Apakah ini mimpi?’ menumpang tangannya di dagu kirinya. Sambil tersenyum memandang arka.
Berasa baru kemarin dia menyatakan cinta, dan ditolak. Davira menjaga jarak untuk tidak mengejar Arka. Kita bertemu lagi dengan tidak sengaja. Mulai mengenal dan dekat bagaikan keluarga. Seminggu kemarin Arka menyatakan cintanya. Dia tidak menyangka kalau kita hari ini akan berkencan.
Hatinya berdetak dengan kencan. Setiap hari, setiap detik takut kalau semua ini hanya mimpi. Sentuhan lembut tangan Arka di pipinya. Sentuhan tangannya yang hangat menyadarkan kalau semua ini nyata.
Tangan Arka menyentuh rambut turun ke pipi, “mengapa menatapku terus? Apa pacarmu tampan?”
“Tampan,” sambil tersenyum.
Lampu merah, mobil berhenti.
Pandangan dalam mobil hanya mereka berdua. Memandang satu sama lain.
“Kita akan segera sampai,” ia memegang tangan Davira dengan tautan di jemari lentiknya.
“Oke.”
Lampu hijau, mobil mulai berjalan perlahan. Tangan mereka masih bertautan satu sama lain. Davira tersenyum dan duduk manis di co-pilot.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kencan mereka. Yang terdengar penuh dengan teriak kegembiraan. Banyak orang antri di tempat tiket, mulai tidak sabar untuk masuk ke dalam.
Davira melihat Arka yang sedang mematikan mesin mobil.
“Ayo kita masuk.”
“Iya.”
Mereka keluar mobil. Dia tidak menyangka kalau Arka akan mengajaknya ketaman bermain. Sudah tidak ingat lagi kapan terakhir dia ke taman bermain. Sudah cukup berkembang saat pertama kali dia dan orang tuanya ke taman bermain. Arka membawanya kesini untuk kencan pertama mereka. Ingin memberi kenangan indah. Masa kecil yang tidak bersamanya dia ingin ada dalam kenangan di dalam hatinya.
“Sudah lama tidak bermain ketaman bermain,” berjalan sambil bergandeng tangan.
Semua orang berlalu-lalang , berlarian dan juga tertawa riang bersama teman, keluarga atau pun pacar. Membuat suasanya taman bermain semakin hidup.
“Pertama kali kesini, kamu naik wahana apa?” Arka berjalan sambil memandang wajah pacarnya yang tersenyum.
Davira berhenti berjalan sambil menunjuk wahana yang sering dinaiki pada waktu itu. Entah sudah berapa putaran dia menaikinya. Dia tidak bosan naik komidi putar.
“Ah ... Aku juga ingat ada kakak ganteng yang menemani main.” Dia mencoba mengingat kenangan lama.
“Oh ... Yah ...?” Tercium mau masam dari Arka, “gantengan kakak itu atau aku?”
Davira tersenyum melihat wajah Arka. Wajah penuh dengan kata cemburu. Ia mundur perlahan kebelakang berbicara, “tidak akan, aku kasih tau.” Dia berlari.
“Tidak bakal kasih tauku?” Coba mengejarnya. Dia tertangkap kedalam pelukannya.
“Siapa laki-laki itu?” Masih dalam pelukannya, Davira hanya bisa tertawa melihat tingkahnya kaya anak kecil yang penasaran.
“Itu kenangan waktu aku kecil, kakak itu, aku tidak tau dia sekarang.” Dia memegang tangan arka dan memandang wajahnya.
“Apa kamu cemburu sama anak kecil, ah ... Kakak itu tidak bisa disebut anak kecil juga. Mungkin tingginya segini.” Dia mencoba memperkiraan tinggi kakak yang waktu itu. Davira waktu itu masih kelas empat sd.
“Smp?” Arka menebak. “Kenangan masa kecilmu tidak ada akunya.”
“Mana mungkin, sekarangkan kamu sama aku. Kita buat kenangan baru bersama.”
“Baik.”
Arka hanya tersenyum. Dia dulu juga ada di sana. Memperhatikan anak kecil yang sedang bermain sendiri. Tersenyum lebar menaiki komidi putar. Ia baru menyadarinya kalau itu dia.
Dia ingat waktu itu dia study tour ke kota N. Dan sebelum pulang ke kota H rombongan study tour pergi ke taman bermain yang ada dikota N. Terpisah dengan rombongan karena dia berpisah sebentar untuk ke toilet.
Saat keluar dari toilet. Rombongan sudah tidak ada di tempat. Ia menunggu di tempat semula, kali aja ada yang menyadari kalau dia keluar dari rombongan.
Melihat di sekitar, orang yang berlalu-lalang. Mencari kenalan atau guru yang sedang mencarinya. Matanya terpaku melihat anak kecil cewek dengan rambut berkucir kuda. Yang sedang menaiki komidi putar. Dengan wajahnya yang murung.
Semua orang menaiki komidi putar bersama keluarga teman hanya dia yang sendiri menaiki wahana itu.
Entah kenapa kaki ini melangkah maju menuju gadis itu. Memandangnya cukup lama. Dia seperti mengenalnya. Di mana dia pernah bertemu?
Gadis tersebut masih murung sambil memegang leher kuda. Matanya memandang wajah semua orang. Seperti mencari atau menunggu seseorang untuk mengenalinya.
“Ah ...” Bergumam pelan saat matanya menatap kakak yang tidak jauh diarah sana.
Komidi putarnya berhenti. Davira turun dari kuda dan berlari menghampiri Arka yang masih dengan posisi awal.
“Kakak.” Davira sudah tepat di depannya sambil mencoba menggapai tangan Arka.
Davira menggenggam tangan Arka. “Arka.”
“Hem ... Ya ada apa sayang?” Memori masa lalu teringat kembali. Di depannya hanya ada sosok Davira yang sedang fokus memilih aksesoris yang identik dengan wahana.
“Kamu coba pakai ini.” Davira memegang bando telinga kucing.
“Tidak.” Tegasnya.
“Ka ...” Menggoyangkan tangannya, sambil melihat dengan wajah imutnya. Arka menahan untuk tersenyum melihat pacarnya yang sedang membujuknya.
“Kalau kamu panggil aku pakai nama panggilan yang bikin aku bahagia, oke aku akan pakai.”
“Bener ya kamu bakalan pakai, jangan sampe menyesal.” Saking senangnya Davira berpikir untuk mencoba semua nama yang dia pikirkan di dalam hati, untuk memanggil Arka selain nama Ka.
“Sayang” tidak ada tanggapan.
“Kamu tidak suka nama panggilan ini?”
“Terlalu biasa.” Davira tercengang dengan katanya. Padahal dia sering memanggil dia dengan nama sayang.
“Kamu juga memanggil aku sayang. Aku tidak protes.” Wajahnya cemberut memalingkan wajahnya.
Arka tersenyum memandang Davira, “pikirkan lagi?”
Mengambil bandonya dari tangan Davira. Sambil melambaikan di depannya. Davira hanya bisa menghela nafas. Dia ingin sekali melihat Arka memakai bando telinga kucing. Mungkin dia akan menjadi, lebih imut. Karisma kucing jantan juga bisa dipertimbangkan. Dia ingin melihatnya.
“Baik.”
“Cinta, Honey, Kakak Arka ?” Raut wajah Arka masih tidak antusias dengan nama panggilan yang dia utarakan.
“Sayang sekali, lain kali akan memakainya,” dia meletakan bandonya di tempat semula.
Davira menjangkau bandonya yang akan diletakan di tempatnya.
“Tidak , aku ingin melihat kamu memakainya,” dengan tatapan sedih dia memegang bando yang ada di tangan Arka.
Kepalanya mendekat ke telinganya “Senangkan aku dengan nama panggilan, buat aku bergetar saat mendengarnya” tersenyum menggoda saat kepalanya ditarik kembali menjauh dari telinga Davira.
Ada getaran aneh dihati Davira saat Arka berbisik di telinganya. Jantungnya berdetak kencang ... Memandang Arka yang sedang menantikan nama panggilan apa yang akan keluar dari Mulut manis Davira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Lela Lela
panggil kakak aja
2023-08-20
0
Madhan Abdullah
tambah asyik
2022-06-13
2
Awal Ginting
Saya mengucapkan terimakasih banyak sama km karena km SDH mau berbagi cerita ke sy,
semoga km sll dilindungin Allah dari mara bahaya dimana pun km berada Aminn...
Makasih ceritanya, suksess👍👍❤️❤️❤️😘😘🌹🌹
2022-06-11
2