10I Gebetan

Davira melihat film yang sedang di putar. Film ini adalah film kesukaannya dengan popcorn yang menemaninya di sebelah kanan tangan. Matanya hanya fokus ke layar tv.  Seseorang duduk tepat di samping. Sambil meletakan minuman soda di atas meja.

“Wah dibawain minuman soda” Kata Davira dengan senang, hendak mengambil minuman kaleng tersebut. Dengan cepat Arka sudah membukanya dan meminum soda tersebut.

“Yah dasar pelit” dengan muka sebal ia masih fokus dengan layar tv.

“Sanah pulang sudah malam” ia berbicara tanpa melirik kearah Davira.

“Bentar lagi.  Tanggung filmnya belum kelar” ia mengambil popcorn dan langsung di masukan ke dalam mulutnya.

“Bisa di teruskan besok filmnya.  Engga baik anak cewek di sini” ia melihat Davira masih serius  dengan filmnya.

“Bentar lagi tiga puluh menit lagi filmnya selesai” arka mengambil remote tv ia langsung mematikan tvnya dengan sepihak.

“Yahh..  Kenapa di matiin” ia kesal,  Davira memandang Arka dengan tatapan membunuh.

“Sanah balik” dengan wajah ketus.

“Kalau lo masih di sini gue engga bisa fokus” ia berbicara dalam hati sambil melihat Davira.

“Dasar pelit” ia langsung melangkah keluar membuka pintu apartemen Arka.  Ia langsung masuk ke tempat di sebelah Apartemen Arka.

Ia sekarang tinggal bersebelahan dengan Arka. Kemarin mereka mencari kosan buat Davira banyak yang tidak cocok. Bukan karena tidak bagus. Tapi karena cowok yang over banget. Bilangnya engga aman.  Katanya kosannya bagus tapi lingkungannya engga bagus.

Jadinya Davira terdampar di sebelah apartemen Arka. Tapi sekarang dianya cuek bebek. Dasar cowok labil.

Ia memandang kesal sambil membantingkan badannya di atas kasur. Ia menarik boneka beruang warna putih. Ia pegang di depannya sambil melihat marah ke boneka tersebut.

“Untung suka kalau engga udah gue pites-pites “ia memukul-mukul boneka pemberian Arka untuk kelulusannya.

“kesel-kesel. Kapan Arka peka” ia masih memukuli boneka tersebut.

Ia membalikkan badan langsung tentang melihat langit-langit kamar. Seketika mata ini terasa lelah dan juga sangat ngantuk.  Ia tertidur sambil memeluk boneka yang dari Arka.

***

Ia masih tidur di atas kasur rasa enggan untuk bangun dari tempat tidur. Rasa kantuk itu menyerang dan apa lagi alarm jam sudah berbunyi. Dengan mata masih terpejam ia berusaha melihat jam yang menunjukan pukul lima subuh.

Ia memaksakan diri untuk bangun dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Berjalannya waktu jam terus berputar dari jam tersebut menunjukan pukul lima subuh sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.

Ia mendengar suara dari ponselnya yang bergetar.  Melihat siapa yang telepon.  Tebakan Davira selalu benar pasti seorang Arka Dirgantara yang menelepon ya.

“Ada apa?” dengan suara ketus mengingat kejadian semalem.  Yang membuat Davira kesal.

“Udah bangun toh” dengan suara meledek.

“Bisa engga, engga pake suara meledek.  Iya-iya gue udah bangun.  Emang kenapa? ” ia merapikan buku ke dalam tasnya.

“Perubahan bagus” iya hanya ketawa di seberang telepon.

“Ceritanya ngeledek”

“Tumben aja bisa bangun pagi”

“Berisi lo” ia berjalan menuju pintu Apartemennya.

Saat membuka pintu ia melihat Arka sudah ada di depan pintu sambil ponselnya menempel di telinga.

“Ngapain?” ia masih menempelkan ponselnya di telinga . Ia memandang Arka dengan wajah sebal.

“Mau di anter kuliahnya engga?” Arka mematikan sambungan ponselnya.

“Engga” Davira langsung ke inti pembicaraan. Ia melangkah melewati Arka yang masih mematung di depan pintu.

Tadinya mau marahan lama tapi rasa marah itu hilang saat Arka terus mengikuti Davira dari belakang. Saat di lift Arka hanya memandang wajah Davira tanpa mengalihkan pandangannya. Membuat Davira risih.

Kenapa sih nih orang lama-lama mulai sengklek. Dengan reflek Davira menutup wajahnya dengan ke dua tanganya.

“Engga usah liat kaya gitu” Davira langsung melepaskan tangannya.  Untung di dalam lift hanya ada mereka  berdua kalau engga Davira tambah malu di lihat orang lain.

“Abis... marahnya kelamaan”

Pintu lift terbuka di parkiran Mobil.  Dengan sigap Davira keluar tanpa melihat Arka yang masih mematung di sana.

“Mau ganterkan? Cepat  nanti gue telat” ia melihat Arka yang masih di dalam lift.

“siap” dengan suara tegas. Kakinya melangkah keluar dan langsung menuju ke mobilnya. Davira hanya mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua masuk mobil.  Arka menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya ke kampus Davira.

Di dalam mobil Davira menyalakan musik.  Tanpa aba-aba ia nyanyi mengikuti alunan musik. Arka sudah terbiasa dengan abstraknya seorang Davira.

Membuat Arka melengkungkan sebuah senyuman di bibirnya. Tanpa mempedulikan Arka yang ada di sebelahnya ia menyanyi dengan suara cukup keras. Kadang Arka juga suka marah-marah karena nyanyi engga tau tempat.

Hanya butuh lima belas menit untuk samapi ke kampus. Mobil Arka berhenti tepat di gerbang kampus. Ia turun dari mobil Arka.  Ia membuka jendela untuk bisa melihat Davira lekat.

“Hati-hati nyetir nya” ia berbicara ke arah Arka.

“Pulang gue jemput” Davira hanya mengangguk menanggapi semua perkataan Arka.

“Hei Vira” Ley berteriak dengan lantang nya. Davira melihat kearah belakang. Kila dan juga Ley sedang menyebrang untuk menghampiri Davira.

Davira hanya melambaikan tangannya kepada kedua temannya. Ia langsung melihat lagi kearah Arka yang masih memandangnya.

“Gue duluan. Jangan centil depan cowok” ia menyalakan mesin mobilnya.

“Apaan sih. Udah sana” mobil Arka sudah menghilang dari pandangannya. Ley merangkul pundak Davira.

“Siapa tuh. Ganteng banget” Ley berbicara sambil melihat muka Davira.  Ia melepaskan tangannya dari pundak Davira.

“Ahh itu.. “ ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“pacar lo!!” kila berteriak cukup keras.

“bukan! “kata Davira tegas.

“Terus..?” kata Ley mulai kepo.

“Itu nanti gue ceritain. Yang paling penting kita kesiangan!! ” ia melihat jam tangan menujukan pukul tujuh tiga puluh. Apalagi jarak antara gerbang kampus sampai kelas cukup jauh.

“Mati!!” Ley berteriak sambil berlari.  Davira dan Kila mulai ikut berlari mengikuti Ley yang berlari sangat cepat.

Mereka masih berlari menyusuri koridor.  “Ley tunggu” mereka berdua berteriak berbarengan.

Ley mulai berhenti berlari.  Ia melihat kedua temannya yang menari napas dalam-dalam.

“Kita harus cepet kalau engga harus nyanyi di depan kelas. Hanya karna kesiangan”

“lo jangan bohong Ley. Mana mungkin hukumannya kaya gitu”  kata Davira.

“Gue serius. Itu kata gosip yang gue denger tentang dosen ini”

“Gosip mulu!” Kila berlari melewati Ley.

Mereka mulai ikut berlari saat sampai di depan pintu.  Anak-anak masih ngobrol dan satu yang penting dosen tersebut belum dateng.  Mereka bertiga menghembuskan napas lega.

Mereka bertiga duduk tepat di barisan kedua.

Dengan wajah cape habis lari karena mereka telat. Tapi ternyata dosennya belum dateng.  Membuat hati mereka tenang.

“Untung dosennya belum dateng” kata Ley.

Waktu terus berjalan. Sekarang sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh menit.  Dosen tersebut belum juga datang. Karena ia mengabarkan kalau dia ada urusan yang tidak bisa di wakil kan jadinya tidak hadir dalam kuliah hari ini.

Anak-anak kelas sudah ada yang keluar kelas hanya untuk ke kantin.  Kuliah kedua dimulai dari jam sembilan lebih tiga puluh menit. Kita juga memutuskan untuk ke kantin.  Apa lagi Davira belum sempat sarapan tadi pagi.

Mereka sudah duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan. Menunggu pesanan datang Davira menaikan ponselnya.

“Ohh iya.  Yang tadi tentang cowok yang nganterin lo ke kampus” Ley mulai menyelidiki Davira.

“Lo inget aja” kata Davira dengan suara meledek.

“apa sih yang Ley engga ingat” kata Kila.

“Gue aja bingung dia itu siap” ia meletakan ponselnya di atas meja.  Ia mulai bercerita serius.

“Abang grab? “kata Ley dengan suara yang polos.

Davira hanya tertawa mendengar pertanyaan Ley.  Masa Arka tukang Grab. Ley mulai bingung dengan tanggapan Davira yang tertawa lepas.

“Ada yang salah ya? “kata Ley polos.

“Pantes sih dia jadi tukang grab” kata Davira. Dia hanya bisa tertawa

“Jadi bener pacar?“ Kila mulai menyelidiki Davira. Ia mulai berhenti tertawa.

“Bisa di bilang gebetan”

“Gila! Gue juga mau nyari satu kaya gitu” ia memasang muka polos membuat Kila jengkel di buatnya.

“Sadar Ley” sambil megang jidat Ley.  Membuat Ley menurunkan tangan Kila dari jidat nya.

“Bercanda kali” ia hanya cengengesan.

Makanan merekapun datang. Mereka hanya fokus dengan makanan masing-masing. Hentah kenapa Davira merasa risih seperti ada yang melihat dia.  Matanya mulai meliat ke sekeliling kantin. Engga ada yang melihat dia.  Apa ini hanya perasaan doang atau emang ada yang melihat dia?.

“Kenapa Vira?”kata kila melihat muka Davira yang melihat ke sekeliling kantin.

“Engga ada apa-apa ko. Itu Cuma perasaan gue aja” ia langsung melanjutkan makannya.

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

jngn...jngn...ada sesuatuu...kabooorrr../Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2025-02-10

1

Lela Lela

Lela Lela

wualah takut

2023-08-19

0

lihat semua
Episodes
1 1| Takdir yang Sial
2 2| Kilauan Agresif
3 3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4 4| Kilas Senyum Bahagia
5 5| Perubahan
6 6| Baru awal perubahan
7 7| Belajar
8 8I Berakhirnya Masa Sma
9 9I Awal yang baru
10 10I Gebetan
11 11| Mendekati
12 12I Menyelinap
13 13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14 14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15 15| Kencan pertama part 1
16 16| Kencan pertama part 2
17 17| Kencan pertama part 3
18 18| Misi
19 19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20 20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21 21| Satu hari sebelum misi
22 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24 22| Menyamar
25 23| Tuan muda Hans misterius
26 24| Kita hanya teman
27 25| Ibu?
28 26| Melawan Trauma
29 27| Dua Mayat Anak Kecil
30 Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31 Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32 Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33 28| Dia sangat merindukannya
34 29| kota H saya datang
35 30| Rumah Nenek
36 31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37 32| Bertarung dengan Rasa Takut
38 33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39 34| Rencana yang Berisiko
40 35| Ketegangan
41 36| Momen Keputusan yang Sulit
42 37| Pencarian Putus Asa
43 38| Pesan Terakhir
44 39| Tidak Mungkin
45 40| Surat untuk Davira
46 41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47 42| Menangis dalam Kegelapan
48 Update setiap hari!
49 43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50 45| Penerbangan ke Negara N.
51 46| Namun, hidup terus berjalan.
52 47| Arka, aku kembali
53 48| Rutinitas Kuliahnya.
54 49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55 50| Pria itu membuka komputer
56 51| Kedipan Merah
57 52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58 53| Kotak-kotak berisi karya
59 54| Dr. X
60 55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61 56| Artful Essence Gallery
62 57| Pameran dimulai
63 58| Koridor Lantai Dua
64 59| Rasa Penasaran
65 60| Dalam Keheningan.
66 61| Sampai jumpa
67 62| Davira, di mana kamu?
68 63| mengetik kode-kode yang rumit
69 64| Kegelapan Ruangan
70 65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71 66| Melanjutkan Pelariannya
72 67| Siapa Kamu ?
73 68| Dia merunduk dan bersembunyi
74 69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75 70| Kakak, aku merindukanmu
76 71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77 72| Menyusun Rencana
78 73| Ponsel berdering.
79 74| Mereka tenggelam dalam momen
80 75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81 76| Permainan Bayangan
82 77| Bayangan di Antara Kita
83 78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84 79| Titik Balik Penangkapan
85 80| Menguak Tabir Kegelapan
86 81| Menelusuri Jejak Orakel
87 82| Perjalanan waktu
88 pengumuman
89 83| Rumah
90 84| Simpul Putus
91 85| Luka yang Tak Terhapuskan
92 86| Tidak Percaya
93 87| Merasa dikhianati
94 88| Tanpa Pilihan
95 89| Bercerita (Bagian 1)
96 90| Bercerita (Bagian 2)
97 91| Bercerita (Bagian 3)
98 92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99 93| Mencoba mengakses data
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1| Takdir yang Sial
2
2| Kilauan Agresif
3
3| Gelombang Emosi yang Tak Terkendali
4
4| Kilas Senyum Bahagia
5
5| Perubahan
6
6| Baru awal perubahan
7
7| Belajar
8
8I Berakhirnya Masa Sma
9
9I Awal yang baru
10
10I Gebetan
11
11| Mendekati
12
12I Menyelinap
13
13I Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 1)
14
14| Pesan Terpendam yang Terucap (Bagian 2)
15
15| Kencan pertama part 1
16
16| Kencan pertama part 2
17
17| Kencan pertama part 3
18
18| Misi
19
19| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 1
20
20| Ingatan Kelam yang ingin dia lupakan part 2
21
21| Satu hari sebelum misi
22
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
23
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
24
22| Menyamar
25
23| Tuan muda Hans misterius
26
24| Kita hanya teman
27
25| Ibu?
28
26| Melawan Trauma
29
27| Dua Mayat Anak Kecil
30
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
31
Story Flashback 2 [Pertemuan pertama]
32
Story Flashback 3 [Pertemuan pertama]
33
28| Dia sangat merindukannya
34
29| kota H saya datang
35
30| Rumah Nenek
36
31| Dia tidak tau sama sekali tentang Arka
37
32| Bertarung dengan Rasa Takut
38
33| Pencarian Identitas yang Sebenarnya
39
34| Rencana yang Berisiko
40
35| Ketegangan
41
36| Momen Keputusan yang Sulit
42
37| Pencarian Putus Asa
43
38| Pesan Terakhir
44
39| Tidak Mungkin
45
40| Surat untuk Davira
46
41| Ketidakpercayaan yang Melanda
47
42| Menangis dalam Kegelapan
48
Update setiap hari!
49
43| Hana merasakan puas telah menghina Tante Fiona.
50
45| Penerbangan ke Negara N.
51
46| Namun, hidup terus berjalan.
52
47| Arka, aku kembali
53
48| Rutinitas Kuliahnya.
54
49| Menyewa Seorang Detektif Swasta
55
50| Pria itu membuka komputer
56
51| Kedipan Merah
57
52| Waktu Seolah-olah Terbatas
58
53| Kotak-kotak berisi karya
59
54| Dr. X
60
55| Adrenalin Kembali ke Waktu Itu
61
56| Artful Essence Gallery
62
57| Pameran dimulai
63
58| Koridor Lantai Dua
64
59| Rasa Penasaran
65
60| Dalam Keheningan.
66
61| Sampai jumpa
67
62| Davira, di mana kamu?
68
63| mengetik kode-kode yang rumit
69
64| Kegelapan Ruangan
70
65| Memperhatikan Setiap Gerakan
71
66| Melanjutkan Pelariannya
72
67| Siapa Kamu ?
73
68| Dia merunduk dan bersembunyi
74
69| Tembakku tidak meleset, bukan?
75
70| Kakak, aku merindukanmu
76
71| Jace. Kami mendekati lokasinya.
77
72| Menyusun Rencana
78
73| Ponsel berdering.
79
74| Mereka tenggelam dalam momen
80
75| Melacak Dr. X: Pergulatan Melawan Waktu
81
76| Permainan Bayangan
82
77| Bayangan di Antara Kita
83
78| Seminggu sebelum penangkapan Dr. X
84
79| Titik Balik Penangkapan
85
80| Menguak Tabir Kegelapan
86
81| Menelusuri Jejak Orakel
87
82| Perjalanan waktu
88
pengumuman
89
83| Rumah
90
84| Simpul Putus
91
85| Luka yang Tak Terhapuskan
92
86| Tidak Percaya
93
87| Merasa dikhianati
94
88| Tanpa Pilihan
95
89| Bercerita (Bagian 1)
96
90| Bercerita (Bagian 2)
97
91| Bercerita (Bagian 3)
98
92| Mata gadis kecil itu terasa familiar
99
93| Mencoba mengakses data

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!