Davira melihat film yang sedang di putar. Film ini adalah film kesukaannya dengan popcorn yang menemaninya di sebelah kanan tangan. Matanya hanya fokus ke layar tv. Seseorang duduk tepat di samping. Sambil meletakan minuman soda di atas meja.
“Wah dibawain minuman soda” Kata Davira dengan senang, hendak mengambil minuman kaleng tersebut. Dengan cepat Arka sudah membukanya dan meminum soda tersebut.
“Yah dasar pelit” dengan muka sebal ia masih fokus dengan layar tv.
“Sanah pulang sudah malam” ia berbicara tanpa melirik kearah Davira.
“Bentar lagi. Tanggung filmnya belum kelar” ia mengambil popcorn dan langsung di masukan ke dalam mulutnya.
“Bisa di teruskan besok filmnya. Engga baik anak cewek di sini” ia melihat Davira masih serius dengan filmnya.
“Bentar lagi tiga puluh menit lagi filmnya selesai” arka mengambil remote tv ia langsung mematikan tvnya dengan sepihak.
“Yahh.. Kenapa di matiin” ia kesal, Davira memandang Arka dengan tatapan membunuh.
“Sanah balik” dengan wajah ketus.
“Kalau lo masih di sini gue engga bisa fokus” ia berbicara dalam hati sambil melihat Davira.
“Dasar pelit” ia langsung melangkah keluar membuka pintu apartemen Arka. Ia langsung masuk ke tempat di sebelah Apartemen Arka.
Ia sekarang tinggal bersebelahan dengan Arka. Kemarin mereka mencari kosan buat Davira banyak yang tidak cocok. Bukan karena tidak bagus. Tapi karena cowok yang over banget. Bilangnya engga aman. Katanya kosannya bagus tapi lingkungannya engga bagus.
Jadinya Davira terdampar di sebelah apartemen Arka. Tapi sekarang dianya cuek bebek. Dasar cowok labil.
Ia memandang kesal sambil membantingkan badannya di atas kasur. Ia menarik boneka beruang warna putih. Ia pegang di depannya sambil melihat marah ke boneka tersebut.
“Untung suka kalau engga udah gue pites-pites “ia memukul-mukul boneka pemberian Arka untuk kelulusannya.
“kesel-kesel. Kapan Arka peka” ia masih memukuli boneka tersebut.
Ia membalikkan badan langsung tentang melihat langit-langit kamar. Seketika mata ini terasa lelah dan juga sangat ngantuk. Ia tertidur sambil memeluk boneka yang dari Arka.
***
Ia masih tidur di atas kasur rasa enggan untuk bangun dari tempat tidur. Rasa kantuk itu menyerang dan apa lagi alarm jam sudah berbunyi. Dengan mata masih terpejam ia berusaha melihat jam yang menunjukan pukul lima subuh.
Ia memaksakan diri untuk bangun dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Berjalannya waktu jam terus berputar dari jam tersebut menunjukan pukul lima subuh sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
Ia mendengar suara dari ponselnya yang bergetar. Melihat siapa yang telepon. Tebakan Davira selalu benar pasti seorang Arka Dirgantara yang menelepon ya.
“Ada apa?” dengan suara ketus mengingat kejadian semalem. Yang membuat Davira kesal.
“Udah bangun toh” dengan suara meledek.
“Bisa engga, engga pake suara meledek. Iya-iya gue udah bangun. Emang kenapa? ” ia merapikan buku ke dalam tasnya.
“Perubahan bagus” iya hanya ketawa di seberang telepon.
“Ceritanya ngeledek”
“Tumben aja bisa bangun pagi”
“Berisi lo” ia berjalan menuju pintu Apartemennya.
Saat membuka pintu ia melihat Arka sudah ada di depan pintu sambil ponselnya menempel di telinga.
“Ngapain?” ia masih menempelkan ponselnya di telinga . Ia memandang Arka dengan wajah sebal.
“Mau di anter kuliahnya engga?” Arka mematikan sambungan ponselnya.
“Engga” Davira langsung ke inti pembicaraan. Ia melangkah melewati Arka yang masih mematung di depan pintu.
Tadinya mau marahan lama tapi rasa marah itu hilang saat Arka terus mengikuti Davira dari belakang. Saat di lift Arka hanya memandang wajah Davira tanpa mengalihkan pandangannya. Membuat Davira risih.
Kenapa sih nih orang lama-lama mulai sengklek. Dengan reflek Davira menutup wajahnya dengan ke dua tanganya.
“Engga usah liat kaya gitu” Davira langsung melepaskan tangannya. Untung di dalam lift hanya ada mereka berdua kalau engga Davira tambah malu di lihat orang lain.
“Abis... marahnya kelamaan”
Pintu lift terbuka di parkiran Mobil. Dengan sigap Davira keluar tanpa melihat Arka yang masih mematung di sana.
“Mau ganterkan? Cepat nanti gue telat” ia melihat Arka yang masih di dalam lift.
“siap” dengan suara tegas. Kakinya melangkah keluar dan langsung menuju ke mobilnya. Davira hanya mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua masuk mobil. Arka menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya ke kampus Davira.
Di dalam mobil Davira menyalakan musik. Tanpa aba-aba ia nyanyi mengikuti alunan musik. Arka sudah terbiasa dengan abstraknya seorang Davira.
Membuat Arka melengkungkan sebuah senyuman di bibirnya. Tanpa mempedulikan Arka yang ada di sebelahnya ia menyanyi dengan suara cukup keras. Kadang Arka juga suka marah-marah karena nyanyi engga tau tempat.
Hanya butuh lima belas menit untuk samapi ke kampus. Mobil Arka berhenti tepat di gerbang kampus. Ia turun dari mobil Arka. Ia membuka jendela untuk bisa melihat Davira lekat.
“Hati-hati nyetir nya” ia berbicara ke arah Arka.
“Pulang gue jemput” Davira hanya mengangguk menanggapi semua perkataan Arka.
“Hei Vira” Ley berteriak dengan lantang nya. Davira melihat kearah belakang. Kila dan juga Ley sedang menyebrang untuk menghampiri Davira.
Davira hanya melambaikan tangannya kepada kedua temannya. Ia langsung melihat lagi kearah Arka yang masih memandangnya.
“Gue duluan. Jangan centil depan cowok” ia menyalakan mesin mobilnya.
“Apaan sih. Udah sana” mobil Arka sudah menghilang dari pandangannya. Ley merangkul pundak Davira.
“Siapa tuh. Ganteng banget” Ley berbicara sambil melihat muka Davira. Ia melepaskan tangannya dari pundak Davira.
“Ahh itu.. “ ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“pacar lo!!” kila berteriak cukup keras.
“bukan! “kata Davira tegas.
“Terus..?” kata Ley mulai kepo.
“Itu nanti gue ceritain. Yang paling penting kita kesiangan!! ” ia melihat jam tangan menujukan pukul tujuh tiga puluh. Apalagi jarak antara gerbang kampus sampai kelas cukup jauh.
“Mati!!” Ley berteriak sambil berlari. Davira dan Kila mulai ikut berlari mengikuti Ley yang berlari sangat cepat.
Mereka masih berlari menyusuri koridor. “Ley tunggu” mereka berdua berteriak berbarengan.
Ley mulai berhenti berlari. Ia melihat kedua temannya yang menari napas dalam-dalam.
“Kita harus cepet kalau engga harus nyanyi di depan kelas. Hanya karna kesiangan”
“lo jangan bohong Ley. Mana mungkin hukumannya kaya gitu” kata Davira.
“Gue serius. Itu kata gosip yang gue denger tentang dosen ini”
“Gosip mulu!” Kila berlari melewati Ley.
Mereka mulai ikut berlari saat sampai di depan pintu. Anak-anak masih ngobrol dan satu yang penting dosen tersebut belum dateng. Mereka bertiga menghembuskan napas lega.
Mereka bertiga duduk tepat di barisan kedua.
Dengan wajah cape habis lari karena mereka telat. Tapi ternyata dosennya belum dateng. Membuat hati mereka tenang.
“Untung dosennya belum dateng” kata Ley.
Waktu terus berjalan. Sekarang sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh menit. Dosen tersebut belum juga datang. Karena ia mengabarkan kalau dia ada urusan yang tidak bisa di wakil kan jadinya tidak hadir dalam kuliah hari ini.
Anak-anak kelas sudah ada yang keluar kelas hanya untuk ke kantin. Kuliah kedua dimulai dari jam sembilan lebih tiga puluh menit. Kita juga memutuskan untuk ke kantin. Apa lagi Davira belum sempat sarapan tadi pagi.
Mereka sudah duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan. Menunggu pesanan datang Davira menaikan ponselnya.
“Ohh iya. Yang tadi tentang cowok yang nganterin lo ke kampus” Ley mulai menyelidiki Davira.
“Lo inget aja” kata Davira dengan suara meledek.
“apa sih yang Ley engga ingat” kata Kila.
“Gue aja bingung dia itu siap” ia meletakan ponselnya di atas meja. Ia mulai bercerita serius.
“Abang grab? “kata Ley dengan suara yang polos.
Davira hanya tertawa mendengar pertanyaan Ley. Masa Arka tukang Grab. Ley mulai bingung dengan tanggapan Davira yang tertawa lepas.
“Ada yang salah ya? “kata Ley polos.
“Pantes sih dia jadi tukang grab” kata Davira. Dia hanya bisa tertawa
“Jadi bener pacar?“ Kila mulai menyelidiki Davira. Ia mulai berhenti tertawa.
“Bisa di bilang gebetan”
“Gila! Gue juga mau nyari satu kaya gitu” ia memasang muka polos membuat Kila jengkel di buatnya.
“Sadar Ley” sambil megang jidat Ley. Membuat Ley menurunkan tangan Kila dari jidat nya.
“Bercanda kali” ia hanya cengengesan.
Makanan merekapun datang. Mereka hanya fokus dengan makanan masing-masing. Hentah kenapa Davira merasa risih seperti ada yang melihat dia. Matanya mulai meliat ke sekeliling kantin. Engga ada yang melihat dia. Apa ini hanya perasaan doang atau emang ada yang melihat dia?.
“Kenapa Vira?”kata kila melihat muka Davira yang melihat ke sekeliling kantin.
“Engga ada apa-apa ko. Itu Cuma perasaan gue aja” ia langsung melanjutkan makannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Erina Munir
jngn...jngn...ada sesuatuu...kabooorrr../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-02-10
1
Lela Lela
wualah takut
2023-08-19
0