16| Kencan pertama part 2

Mobil bergerak ke arah pusat kota. Pemandangan di luar cerah, mobil berlalu-lalang di jalan raya. Davira tidak tau mau kencan di mana. Semuanya sudah diatur oleh Arka. Ia memandang Arka yang sedang mengemudi, mobil.

‘Apakah ini mimpi?’ menumpang tangannya di dagu kirinya. Sambil tersenyum memandang arka.

Berasa baru kemarin dia menyatakan cinta, dan ditolak. Davira menjaga jarak untuk tidak mengejar Arka. Kita bertemu lagi dengan tidak sengaja. Mulai mengenal dan dekat bagaikan keluarga. Seminggu kemarin Arka menyatakan cintanya. Dia tidak menyangka kalau kita hari ini akan berkencan.

Hatinya berdetak dengan kencan. Setiap hari, setiap detik takut kalau semua ini hanya mimpi. Sentuhan lembut tangan Arka di pipinya. Sentuhan tangannya yang hangat menyadarkan kalau semua ini nyata.

Tangan Arka menyentuh  rambut turun ke pipi, “mengapa menatapku terus? Apa pacarmu tampan?”

“Tampan,” sambil tersenyum.

Lampu merah, mobil berhenti.

Pandangan dalam mobil hanya mereka berdua. Memandang satu sama lain.

“Kita akan segera sampai,” ia memegang tangan Davira dengan tautan di jemari lentiknya.

“Oke.”

Lampu hijau, mobil mulai berjalan perlahan. Tangan mereka masih bertautan satu sama lain. Davira tersenyum dan duduk manis di co-pilot.

Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kencan mereka. Yang terdengar penuh dengan teriak kegembiraan. Banyak orang antri di tempat tiket, mulai tidak sabar untuk masuk ke dalam.

Davira melihat Arka yang sedang mematikan mesin mobil.

“Ayo kita masuk.”

“Iya.”

Mereka keluar mobil. Dia tidak menyangka kalau Arka akan mengajaknya ketaman bermain. Sudah tidak ingat lagi kapan terakhir dia ke taman bermain. Sudah cukup berkembang saat pertama kali dia dan orang tuanya ke taman bermain. Arka membawanya kesini untuk kencan pertama mereka. Ingin memberi kenangan indah. Masa kecil yang tidak bersamanya dia ingin ada dalam kenangan di dalam hatinya.

“Sudah lama tidak bermain ketaman bermain,” berjalan sambil bergandeng tangan.

Semua orang berlalu-lalang , berlarian dan juga tertawa riang bersama teman, keluarga atau pun pacar. Membuat suasanya taman bermain semakin hidup.

“Pertama kali kesini, kamu naik wahana apa?” Arka berjalan sambil memandang wajah pacarnya yang tersenyum.

Davira berhenti berjalan sambil menunjuk wahana yang sering dinaiki pada waktu itu. Entah sudah berapa putaran dia menaikinya. Dia tidak bosan naik komidi putar.

“Ah ... Aku juga ingat ada kakak ganteng yang menemani main.” Dia mencoba mengingat kenangan lama.

“Oh ... Yah ...?” Tercium mau masam dari Arka, “gantengan kakak itu atau aku?”

Davira tersenyum melihat wajah Arka. Wajah penuh dengan kata cemburu. Ia mundur perlahan kebelakang berbicara, “tidak akan, aku kasih tau.” Dia berlari.

“Tidak bakal kasih tauku?” Coba mengejarnya. Dia tertangkap kedalam pelukannya.

“Siapa laki-laki itu?” Masih dalam pelukannya, Davira hanya bisa tertawa melihat tingkahnya kaya anak kecil yang penasaran.

“Itu kenangan waktu aku kecil, kakak itu, aku tidak tau dia sekarang.”  Dia memegang tangan arka dan memandang wajahnya.

“Apa kamu cemburu sama anak kecil, ah ... Kakak itu tidak bisa disebut anak kecil juga. Mungkin tingginya segini.” Dia mencoba memperkiraan tinggi kakak yang waktu itu. Davira waktu itu masih kelas empat sd.

“Smp?” Arka menebak. “Kenangan masa kecilmu tidak ada akunya.”

“Mana mungkin, sekarangkan kamu sama aku. Kita buat kenangan baru bersama.”

“Baik.”

Arka hanya tersenyum. Dia dulu juga ada di sana. Memperhatikan anak kecil yang sedang bermain sendiri. Tersenyum lebar menaiki komidi putar. Ia baru menyadarinya kalau itu dia.

Dia ingat waktu itu dia study tour ke kota N. Dan sebelum pulang ke kota H rombongan study tour pergi ke taman bermain yang ada dikota N. Terpisah dengan rombongan karena dia berpisah sebentar untuk ke toilet.

Saat keluar dari toilet. Rombongan sudah tidak ada di tempat. Ia menunggu di tempat semula, kali aja ada yang menyadari kalau dia keluar dari rombongan.

Melihat di sekitar, orang yang berlalu-lalang. Mencari kenalan atau guru yang sedang mencarinya. Matanya terpaku melihat anak kecil cewek dengan rambut berkucir kuda. Yang sedang menaiki komidi putar. Dengan wajahnya yang murung.

Semua orang menaiki komidi putar bersama keluarga teman hanya dia yang sendiri menaiki wahana itu.

Entah kenapa kaki ini melangkah maju menuju gadis itu. Memandangnya cukup lama. Dia seperti mengenalnya. Di mana dia pernah bertemu?

Gadis tersebut masih murung sambil memegang leher kuda. Matanya memandang wajah semua orang. Seperti mencari atau menunggu seseorang untuk mengenalinya.

“Ah ...” Bergumam pelan saat matanya menatap kakak yang tidak jauh diarah sana.

Komidi putarnya berhenti. Davira turun dari kuda dan berlari menghampiri Arka yang masih dengan posisi awal.

“Kakak.” Davira sudah tepat di depannya sambil mencoba menggapai tangan Arka.

Davira menggenggam tangan Arka. “Arka.”

“Hem ... Ya ada apa sayang?” Memori masa lalu teringat kembali. Di depannya hanya ada sosok Davira yang sedang fokus memilih aksesoris yang identik dengan wahana.

“Kamu coba pakai ini.” Davira memegang bando telinga kucing.

“Tidak.” Tegasnya.

“Ka ...” Menggoyangkan tangannya, sambil melihat dengan wajah imutnya. Arka menahan untuk tersenyum melihat pacarnya yang sedang membujuknya.

“Kalau kamu panggil aku pakai nama panggilan yang bikin aku bahagia, oke aku akan pakai.”

“Bener ya kamu bakalan pakai, jangan sampe menyesal.” Saking senangnya Davira berpikir untuk mencoba semua nama yang dia pikirkan di dalam hati, untuk memanggil Arka selain nama Ka.

“Sayang” tidak ada tanggapan.

“Kamu tidak suka nama panggilan ini?”

“Terlalu biasa.” Davira tercengang dengan katanya. Padahal dia sering memanggil dia dengan nama sayang.

“Kamu juga memanggil aku sayang. Aku tidak protes.” Wajahnya cemberut memalingkan wajahnya.

Arka tersenyum memandang Davira, “pikirkan lagi?”

Mengambil bandonya dari tangan Davira. Sambil melambaikan di depannya. Davira hanya bisa menghela nafas. Dia ingin sekali melihat Arka memakai bando telinga kucing. Mungkin dia akan menjadi, lebih imut. Karisma kucing jantan juga bisa dipertimbangkan. Dia ingin melihatnya.

“Baik.”

“Cinta, Honey, Kakak Arka ?” Raut wajah Arka masih tidak antusias dengan nama panggilan yang dia utarakan.

“Sayang sekali, lain kali akan memakainya,” dia meletakan bandonya di tempat semula.

Davira menjangkau bandonya yang akan diletakan di tempatnya.

“Tidak , aku ingin melihat kamu memakainya,” dengan tatapan sedih dia memegang bando yang ada di tangan Arka.

Kepalanya mendekat ke telinganya “Senangkan aku dengan nama panggilan, buat aku bergetar saat mendengarnya” tersenyum menggoda saat kepalanya ditarik kembali menjauh dari telinga Davira.

Ada getaran aneh dihati Davira saat Arka berbisik di telinganya. Jantungnya berdetak kencang ... Memandang Arka yang sedang menantikan nama panggilan apa yang akan keluar dari Mulut manis Davira.

Terpopuler

Comments

Lela Lela

Lela Lela

panggil kakak aja

2023-08-20

0

Madhan Abdullah

Madhan Abdullah

tambah asyik

2022-06-13

2

Awal Ginting

Awal Ginting

Saya mengucapkan terimakasih banyak sama km karena km SDH mau berbagi cerita ke sy,
semoga km sll dilindungin Allah dari mara bahaya dimana pun km berada Aminn...
Makasih ceritanya, suksess👍👍❤️❤️❤️😘😘🌹🌹

2022-06-11

2

lihat semua
Episodes
1 1| Takdir yang Sial
2 2| Kilauan Agresif
3 3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4 4| Kilas Senyum Bahagia
5 5| Perubahan
6 6| Baru awal perubahan
7 7| Belajar
8 8I Berakhirnya Masa Sma
9 9I Awal yang baru
10 10I Gebetan
11 11| Mendekati
12 12I Menyelinap
13 13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14 14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15 15| Kencan pertama part 1
16 16| Kencan pertama part 2
17 17| Kencan pertama part 3
18 18| Misi
19 19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20 20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21 21| Satu hari sebelum misi
22 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24 22| Menyamar
25 23| Tuan muda Hans misterius
26 24| Kita hanya teman
27 25| Ibu?
28 26| Melawan Trauma
29 27| Dua Mayat Anak Kecil
30 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32 Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33 28| Dia sangat merindukannya
34 29| kota H saya datang
35 30| Rumah Nenek
36 31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37 32| Bertarung dengan Rasa Takut
38 33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39 34| Rencana yang Berisiko
40 35| Ketegangan
41 36| Momen Keputusan yang Sulit
42 37| Pencarian Putus Asa
43 38| Pesan Terakhir
44 39| Tidak Mungkin
45 40| Surat untuk Davira
46 41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47 42| Menangis dalam Kegelapan
48 Update setiap hari!
49 43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50 45| Penerbangan ke Negara N.
51 46| Namun, hidup terus berjalan.
52 47| Arka, aku kembali
53 48| Rutinitas Kuliahnya.
54 49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55 50| Pria itu membuka komputer
56 51| Kedipan Merah
57 52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58 53| Kotak-kotak berisi karya
59 54| Dr. X
60 55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61 56| Artful Essence Gallery
62 57| Pameran dimulai
63 58| Koridor Lantai Dua
64 59| Rasa Penasaran
65 60| Dalam Keheningan.
66 61| Sampai jumpa
67 62| Davira, di mana kamu?
68 63| mengetik kode-kode yang rumit
69 64| Kegelapan Ruangan
70 65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71 66| Melanjutkan Pelariannya
72 67| Siapa Kamu ?
73 68| Dia merunduk dan bersembunyi
74 69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75 70| Kakak, aku merindukanmu
76 71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77 72| Menyusun Rencana
78 73| Ponsel berdering.
79 74| Mereka tenggelam dalam momen
80 75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81 76| Permainan Bayangan
82 77| Bayangan di Antara Kita
83 78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84 79| Titik Balik Penangkapan
85 80| Menguak Tabir Kegelapan
86 81| Menelusuri Jejak Orakel
87 82| Perjalanan waktu
88 pengumuman
89 83| Rumah
90 84| Simpul Putus
91 85| Luka yang Tak Terhapuskan
92 86| Tidak Percaya
93 87| Merasa dikhianati
94 88| Tanpa Pilihan
95 89| Bercerita (Bagian 1)
96 90| Bercerita (Bagian 2)
97 91| Bercerita (Bagian 3)
98 92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99 93| Mencoba mengakses data
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1| Takdir yang Sial
2
2| Kilauan Agresif
3
3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4
4| Kilas Senyum Bahagia
5
5| Perubahan
6
6| Baru awal perubahan
7
7| Belajar
8
8I Berakhirnya Masa Sma
9
9I Awal yang baru
10
10I Gebetan
11
11| Mendekati
12
12I Menyelinap
13
13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14
14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15
15| Kencan pertama part 1
16
16| Kencan pertama part 2
17
17| Kencan pertama part 3
18
18| Misi
19
19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20
20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21
21| Satu hari sebelum misi
22
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24
22| Menyamar
25
23| Tuan muda Hans misterius
26
24| Kita hanya teman
27
25| Ibu?
28
26| Melawan Trauma
29
27| Dua Mayat Anak Kecil
30
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32
Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33
28| Dia sangat merindukannya
34
29| kota H saya datang
35
30| Rumah Nenek
36
31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37
32| Bertarung dengan Rasa Takut
38
33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39
34| Rencana yang Berisiko
40
35| Ketegangan
41
36| Momen Keputusan yang Sulit
42
37| Pencarian Putus Asa
43
38| Pesan Terakhir
44
39| Tidak Mungkin
45
40| Surat untuk Davira
46
41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47
42| Menangis dalam Kegelapan
48
Update setiap hari!
49
43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50
45| Penerbangan ke Negara N.
51
46| Namun, hidup terus berjalan.
52
47| Arka, aku kembali
53
48| Rutinitas Kuliahnya.
54
49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55
50| Pria itu membuka komputer
56
51| Kedipan Merah
57
52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58
53| Kotak-kotak berisi karya
59
54| Dr. X
60
55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61
56| Artful Essence Gallery
62
57| Pameran dimulai
63
58| Koridor Lantai Dua
64
59| Rasa Penasaran
65
60| Dalam Keheningan.
66
61| Sampai jumpa
67
62| Davira, di mana kamu?
68
63| mengetik kode-kode yang rumit
69
64| Kegelapan Ruangan
70
65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71
66| Melanjutkan Pelariannya
72
67| Siapa Kamu ?
73
68| Dia merunduk dan bersembunyi
74
69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75
70| Kakak, aku merindukanmu
76
71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77
72| Menyusun Rencana
78
73| Ponsel berdering.
79
74| Mereka tenggelam dalam momen
80
75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81
76| Permainan Bayangan
82
77| Bayangan di Antara Kita
83
78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84
79| Titik Balik Penangkapan
85
80| Menguak Tabir Kegelapan
86
81| Menelusuri Jejak Orakel
87
82| Perjalanan waktu
88
pengumuman
89
83| Rumah
90
84| Simpul Putus
91
85| Luka yang Tak Terhapuskan
92
86| Tidak Percaya
93
87| Merasa dikhianati
94
88| Tanpa Pilihan
95
89| Bercerita (Bagian 1)
96
90| Bercerita (Bagian 2)
97
91| Bercerita (Bagian 3)
98
92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99
93| Mencoba mengakses data

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!