Dery bangun dari tidur nya pukul 5.30 pagi.. Biasanya Alin istrinya akan membangunkan dirinya untuk shalat subuh, namun seperti nya Alin masih marah soal kejadian semalam, saat dia mengakui jika selama ini ia sudah membagi cinta dengan wanita lain.
Ia bergegas masuk ke kamar mandi menunaikan shalat subuh meski sudah terlewat, ia melirik ke arah tempat tidur nya, tempat yang biasa Alin tiduri masih rapi, bahkan bantalnya belum bergeser.
’Apa dia masih dikamar anak-anak?’ pikir Dery, gegas Dery menuju lemari pakaian untuk mengambil setelan jas plus kemeja nya, biasa nya Alin sudah menyediakan nya, lengkap dengan kaos kaki, dasi dan juga sapu tangan..
Tapi kali ini.. ’Jadi begini rasa nya dicuekin istri.’ batinnya lagi.
Dery turun ke ruangan makan, namun disana sepi.. Padahal masih jam 6.15.. Biasanya Alin dan anak-anak sudah riuh disana menikmati sarapan mereka.. Tapi kenapa mereka tidak ada..
“Alin..." panggil Dery memecah kesunyian.
Hening... tak ada jawaban sama sekali.
“Rafa! Rafi!”
Hening.. Tak ada juga jawaban dari anak-anaknya.
Dery sudah hilang akal begitu menyadari jika Alin dan anak-anak nya sudah pergi..
Beberapa kali ia mencoba menghubungi istrinya, namun tak ada jawaban juga..
'Kemana kamu Lin.. Semarah itukah kamu sama mas? Apa susah nya kau menerima Renata menjadi adik madumu.. Harusnya kau jangan egois Lin, aku mencintai Renata, tidakkah kau ingin berbakti pada suami mu?' Lirih Dery dalam hati.
****
POV Alin
“Alin..” panggil Rubi sahabat ku.
“Rubi..” Aku menangis di dalam pelukan Rubina, selama ini tak ada tempat aku bersandar, hanya Allah saja tempat aku menumpahkan segala keluh kesah ku selama ini, didunia nyata aku bahkan sudah tidak punya orang tua, mereka sudah lebih dulu meninggalkan ku seorang diri.. Bahkan kakak ku satu-satunya pun ikut meninggalkan aku.
“Kamu yang sabar ya Lin, setiap masalah pasti ada hikmah nya, ada jalan keluar nya.. Kamu harus kuat!”
Kata-kata Rubi memang sedikit memberiku suntikan semangat,ingin rasanya semua yang aku dengar tadi malam adalah mimpi.. Nyata nya tadi malam hal itu benar adanya, kenyataan bahwa Mas Dery menikah lagi benar-benar mengoyak hatiku..
“Apa langkah kamu selanjut nya?” tanya Rubi.
“Entah lah Bi..Aku belum tahu harus apa, mas Dery enggan melepaskan aku, apa aku harus bertahan sedikit lagi? Berharap mas Dery akan kembali mencintaiku?” tanya ku padanya...
Seperti nya Rubi juga bingung menanggapi pertanyaan ku, di satu sisi aku masih begitu sangat mencintai mas Dery, laki-laki yang mempersunting ku 15 tahun yang lalu..
Lika liku hubungan kami pun tak mudah, Papa.. Yang dulu nya terang-terangan menentang hubungan kami, melarang keras agar aku tak menerima lamaran dari seorang Dery ikhsan Dirgantara, bukan soal mas Dery hanya karyawan biasa, namun entah.. Apa yang Papa lihat dari mas Dery hingga dia berasumsi bahwa akan ada jurang dikemudian hari untuk pernikahan ku..
Ternyata sekarang terjawab sudah, bahkan aku menolak lamaran dari keluarga yang terkenal baik agamanya, aku memilih mas Dery..Karena yang aku lihat dia begitu sangat menghormati aku sebagai wanita, dia menjunjung tinggi prinsip untuk bersentuhan setelah halal, wanita mana yang tak merasa beruntung diperlakukan sedemikian rupa..
“Alin.. Aku tak menginginkan mu menjadi pacar ku, tapi.. aku menginginkan kamu menjadi kekasih halal ku, mau kah kamu menikah dengan ku Lin.. Maukah kamu mengarungi bahtera rumah tangga bersama pria biasa seperti ku?
Aku tidak akan menjanjikan untuk membawakan mu segudang emas dan berlian.. Tapi aku akan sekuat tenaga membahagiakan mu.. Kita berlayar bersama menuju syurga nya Allah,” Itulah kata-kata yang sanggup meluluhlantahkan hatiku.. Aku begitu terkesima dengan cara mas Dery meminang ku, manis sekali..
Sampai saat ini ingatan manis itu masih mengiang-ngiang di kepala ku.
Tapi.. Saat aku mengingat kata-kata mas Dery yang sudah menikah lagi dengan cinta pertamanya, membakar paksa kenangan manis yang sampai saat ini masih tersisa di relung hati.
Begitu sakit.. Begitu perih nya.. membayangkan mereka hidup bahagia dengan canda tawa ria..
Sementara aku, berdiam dipojok hati nya menyaksikan semua itu menyiksa batinku..
Enggak.. Aku gak sekuat itu.
“Lin.. Kalau memang kamu gk sanggup, jangan dipaksa, kamu juga berhak bahagia, sama hal nya seperti Dery yang menginginkan Renata ada disisinya demi kebahagiaannya kan?”
Ya.. Rubi benar, mas Dery menginginkan Renata untuk kebahagiannya, aku juga berhak bahagia kan?
“Kamu bener Bi, memang aku gak berniat untuk balik lagi kerumah itu, meskipun Renata gak ada disana, tapi bayang-bayang nya selalu ada .. ”
“Terus kamu bakal gugat Dery?”
“Untuk saat ini aku belum kepikiran, aku masih harus menata hati ku dulu, tapi mungkin cepat atau lambat, semua itu bakal terjadi.”
Rubi mengusap lembut pundakku, ia mencoba menenangkan aku..
“Aku yakin kamu kuat Lin, semangat..”
Aku mengulas senyum untuk nya ,untuk semangat yang sudah dia berikan untuk ku.
“Thanks Bi, kamu emang temen terbaik buat aku, ”
“Pasti.. Oh ya.. Foto-foto kebersamaan Dery dan istri kedua nya jangan dihapus, itu bisa jadi bukti di pengadilan besok kalau kamu mau menggugat Dery!”
“Oke.. ”
“Aku pamit ya.. Kalau butuh telepon aku, Aku on time 24 jam buat kamu!”
Selepas kepergian Rubina dari butik, aku kembali mendudukkan diriku ke sofa, pandangan ku masih tertuju keluar jendela..Sejak semalam suasana masih mendung dan gerimis.. Sama hal nya perasaan ku yang sejak semalam seperti di hantam badai besar.
“Alin!” Panggil seseorang yang suara nya sangat amat aku rindukan setiap hari nya, siapa lagi kalau bukan Mas Dery.
Aku menoleh sebentar kearah nya, wajah nya yang tampan, dengan hidung yang mancung khas wajah orang indonesia, dulu.. wajah itu yang menjadi canduku setiap hari..
Tapi sekarang, wajah itu yang sangat amat aku hindari dan tak ingin aku lihat saat ini.
“Sayang.. Kenapa kau dan anak-anak meninggalkan aku sendirian?”
Sayang? Sudah 6 bulan terakhir aku tidak pernah mendengar kata-kata itu dari bibirnya yang tipis.
“Aku ingin menangkan diri,”
“Tapi gak harus pergi dari rumah kan, apalagi kamu membawa anak-anak.. Kamu tahu gak ada yang bangunin mas buat subuhan, gak ada yang siapin sarapan, gak ada juga yang siapin kebutuhan mas.. Mas Butuh kamu Lin..”
“Bukannya kamu juga punya Renata? Kamu bisa tinggal bersama dengannya kan? Lagian cepat atau lambat juga kita harus terbiasa hidup masing-masing mas,”
“Maksud kamu apa? Mas kan udah bilang, mas gak akan melepaskan kamu, inget anak-anak Lin, kamu jangan bersikap seperti ini!”
Anak-anak katanya? Apa dia juga memikirkan anak-anak saat akan menikah lagi? Apa dia memikirkan anak-anak saat akan membawa orang asing masuk dalam kehidupan rumah tangga kami?
Sungguh sangat egois!
“Anak-anak? Jangan jadikan anak-anak untuk alasannya mas, selama ini apa kamu memikirkan anak-anak saat akan menikah dengan Renata? Apa kamu juga memikirkan anak-anak saat kamu dengan sengaja menjemput seorang anak perempuan dengan bahagia nya di sekolahan yang sama dengan anak kita? Sementara kamu gak melirik sama sekali kalau mereka melihat semua itu?”
Aku tertawa kecil untuk menetralisir kan hati ku yang sudah bergemuruh hebat, ingin rasanya aku cekik manusia dihadapan ku ini..
“Kamu sengaja menyakiti kami mas? Selama ini kamu bahkan tidak pernah ada waktu untuk anak-anak kita, kamu anggap mereka sudah besar yang gak butuh perhatian kamu lagi!”
“Coba kamu katakan, bagian mana dari pernikahan kita yang mampu membuat aku dan anak-anak untuk bertahan di sisimu!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
May Keisya
suami sinting
2024-12-22
0
Maria Magdalena Indarti
ada istri baru, istri pertama dicuekin. boleh ya, adil ya. nonsen
2024-06-04
2
Sintia Dewi
laki modelan km blom apa2 lu udh gk adil mau nyuruh istri dgn gampangnya nrima dimadu secara yg lu cintakan cuman renata bukan alin man mau dia...
2024-05-30
2