Waktu cepat berlalu, tak terasa sejak kejadian aku bertemu dengan Mas Dery di cafe waktu itu, ia sama sekali tak pernah menghubungi aku lagi atau meminta ku kembali padanya.
Sudah satu minggu, dan mungkin sebentar lagi surat panggilan sidang itu akan segera tiba.
Anak-anak juga sudah terbiasa dengan tidak ada nya Mas Dery disisi kami. Mereka terlihat bahagia.. Tapi aku tidak tahu apa yang ada didalam hati mereka.
Pagi ini.. Aku berangkat ke butik pagi, rencana nya weekend besok aku akan mengajak anak-anak ku mengunjungi toko ku yang lain di luar kota.
“Pagi Bu.. Ada surat untuk Ibu!” ucap Ika salah satu karyawan di sana. Ika langsung memberikan nya padaku, kulihat sampulnya bertuliskan dari pengadilan agama, sepertinya sidang pertama akan segera tiba..
jadwalnya besok!
Aku langsung menghubungi Rubina untuk memberi tahu nya kalau besok jadwal sidang yang pertama.
Setelah memberitahu Rubi, aku langsung menyender kan tubuhku pada kursi disana.
Nyata nya kau baik-baik saja tanpa ku mas.. Kau bahkan tidak merasa kehilangan, besok langkah awal perpisahan kita, semoga aku kuat dan bisa melanjutkan hidup ku.
Braak!
Tiba-tiba aku mendengar suara ruangan ku dibuka paksa. Kulihat Mas Dery sudah berdiri dihadapan ku dengan penuh amarah. Mata nya merah dan serta nafas nya terdengar sangat kasar.
“Apa-apaan sih kamu mas?” tanya ku, aku langsung beranjak dan berdiri sangking kaget nya.
“Kamu yang apa-apaan hah! kenapa surat panggilan pengadilan ini bisa datang kerumah?” Mas Dery melempar surat itu dihadapan ku.
“Apalagi? ya itu tandanya aku ingin kita berpisah!” jawab ku ketus, kulihat Renata sudah berdiri dibelakang suami ku, entah kapan dia hadir, bahkan saat ia menghampiriku pun mas Dery harus membawa dia!
Mas Dery datang mendekat lalu mencekal tanganku dengan saat kuat.
“Aku sudah bilang, aku tidak ingin berpisah dengan mu Alin! kau dengar hah!!”
“Lalu aku dipaksa untuk lapang hati menerima Renata?”
“Iya! apa susah nya.. Renata saja bisa menerima kamu!” jawab nya enteng, Renata yang berdiri disisi belakang Mas Sery tersenyum kecut.
“Dia bisa menerima karena saat ini posisi nya dia lah biang masalah kita, dia yang kamu cintai mas!! aku sudah membebaskan mu untuk hidup berdua saja dengannya , lalu kenapa kau masih mempersulit aku???”
“Lin aku tidak ingin rumah tanggaku berantakan, aku hanya minta pengertian mu, itu saja!”
“Pengertian yang mana? pengertian kalau kau menikah lagi? memang gak waras kamu mas!”
“Mbak.. Tolong lah.. Mas Dery tidak ingin berpisah dengan anak-anak kalian, aku gak sanggup kalau melihat Mas Dery terus-terusan murung, aku gak tega..” Imbuh Renata, dasar... Mereka berdua sama saja, sok bijak menasehati, padahal dia sumber masalah nya.
Rasanya aku semakin geram dibuat nya.
“Tapi kau tega menghancurkan rumah tangga ku Renata!”
“Alin! jaga ucapan mu!” teriak mas Dery membela istri kedua nya.
Aku menarik nafasku dalam, berulang kali aku istighfar didalam hati agar tak kelewatan dalam bicara menghadapi mereka berdua, rasanya aku hampir hilang kendali,
“Mas, andai saja kau merasakan sakit yang kau berikan padaku.. Aku yakin kau sendiri gak mampu untuk bertahan... Andai saja.. Semua yang kau lakukan itu bisa ku kembalikan padamu, mungkin kau baru akan tahu rasa sakit nya.
Tapi aku gak akan lakuin itu.. Aku lebih memilih pergi saja dari hidup mu.. Memilih pergi dari belenggu hubungan yang menyakitkan ini..
Dulu.. Aku sekuat hati mempertahankan semua nya, aku masih mencoba menilik apa salah ku.. apa yang kurang dari ku hingga kau tak peduli lagi...
Tapi semua itu bukan salah ku.. Kau yang tidak puas dan tidak bisa menundukkan pandangan mu untuk wanita lain..
Jadi tolong bebaskan aku! jangan usik aku lagi!”
Mas Dery bergeming, kulihat ia mulai menundukkan wajah nya, setelah itu ia menatap ku dengan lekat.
“Mbak.. Mas Dery ini suami mu.. Kenapa kau seberani itu?” Aku kembali menatap Renata dengan sorot mata yang tajam, tidakkah Renata ini memahami perasaan ku sebagai sesama perempuan.
“Dulu aku selalu taat padanya, aku siapkan segala keperluan nya.. Tampil cantik dihadapan nya, tapi nyata nya semua itu tidak cukup, dia tetap berjalan menjauh dariku.. Dan kini semakin jauh, bahkan dia lupa arah untuk pulang, karna dia sudah menemukan persinggahan baru.. Lantas apa yang harus aku pertahan kan lagi? Aku dan anak-anak butuh perhatiannya, tapi kau rebut semua nya Re.. Bahkan mas Dery memberikan perhatian pada anak mu kan? sedangkan anak kami ia abaikan!” Aku sudah tidak sanggup untuk tidak meneteskan air mata, kini semua itu luruh minta didengarkan, bukan ingin kembali.. Hanya ingin mengeluarkan semua beban yang selama ini aku tahan.
Mata mas Dery berkaca-kaca, ia ingin memeluk ku, namun tangannya ditahan Renata!
Aku tertawa kecil disela tangis ku melihat pemandangan itu, lucu sekali.. Seakan aku lah orang ketiga diantara mereka.
“Alin.. Mas Mohon.. Mas akan perbaiki semuanya.. Mas akan adil pada kalian..”
“Udah sih mas, dia begitu sombong.. Dia merasa mampu berdiri sendiri tanpa kamu disamping nya.. Jadi untuk apa kamu mengiba seperti ini, kamu laki-laki mas... Jangan rendahkan harga diri mu dihadapan perempuan ini,”
“Kamu dengarkan kan mas.. Jadi silahkan kalian berdua pergi dari sini!” aku berbalik membelakangi mereka berdua, rasanya kenapa begitu sakit..
“Alin... Aku tidak akan tinggal diam saja, saat persidangan besok, aku akan bilang jika aku masih menyayangi kamu! aku tidak ingin berpisah!” kudengar langkah kaki mereka sudah menjauh pergi.
Aku langsung merosot jatuh kelantai, aku menangis sejadi-jadinya... Sampai Nisa dan Ika datang keruangan ku dengan tergesa.
“Ibu gak apa-apa?” aku tak menyahuti ucapan nya.. aku masih terhanyut dalam tangisan ku yang rasa nya teramat sakit, kenapa... Semua ini harus terjadi padaku?
Pernikahan ku yang sudah menginjak 15 tahun harus kandas seperti ini, Mas Dery.. Kau tega sekali mas..
“Ibu harus kuat.. Ingat Bu.. Masih ada Rafa dan Rafi yang butuh Ibu.. Kalau Ibu serapuh ini, bagaimana dengan mereka?” kata-kata Nisa mampu mengehentikan tangisan ku.
Dia benar, bukankah aku sudah berjanji tidak menangis.. Bukan kah aku menginginkan Lepas dari mas Dery dengan cepat?
Aku harus bisa menata perasaan ku, agar tak berputar pada hubungan seperti ini..
“Ini Bu diminum dulu..” Nisa menyodorkan minum padaku, aku mengambil nya dan langsung meminumnya.
“Maaf Nis.. Saya..”
“Gak apa-apa bu.. Manusiawi kalau kita sedih.. Apalagi dengan apa yang ibu alami.. Tapi kita jangan lupa sama yang memberikan takdir, dia tahu mana yang terbaik.. Untuk hidup Ibu, dan masa depan Ibu nantinya!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
May Keisya
aku nyanyi bacanya😂
2024-12-22
0
yoongi kocheng
andai rasa dihati tak sedalam ini mas, dari dulu udah aku tinggalkan, cinta yang ku miliki tak bisa kau bandingkan mas, rugilah engkau karna memilih dia mas inget itu.
nyanyi juga akhirnya.
2024-07-26
4
Vina Eka Wahyuni
jalang kok bangga GK th diri tu Renata lhat aja karma di bayar kontan
2024-06-12
2